
Mercenary tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia, tapi tetap menggunakan kata mercenary. Lalu, untuk chapter ini, mungkin agak membingungkan karena monolog masa lalu sedikit bercampur dengan dialog masa kini. Yah, ini menggunakan POV 1, jadi, anggap saja kalian adalah Lugalgin.
\============================================================
Aku mulai memberi cerita tentang bagaimana aku dan orang-orang ini bertemu. Sebelum itu, sedikit pengantar tampaknya tidak masalah.
Di kerajaan ini, atau mungkin dunia ini, dunia cahaya dan dunia kegelapan selalu bertarung.
"Hey, Lugalgin, dunia cahaya dan dunia kegelapan? Kamu serius menceritakannya seperti itu?" Mulisu menyela.
"Hahaha, tidak. Aku tidak serius. Hanya iseng."
Intinya, ada dunia normal dan dunia pasar gelap. Dunia normal diwakili oleh pemerintahan yang resmi, baik itu Raja, Ratu, Presiden, Menteri, Duke, atau apapun itu. Dunia pasar gelap diwakili oleh organisasi. Setiap negara dan kerajaan memiliki sebutan berbeda. Ada yang disebut triad, mafia, yakuza gangster, dan lain sebagai.
Namun, organisasi pasar gelap Bana’an tidak memedulikan sebutan seperti itu. Orang-orang di pasar gelap hanya menyebutnya sebagai organisasi, tidak lebih. Di Bana'an, saat ini, organisasi yang dianggap mewakili pasar gelap adalah Enam Pilar.
Orang normal akan mengatakan kalau pemerintahan adalah benar karena telah sesuai peraturan dan menjunjung hak-hak dasar manusia. Dan sebaliknya, mereka menganggap dunia pasar gelap adalah salah karena membenarkan segala cara. Namun, dari sudut pandang orang yang telah terjun di dunia pasar gelap, seperti kami, anggapan ini tidak lagi benar.
Faktanya adalah, pemerintah juga membenarkan segala cara dan seringkali melanggar hak-hak dasar manusia. Selama uang ikut serta, tidak ada yang benar dan salah. Tidak hanya dunia pasar gelap, bahkan pemerintah juga akan melakukan hal yang sama. Korupsi, kolusi, nepotisme, pembunuhan, konspirasi, sebutkan saja. Baik pasar gelap maupun pemerintah sama saja.
Yang membuat pemerintah tampak benar adalah karena ada media di belakangnya. Dengan media, pemerintah dapat melemparkan semua tanggung jawab atas perbuatan kotor mereka ke pasar gelap. Meski aku bilang pemerintah kotor, dunia pasar gelap juga tidak bersih, bahkan lebih kotor.
Bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia pasar gelap, prinsip dasar kami adalah kebebasan. Kami dapat memperjualbelikan apapun tanpa harus membayar pajak dan tidak terbatas pada daerah tertentu. Kami bisa menjual barang dari negara lain tanpa pembeli harus membayar bea cukai, cukup biaya kirim.
Tidak semua kegiatan yang berhubungan dengan pasar gelap adalah kegiatan ilegal. Masing-masing organisasi juga memiliki perusahaan yang bekerja di berbagai bidang, mulai penjualan obat, kontraktor, advertising, dan lain sebagainya. Bagaimana mendapatkan pekerjaan remis? Jalur kolusi, korupsi, nepotisme, pemerasan, pembunuhan, dan lain sebagainya adalah jalannya. Dan, tentu saja, ada orang dari pemerintahan yang turut serta.
Kembali ke lini ilegal. Di lini ilegal, konsekuensi juga sesuai prinsip dasar, kebebasan. Kalau klien tidak mampu memenuhi perjanjian atau membayar biaya yang telah disepakati, maka kami pun bebas menghukum mereka, apakah cacat sementara, cacat permanen, atau bahkan kematian. Semuanya terserah kami, tanpa perlu proses hukum yang ribet, serba cepat.
Pemerintah terkadang melakukan hal yang sama dengan pasar gelap. Namun, pemerintah masih harus menjaga image di depan publik, jadi pemerintah tidak bisa melakukan semua hal kotor itu terang-terangan atau menggunakan media terlalu sering. Kalau terlalu sering, publik akan curiga pada pemerintah. Bisa dibilang, gerak pemerintah terbatas.
Karena keterbatasan pemerintah, dunia pasar gelap lebih mendominasi jalan perdagangan hampir di seluruh dunia. Hanya sedikit pemerintah yang mampu menekan dunia pasar gelap di wilayahnya dengan baik. Sebelum tragedi keluarga Cleinhad, Bana'an adalah satu dari sedikit Kerajaan yang mampu menekan dunia pasar gelap.
Secara sederhana, jika dunia pasar gelap tidak dapat ditekan, jumlah kriminal akan meningkat drastis. Yang melakukan kriminal bukanlah organisasi atau orang yang berkecimpung langsung di dunia pasar gelap, melainkan orang-orang yang menjadi korban dunia pasar gelap, orang-orang yang hanya menyentuh dunia pasar gelap, tidak terjun langsung.
Orang-orang ini terkadang meminjam uang di rentenir, atau membeli suatu barang terlarang, atau bahkan hanya lelah dengan kehidupan yang begitu-begitu saja. Bagi orang yang meminjam uang di rentenir, orang tersebut akan tercekik oleh bunganya, membuat mereka mencuri, merampok atau apapun demi uang. Hal yang sama juga terjadi dengan membeli suatu barang terlarang.
Untuk orang-orang yang lelah dengan kehidupan, mereka hanya dikenalkan dengan narkoba atau senjata api atau sejenisnya. Lalu, untuk mendapatkan uangnya, mereka akan melakukan tindak kriminal. Jadi, secara tidak langsung, dunia pasar gelap adalah penyebab utama tingkat kriminalitas yang tinggi.
Untuk mendapatkan uang, ada banyak jalan, salah satunya adalah menjual manusia. Sederhananya, menjual anakmu sendiri. Cara ini adalah cara yang paling sering ditempuh. Pasar gelap pun menerima pembayaran dengan anak. Justru banyak organisasi lebih menyukai pembayaran ini. Bahkan, mereka sering merancang supaya klien membayar dengan metode ini.
Anak yang diterima sebagai pembayaran bisa dilatih untuk menjadi PSK, kurir, tentara bayaran, mercenary, anggota mafia, atau apapun. Dan lagi, dengan cara ini, setiap organisasi bisa menjamin keberlangsungan dan masa depan organisasi.
Namun, cara ini memiliki kelemahan. Meski banyak orang yang rela menjual anak mereka demi uang, sayangnya, jumlahnya tidak pasti. Jika kerajaan mengalami krisis ekonomi atau terkena suatu bencana, penjualan anak ini akan sangat subur. Namun, ketika semuanya stabil-stabil saja, hampir tidak ada yang melakukan penjualan anak.
Ketika ekonomi stabil, yang bisa dilakukan organisasi hanya menjual narkoba, senjata, dan barang-barang tanpa cukai, atau melakukan pekerjaan legal. Secara finansial, organisasi juga mendapat keuntungan oleh kestabilan ekonomi. Namun, hal ini tidak menjamin masa depan organisasi.
Hal itu pun dimanfaatkan oleh Keluarga Cleinhad. Entah sejak kapan, ada yang bilang beberapa puluh ada yang bilang beberapa generasi lalu, Keluarga Cleinhad memberi penawaran pada organisasi pasar gelap di Kerajaan Bana'an. Keluarga Cleinhad akan menjual sejumlah anak setiap bulannya kepada organisasi dengan syarat mereka bersedia mengikuti kuota maksimal transaksi per bulan.
Dengan ada kuota transaksi maksimal per bulan pada setiap organisasi, maka jumlah kriminalitas pun dapat ditekan hingga angka tertentu. Dunia pasar gelap pun menerima persyaratan itu. Sejak saat itu, organisasi pasar gelap pun dibagi menjadi 6 kelas. Urutan yang paling rendah hingga paling tinggi adalah Kelas 1, kelas 2, kelas 3, kelas 4, kelas 5, dan Enam Pilar.
Semakin tinggi kelas organisasi, semakin tinggi pula kuota transaksi. Jika suatu organisasi dianggap telah memiliki cukup capaian, prestasi, dan kredibilitas, maka organisasi itu bisa naik kelas. Namun, syarat yang merepotkan adalah, jika ada satu organisasi naik kelas, maka harus ada satu organisasi turun kelas. Dengan cara ini, transaksi total yang bisa dilakukan oleh pasar gelap tidak berubah. Oleh karenanya, sering terjadi perang antar organisasi ketika terjadi perubahan kelas.
Kelas tertinggi adalah Enam Pilar. Sulit sekali untuk posisi enam pilar bisa berubah. Normalnya, orang akan berpikir tidak ada organisasi yang mampu mencapai prestasi dan kredibilitas kelas Enam Pilar. Namun, sebenarnya, ada alasan lain.
Jika ada kabar burung atau isu suatu organisasi akan mencapai kelas Enam Pilar, maka organisasi Enam Pilar yang posisinya paling lemah, yang berpotensi turun kelas, akan langsung menyerang dan menghancurkan organisasi tersebut.
Secara tidak langsung, organisasi-organisasi yang berada di kelas 5 membatasi prestasi dan capaian mereka sendiri agar tidak menarik perhatian organisasi Enam Pilar.
__ADS_1
Antara tiga atau empat tahun yang lalu kami hanyalah mercenary. Yang aku maksud kami adalah aku, Mulisu, Ukin, dan Lacuna. Kami bertiga adalah murid Lacuna. Jadi, yang mengajarkan kami untuk menjadi master gerilya adalah Lacuna tersebut.
Tidak jelas siapa yang lebih dulu atau belakangan menjadi murid Lacuna. Kami dilatih secara terpisah oleh Lacuna. Dan, sebelum bertemu mereka, aku hanya melakukan misi dengan Lacuna. Namun, tiba-tiba, pada satu misi dia mempertemukan kami bertiga. Hingga kini tidak seorang pun mau bercerita kapan mereka bertemu Lacuna, termasuk aku.
Lacuna adalah wanita yang agresif, dominan, bermulut kotor, dan seksi. Dia adalah perwujudan badan gitar Spanyol paling sempurna yang pernah kulihat. Rambut abu-abunya sama sekali tidak sesuai dengan mata hitam dan gelap yang menunjukkan ciri bangsawan. Namun, kedua hal itu tidak mengurangi kecantikannya. Kulit kuning langsat, tatapan tajam, dan rambutnya memberi kesan eksotis dan sensual.
Meski pun terkadang aku bisa melihat bekas luka di tubuhnya, tapi, justru hal itu memberi kesan liar dan memperkuat kesan agresif. Belum lagi–
Belum sempat aku mengatakan keindahan dan kemolekan tubuh guruku lebih lanjut, aku dihentikan oleh pandangan dingin para cewek, termasuk dua calon istriku. Baik, baik, biar aku teruskan ceritanya.
Di saat itu, tentu saja, hanya wajah dan nama Lacuna yang dikenal dunia pasar gelap. Kami, muridnya, selalu berusaha agar tidak menunjukkan wajah ketika menjalankan misi. Kalau seseorang melihat wajah kami ketika menjalankan misi, maka kematian akan menjemput orang itu.
Secara kemampuan dan bakat bertarung, Ukin adalah yang paling kuat. Secara taktik dan strategi, aku yang paling unggul. Mulisu tidak memiliki keunggulan apapun. Bisa dibilang dia berada di tengah-tengah, antara aku dan Ukin, all-rounder.
"Hei!"
Aku mengabaikan protes Mulisu dan melanjutkan cerita.
Dalam pembagian tim, aku terkadang berpasangan dengan Lacuna, terkadang dengan Mulisu. Lebih sering dengan Mulisu karena Ukin bukanlah tipe yang mau bekerja sama selain dengan Lacuna. Dia menganggap dirinya sebagai murid paling tua dan paling hebat. Ya, aku dan Mulisu sama-sama tidak peduli sih.
Suatu ketika, seperti biasa, ada misi pembersihan. Intinya ada organisasi kelas atas menginginkan organisasi kelas bawah dibersihkan agar tidak mengganggu kelas mereka. Saat itu, kami mendapatkan anggota Agade pertama kami.
"Ehehe, dan itu adalah aku." Ninmar merespon pelan.
Yup, saat kami dalam proses pembersihan, kami menemukan Ninmar.
Aku terhenti.
"Di bagian ini, biar aku yang menceritakan, Lugalgin." Ninmar mengambil alih. "Kata mereka, saat itu, tidak selembar kain pun ditemukan menutupiku. Seluruh tubuhku, bahkan–"
Ninmar, masih dengan senyumnya, menjawab. "Kamu benar-benar baik Lugalgin."
Kembali ke cerita.
Normalnya, kalau yang menemukan adalah aku dan Lacuna, atau Lacuna dan Ukin, nyawa Ninmar akan hilang saat itu juga. Namun, Mulisu berpendapat lain. Mulisu meminta agar aku merahasiakan keberadaan Ninmar dari Lacuna dan Ukin sementara dia membantu Ninmar pulih.
Aku tidak keberatan selama Mulisu tidak merepotkanku. Ya, sesekali dia merepotkanku dengan meminta dibelikan barang ini atau itu, tapi tidak terlalu repot karena menurutku hal yang sepele.
"Beberapa minggu setelah itu, entah karena aku kurang nutrisi atau apa, aku keguguran. Sebagai dampak dari keguguran ini dan mungkin juga oleh trauma dan cedera yang kualami selama di organisasi itu, aku tidak lagi mampu memiliki keturunan."
Aku tidak memotong Ninmar. Kalau memang dia berpikir sudah mampu menerima fakta dan menceritakannya pada orang lain, mungkin ini yang terbaik.
Di masa itu, hanya Mulisu yang berada di samping Ninmar, menemani hingga kondisi Ninmar membaik.
"Apa yang kamu katakan, Lugalgin? Kamu juga ada di situ. Berkat kamu dan Mulisu lah aku bisa kembali berjalan dengan normal seperti ini."
Aku hanya beberapa kali mengusap kepala dan memberimu makan. Mungkin beberapa kali memberi cerita yang acak. Atau beberapa kali membiarkan kamu tidur di pangkuanku. Namun, setidaknya, aku merasa tidak terlalu penting.
Ya, itu tidak penting. Intinya setelah Ninmar, Mulisu dan aku menemukan anggota yang lain. Setelah Ninmar, ada Mari, Ur, Ibla, Uru'a, Simurrum, Elam, Yarmuti, dan yang terakhir Umma. Di saat itu, aku baru mengetahui kalau Mulisu sering melakukan hal itu, memungut korban perdagangan manusia. Dia mengirimkan orang-orang itu ke panti asuhan sebagai pengurus atau penghuni, tergantung usia.
"Sebagai catatan, Emir, Inanna, nama-nama yang mereka kenakan sekarang bukanlah nama asli," Mulisu masuk. "Nama itu adalah nama yang kami berikan pada mereka. Kami berpikir kalau mereka tidak mungkin menggunakan nama lama mereka lagi."
"Yang memberi nama-nama itu adalah kamu, Mulisu, bukan aku." Aku mempertegas.
"Tapi kamu menyetujui dan tidak protes kan?"
__ADS_1
Untuk apa juga aku protes?
Kembali ke cerita.
Setelah kami menemukan orang keempat, yaitu Ibla, Mulisu menyarankan agar aku membuat organisasi baru untuk menampung orang-orang itu. Aku mengatakan kenapa tidak dia masukkan saja ke panti asuhan yang biasa dia kunjungi.
Mulisu mengatakan, untuk mampu menyokong hidup mereka dan panti asuhan, butuh dana yang besar. Kalau hanya bergantung dari pekerjaan sebagai Mercenary, susah. Dan lagi, ada beberapa orang seperti Ibla yang memiliki bakat untuk bekerja di pasar gelap.
Setelah aku pikir-pikir, organisasi baru untuk mereka bukanlah hal yang buruk. Selain sumber finansial, mereka juga membutuhkan rumah untuk pulang. Dan, organisasi baru ini pun akan menjadi tempat pulang mereka. Dan lagi, aku juga bisa mendapatkan sumber pendapat baru.
Setelah itu, aku dan Mulisu mendirikan Agade dengan alias Sarru dan Kinum. Meski kami sudah mendirikan Agade, kami masih bekerja sebagai mercenary di bawah Lacuna.
Untuk memastikan identitas kami tidak diketahui, kami selalu mengenakan jubah, topeng, dan wig. Aku mengenakan wig hitam dan Mulisu mengenakan wig putih. Dulu, rambut Mulisu masih pendek, dia masih mudah mengenakan wig. Kalau sekarang, aku tidak yakin.
Di Agade kami mengajarkan Ninmar dan kawan-kawan bela diri, cara bertahan hidup, dan bertransaksi di dunia pasar gelap. Sejauh yang diketahui organisasi lain, Agade hanya memiliki dua anggota, Sarru dan Kinum, sisanya, kami dikenal menyewa mercenary atau sub kontraktor. Padahal, kami tidak pernah menyewa mercenary atau sub kontraktor.
Tanpa aku sadari, dalam waktu singkat, Agade hampir naik ke kelas Enam Pilar. Anggota asli Agade sudah mendapat predikat anggota elite. Agade pun juga memiliki anggota normal. Saat itu, yang mengatur semua administrasi dan kegiatan kami adalah Mulisu, jadi aku berpendapat Mulisu lah yang merencanakan semua ini.
Ketika aku melihat ke arah Mulisu di belakang bus, dia hanya tersenyum.
Sudah terlambat jika kami mau membatasi kuota prestasi dan pencapaian, salah satu organisasi di Enam Pilar sudah mengincar Agade. Dan akhirnya, momen yang tidak dinantikan tiba. Kami, lebih tepatnya Lacuna, mendapatkan pekerjaan pembersihan.
Target pembersihan: Agade.
Bersambung
\============================================================
Chapter ini diupload Sabtu sore.
Seperti biasa, terima kasih atas semua dukungan, like, dan komentar pendukungnya.
Tampaknya, kali ini, tidak ada komentar yang bisa author respons. Sebelum itu, terima kasih untuk Matrix99 yang telah mengoreksi kesalahan nama di Chapter 43. Author hanya manusia, jadi tidak luput dari kesalahan.
Untuk post note kali ini, tidak banyak yang bisa dibicarakan. Yang terpenting adalah chapter ini diberi mark konten dewasa karena sempat menyinggung soal budak seks. Mungkin ada yang kecewa karena bukan adegan dewasa atau sebagainya. Namun, penyebutan budak seks sendiri bukanlah hal yang pantas dibaca oleh anak-anak.
Seperti yang sempat disebutkan sebelumnya, pembicaraan soal pasar gelap seringkali tidak pantas untuk anak-anak. Dan, target pembaca I am No King memang bukan anak-anak. Dan ingat, semua ini hanyalah fiksi dan rekaan author, tidak benar-benar terjadi.
Lalu, author hanya ada 2 pengumuman, salah satunya mengingatkan yang kemarin.
Pengumuman pertama, mulai minggu depan, update berubah dari 3 kali per minggu menjadi 6 kali per minggu. Namun, masing-masing update lebih pendek dari update setengahnya (setengah chapter). Ini dilakukan untuk mengimbangi persaingan di dunia Mangatoon. Wkwkwk, oke agak lebay di situ.
Untuk pengumuman kedua, minggu depan adalah penutup dari Arc ini. Dua minggu lagi, cerita akan memasuki arc baru dan berganti sudut pandang menjadi orang lain sepenuhnya. Pergantian sudut pandang ini akan memberi sebuah fondasi yang cerita I am No King.
Yah, mungkin, kira-kira satu bulan lah sudut pandang tidak akan di Lugalgin. Lalu, dari siapa sudut pandang ceritanya? Nantikan saja :D.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita. Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1