I Am No King

I Am No King
Chapter 194 – Pembalasan Dendam


__ADS_3

Dor


Aku melepaskan tembakan pada salah satu tuan putri yang tidak mengenalku.


"NGGG!!!!"


Suara demi suara terdengar. Sebagian pasti ingin berteriak ketakutan, sebagian lagi ingin meneriakkan nama tuan putri yang baru kubunuh.


Tembakan yang kulepaskan mendarat tepat di kepala, membunuhnya seketika. Karena dia kugunakan sebagai demonstrasi, aku sengaja mengampuninya dengan memberinya kematian tanpa rasa sakit.


"Lugalgin. Kamu....."


Aku menoleh ke belakang, ke arah Fahren. Berbeda dengan sebelumnya yang tidak gentar, kini dia menggertakkan gigi.


"Hoh, aku kira kamu tidak akan bereaksi. Aku kira nyawa hanyalah angka untukmu, Yang Mulia Paduka Raja."


"Brengsek!"


Fahren berusaha bangkit, mencoba melepaskan diri dari ikatan. Namun, aku mengikatnya dengan kain. Tentu saja aku sudah melucuti semua jenis logam yang ada di pakaiannya. Kursi tempat dia terikat juga terbuat dari kayu, material organik. Jadi, Fahren tidak akan bisa menggunakan pengendaliannya.


Aku kembali berteriak ke Suen. "Namun, Suen, perlu kuingatkan satu hal. Kamu hanya boleh membunuh kalau sudah siap dengan konsekuensinya. Dan, seperti orang-orang ini, konsekuensinya tidak berhenti padamu, tapi juga akan menggeret keluargamu. Adikmu."


"Kak Lugalgin," Suen melihat ke arahku. "Setiap malan, Iris menangis. Bertanya kenapa ayah dan ibu mati. Dia ingin pelakunya dihukum. Dia ingin membalas dendam. Namun, seperti yang Kak Lugalgin bilang, ternyata, pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah Raja kerajaan ini. Tidak mungkin dia bisa dihukum. Namun, sekarang, kak Lugalgin memberi sebuah kesempatan padaku untuk menjalankan keinginan Iris. Terima kasih, kak!"


Suara menggelegar pun terdengar. Akhirnya, Suen melepaskan satu tembakan ke dada pangeran yang sebelumnya dia injak.


"Haha.....hahahahaha!" Suen tertawa terbahak-bahak. "Bagaimana, Yang Mulia Raja Fahren? Ini lah yang aku rasakan ketika mendapati seluruh keluargaku tewas. Bagaimana rasanya? Apa terasa sakit? Apa kamu bersedih?"


Dia tidak menanti jawaban dari Fahren. Suen melepaskan tembakan demi tembakan. Beberapa tuan putri dan pangeran pun tewas di tangan Suen. Namun, dia belum membunuh satu pun putra putri Permaisuri Rahayu. Setelah mencapai angka 4, aku menghentikan Suen.


"Suen,"


"Ya, kak?"


"Pistol itu hanya memiliki 5 peluru. Kalau kamu menghabiskannya untuk keluarga Fahren, kamu tidak akan bisa menggunakannya untuk keluarga Shu En."


"Shu En? Ah, perempuan itu ya...."


Suen melihat ke ujung, ke arah satu-satunya laki-laki dengan fitur generik, Liu. Dengan senyum dari ujung ke ujung, Suen berjalan ke arah Liu.


"Tidak! Kumohon! Jangan bunuh Liu!"


Shu En meronta. Namun, hal itu hanya berakibat pada kursinya yang roboh, menjatuhkan tubuhnya ke atas tanah.


"Kumohon, jangan! Kumohon!"


Shu En terus berusaha. Dia menggeliat, berusaha melepaskan diri dari ikatan di kursi. Terlihat pergelangan tangannya memerah, bahkan meneteskan darah.


"Kumohon! Jangan! Kumohon!"


Shu En terus merengek, memohon. Namun, Suen mengabaikannya. Dia terus berjalan ke arah Liu dengan sebuah senyum. Namun, senyum itu tidak selebar sebelumnya. Akhirnya, senyum Suen menghilang ketika dia mencapai Liu. Shu En tidak langsung membunuh Liu. Dia membuka kain yang menyumpal mulut Liu.


"Katakan, apa kamu ada pembelaan?"

__ADS_1


Liu tidak langsung menjawab. Dia melihat ke arah ibunya yang masih menggeliat di atas tanah, berusaha melepaskan diri. Pandangan Liu tidak hanya fokus pada ibunya, tapi juga pada tanah di dekat pergelangan ibunya yang berwarna merah.


Setelah melihat Shu En dengan saksama, Liu menatap Suen tepat di mata. Pandangan itu bukanlah pandangan seseorang yang takut mati. Pandangan itu justru tegas, penuh dengan determinasi. Dengan kala lain, Liu siap mati.


"Meskipun ini tidak akan membawa keluargamu kembali, setidaknya, biarkan aku meminta maaf atas kesalahan ibuku. Aku rela kamu membunuhku jika kamu bersedia melepaskan ibuku."


"Liu! Apa yang kamu katakan?"


Suen mengabaikan Shu En yang menginterupsi. "Apa kamu tidak mendengar ucapanku? Aku memang ingin membunuhmu dan membiarkan ibumu merasakan apa yang kurasa, kehilangan keluarga."


"Ya, aku mendengarnya." Liu menjawab datar. "Dan aku berterima kasih. Mungkin, saat ini, kematianku akan berdampak sangat keras pada kehidupan ibu. Namun, suatu saat nanti, pasti, ibu pasti akan bisa melanjutkan hidupnya tanpaku. Jika ibu terus hidup, dia pasti bisa melewati semua masa sulit tanpaku."


"Begitu ya. Optimis sekali daya pandangmu." Suen berdiri, menodongkan pistol tepat ke kepala Liu. "Selamat tinggal."


Suara menggelegar kembali terdengar. Suara terjatuh menyusul. Satu lagi, sebuah tubuh kehilangan nyawanya. Namun, berbeda dengan sebelumnya, sosok yang kali ini kehilangan nyawanya tidak pergi dengan mata melotot atau mulut terbuka. Sosok ini, Liu, pergi dengan sebuah senyuman dan mata tertutup.


"Li....u......"


Shu En melihat ke arah tubuh yang tidak bernyawa. Meskipun jauh, dia terus melihat ke arah Liu.


Aku mendekat ke Shu En dan melepaskan ikatannya.


Meski tangan dan kakinya bebas, Shu En tidak berusaha menyerangku atau kabur. Dia bangkit dan berjalan pelan dengan kedua tangan menjulur ke depan, berusaha mencapai Liu. Akhirnya, Shu En tiba di samping Liu. Dia mengangkat dan menggendong tubuh Liu yang tidak bernyawa, membenamkan kepala Liu di dadanya.


"Maafkan ibu, Liu. Karena ibu, kamu harus menanggung akibatnya. Maafkan ibu. Maaf."


Shu En mengatakannya dengan terpatah-patah. Kepalanya ke atas, ke atap. Pandangannya entah kemana.


"Maafkan ibu, Liu. Maaf."


Tubuh Shu En pun terjatuh di atas tanah. Namun, dia masih memeluk tubuh Liu yang tak bernyawa.


"Kak Lugalgin?"


Aku mendatangi Shu En dan menutup matanya. Meski mengkhianatiku, dia sempat berjasa.


"Liu adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh Shu En. Dia tidak lagi memiliki suami atau orang tua. Ketika Liu tewas, dia merasakan kesedihan yang sama, atau bahkan lebih besar, darimu. Tidak peduli selama apa pun kita membiarkannya, dia tidak akan pernah bisa melanjutkan hidup. Jalan yang bisa dia tempuh adalah masuk rumah sakit jiwa, atau tewas sekarang juga.


Aku melanjutkan, "Meskipun dirawat di rumah sakit jiwa, rasa bersalahnya akan menyiksanya setiap saat. Dia akan terus dan terus menyalahkan dirinya atas kematian Liu. Meski mengkhianatiku, Shu En sempat memanduku dan memberi saran mengenai intelijen. Jadi, maaf ya Suen. Aku tidak mau membuatnya menderita lebih lama lagi."


Ya. Aku tidak ingin Shu En hidup dengan penderitaan.


"Brengsek kau Lugalgin!"


Fahren berteriak. Urat nadinya muncul, menyembul ke pelipis. Dia tampak begitu marah.


"Kalau kau tidak mengelabui para agen itu untuk menipuku, hal ini tidak akan terjadi. Kau menuai apa yang kau tanam. Sekarang," aku menodongkan pistol ke kepala Fahren. "Giliran–"


Belum sempat aku melepaskan tembakan, sebuah gangguan datang. Tiba-tiba saja, sebuah pedang raksasa muncul dari langit, menusuk tanah.


Pedang itu besar. Sangat besar. Aku tidak tahu berapa meter yang menancap di dalam tanah. Namun, meskipun sebagian menancap di dalam tanah, pedang itu masih menjulang hingga langit-langit arena. Bahkan, bagian atas arena sudah berlubang.


Di ujung pedang, di bagian hendel, berdiri seorang laki-laki berambut pirang, Ukin. Dia mengenakan pakaian yang hampir sama dengan Emir. Yang membedakan adalah dia tidak mengenakan jubah.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, sebuah getaran kuat terasa. Dinding dan atap arena ini runtuh. Dari dinding dan atap yang runtuh, tampak sebuah lipan raksasa sedang bertarung melawan pedang raksasa. Pertarungan itu benar-benar sengit, menghancurkan semua tempat dan melempar puing-puing bangunan ke semua tempat.


Dengan sigap, aku berlari dan menghindari semua puing bangunan yang datang.


Pedang raksasa di depanku berubah menjadi kotak, membawa Fahren di dalamnya.


"Maaf Gin, aku tidak tahu apa yang kamu rencanakan, tapi Maila ingin aku mencegah kematian Fahren. Jadi. Aku pergi dulu!"


Tanpa menungguku memberi respons, Ukin terbang dengan membawa kotak berisi Fahren, pergi. Bukan hanya Ukin. Pedang Raksasa yang bertarung melawan Lipan raksasa pun melesat pergi.


Karena dinding dan langit-langit sudah jebol oleh pertarungan lipan raksasa Mulisu dan pedang raksasa Ukin, arena ini telah berubah menjadi reruntuhan. Namun, yang menarik perhatianku adalah puing-puing dinding dan langit-langit yang roboh, menimpa para sandera baik di tribune maupun di arena, membunuh mereka.


"Gin!"


Sebuah suara memanggil. Dari salah satu lipan raksasa, tampak sebuah sosok dengan topeng badut dan jubah, Mulisu. Lipan raksasa itu merendahkan kepala, membiarkan sosok di atasnya turun.


"Berkat Ukin, para sandera sudah tewas. Jadi, kita tidak perlu repot-repot membunuh mereka satu per satu. Namun, sayangnya, kita tidak mampu mengakhiri hidup Fahren."


Mulisu menggeser topengnya ke samping dan memberi laporan.


"Ya, mau bagaimana lagi. Seringkali, tidak semua berjalan seperti yang kamu inginkan."


Dari beberapa tempat, reruntuhan tampak bergerak. Puluhan lipan logam muncul, menyingkirkan reruntuhan yang menimpa, menyibak orang-orang yang terlindung di bawahnya.


Seharusnya, lipan logam hanya muncul di tribune, melindungi anggota dan karyawan Agade yang bergerak kurang cepat. Walaupun muncul di arena, seharusnya hanya Suen yang dilindungi. Namun, faktanya, beberapa lipan logam muncul di arena, melindungi beberapa keluarga kerajaan.


"Karena Fahren tidak tewas dan bersama Enap Pilar oposisi, dia pasti akan bekerja sama dengan agen pembangkang, Apollo, dan Orion. Apa ini tidak menjadi masalah? Apa rencana masih bisa berlanjut?"


Yang bertanya bukanlah Mulisu, tapi salah satu orang yang dilindungi oleh Lipan logam Mulisu. Orang itu berjalan mendekat sambil menepuk-nepuk pakaiannya, membersihkan debu. Dia berdiri dan berjalan normal seolah kedua tangan dan kakinya tidak pernah diikat.


Yang bertanya dan berjalan mendekat ke arah kami adalah seorang ibu-ibu dengan rambut merah muda lembut dan wajah yang awet muda.


"Tidak masalah. Kita masih bisa melanjutkan rencana ke tahap selanjutnya, Permaisuri Rahayu."


 


 


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya



__ADS_2