I Am No King

I Am No King
Chapter 182 – Korban Juga?


__ADS_3

"Yuan, masuk. Kamu mendengarku?"


[Ya, Lugalgin, ada apa?]


"Bisa tolong konfirmasi ke Ufia dan Jeanne siapa saja yang mereka culik?"


[Baik. Biar aku tanyakan dulu ke mereka.]


Sambil menunggu konfirmasi dari Yuan, aku berjalan di dalam bangunan utama. Sejak kecil, aku tidak pernah memasuki bangunan utama. Jadi, aku tidak tahu isi tempat ini. Ternyata, hanya bagian luarnya yang berbentuk seperti kastel oriental dari timur. Bagian dalamnya penuh dengan barang-barang normal dan modern seperti komputer, sofa, televisi, dan lain sebagainya.


[Halo, gin, masuk.]


"Ya?" Aku menjawab Emir.


[Aku sudah melumpuhkan Ninlil. Jangan khawatir, aku hanya menguncinya. Dia sudah kehabisan aluminium untuk dikendalikan. Terima kasih ya, Gin.]


"Aku lah yang seharusnya berterima kasih karena kamu sudah melumpuhkan Ninlil tanpa melukainya. Terima kasih, Emir."


Aku mengucapkan terima kasih dari lubuk hati paling dalam pada Emir, pada calon istriku.


Emir mengatakan dia bisa menang karena Ninlil kehabisan aluminium berkat aku yang mencipratkan darah ke semua tempat. Namun, dia sendiri juga berjasa besar karena bisa mengubah semua aluminium yang dikendalikan Ninlil menjadi butiran pasir.


Dan, tentu saja, tanpa Inanna yang terus membuat dinding api, aku tidak akan pernah berpikir untuk mencipratkan darahku ke semua tempat. Berkat Inanna juga lah aku bisa menggunakan strategi yang biasanya tidak bisa dilakukan. Namun, aku tidak akan mengatakan terima kasihku pada Inanna sekarang. Dia sedang berkonsentrasi dengan pekerjaannya.


Aku naik ke lantai atas. Selama di dalam bangunan, aku juga mencipratkan darahku ke semua tempat dan perabotan. Di lantai dua tidak ada apa-apa, aku naik lagi. Aku terus naik sambil mencipratkan darah. Namun, hingga lantai paling atas, lantai 10, tidak ada apapun yang menarik perhatian.


Namun, setidaknya, lantai 10 tempat ini memiliki bar dan sofa yang menghadap ke luar. Setelah membuat sebuah minuman, aku duduk di sofa sambil menikmati langit jingga. Yah, sudah kuduga, pemandangan senja adalah yang terbaik. Tentu saja, dengan catatan aku mengabaikan dinding api dan kehancuran di sekitar bangunan utama ini.


[Gin?]


"Ya, Emir?"


[Ini om Barun datang dan bilang dia tidak bisa menahan Enlil lebih lama. Jadi, om Barun bilang, 'aku sudah berusaha sekuat tenaga. Tolong jangan bilang ibumu yang tidak-tidak,'.]


"Ahaha, akan aku pertimbangkan."


"INKOMPETENNN!!!!!!"

__ADS_1


Dan main villain pun datang.


Aku menoleh ke belakang, melihat Enlil yang datang. Dia masih mengenakan baju zirah. Tidak terlihat satu pun goresan atau kerusakan di baju zirahnya. Tampaknya, hingga akhir, ayah hanya bertahan tanpa melancarkan serangan balik.


"Halo Enlil. Ada yang bisa kubantu?" Tanyaku sambil menenggak minuman beralkohol dari gelas.


"Kau! Kau! Gara-gara kau!"


"Hei, Enlil, aku ingin tanya satu hal padamu. Kenapa kau begitu ingin membunuhku? Apa yang membuatmu membenciku? Apa untungnya untukmu?"


"DIAM KAU INKOMPETEN!"


Enlil berlari dan menerjangku. Dia melepaskan sebuah pukulan, tapi aku berhasil menghindar dengan mudah.


Gerakan Enlil benar-benar lambat. Selain berkeringat, dia juga tersengal-sengal. Rencanaku berjalan cukup lancar. Enlil kehabisan stamina dan kelelahan karena berurusan dengan ayah. Kalau seandainya stamina ayah masih ada, mungkin dia bisa mengalahkan Enlil. Namun, tampaknya, stamina ayah lebih rendah dari Enlil. Padahal, ayah lebih muda.


Enlil melepaskan pukulan lain. Aku menghindarinya lagi. Namun, kali ini, ada yang berbeda. Sebuah duri muncul dari sarung tangan besi, ke samping, mencoba menusukku. Karena dia mengincar kepala, aku bisa menghindarinya dengan mudah.


Aku menyayat jempol dengan mata tombak dan mencipratkannya ke wajah Enlil. Begitu darahku menempel, sebuah suara logam berdenting. Suara itu berasal dari baju zirah yang terjatuh ke tanah bersama dengan Enlil.


Tanpa aku sangka, di saat dan tempat seperti ini, aku melihat kemiripanku dengan Enlil. Genetik memang tidak mudah dihilangkan.


Karena Enlil sudah jatuh, aku sudah tidak perlu bertarung. Kalau begini, tombak tiga mata hanya berfungi menyayat tubuhku untuk mengambil darah, tidak lebih. Selain itu, aku juga belum sempat menggunakan shotgun dengan peluru karet ini. Lalu, apa tujuan Mulisu repot-repot mengambil dua senjataku ini? Hanya sebagai penyemangat? Yah, mungkin.


"Inkompeten! Aku akan membunuhmu! Aku akan membunuhmu!"


Dia begitu bersikeras. Bahkan, kalau aku bilang, tidak normal. Seolah-olah, dia juga korban pencucian otak.


Ah, sial! Aku sama sekali tidak menginginkan ending ini. Dia korban pencucian otak juga? Kamu pasti bercanda.


Jempol kiriku masih mengeluarkan darah. Aku mengepal, membuat darahku berkumpul di telapak tangan. Dengan kumpulan darah di tangan, aku menyumpal mulut Enlil, memaksanya meminum darahku.


"UNGG!!!! UNG!!!!"


Enlil mencoba melawan, tapi aku tidak membiarkannya menang begitu saja.


"AW!"

__ADS_1


Aku terpaksa menarik tangan ketika Enlil menggigit kulit telapak tanganku.


"Dasar Inkompeten, kamu, kamu....." Teriakan Enlil semakin pelan. "Eh?"


Ah, brengsek! Aku benar-benar membenci ending ini. Ternyata, Enlil juga adalah korban pencucian otak. Namun, siapa yang mencuci otaknya? Sejauh yang aku tahu, Enlil adalah pengendali aluminium terkuat di kota ini. Tidak! Bahkan ada rumor yang mengatakan dia yang terkuat di kerajaan Bana'an.


Ngomong-ngomong, catatan tambahan, memaksa orang meminum satu kepal darahku dapat membuat efek pencucian otak langsung menghilang. Namun, sayangnya, aku tidak tahu berapa cc pastinya.


"Hei, Enlil, bisa tolong ceritakan kenapa kamu begitu ingin aku mati?"


"Itu, itu.... aku tidak yakin. Sejak kecil, aku hanya dicekoki dengan ucapan, 'inkompeten adalah musuh, inkompeten harus mati, inkompeten membawa nama buruk,' dan lain sebagainya. Namun, sekarang, aku tidak tahu lagi. Entahlah."


Sejak kecil ya. Dugaanku ternyata benar kalau praktik cuci otak keluarga Alhold sudah dilakukan dari generasi ke generasi. Namun, kenapa inkompeten? Seharusnya, inkompeten terakhir di keluarga Alhold adalah Zababa. Setelah Zababa, seharusnya tidak ada inkompeten lain yang terlahir di keluarga Alhold.


Kalau benar demikian, berarti, anak atau cucu Zababa lah yang pertama kali membenci inkompeten. Oh, leluhurku Zababa, apa yang sudah kamu lakukan sehingga membuat anak cucumu sangat membenci inkompeten?


"Aku ingin mendengar apa saja yang dicekoki padamu tentang inkompeten. Semuanya."


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_1


__ADS_2