
Perlahan, cahaya kembali ke pandanganku. Ketika membuka mata, yang kulihat hanyalah langit-langit berwarna putih.
Aku menoleh ke kanan, ke kiri. Tidak ada seorang pun di tempat ini. Ada dua ranjang di kanan dan kiriku. Meski selimut, bantal, dan gulingnya tampak rapi, terlihat sarung dan sepreinya lusuh. Ada orang yang menggunakannya.
Ah, iya, Emir dan Inanna tidur di ruangan ini. Beberapa kali, ketika aku bangkit dan ke kamar mandi, mereka terus membantu berjalan. Setelah itu, mereka memberiku obat bius agar aku bisa tertidur lagi. Tampaknya nyawaku masih belum lengkap sehingga kehadiran mereka hampir terlupakan olehku.
Aku bangkit, duduk di atas kasur. Akhirnya, semua rasa sakit itu sudah menghilang. Ah, sudah lama sekali sejak terakhir aku merasakan rasa sakit separah itu. Kapan ya terakhir kali? Entahlah. Aku lupa.
Atau mungkin aku belum pernah mendapat luka separah itu? Entahlah. Ini adalah kali pertama aku dirawat di rumah sakit.
Aku melihat ke sekitar. Ada jam di belakang ruangan, yang berbatasan dengan dinding kamar mandi. Jam itu menunjukkan jam 11. Karena tidak ada jendela, aku tidak tahu sekarang jam 11 siang atau malam.
Di samping kanan ranjang, di antara dua kasur, terdapat sebuah meja tinggi. Di atasnya, beberapa buah potong terhidang. Aku tidak tahu siapa yang menghidangkannya, tapi, tampaknya, orang itu sudah bersiap kalau aku tiba-tiba bangkit dan kelaparan, seperti sekarang. Tanpa basa-basi lagi, aku mulai melahapnya.
Aku tidak berhenti pada satu buah apel. Aku terus dan terus makan. Apel, pisang, anggur, nanas, semua buah yang terpotong aku makan. Untung saja buah-buahan ini mengandung air, jadi tenggorokanku tidak terlalu terbebani. Namun, sayangnya, satu piring buah masih belum cukup untuk menghilangkan rasa laparku. Aku butuh makan berat.
Karena tidak ada satu pun kabel atau infus menancap, aku langsung berdiri. Namun, ketika berdiri, aku tidak mampu merasakan kakiku berpijak, seolah melayang. Kedua tanganku berpegang pada kasur, menahan tubuhku.
Sudah berapa lama aku tertidur bahkan berdiri saja tidak bisa? Sudahlah. Aku urus itu nanti. Dengan berpegang pada kasur dan menyandar pada dinding, aku berusaha menggeret tubuhku keluar.
Satu hal yang paling aku benci dari rumah sakit adalah semua bangunan itu memiliki interior yang sama. Karena hal itu, kalau dari dalam seperti ini, sulit untukku bisa membedakan rumah sakit A dan B. Jadi, aku tidak tahu denah dan tata letak ruangannya.
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya, kakiku sudah bisa berjalan normal. Aku tidak perlu lagi menyandar di dinding. Dengan demikian, kecepatan berjalanku pun kembali normal. Aku sampai ke pertigaan dan melihat ada perawat yang muncul dari dinding. Bukan dari dinding, tapi, mungkin, dari pintu yang tidak tampak.
Aku berjalan ke perawat itu dan mendapati mereka keluar dari lift. Setelah bertanya, mereka memberiku arah ke kantin. Aku pun naik lift dan turun ke lantai 1, ke kantin umum.
Normalnya, pasien sepertiku harus diberi makanan lembut ketika baru sadar. Hal ini untuk mengurangi beban sistem pencernaanku. Namun, kalau makanan lembut, aku tidak bisa makan terlalu banyak atau aku akan mual karena bosan. Jadi, makanan normal adalah satu-satunya pilihan.
Di dalam lift, aku baru sadar kalau belum meninggalkan pesan atau apa pun untuk Emir dan Inanna. Semoga mereka tidak panik ketika melihatku menghilang.
__ADS_1
Maaf ya, Inanna, Emir, aku benar-benar lapar. Aku tidak bisa menahannya lagi. Semoga kalian memaafkan calon suami yang lebih mementingkan makanan daripada menanti kalian di kamar atau setidaknya memberi kabar.
Ketika sampai kantin yang memancarkan cahaya di balik jendela, aku tahu kalau saat ini adalah siang, bukan malam. Selain itu, akhirnya aku tahu tempat ini adalah Rumah Sakit Yayasan Haia. Yah, saat itu ada ayah, jadi normal kalau aku dilarikan ke sini. Dan, tampaknya, staf kantin di rumah sakit ini mengenaliku. Ketika aku datang ke kasir dan memesan, mereka bilang aku tidak perlu membayar. Bahkan, mereka menyiapkan meja khusus untukku.
Untunglah aku tidak perlu membayar. Aku sedang tidak membawa dompet saat ini. Namun, kalau staf kantin mengenaliku, kenapa perawat tadi tidak? Kalau aku ingat, wajahnya masih muda. Apa mereka pegawai magang? Kalau benar, maka normal jika mereka tidak mengenaliku.
Tidak! Jujur, aku terkejut staf kantin mengenaliku. Seumur hidup aku menginjakkan kaki ke rumah sakit ini kurang dari 10 kali. Namun, di lain pihak, bisa jadi staf sudah mendapat pemberitahuan atau informasi kalau aku dirawat di rumah sakit ini. Lalu, mereka mencari info mengenai wajahku di internet. Yah, bisa jadi.
Namun, aku tidak memedulikan itu semua. Ketika makanan datang, aku tidak bisa menahan air liur lagi. Tanpa basa-basi, selamat makan!
Um, makanan di kantin ini enak sekali. Antara rasa manis, asin, gurih, dan pedasnya berimbang. Aku bisa merasakan lidahku yang bersilat, menghadapi semua makanan yang memasuki mulut. Aku tidak yakin makanan di kantin rumah sakit memang seenak ini atau rasa laparku membuat semua makanan menjadi enak. Namun, aku tidak peduli sama sekali. Yang penting rasanya enak.
Aku terus dan terus melahap semua makanan yang datang. Tidak terhitung berapa banyak porsi yang kumakan, tapi aku masih belum merasa penuh atau kenyang.
Akhirnya, setelah hampir satu jam, aku selesai makan. Di kanan kiriku, terlihat tumpukan piring yang cukup tinggi. Mungkin tingginya sama denganku kalau aku berdiri. Aku tidak yakin bagaimana piring di bagian atas ditumpuk. Apa aku melemparnya? Entahlah. Yang penting, sekarang aku sudah kenyang.
Di lain pihak, kalau aku lihat sekitar, seharusnya kantin ini ditujukan untuk pengunjung, bukan pasien. Aku berterima kasih karena para pegawai masih mau menghidangkan makanan dengan rasa kuat kepadaku.
Akhirnya, sebuah suara familier terdengar. Aku menoleh ke kiri dan melihat Inanna sudah berdiri.
Tunggu dulu, sejak kapan Inanna berdiri di situ? Bukan hanya Inanna, Emir juga ada di sampingnya. Apa aku terlalu fokus makan? Sial! Kalau benar, aku benar-benar lengah. Salah-salah ada musuh datang dan membunuhku tadi.
Kembali ke urusan sekarang. Emir dan Inanna tersenyum lebar. Namun, meski tersenyum, air mata mereka mengalir. Ketika melihat senyum dan air mata mereka, dadaku merasa sesak. Entahlah, aku seperti merasakan sebuah emosi dalam senyum mereka, seolah kesedihan dan perasaan lega bercampur aduk. Di lain pihak, perasaan bersalahku muncul.
"Hai Inanna, Emir. Maaf ya aku tidak memberi kabar. Saat tadi bangun, aku lapar sekali, jadi aku langsung ke sini."
Tanpa memberi jawaban, Emir dan Inanna langsung memelukku. Bahkan, aku hampir terjatuh dari kursi. Perlahan, dan secara lembut, aku mengusap kedua kepala mereka. Dari usapan tangan ini, aku bisa merasakan tubuh mereka yang bergetar begitu hebat. Tampaknya, aku sudah membuat mereka khawatir beberapa hari belakangan.
"Maafkan Aku, Emir, Inanna. Terima kasih sudah merawatku beberapa hari ini."
__ADS_1
Aku bilang beberapa hari karena belum tahu berapa lama aku tertidur.
Ketika Emir dan Inanna memelukku erat, perhatian semua orang tertuju pada kami. Mereka semua tersenyum. Bahkan ada yang menutup mulut dan menitikkan air mata. Ayolah, kalian terlalu mendramatisi.
Dari lorong yang terhubung ke lift, tempatku tadi muncul, ayah datang. Dia mengenakan pakaian formal yang dilapis dengan jas dokter. Dia datang dan berdiri di depanku, di balik meja.
"Halo, ayah."
"Gin, aku tahu kalau kamu sangat kelaparan. Tapi bisa tolong tidak langsung pergi seperti ini? Mereka sudah cukup khawatir dengan kamu yang hampir tewas."
Aku masih tersenyum dan membelai Emir dan Inanna.
"Ya, maafkan aku."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
__ADS_1
Sampai jumpa di chapter selanjutnya