I Am No King

I Am No King
Chapter 120 – Lugalgin dan Tasha, Pertemuan pt 1


__ADS_3

Aku masih bisa mengingat pertemuan itu seperti kemarin. Di siang itu, ketika sedang mencari tempat makan siang, aku melihat sosok seorang perempuan, mengenakan celana pendek dan blus biru, berjalan dengan banyak kantong plastik. Bukan satu. Bukan dua. Dia membawa enam kantong plastik di kedua tangan.


 


Rambut coklat panjangnya terlihat begitu halus, terburai, bagaikan sutra yang ditiup oleh angin. Mata coklat, bulat bola pingpong, yang menunjukkan sebuah cahaya yang tidak pernah aku lihat. Namun, dari semua itu, yang paling memukauku adalah senyumnya. Meskipun dia tampak kesusahan dan kelelahan, dengan pakaian basah karena keringat, senyum masih terkembang lebar di wajahnya.


 


Untukku yang sejak kecil dimusuhi oleh keluarga besar dan tetangga, aku penasaran apa yang membuatnya dapat tersenyum begitu lebar. Namun, hal itu aku kesampingkan.


 


Di saat itu, ketika dia lewat di depan, aku langsung meraih tangan kirinya dan mengambil tiga tas plastik.


 


"Eh?"


 


"Pasti berat, kan? Biar aku bantu."


 


"Eh? Ah? Terima kasih."


 


Dia sempat kehilangan senyum ketika aku mengambil tas plastik di tangannya. Namun, senyum itu kembali muncul ketika kami berjalan ke satu arah.


 


"Siapa kamu? Aku belum pernah melihatmu di sini."


 


"Namaku Lugalgin Alhold. Aku sedang mengisi waktu sebelum nanti sore harus menjemput adikku."


 


"Ah... Alhold? Maksudmu dari keluarga Alhold itu?"


 


"Ya, dari keluarga Alhold itu. Tapi jangan salah sangka. Aku bukanlah anak berbakat atau spesial. Aku seorang inkompeten, aku tidak memiliki pengendalian."


 


"Ah... maaf."


 


"Tidak apa."


 


Saat itu, aku menyadari kalau dia meminta maaf setelah memperhatikan tubuhku yang penuh bekas luka dan memar.


 


Suasana menjadi sedikit canggung setelah itu. Namun, dalam perjalanan, aku berhasil mendapatkan informasi mengenainya. Nama perempuan itu adalah Tasha. Saat itu, aku berusia 8 tahun dan dia 10 tahun, lebih tua dua tahun dariku. Dia tidak memiliki nama keluarga karena yatim piatu. Saat itu, dia tinggal di panti asuhan dengan belasan anak lain.


 


Panti asuhan tempat Tasha tinggal bukanlah bangunan tua dan setengah hancur seperti di film yang penuh dengan klise. Namun, tidak juga mewah. Hanya rumah luas normal. Bahkan, kalau tidak ada papan yang menuliskan "Panti Asuhan Sargon", aku tidak akan pernah tahu kalau bangunan ini panti asuhan.


 


"Kakak kembali!"


 


"Kak Ta–"


 


Aku masih ingat ekspresi anak-anak di panti asuhan itu yang terdiam ketika melihatku. Padahal, mereka sudah setengah menyapa Tasha.


 


"Ah, perkenalkan, anak laki-laki ini adalah Lugalgin. Dia... kesepian. Jadi, aku mengajaknya main kesini."


 


Dengan kebohongan, Tasha berhasil membuat anak-anak menerimaku. Aku cukup terkejut bagaimana anak-anak di tempat itu bisa menerimaku dengan mudah. Maksudku, aku tidak pernah diterima oleh keluarga Alhold. Bahkan, di sekolah, aku harus menunjukkan sebuah pencapaian baru bisa diterima.


 


Saat itu adalah pertama kalinya aku bisa diterima oleh seseorang begitu saja. Selain Ninlil, ibu, dan ayah tentu saja.


 


Anak-anak di panti asuhan itu masih kecil. Selain Tasha, yang paling tua masih satu tahun lebih muda dariku. Untuk pengurus, hanya ada satu ibu-ibu setengah baya, bernama Bu Aria, dan Tasha. Meski Tasha adalah penghuni panti asuhan itu, dia juga menjadi pengurus karena memang kekurangan tenaga.


 

__ADS_1


"Biar aku bantu masak. Memasak untuk anak sebanyak ini akan merepotkan, kan?"


 


"Eh? Tapi–"


 


"Bayar saja aku dengan makan siang. Aku tadi sebenarnya sedang cari makan.


 


Tasha kembali tersenyum. "Baiklah, kalau itu maumu."


 


Di siang itu, aku membantu Tasha memasak. Selain membantunya memasak, aku juga memotong-motong sayuran yang tidak dimasak, meracik bumbu, dan menggiling daging yang dicampur dengan bumbu dan sayur.


 


Sayuran yang sudah dipotong cukup ditambahkan dengan bumbu dan direbus. Lalu, daging giling bisa langsung digoreng sebagai lauk. Dengan demikian, Tasha tidak akan kerepotan untuk malam itu dan keesokan paginya.


 


Setelah memasak, aku diajak makan siang bersama anak-anak. Kami semua makan di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk semua anak-anak makan bersama.


 


Aku makan bersama Tasha dan bu Aria. Kami makan dengan normal. Sedikit percakapan tanpa arah atau arti kadang muncul, tapi mereka tidak pernah menanyakan latar belakang atau keadaanku. Ya, bekas luka dan memar yang ada di sekujur tubuh sudah memberi sedikit gambaran, sih.


 


Namun, meskipun suasana makan normal, aku tidak bisa berhenti tersenyum. Sebelumnya, aku hanya memiliki tiga tempat makan yaitu di rumah, di luar, atau di sekolah.


 


Ketika makan di rumah, ayah dan ibu tidak pernah berbicara. Namun, itu masih mending karena mereka terkadang keluar dari ruang makan hanya untuk bertengkar.


 


Kalau di luar, aku akan makan di restoran seorang diri. Tidak jarang ada orang mencoba memerasku. Maksudku, anak kecil, makan sendirian di rumah makan. Orang-orang pasti mengira aku punya banyak uang untuk diperas. Aku tidak pernah merasa aman ketika makan di luar.


 


Yang ketiga adalah di kamar mandi. Bekal makanan ringan, yang kubawa untuk jam istirahat, tidak pernah bisa kumakan di kelas. Kalau dikelas, pasti ada anak dari keluarga Alhold yang tiba-tiba mengambil makananku lalu membuangnya. Jadi, pilihan jatuh pada kamar mandi.


 


Teman-teman yang tidak memusuhiku, meski merasa iba, tidak berani terlibat begitu saja. Meski mereka tahu aku tidak salah, aku adalah anak bermasalah yang sering bertengkar dengan murid maupun guru.


 


 


Dan, tanpa aku sadari, air mata menetes.


 


Tasha dan bu Aria hanya mengusap punggungku, tanpa mengatakan apa pun. Meski mereka tidak mengatakan apapun, aku seolah bisa mendengar, "kamu telah melakukannya dengan baik". Bukan hanya Tasha dan bu Aria, anak-anak di ruangan itu pun melihatku. Beberapa anak yang dekat ikut mengusapku.


 


"Kak Lugalgin, kalau mau, Kakak bisa main ke sini lagi."


 


"Iya, benar. Kakak bisa main ke sini lagi."


 


Merespon semua ucapan mereka, aku hanya bisa mengatakan dua patah kata.


 


"Terima kasih. Terima kasih."


 


Hanya dua patah kata itu yang berkali-kali muncul dari mulutku.


 


Setelah selesai makan, kami pun beres-beres. Sementara bu Aria mengantar anak-anak tidur siang, aku mencuci piring bersama Tasha.


 


"Jadi, apa aku boleh datang ke sini lagi?"


 


"Apa kamu perlu bertanya lagi? Anak-anak sudah mengatakannya kan tadi."


 


"Aku ingin meminta konfirmasi darimu."

__ADS_1


 


"Hah..." Tasha menghela nafas. "Tentu saja boleh. Aku tidak bisa menolak permintaan dari anak yang baru saja menangis, kan?"


 


"Hahaha, aku jadi malu. Ngomong-ngomong," Aku membawa topik baru. "Kenapa tadi kamu tidak menggunakan kekuatan pengendalian? Maksudku, dengan pengendalian kamu bisa membawa barang-barang itu dengan mudah, kan?"


 


"Ah, itu. Mungkin kamu tidak tahu, tapi di panti asuhan, melakukan sesuatu tanpa pengendalian adalah hal yang normal."


 


"Heee.... Kenapa?"


 


"Mudah saja. Terlalu banyak anak, terlalu banyak jenis pengendalian. Kami tidak bisa membeli perabotan dengan berbagai macam material. Terlalu mahal."


 


"Aku kira, panti asuhan justru berlatih untuk mengendalikan semua material."


 


"Beberapa panti asuhan seperti itu. Namun, biasanya panti asuhan seperti itu memiliki pengurus atau pemilik yang berhubungan dengan kepolisian atau militer. Panti asuhan yang normal seperti Sargon tidak melakukannya."


 


Hmm, begitu ya.


 


"Dan lagi," Tasha menambahkan, "kalau terlalu sering menggunakan pengendalian, staminamu akan lebih cepat habis. Jadi, kami sendiri juga melatih agar anak-anak ini menjadi kuat."


 


Selama mencuci piring, aku mendapatkan informasi yang cukup berharga. Namun, bagiku, bukan itu yang penting. Kalau dia bersedia mengobrol hal-hal tidak penting seperti itu denganku, berarti dia merasa nyaman denganku. Iya kan?


 


Selesai mencuci piring, aku memberi arahan cara memasak sayur dan daging giling yang sudah kusiapkan.


 


"Kamu bisa memasak, lalu juga sudah membuat persiapan untuk makan malam dan besok sarapan. Apa aku salah kalau bilang kamu terbiasa melakukan pekerjaan rumah?"


 


"Hahaha. Setiap pagi, aku harus menyiapkan sarapan, kotak camilan, dan makan siang untuk adikku. Jadi, sambil masak makan malam, aku menyiapkan makanan siap masak untuk pagi. Dan, untuk pekerjaan rumah, sejak adikku lahir sampai sekarang, aku lah yang lebih sering melakukannya."


 


"Ah, begitu ya... Maaf."


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1


 



__ADS_2