
"Ah, hanya segini?"
"Sudah kuduga. Tidak seru."
Sementara Inanna mempertanyakan sosok tersebut, yang adalah patung, Emir bersikeras kalau rumah hantu ini tidaklah seru. Hal ini terjadi terus menerus. Tampaknya, aku harus turun tangan. Aku menjilat kedua telunjukku dan mendekat dari belakang.
"Apa kamu yakin?"
"KYYAAAAA!!!!"
Emir dan Inanna berteriak kencang sekali.
Kalau aku tidak segera menarik telingaku, mungkin aku sudah tuli.
Teknik yang baru saja kugunakan adalah teknik penyiksaan. Dalam keadaan tegang, tubuh tidak bisa membedakan panas dan dingin. Bahkan api las akan terasa seperti es. Oleh karena itu, Kalau kamu menempelkan sesuatu yang dingin dan basah untuk sesaat, syaraf orang tersebut akan menerimanya sebagai ancaman. Sebagai pelengkap, aku memunculkan suara serak.
Dengan semua teknik itu, aku berhasil mengaktifkan insting mereka yang bernama rasa takut. Kalau mereka tenang, teknik ini tidak akan berfungsi. Namun, teriakan itu membuktikan kalau mereka tegang.
"Gi, Gin? Itu kamu?"
Inanna bertanya dengan nada pelan. Bahkan aku bisa mendengar suaranya yang setengah mewek.
"Ahahaha, maaf. Aku tiba-tiba ingin berpartisipasi dengan karyawan."
"Gin... kamu... jahat...."
"Maaf, maaf. Aku benar-benar minta maaf."
Bukan hanya Inanna, suara Emir juga sudah setengah mewek. Ketika melihat Emir mewek, dan matanya sudah mulai basah, aku teringat pada sebuah kenangan yang... tidak terlalu indah. Aku jadi teringat ketika Emir mengompol di jalan tol itu.
Aduh, semoga dia tidak mengompol lagi.
Aku merendahkan badan dan berbisik, "Kalian tidak ngompol, kan?"
"Untungnya tidak."
"Aku tidak mau kejadian memalukan di tol itu terulang kembali."
Aku menghela nafas lega ketika mendengarnya.
"Ayo. Pintu keluar sudah dekat."
Sementara aku berdiri, Emir dan Inanna hanya menjulurkan tangan. Aku memperhatikan bagian bawah mereka baik-baik. Samar-samar, tampak kaki mereka berdua gemetaran. Selangkangan mereka pun begitu rapat, mencoba sekuat tenaga untuk mencegah apapun masuk atau keluar. Mungkin, mereka berusaha sekuat tenaga agar tidak mengompol.
Aku menjulurkan tangan dan menarik mereka berdua. Setelah berdiri, karena kaki mereka masih bergetar, aku memberikan kedua tanganku untuk mereka tarik, sebagai alat bantu jalan. Selain itu, aku juga bisa merasakan kelembutan dada mereka yang mengapit kedua tanganku.
__ADS_1
Not bad. Mungkin aku bisa mengajak mereka ke rumah hantu lagi lain kali.
"Gin, aku... tidak mau... ke rumah hantu lagi..."
"Ya, aku setuju dengan Emir. Apalagi kalau kamu ikut."
"Ah.... baiklah...."
Tidak ada kata lain yang muncul dari mulutku. Aku menerima ucapan mereka begitu saja.
Setelah keluar dari rumah hantu, aku membiarkan mereka duduk di kursi terdekat. Sambil menunggu kaki mereka bisa berjalan lagi, aku membeli minuman dari mesin penjual minuman terdekat. Teh madu untuk Emir, teh susu untuk Inanna, dan kopi untukku. Dan, tentu saja aku membeli yang hangat. Cuaca cukup dingin. Aku tidak ingin mereka semakin kedinginan.
"Terima kasih," ucap Emir dan Inanna yang langsung menenggak minuman hangat.
Sejak awal, ide kencan di musim dingin sudah tidak lazim. Namun, aku juga sih yang salah karena tidak pernah mengajak kedua calon istriku kencan.
Matahari sudah berada di ufuk barat. Kalau dari yang aku dengar, dari percakapan Inanna dan Emir, ini adalah saatnya kami menaiki ferris wheel. Dan, benar saja. Setelah minuman habis, aku ditarik oleh dua calon istriku.
"Selamat menikmati."
Kami bertiga pun masuk ke dalam kapsul ferris wheel dan duduk. Kami bertiga duduk di sisi timur kapsul, menghadap ke barat.
Ferris wheel kota ini bukanlah yang tertinggi di Kerajaan Bana'an, hanya 80 meter. Selain itu, banyak gedung setinggi 100 meter di kota Haria. Oleh karenanya, pemandangan yang kami dapatkan bukanlah pemandangan yang benar-benar spektakuler. Awalnya, itu yang kupikirkan. Namun, ternyata tidak.
"Indahnya,"
Tanpa kusadari, kata itu sudah keluar.
"Gin,"
"Ya?"
Tiba-tiba Emir memanggil dan menarik tangan kananku. Awalnya aku mengira dia ingin menggenggam tanganku, tapi tidak. Dia justru melepas sarung tanganku.
"Eh?"
Tanpa memberi penjelasan apapun, Emir menempelkan tangan kananku ke kursi. Begitu tanganku menempel di kursi, ferris wheel ini pun langsung terhenti, tepat ketika posisi kapsul kami di puncak.
"Hehe, aku ingin menikmati pemandangan ini lebih lama."
"Orang-orang akan panik, tahu. Apalagi para karyawan."
"Jangan khawatir," Inanna menjawab. "Aku sudah menelepon Shu En dan mengatur agar masalah apapun yang muncul tidak akan dimunculkan. Jadi, karyawan tidak akan mendapat masalah."
Tampaknya, mereka berdua sudah merencanakan ini sejak awal. Dan, entah kenapa, aku tidak terkejut.
__ADS_1
Aku tidak tahu apakah harus bahagia atau sedih karena mereka sudah tertular kelicikanku. Di satu sisi, aku bahagia karena kemungkinan mereka bertahan di pasar gelap lebih besar. Di lain pihak, aku juga sedih karena mereka menjadi licik. Namun, tidak bisa aku pungkiri, perasaan bahagia lebih mendominasi.
Emir di kanan, Inanna di kiri. Mereka berdua bersandar padaku.
Kami bertiga tidak mengatakan apapun, hanya diam, menyaksikan keindahan yang tidak akan bertahan lama ini. Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu, sedikit mengobrol, tapi aku merasa atmosfernya tidak cocok.
Aku bisa merasakan Emir dan Inanna yang menyandar padaku, seolah menyerahkan tubuh mereka padaku sepenuhnya, membiarkan kehangatan merambah ke tubuh ini. Tampaknya, mereka benar-benar menikmati momen ini, sama sepertiku.
Dalam keheningan ini, aku diberi kesempatan untuk memikirkan kembali semua yang telah terjadi. Sejak bertemu Emir, aku menjadi Regal Knight, menjadi calon suami Emir, melatih Ufia dan Jeanne, melawan Elliot, pergi ke Mariander, menyelamatkan Selir Filial dan Ninshubur, dan menjadi calon suami Inanna.
Tidak sampai di situ, aku pun menentang Fahren, mengaktifkan kembal Agade, menjadi kepala intelijen Kerajaan, mendeklarasikan perang baik pada internal maupun eksternal intelijen, menghadapi Agade palsu yang adalah Illuvia, membuat kerja sama dengan Akadia yang adalah milik Ibu, membangkitkan pengendalian Mulisu, dan merencanakan sekolah intelijen. Aku masih belum sepenuhnya percaya semua itu terjadi dalam waktu kurang dari 1 tahun.
Meski setengah dari kejadian itu disebabkan oleh statusku sebagai inkompeten, setengahnya lagi disebabkan oleh hal lain. Hal lain yang aku maksud adalah keputusan turun ke pasar gelap untuk membalas dendam pada keluarga Cleinhad. Keputusan ini lah yang mempengaruhi setengah hidupku.
Selama ini, aku terus diam, menunggu momen hingga Emir atau Inanna penasaran dan menanyakan masa laluku. Aku tidak akan keberatan sama sekali kalau mereka bertanya. Namun, aku baru teringat kalau aku bilang pada mereka "kalau kamu belum siap, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk bercerita. Aku akan senantiasa menanti hingga kamu siap,".
Ada kemungkinan, Emir dan Inanna tidak bertanya karena mereka menanti hingga aku siap. Apakah aku siap untuk menceritakan semuanya? Kurasa, aku selalu siap. Namun, aku tidak sepenuhnya yakin.
Mungkin, kalau mereka bertanya, aku akan berpikir "ya, mau bagaimana lagi. Mereka calon istriku. Tidak mungkin aku terus-menerus menyimpan rahasia,". Dengan kata lain, aku menanti pertanyaan dari mereka sebagai tanda "sudah saatnya aku menyerah", sebuah kesempatan dimana aku bisa memaksa hatiku untuk siap.
Namun, sekarang, aku tidak akan menantikan pertanyaan dari mereka. Aku lah yang akan mengambil inisiasi.
"Emir, Inanna, nanti malam ada yang ingin kuceritakan pada kalian."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1