I Am No King

I Am No King
Chapter 361 – Fall of Muir pt 4


__ADS_3

"Tentu saja tidak."


Mulut berkata tidak, tapi tubuhku mengikuti ritme Inanna yang melompat keluar. Kami pun jatuh bebas dari pesawat menuju Muir. Setelah para tentara melompat dari pesawat, terlihat benda-benda besar dijatuhkan. Benda-benda besar tersebut adalah truk, tank, kotak senjata, dsb.


Semua tentara yang ikut beroperasi pada serangan udara mengenakan pakaian berwarna jingga. Hal ini dilakukan demi membuat mereka sedikit berkamuflase dengan langit senja. Namun, tentu saja, penurunan ribuan pasukan di langit tidak akan luput dari perhatian.


Militer kerajaan Nina memberi perlawanan. Semua senjata anti udara yang masih aktif melepas tembakan. Bahkan, mereka menggunakan misil anti udara milik kapal perang di dermaga. Sekuat tenaga, Militer Nina berusaha menumpas semua tentara yang ada di langit.


Militer Bana'an tidak begitu saja menerima serangan Militer Nina. Dengan material di pakaian, pasukan paralayang bisa melakukan manuver di udara, menghindari serangan. Namun, tentu saja, menghindari proyektil beberapa kali kecepatan suara tidaklah mudah. Banyak ledakan muncul, membunuh tentara.


"Rasakan ini!"


Beberapa kubus logam raksasa yang dijatuhkan dari langit berubah bentuk menjadi 8 Turret Tank. Menyusul, suara ledakan memekakkan telinga berdentum. Kubus logam itu adalah Krat milik Emir. Dengan Krat, Emir melakukan serangan balik ke beberapa artileri dan kapal perang. Selain 8 Turret Tank, Emir juga membuat beberapa dinding logam untuk menghalau serangan yang datang.


Di sisiku dan Inanna, terlihat puluhan pasak dan tombak sudah melayang di sekitar. Berbeda dengan Emir yang melepaskan tembakan, Inanna fokus menggunakan pasak dan tombak sebagai pertahanan. Dia mengendalikan semua pasak dan tombak untuk berhadapan dengan peluru dan misil anti udara. Dengan pengendalian timah, Inanna dapat mengetahui posisi semua peluru yang datang dengan tepat.


Kami berempat langsung menuju ke gerbang istana. Semakin dekat jarak dengan istana, semakin berat rintangannya. Terlihat belasan artileri, misil anti udara, dan kendaraan berat lain sudah bersiap. Dari belasan senjata berat yang terpasang, hanya sepertiga yang aktif melepas tembakan. Tampaknya, sisanya tidak bisa digunakan karena sabotase.


Emir dan Inanna mengirim serangan ke barikade di depan Gerbang. Namun, beberapa dinding logam besar muncul, melayang, menghalangi serangan Emir dan Inanna.


"Rina!"


"Baik!"


Dengan aba-aba Emir, Rina membuka kacamata pilot yang dia kenakan. Begitu matanya memandang ke barikade, dinding logam yang melayang terjatuh ke tanah, seolah tali yang mengangkatnya putus. Tidak berhenti sampai di situ, artileri dan senjata berat yang berjaga tidak lagi melepas tembakan. Dengan pandangannya, Rina menghapus semua pengendalian.


Emir tidak membuang kesempatan dan melepaskan tembakan dari turret tank. Serangan Emir tidak berhenti pada satu tembakan. Dia terus dan terus melancarkan serangan. Serangan Emir menghancurkan kendaraan militer. Tentara yang berada di lokasi pun terpanggang hidup-hidup. Tidak berhenti sampai situ, terlihat kaca bangunan di beberapa gedung pecah karena intensitas serangan Emir.


Inanna tidak melancarkan serangan ketika Rina membuka kaca mata. Dia tidak mau kehilangan senjata di tengah peperangan.

__ADS_1


Ngomong-ngomong, dalam proses penerjunan ini, aku adalah satu-satunya orang yang menjadi beban, baik secara kiasan maupun harfiah. Sejak loncat dari pesawat, aku hanya bisa melihat pertarungan berlangsung. Sial!


Seketika itu juga, aku melihat tiga objek familier jatuh bebas. Akhirnya datang juga!


Aku mengambil sebuah gadget kecil dari saku dan menekan tombol. Tombol yang kutekan membuat beberapa parasut muncul. Parasut yang muncul bukanlah di tubuhku atau tubuh Inanna, tapi pada tiga objek familier, peti arsenal.


Aku berteriak, "Emir, Inanna, fase selanjutnya!"


Setelah mendengar teriakanku, Emir dan Inanna langsung meluncur cepat ke satu arah, peti arsenal. Begitu aku memegang dua peti arsenal dan Rina satu, kami berpisah. Aku dan Inanna menuju ke satu gedung di sisi tenggara sementara Rina dan Emir menuju ke gedung di barat daya.


Inanna melakukan manuver terbang rendah. Begitu dekat dengan gedung, aku melepaskan ikatan dari Inanna. Dengan dua peti arsenal sebagai alas, aku meluncur, masuk ke gedung. Aku membuka parasut di ransel untuk sejenak, mengurangi kecepatan. Selain itu, parasut ini juga berfungsi menghalangi pandangan musuh.


Sementara musuh bingung harus melepas ke mana, aku mendobrak pintu dan masuk ke gedung. Inanna masuk melalui jendela yang pecah dan langsung tiarap.


Aku membuka satu peti arsenal dan mengeluarkan dua senjata otomatis. Dua senjata otomatis ini adalah sistem pertahanan yang sangat canggih. Dengan fitur radar termal, senjata otomatis ini bisa membunuh semua manusia yang ada di jangkauan. Untuk memastikan tidak menjadi korban, kamu harus membawa pemancar khusus.


Aku menekan tombol komunikasi radio. "Emir, Rina, sudah siap?"


"Bagus. Laksanakan rencana!"


[[Baik!]]


Emir dan Inanna fokus menyerang gerbang istana. Ledakan dan bunga api bermunculan tanpa henti. Namun, belum ada tanda-tanda gerbang istana akan roboh. Sementara itu, aku dan Rina akan membersihkan lantai dasar bangunan yang kami datangi dan pergi ke basemen.


Sesuai dugaan, tempat ini penuh dengan tentara. Namun, pada ruang sempit, aku berani bilang kalau aku unggul. Dengan senjata api, pedang, pisau, dan granat, aku membunuh semua tentara di lantai dasar. Selanjutnya, pergi ke basemen.


Di basemen, jumlah tentara tidak sebanyak di lantai 1. Hal ini membuatku dapat menjalankan rencana dengan lebih cepat. Di ujung basemen, di balik tubuh tentara yang tidak bernyawa, terlihat sebuah konsol elektrik. Setelah kata sandi diketikkan ke dalam konsol elektrik, sebuah lubang terbuka di tanah.


Awalnya, lubang yang terbuka tampak gelap. Namun, cahaya langsung muncul dari dalam. Aku tidak masuk, tapi langsung melempar granat sebanyak mungkin ke dalam lubang dan berlari. Dengan suara dentuman, lubang yang baru terbuka pun hancur, tertutup rapat.

__ADS_1


Sambil kembali ke lantai 1, aku membuat panggilan dengan handphone candybar.


[Ada apa, Tuan Lugalgin?]


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


So\, saat ini\, author dah ga pake FF**UU**CC**KK OFF lagi untuk reply komen promo\, tapi dah pake kearifan lokal pake kata guuooblogg. Dan kliatannya dah ada yang kebakar. wkwkwkwk. Padahal di prolog dah ada larangan\, sepanjang chapter juga ga ngitung berapa kali bikin chapter pengumuman larangan promo. Bahkan (mungkin) sudah ada yang sadar kalau peringatan sudah diletakkan di sinopsis/blurb. Kalau masih promo\, berarti sudah siap menerima reply nya dong. wkwkwkwk.


Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


 

__ADS_1



__ADS_2