I Am No King

I Am No King
Chapter 103 – Keraguan Illuvia


__ADS_3

“Lihat saja nanti.”


Akhirnya, kami pun masuk ke ruanganku. Di dalam, terlihat sosok Mulisu dengan rambut tergerai, tidak diikat menjadi dua seperti biasa. Dia hanya mengenakan pakaian pasien berwarna hijau muda. Karena baru dioperasi kemarin Sabtu, jarum infus masih menempel di pergelangan tangan kiri. Dia terbaring di atas kasur.


Di samping kasur, terlihat Illuvia dan Nerva duduk. Saat ini, Nerva sedang menyuapi Mulisu.


Aku tidak terlalu mempermasalahkan soal Illuvia dan Nerva. Aku lebih terkejut Mulisu sudah sadarkan diri. Padahal, menurut Ibla, dia baru lolos dari maut. Bahkan, seharusnya ada sebuah lubang di dadanya yang membuat dokter harus menambal jantung Mulisu.


“Ah, Lugalgin, kamu sudah datang.”


“Eh? Lugalgin?”


Sementara Mulisu menyapaku, Illuvia tersentak.


“Ya, aku baru sampai.”


Aku berjalan ke sisi lain kasur, ke sebelah kanan Mulisu. Tanpa aku mengatakan apapun, Ibla sudah menyediakan kursi untuk duduk. Aku pun duduk dan meletakkan peti arsenal di lantai.


“Jadi, bagaimana keadaanmu?”


“Ya, tidak bisa bilang baik. Aku tidak bisa merasakan kaki dan tanganku. Jadi, aku tidak bisa bergerak sama sekali. Tanpa bantuan, akan sulit untukku buang air.”


Saat berjalan dari pintu ke kursi, aku memperhatikan tangan dan kaki Mulisu. Tangan dan kakinya terlihat tergeletak lemas. Jadi, dia benar-benar setengah lumpuh ya.


“Dan, Lugalgin, maaf.”


“Hah?”


“Selain menjadi lumpuh, aku kehilangan pengendalianku. Aku tidak bisa merasakan material apapun. Jadi, tampaknya, aku sudah tidak memiliki peran di Agade maupun di rencanamu. Maafkan aku, Lugalgin.”


Ya, aku harus mengakuinya. Kalau Mulisu kehilangan pengendaliannya, hal yang merepotkan akan terjadi. Banyak bagian dari rencanaku yang harus aku ubah. Satu-satunya orang sekaliber Mulisu yang kukenal adalah Ukin. Dan, karena Ukin yang melukai Mulisu, aku ragu dia mau bekerja sama.


“Kalau aku hanya kehilangan pengendalian, dan menjadi inkompeten sepertimu, mungkin aku bisa bekerja keras agar suatu saat bisa menjadi sekuat kamu. Namun, karena tangan dan kakiku pun sudah tidak berfungsi, aku benar-benar tidak bisa melakukan apa pun. Aku hanya akan menjadi beban untukmu dan untuk Agade.”


“GIN!” Tiba-tiba saja Illuvia berteriak. “Kalau kamu membutuhkan orang, biar aku yang menggantikan Mulisu. Aku akan menjadi anggota Agade. Aku akan melakukan segalanya. Namun, tolong, jangan kamu telantarkan Mulisu. Aku mohon. Dia sudah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan kami.”


Aku melihat Illuvia baik-baik. Aku bisa melihat tubuhnya yang bergetar ketika berbicara denganku. Tampaknya, aku menjadi sosok yang ditakuti olehnya.


Aku tidak tahu apakah ini disebabkan oleh ucapanku sebelum pergi, beberapa hari lalu, atau ada orang lain yang mengatakan sesuatu padanya. Kalau Ibla dan Mulisu mengatakan rencana awal adalah aku membiarkan Ukin membunuhnya, aku paham. Dan, tidak perlu ditanyakan lagi, dia pasti sudah mendengar kalau aku adalah Sarru.


Selain rasa takut, aku juga melihat dia sedikit mengernyitkan pelipis. Tampaknya dia menahan rasa sakit karena bahunya yang sudah aku hancurkan.


“Illuvia, kamu pikir kamu siapa bisa menggantikan Mulisu?”


“U...”


“Mulisu adalah orang terkuat di Agade, setara denganku. Kamu sudah kalah dariku dalam waktu kurang dari lima menit. Kalau saat itu aku serius, tidak memberimu kesempatan bergerak, aku sudah memisahkan kepalamu dari badan kurang dari satu menit.”


Ketika aku mengatakannya, Illuvia langsung memegangi leher. Illuvia tertunduk. Belum lama dia diam, sebuah respon muncul darinya.


“Apakah Lugalgin yang baik hati adalah palsu? Apakah Lugalgin yang kucintai dengan sepenuh hati selama 3 tahun tidak pernah ada? Apakah Lugalgin yang kucintai karena kebaikannya dan kehangatannya dalam berkata tidak pernah ada?”


Illuvia menatapku dengan sepenuh hati. Aku tidak bisa melihat rasa kasih sayang dan kebaikan yang biasanya terpancar dari matanya. Saat ini, tampaknya, hatinya goyah. Mungkin dia belum bisa menerima kalau aku berencana meninggalkannya begitu saja. Mungkin, dia berharap, Ibla dan Mulisu berbohong.


“Sebuah kalimat yang berani mengingat kamu lah penyebab semua ini.”

__ADS_1


Illuvia terdiam, tidak memberi respon.


Aku melanjutkan, “kalau kamu tidak terjun ke pasar gelap, kita tidak akan pernah berseteru. Dan, kalau kita tidak berseteru, Mulisu tidak perlu melindungimu. Dengan kata lain, kejadian di Sabtu malam disebabkan oleh kecerobohanmu. Apa kamu sadar itu?”


“I, itu...”


“Selama tiga tahun, kamu selalu ceroboh dan berpikiran pendek. Kalau tidak ada aku, Arde, dan Maila, aku yakin kepengurusanmu akan hancur pada semester pertama. Kami bertiga harus memastikan kamu tidak melakukan hal di luar kebutuhan. Kami adalah pengekangmu.”


“Lu, Lugalgin...”


“Aku sudah berkali-kali mengatakan ini padamu, kan? Kamu mendengarkan tidak?”


“Tapi... tapi...”


“Illuvia,” Mulisu menyela. “Aku tidak tahu hubunganmu dengan Lugalgin di masa lalu. Namun, apa yang akan terjadi padaku adalah hak Lugalgin. Aku tidak menjalankan perintah Lugalgin, maka, normal kalau aku menerima konsekuensinya.”


“Tapi,” Illuvia masih bersikeras, “Lugalgin yang aku kenal tidak akan meninggalkanmu begitu saja. Tidak! Lugalgin yang aku kenal pasti akan memindahkanku dari rumah sakit itu sebelum dia menyerang. Kalau Lugalgin melakukan itu, kamu tidak akan terluka seperti sekarang.”


Aku tidak ingin memberi komentar pada ucapan Illuvia.


Mulisu melanjutkan, “kalau Lugalgin melakukan itu, kami tidak akan pernah tahu siapa sosok yang mendatangimu.”


“Tapi... tapi...”


“Nona,” Nerva masuk. “Mungkin ini bukan tempat saya. Namun, saya berani mengatakan kalau saya bisa mengetahui sedikit karakteristik orang lain. Dan, karakteristik yang saya lihat adalah Tuan Lugalgin tidak akan membiarkan orang yang penting baginya tersakiti. Maaf kalau saya lancang. Namun, menurut saya, hal ini menunjukkan bahwa di mata tuan Lugalgin, Nona Mulisu lebih penting dari Nona Illuvia.”


Illuvia terdiam ketika mendengar ucapan Nerva. Dia kembali menundukkan kepalanya.


“I, itu....”


“Hai Mulisu! Kamu sudah sadar?”


Tiba-tiba saja Emir dan Inanna masuk. Siapa yang baru saja berteriak keras tanpa beban? Tentu saja Emir.


“Huh? Kenapa kok diam semua?”


Terkadang, aku benar-benar iri dengan sifat polosnya itu. Kalau ini adalah komik, dia pasti adalah tokoh utamanya.


Emir dan Inanna pun masuk. Ibla menyiapkan dua kursi untuk mereka duduk di sebelah kananku.


“Mulisu, kamu bilang kamu menjadi inkompeten. Memangnya kamu sudah mencoba serum pembangkit pengendalian? Meskipun amat sangat jarang, tapi ada catatan kasus seperti ini terjadi sebelumnya. Dan, serum pembangkit akan menyelesaikan masalah ini dengan mudah. Ya, meski serum pembangkit ini tidak akan mengembalikan kakimu sih. Untuk tangan, hanya butuh usaha.””


Di saat itu, mata Mulisu membelalak. Bukan hanya Mulisu, Illuvia dan Nerva juga sama. Aku yakin Ibla juga melakukan hal yang sama di belakangku. Emir dan Inanna, mereka hanya memiringkan kepala, belum paham.


Ya, aku paham sih kenapa mereka terkejut. Seperti yang kukatakan, kasus orang dewasa kehilangan kekuatan adalah amat sangat jarang, mungkin hanya beberapa. Ditambah, untuk orang-orang yang mampu membangkitkan pengendaliannya secara alami, mereka akan benar-benar melupakan keberadaan serum pembangkit.


Aku mulai mempertanyakan kompetensi dokter yang menangani Mulisu. Namun, kalau aku mempertanyakannya, mungkin dia hanya akan menjawab, “kalian hanya membayarku untuk mencegahnya tewas, kan? Kenapa aku harus memberi tahu hal itu? Kalau kalian mau tahu juga, tentu saja ada harga informasi,”. Ya, dokter yang bekerja di pasar gelap rata-rata seperti itu sih.


“Kalau begitu, biar aku segera mencari serum itu.”


“Kalau kamu pesan sekarang, lewat jalur belakang, baru enam bulan lagi serum itu akan datang. Kalau jalur resmi, kamu tidak akan bisa mendapatkannya karena serum ini terbatas pada pasien khusus dan anak-anak.


“Dan, serum ini memiliki masa efektif pemakaian satu tahun. Lebih dari satu tahun, serum ini akan kadaluwarsa dan tidak bisa digunakan lagi, membuatnya sangat langka. Jadi, kalau mencari di lelang pasar gelap, harganya tidak karuan. Dulu, aku bahkan harus menjual 10 unit sepeda motor untuk bisa mendapatkannya di lelang pasar gelap.”


“Eh?”

__ADS_1


Ibla hanya mengaga. Bukan hanya Ibla, yang lain pun juga mengaga.


Aku tidak peduli dengan yang lain, tapi Ibla, kemampuanmu sebagai informan masih kurang kalau kamu tidak mengetahui hal ini. Ya, aku tidak menyalahkanmu sih.


Aku membuka peti arsenal. Di dalam peti, terlihat belasan senjata tajam dan senjata api. Namun, aku tidak melihat ke bagian bawah peti. Yang aku lihat adalah bagian belakang tutup peti ini. Di dalamnya, aku membuka sebuah kotak kecil yang menempel.


Di dalam kotak kecil itu, terdapat empat buah tabung syringe lengkap dengan injector. Aku pun mengambil injector dan satu buah tabung syringe.


“Untuk sekarang, Kita akan menggunakan stok pribadiku.”


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


 


__ADS_1


__ADS_2