I Am No King

I Am No King
Chapter 299 –Intelijen Kerajaan


__ADS_3

"Ah, Shinar, Yarmuti, lama tidak jumpa." Inanna menyapa.


"Halo Inanna, Emir. Lama tidak jumpa."


Yang merespon adalah Yarmuti, perempuan yang rambutnya dicat hijau. Ya, sudah cukup lama sejak aku membuat dia pensiun dari Agade karena luka yang dialaminya. Kaki kiri dan tangan kanan Yarmuti telah lumpuh dan perlu eksoskeleton untuk bergerak. Tidak seperti Mulisu yang pengendaliannya semakin kuat, pengendalian Yarmuti tidak mengalami perubahan. Jadi, terpaksa, dia hanya bisa memberi komando dari belakang.


Dan, untungnya, Rina selalu mengenakan lensa kontak berwarna ketika dia keluar rumah. Jadi, eksoskeleton yang digunakan oleh Yarmuti tidak mati begitu saja.


"Jadi, Shinar, apakah sesi latihan bersama Lugalgin dan kami selama beberapa bulan itu berguna?" Inanna bertanya.


Shinar mengangguk. "Sangat berguna. Bahkan, berkat latihan itu, aku berkali-kali bisa kabur dari kondisi yang cukup buruk. Bisa bertarung dan bertahan tanpa pengendalian benar-benar penting. Ditambah, karena sudah biasa terpapar oleh aura haus darah dan membunuh guru, aku tidak memiliki masalah walaupun lawanku juga memancarkannya."


"Kan?" Inanna girang. "Sudah kubilang kalau bisa bertahan dari aura haus darah dan membunuh Lugalgin, kamu tidak akan memiliki masalah. Tekanan aura haus darah dan membunuh Lugalgin terlalu kuat. Bahkan, terkuat yang pernah aku rasakan."


Di saat itu, seolah membaca suasana, Rina pindah tempat, membiarkan Yuan, Shinar, dan Yarmuti duduk di satu sofa. Kini Rina duduk di samping Emir dan Inanna. Sekilas, dia memperhatikan dada Emir dan Inanna.


Ah, begitu ya. Sebelumnya, Rina tidak mau duduk di sebelah Emir dan Inanna karena merasa inferior di bidang itu. Oke, aku paham. Namun, menurutku, dia tidak perlu berkecil hati. Pinggangnya tidak kalah dari Emir dan Inanna. Bahkan, mungkin, sedikit superior. Mungkin.


"Gin, apa yang baru kamu pikirkan?"


Dan, entah kenapa, tiba-tiba Inanna mengalihkan pikiran padaku.


"Tidak penting," aku menghindar. "Oke, sebelum memulai laporan, biar aku beri pengantar. Pada dasarnya, aku memberi tugas bagi Yarmuti dan Shinar untuk mendirikan intelijen baru, independen dan terpisah dari intelijen yang sekarang aku pimpin."


Aku melanjutkan. "Salah satu pekerjaan mereka yang paling nyata adalah saat perang pasar gelap. Menurut kalian, kenapa warga tampak tidak peduli padahal aku sudah mengumumkan keberadaan enam pilar di berita? Kenapa kita bisa bertarung tapi warga masih tampak normal? Atau setidaknya tidak terganggu? Itu karena informasi yang mereka edarkan. Yarmuti, silakan."


"Baik, terima kasih, Gin." Yarmuti mengambil alih. "Pada dasarnya, kami menyebarkan informasi kalau kerajaan sedang berusaha melawan kriminalitas. Dan, karena akan ada beberapa operasi yang sangat berbahaya, akses ke beberapa tempat menjadi terlarang."


"Tunggu dulu, pelarangan akses itu bukan karena ulahmu, Gin?" Inanna menyanggah.


Aku menggeleng.


Yarmuti kembali masuk. "Lugalgin hanya bisa mengatur informasi yang beredar. Namun, tanpa bantuan dari pihak berwenang seperti kepolisian dan militer, dikhawatirkan, akan ada satu atau dua orang yang tidak menurut."


"Pihak berwenang? Bukankah intelijen bekerja secara rahasia? Dan, seharusnya, pihak intelijen tidak memiliki wewenang seperti ... ah, begitu ya." Inanna mengangguk, menunjukkan kalau dia sudah paham.


"Benar," seolah bisa membaca pikiran Inanna, Yarmuti mengonfirmasi. "Intelijen yang baru, di bawah kendaliku dan Shinar, menyusup ke pemerintahan, kepolisian, dan militer. Kami memiliki pengaruh di semua instansi. Bahkan, mungkin, kami memiliki kekuatan yang lebih besar dari intelijen yang dipimpin Lugalgin."


"Bukan mungkin. Kalian memang memiliki kekuatan yang lebih besar dariku." Aku menyanggah.


"Aku masih di bawahmu, Gin. Kalau mau, aku bisa memberimu kendali atas intelijen baru ini."


"Tidak, terima kasih. Aku memercayakan intelijen baru itu padamu dan Shinar karena yakin kalian tidak akan menyalahgunakan wewenang. Kalau mengembalikan komando padaku, sama saja kalian tidak percaya dengan penilaianku."

__ADS_1


"Ah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud."


"Kak Yarmuti benar, guru. Kami tidak bermaksud mempertanyakan keputusan guru."


Shinar, kita sudah lama tidak bertemu dan kamu masih memanggilku guru? Ya, sudahlah.


"Jadi, Rina, mereka lah yang akan menjawab kekhawatiranmu. Yarmuti, Shinar, tolong jelaskan kenapa perang saudara antara militer dan kepolisian tidak akan terjadi."


"Shinar, aku persilakan." Yarmuti mengoper.


"Baik, kak. Kak Rina, pada dasarnya, dengan pengaruh yang dimiliki, kami bisa mencegah kepolisian dan militer bergerak. Bahkan, kami memberi ancaman pada beberapa figur. Kami meyakinkan kalau keluarga mereka lah yang akan menjadi korban pertama jika perang saudara pecah."


"Ah, begitu ya. Kalau begitu, aku bisa tenang."


"Namun, kami tidak bisa menahan kedua belah pihak selamanya," Yarmuti mematahkan harapan Rina. "Kasus kali ini sangat merepotkan. Kenapa? Karena pihak lain yang terlihat adalah Permaisuri Rahayu, kepala kerajaan Bana'an. Yang bisa kami lakukan hanyalah mengulur waktu, tidak lebih."


"Itu sudah cukup." Aku masuk. "Di minggu ini juga, aku akan mengurus Rahayu dan juga keluarganya."


"Jadi, sekarang giliranku?" Yuan meminta konfirmasi.


Aku mengangguk.


"Sebelum itu, Gin, bisa tolong tutup korden di belakangmu?"


Aku menekan tombol di samping meja. Seketika itu juga, sebuah korden muncul dari langit-langit, menutup jendela.


Yuan meletakkan smartphone di meja, memunculkan proyeksi ke udara.


"Jadi, saat ini, Keluarga Fafniari sudah mengumpulkan mercenary dan juga tentara elite di daerahnya. Dan, sebagian dari mercenary yang direkrut Keluarga Fafniari, adalah bekas anggota Guan. Di peta jelas ditunjukkan kalau mereka terpusat di ibukota daerah, Tell."


Terpusat di ibukota? Asyik!


"Dan, lalu, tampaknya kali ini Emir tidak perlu bingung-bingung memilih anggota keluarga yang harus diselamatkan."


"Kenapa begitu?" Emir langsung bertanya.


"Karena Keluarga Fafniari mengucilkan dan mengusir semua anggota keluarga yang tidak mau turut serta dalam rencananya. Namun, jangan berharap terlalu tinggi. Jumlahnya tidak banyak, kurang dari 30 orang. Rata-rata, yang menolak adalah keluarga yang memiliki anak kecil."


"Jadi, Keluarga Fafniari sudah tidak memiliki anak-anak di daerah itu?"


"Benar."


Berkat pertanyaan Emir, sekarang, aku bisa mengonfirmasi kondisi keluarga Fafniari. Semua tentara, mercenary, dan anggota keluarga berada di ibukota daerah. Keluarga yang tidak menurut, diusir dan dikucilkan. Jadi, pihak lawan sudah berjasa besar bagiku. Mereka, dengan sukarela, telah memilah antara musuh dan bukan.

__ADS_1


"Gin, kamu terlalu senang."


"Benar. Seringaimu benar-benar mengerikan."


Aku menutup mulut setelah mendengar ucapan Emir dan Inanna. Namun, mau bagaimana lagi. Jarang aku bisa mendapat kondisi yang ideal untuk pembersihan seperti ini.


"Maaf, maaf. Yuan, lanjutkan."


"Meski saat ini banyak yang terpusat di kota Tell, tidak sedikit yang berada di luar kota. Selain mercenary dan tentara, Keluarga Fafniari juga mulai menghasut bangsawan yang aktif di pasar gelap, yang tidak menerima tawaran kalian."


Hoo, jadi dia ingin mengumpulkan orang-orang yang menentangku ya. Bodoh sekali.


"Tapi, Gin, kita tidak perlu memikirkan pasar gelap. Sebelum aku minta tolong, Agade, Akadia, dan Quetzal sudah menawarkan diri untuk membereskan mereka."


Untuk Akadia dan Agade, aku tidak kaget. Namun, aku cukup terkejut ketika Yuan mengatakan Quetzal. Tampaknya, dia antusias untuk memenuhi perjanjian yang telah ditandatangani.


"Kalau begitu, Yuan, tolong siapkan tiket pesawat ke Tell untuk satu orang. Jadwal penerbangan, sore ini."


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


__ADS_1


__ADS_2