
"Pinggang terlalu kecil."
"Dada terlalu besar."
"Terlalu pendek."
"Terlalu tinggi."
Sudah satu setengah jam aku menemani perempuan berambut coklat dikepang ini. Kemarin lusa, Lugalgin menelepon agar aku bersiap menerima pelayan istana Kerajaan Nina. Tanpa memberi kesempatan bertanya, Lugalgin mengirim file laporan berisi rencana dan skenario yang dia buat. Bukan hanya itu! Dia juga menulis mengenai semua yang terjadi di balik layar Kerajaan Nina.
Keterkejutanku tidak mampu ditahan setelah membaca laporan lengkap dari Lugalgin. Di satu sisi, aku merasa kesal. Hanya karena ingin melepas status keluarga kerajaan, mereka rela mendeklarasikan perang? Apa mereka tidak berpikir berapa banyak korban jiwa yang jatuh? Berapa banyak orang yang terpaksa evakuasi?
Kalau benar Keluarga Silant adalah memiliki satu leluhur dengan Lugalgin, dan jika mereka memiliki sifat sama, aku terpaksa maklum. Melihat Lugalgin dan keluarga kerajaan Nina, beserta Kerajaan Kish, sangat jelas kalau kamu tidak bisa memberikan posisi atau tugas pada seseorang hanya karena dia berbakat. Perlu ada kemauan dari pihak yang bersangkutan. Kalau tidak, efeknya akan merambah kemana-mana.
Di lain pihak, aku juga merasa iba. Ratu Amana dan Tera melakukan sesuatu dengan tujuan baik, demi kebahagiaan Rina. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Hanya karena tidak ada komunikasi, kini baik Ratu Amana maupun Rina berada pada kondisi putus asa dan depresi. Seandainya saja mereka mengomunikasikannya, semua ini pasti bisa dihindari.
Nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada guna menyesali apa yang sudah terjadi. Kini, yang bisa kami lakukan, hanyalah memastikan efeknya berada pada titik minimal. Untuk itu, aku menemani Ira menjelajahi sel tahanan. Kami mencari kriminal dengan hukuman mati atau seumur hidup yang fitur tubuhnya mirip dengan Ratu Amana. Pendek cerita, orang itu akan menggantikan Ratu Amana, seperti aku menggantikan Permaisuri Rahayu.
"Jadi lantai ini tidak ada juga, ya?"
Ira menggeleng.
"Kalau begitu, mari kita ke lantai bawah lagi."
"Maaf merepotkan, Yang Mulia Permaisuri Rahayu."
Aku sudah mengganti identitas dan namaku berkali-kali ketika aktif di pasar gelap. Jadi, aku tidak terkejut walaupun dipanggil dengan nama orang lain.
Dengan penuh usaha, aku berdiri. Begitu aku berdiri, satu orang mengambil dan membawa kursi lipat yang baru kugunakan. Orang yang membawa kursi lipat adalah satu dari dua anggota Agade yang merangkap sebagai agen schneider. Selain menuntun dan mengurus semua formalitas, mereka juga bergantian membawakan kursiku.
__ADS_1
Di bawah rok besar ini, aku mengenakan celana ketat yang telah dicampur dengan kabel tembaga. Dengan cara ini, aku bisa menggerakkan kaki. Namun, sayangnya, sulit bagiku untuk bisa mengendalikan benda tipis seperti kabel tembaga.
Untuk orang sepertiku, jauh lebih mudah mengendalikan rangka logam daripada kabel. Sebagai efeknya, aku menghabiskan lebih banyak stamina dan konsentrasi ketika berjalan sebagai Permaisuri Rahayu dibanding Mulisu. Aku tentu saja tidak bisa mengenakan rangka logam. Akan merepotkan kalau suara logam terdengar ketika aku berjalan. Pelayan istana atau orang bisa curiga.
Ah! Setelah perang ini berakhir, aku harus segera membuat skenario kecelakaan dan lumpuh. Dengan demikian, aku memiliki alasan untuk kembali mengenakan rangka padat, bukan kabel.
"Jadi, apa ini artinya kamu setuju dengan rencana Lugalgin?"
"Benar. Saya setuju dengan rencana Tuan Lugalgin."
Ujung bibirku sedikit kaku, menahan agar tidak tertawa. Sejak awal bertemu, Ira selalu memanggil Lugalgin dengan sebutan Tuan.
"Sejak awal, Yang Mulia Permaisuri Rahayu selalu menahan tawa ketika saya menyebut Tuan Lugalgin. Apakah saya boleh tahu alasannya?"
"Ah, kenapa ya? Aku tidak terlalu yakin. Untukku yang sudah mengenal Lugalgin selama beberapa tahun, terasa lucu saja ketika dia dipanggil Tuan. Lugalgin adalah orang yang anti bangsawan, tapi, kini dia mendapat panggilan Tuan, seolah dia telah menjadi bangsawan. Mungkin aku mendapatinya ironis dan lucu? Yah, mungkin seperti itu."
Sambil menjawab pertanyaan Ira, aku masih terus menahan agar tawa tidak meledak dari mulut ini.
Benarkah? Entah kenapa, perasaanku mengatakan ada alasan lain dia memanggil Lugalgin dengan kata Tuan.
"Namun, kalau boleh jujur, saya setengah terkejut dengan Kerajaan Bana'an."
"Kenapa?"
"Saya sama sekali tidak menyangka Kerajaan Bana'an tampak tidak asing dengan metode ini, mengorbankan kriminal. Saya mengira hanya Kerajaan Nina yang menggunakan metode ini."
"Yah, aku juga setengah terkejut."
Kriminal dengan hukuman mati atau seumur hidup kerajaan Bana'an ditahan di satu rumah tahanan khusus, tidak jauh dari kompleks istana. Tidak satu pun anggota intelijen atau bangsawan yang tahu kenapa rumah tahanan khusus ini terletak tidak jauh dari kompleks istana. Mungkin yang tahu hanya keluarga Cleinhad dan Fahren. Namun, karena mereka sudah tiada, semua orang hanya bisa menduga.
__ADS_1
Menurutku, lokasi yang tidak terlalu jauh ini demi memudahkan pencarian kriminal sebagai dobel, seperti yang saat ini kami lakukan. Dengan kata lain, intelijen dan raja Bana'an, mungkin, telah mempraktikkan penggantian identitas ini sejak zaman dahulu kala. Setidaknya kami beruntung karena rumah tahanan khusus ini tidak dipisah. Jadi, kami tidak repot.
"Kalau Kerajaan Nina dan Bana'an saja menggunakannya, aku penasaran ada berapa banyak kerajaan dan negara lain yang juga menggunakan metode yang sama. Ira, apakah menurutmu metode ini normal?"
"... menurut saya metode ini adalah normal. Namun, mungkin, jawaban saya bias karena saya dibesarkan dengan pengetahuan ini."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
So\, saat ini\, author dah ga pake FF**UU**CC**KK OFF lagi untuk reply komen promo\, tapi dah pake kearifan lokal pake kata guuooblogg. Dan kliatannya dah ada yang kebakar. wkwkwkwk. Padahal di prolog dah ada larangan\, sepanjang chapter juga ga ngitung berapa kali bikin chapter pengumuman larangan promo. Bahkan (mungkin) sudah ada yang sadar kalau peringatan sudah diletakkan di sinopsis/blurb. Kalau masih promo\, berarti sudah siap menerima reply nya dong. wkwkwkwk.
Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1