
"Aku tahu, Gin!"
"Kenapa?"
Sementara Emir setuju, Inanna mempertanyakan keputusanku.
"Inanna," Emir menjawab. "Pertarungan dan perselisihan ini adalah antara Rina dengan ibunya. Kalau kita membantu Rina, ada kemungkinan, Rina tidak akan merasa puas. Dia harus membalaskan dendamnya seorang diri atau Rina tidak akan bisa melanjutkan hidup."
"Tapi bagaimana kalau Rina terdesak? Apa kita akan membiarkan Rina terbunuh begitu saja?"
"Jangan khawatir, Inanna." Emir menyela. "Dari pengamatanku, entah kenapa, tidak satu pun serangan Ratu Amana mengarah ke organ vital Rina, apalagi perut. Bukti nyatanya adalah tidak ada luka di badan atau perut Rina. Dengan teknik bertarung Ratu Amana, aku yakin dia bisa melakukannya dengan mudah. Tampaknya, Ratu Amana sengaja tidak menyerang organ vital Rina."
Emir berhenti, melihat ke Inanna yang menghela napas lega.
"Inanna, kenapa kamu lega? Normalnya, orang akan terkejut ketika mendengar fakta ini. Namun, karena tampak lega, tampaknya ada yang kamu sembunyikan. "
"..."
"Dan, kalau Inanna menyembunyikan sesuatu, kamu pasti dalangnya, kan, Gin?"
"..."
Aku dan Inanna tidak menjawab. Inanna mengalihkan pandangan, berusaha kabur dari rasa bersalah. Di lain pihak aku tidak memedulikan pertanyaan Emir. Pandanganku fokus ke pertarungan Ratu Amana dan Rina.
Yah, Emir memang memiliki insting yang jauh lebih tajam dibanding kami bertiga. Jadi, akan normal kalau dia merasa ada yang mengganjal.
"Jangan khawatir. Tampaknya Rina tidak menyadari semua hal yang aku ucapkan," Emir melanjutkan. "Aku tidak akan tanya apa yang kalian sembunyikan. Aku hanya ingin bertanya kenapa?"
"Itu–"
"Karena aku membutuhkanmu untuk terus berada di sisi Rina, Emir." Aku menyela Inanna. "Saat ini, yang memiliki ikatan batin paling kuat dengan Rina adalah kamu."
Emir tersenyum sinis. "Karena sama-sama dikhianati oleh ibu kami?"
"Ya benar."
Emir tidak memandangku lagi. Dia mengembalikan pandangan ke pertarungan Rina dan Ratu Amana.
"Melihat Inanna yang lega, tampaknya Ratu Amana tidak benar-benar mengkhianati Rina. Pada akhirnya, hanya aku yang dikhianati oleh ibunya sendiri. Kalau aku harus ada untuk Rina, lalu–"
Aku memeluk Emir dari belakang dan mengusap kepalanya. Melalui pelukan ini, aku bisa merasakan tubuh Emir yang gemetaran.
__ADS_1
"Tenang, kamu tidak sendirian. Aku dan Inanna akan berusaha sebaik mungkin untuk terus berada di sisimu. Dan lagi, aku hanya butuh bantuanmu untuk Rina untuk sesaat. Setelah pembalasan dendam ini selesai, kita semua akan saling membantu. Kita adalah keluarga."
"... terima kasih, Gin."
Aku bisa merasakan getaran di tubuh Emir mereda. Tampaknya dia mulai tenang.
"Hoi," Inanna menyela. "Kalian sadar kan kalau kita masih di tengah peperangan? Dan lagi pertarungan Rina dan Ratu Amana masih belum selesai, tahu!"
Ahaha. Iya juga. Aku hampir lupa.
Aku menjawab. "Yah, sudahlah. Pertarungan ini juga akan selesai sebentar lagi."
Ratu Amana memang memiliki cara pemikiran dan teknik bertarung yang mirip dengan Ibu Amana. Namun, pada akhirnya, dia bukanlah seorang Alhold. Sekuat apa pun orang normal, fisiknya tidak akan menyaingi inkompeten yang terlatih. Karena hal ini, staminanya cepat terkuras. Napas Ratu Amana tampak pendek, tersengal-sengal.
"Kenapa, ibu? Apa kau sudah lelah? Sudah semakin tua?"
Ratu Amana palsu tidak menjawab. Gerakannya terlihat kaku dan berat.
Tidak lama, akhirnya, serangan fatal pertama mendarat. Bayonet senapan Rina bersarang di bahu kiri Ratu Amana.
Sementara Ratu Amana menggertakkan gigi, menahan sakit, Rina justru membuka mata lebar, ekstasi. Ratu Amana tidak mengalah begitu saja. Dia mencengkeram senapan yang menusuk bahu kirinya, berusaha mengunci pergerakan Rina.
Namun, Rina tidak memedulikan senapan yang dicengkeram. Dia melepasnya dan melompat mundur.
"RINA!"
Tampak terkejut dengan progres pertarungan, Inanna dan Emir berteriak. Meski tahu kalau Ratu Amana tidak akan menembak organ vital Rina, mereka tetap khawatir. Emir dan Inanna tahu kalau menembak senapan dengan satu tangan tidak memiliki akurasi tinggi. Di lain pihak, aku mencengkeram bahu Emir dan Inanna, menahan mereka agar tidak ikut campur.
Suara letusan terdengar, menggema di dalam ruangan. Peluru bersarang di bahu kanan Ratu Amana Palsu. Kejadian ini memaksa tangan Ratu Amana melepaskan senapan di tangan.
Sebelumnya, pandanganku terpatri pada jari Ratu Amana. Sekilas, jarinya memang terlihat siap menarik pelatuk. Namun, tidak ada tanda-tanda jari Ratu Amana akan bergerak. Bahkan, jarinya hampir lurus walaupun sudah berada di lubang pelatuk. Dengan kata lain, Ratu Amana tidak memiliki niat melepas tembakan. Dia hanya menggertak.
Rina tidak berhenti dengan satu tembakan. Dia melepaskan beberapa tembakan tambahan ke tangan dan kaki Ratu Amana, membuatnya roboh.
Rina, pihak yang menang, tersengal-sengal. Seharusnya, staminanya masih banyak. Mungkin karena mengenakan masker dia tidak mendapat pasokan oksigen yang cukup. Setelah Ratu Amana, Rina ikut roboh.
"Rina!"
Aku melepas cengkeraman pada bahu Emir. Namun, tidak dengan Inanna.
"Inanna, dengarkan aku."
__ADS_1
Aku membisikkan rencana tambahan ke Inanna. Ketika mendengar rencanaku, pupil Inanna mengecil. Dia pun melihat ke arahku dengan mata membelalak, tampak tidak percaya.
"Kamu baik-baik saja, Rina?"
"Yah ... aku ... hanya ... kehabisan ... napas."
"Untunglah."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
So\, saat ini\, author dah ga pake FF**UU**CC**KK OFF lagi untuk reply komen promo\, tapi dah pake kearifan lokal pake kata guuooblogg. Dan kliatannya dah ada yang kebakar. wkwkwkwk. Padahal di prolog dah ada larangan\, sepanjang chapter juga ga ngitung berapa kali bikin chapter pengumuman larangan promo. Bahkan (mungkin) sudah ada yang sadar kalau peringatan sudah diletakkan di sinopsis/blurb. Kalau masih promo\, berarti sudah siap menerima reply nya dong. wkwkwkwk.
Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1