I Am No King

I Am No King
Chapter 205 – Pengejaran


__ADS_3

~Etana POV~


Tidak kusangka Mariander akan seberani ini. Dengan ini, Mariander telah secara terbuka melakukan penyerangan terhadap Permaisuri Bana'an. Namun, tentu saja, fakta serangan ini tidak akan pernah sampai ke permukaan kalau Permaisuri Bana'an dan semua personel tewas. Mereka, Mariander, akan menyalahkan kami.


Tadi, sebuah laporan masuk melalui komunikasi radio yang menyatakan beberapa benda meluncur dengan cepat di langit. Aku langsung membuka kaca mata dan melihat ke arah langit, berharap misil atau benda apa pun yang datang bisa dinonaktifkan dengan penghilang pengendalianku.


Dan, aku beruntung! Mariander menggunakan misil yang membutuhkan sistem elektronik dan komputer untuk navigasinya. Dengan kata lain, benda itu menggunakan mesin rotasi untuk beroperasi. Begitu empat misil itu masuk ke pandanganku, mereka pun kehilangan arah dan terjatuh.


Namun, karena masih memiliki energi kinetik dari dorongan jet, misil itu terjatuh di dekat trailer. Aku, dan orang-orang dari Bana'an, benar-benar beruntung. Kalau Mariander menggunakan peluru artileri yang jatuh dengan menggunakan jalur parabola, bukan misil navigasi, aku tidak akan bisa melakukan apa-apa.


"Laporan! Serangan itu berasal dari mana?"


[Lapor! Serangan berasal dari pangkalan militer Mariander terdekat, kota Emen.]


Sial! Maaf, Permaisuri. Maaf, Lugalgin. Namun, tampaknya, kami tidak akan bisa bertindak lebih jauh. Akan sulit bagi True One untuk menyerang pangkalan militer tanpa partisipasiku.


Di lain pihak, aku terkejut dengan tim yang memberi laporan. Belum ada lima menit sejak misil itu diluncurkan, tapi mereka sudah mengetahui asalnya. Atau kebetulan mereka berada di pangkalan itu? Entahlah.


[Sebuah misil meluncur dari arah jam 11]


"Eh?"


[Misil itu menuju ke pangkalan militer di kota Emen.]


Apakah Lugalgin menyewa mercenary atau organisasi pasar gelap lain? Bisa saja. Maksudku, ini Lugalgin. Aku bahkan tidak akan terkejut kalau dia memiliki rencana cadangan hingga ke Z. Jadi, mungkin, sebenarnya True One tidak benar-benar diperlukan di sini.


[Lapor! Misil yang dilaporkan tidak dapat mencapai pangkalan Militer kota Emen, dijatuhkan oleh senjata anti udara. Namun, sebagai gantinya, sebuah serangan sedang dilancarkan oleh organisasi yang identitas dan afiliasinya belum diketahui.]


Aku terus mendengar laporan dari komunikasi radio, berharap berita baik yaitu pangkalan militer itu jatuh. Namun, tentu saja, aku tidak bisa terlalu berharap.


[Misil lain meluncur! Jumlah 7 buah.]


"Sial!"


Aku melihat ke langit, ke arah kota Emen. Aku tidak tahu dari mana misil itu akan datang. Kalau sama seperti sebelumnya, bagus. Kalau lebih rendah dan lolos dari pandanganku? Tidak bagus!


***


 


 


~Lugalgin POV~


 


 


"Terus injak pedal gas! Mereka menggunakan misil navigasi dan seseorang mematikan sistem navigasinya! Selama kita terus maju, tidak akan ada satu pun misil yang akan menyentuh kita!"


"Brengsek! Ini gara-gara kau!"


"Bagaimana kalau kita beri anak itu pada Mariander?"


"Lakukan itu dan aku akan bunuh Permaisuri Rahayu sekarang juga serta menjual seluruh keluarga kalian ke pasar gelap!"


Aku dan dua pengawal berdebat dari ujung trailer. Aku di belakang, mereka di depan. Sejak ledakan pertama, aku terus melihat ke belakang. Semua misil yang datang berubah jalur secara mendadak. Bukan. Bukan berubah, lebih tepatnya misil itu jadi berbelok-belok dan lalu terjatuh, seperti tiba-tiba tidak aktif.

__ADS_1


Aku yakin Etana menggunakan penghilang pengendalian pada mesin rotasi di dalam misil. Ah, di saat seperti ini, aku sangat iri dengan kekuatan Etana. Maksudku, semua yang dilihatnya tidak dapat dikendalikan. Kalau seandainya aku memiliki kekuatan Etana saat Ninlil diculik, aku tidak akan kerepotan.


Di lain pihak, kekuatanku hanya menghilangkan kekuatan orang yang mengalami kontak dengan kulit atau tubuhku. Kekuatanku terlalu terbatas! Terlalu lemah kalau dibandingkan dengan Etana! Yah, sudahlah. Yang penting dia menghalau misil-misil itu.


"Hey, Gin! Kita mendapat masalah!"


"Apa?"


"Coba kamu lihat di kejauhan!"


Aku berada di bagian belakang trailer, jadi tidak bisa melihat terlalu jelas. Aku membuka peti arsenal yang juga berada di bagian belakang, di depan tempat duduk, dan mengambil satu senapan. Dengan teropong senapan, aku melihat sebuah barikade. Barikade itu memarkirkan dua kendaraan baja dengan beberapa personil dan ranjau paku.


Sial! Aku tidak punya bazoka atau roket. Satu-satunya senjata peledak yang kumiliki hanyalah pelontar granat, tambahan untuk assault rifle. Namun, pelontar granat tidak akan bisa menghancurkan barikade itu.


Sebenarnya, sejak kejadian semalam, aku sudah menghubungi militer dan menyuruh mereka bersiap di perbatasan. Selama perjalanan, aku mengirimkan lokasi ke petinggi militer, Akadia, Guan, dan juga Agade. Setelah serangan pertama tadi, aku langsung mengirimkan sinyal SOS.


Pesawat Jet tercepat yang dimiliki Bana'an mampu mencapai 2.000 Km/jam. Dengan tangki tambahan, pesawat itu bisa terbang hingga dua setengah jam. Jarak dari tempat ini ke perbatasan adalah 2.100 Km. Kalaupun pesawat itu diberangkatkan dari land aircraft carrier, butuh satu jam lebih untuk mencapai tempat ini. Dengan kata lain, kami masih harus bertahan satu jam.


Satu jam menghadapi semua ini? Tidak mungkin! Kalau Emir atau Inanna ada di sini, mungkin bisa. Bahkan, membalikkan keadaan. Namun, tanpa mereka? Tidak mungkin!


"Keluar jalan!"


"Kemana?"


"Kemana saja asalkan tidak di sini."


Kami juga tidak mungkin mundur karena ada kemungkinan misil yang mati mendarat pada jalur yang sudah dilewati.


Namun, bus ini tidak kunjung keluar dari jalan, masih di atas aspal. Dan, harapanku dikhianati.


Tanpa basa-basi, aku mengambil pistol dari peti arsenal dan maju ke depan. Tiba-tiba saja, bus berbelok, melempar kami semua yang ada di dalam. Namun, aku sempat berpegangan pada satu tiang.


"Aku tidak ak-"


Dor


Belum sempat sopir menyelesaikan kalimat, aku sudah melubangi kepalanya.


"Brengsek!"


Meski bersumpah, satu orang yang tersisa langsung menahan setir, memastikan bus ini tidak terbanting. Aku meneruskan perjalanan ke depan dan menodongkan pistol ke kepala orang yang masih hidup.


"Jadi, Joe, apa kau juga berniat mengarahkan bus ini ke barikade itu dan menyerahkan semua orang di dalam bus?"


"Tentu saja tidak! Aku tidak akan melakukannya?"


"Benarkah? Tapi tampaknya rekanmu sudah berpikiran demikian."


"Semalam memang dia sempat membuat panggilan dan keluar dari ruangan untuk sejenak, tapi aku tidak tahu kalau dia bersekongkol dengan Mariander!"


"Dan sekarang kau tahu. Jadi, apa kau juga pengkhianat?"


"..."


Sementara tangan kiri menodong kepala Joe, tangan kananku menarik mayat ini dan melemparkannya ke lantai. Sebenarnya, aku sudah tahu kalau agen yang satu lagi dihubungi oleh Mariander semalam. Tadi, aku mengancam akan menjual keluarganya dengan harapan dia mengurungkan niat. Ternyata, gagal.


"Baiklah...."

__ADS_1


Menurut, Joe membelokkan bus, menuju ke tanah. Kami hanya berjalan lurus, entah kemana, pokoknya menjauhi barikade.


Ketika aku melihat smartphone, tidak ada lagi koneksi atau sinyal GPS. Tampaknya mereka sudah menggunakan jammer. Aku membuka catatan di smartphone sambil mengambil handphone candybar hitam dari saku jaket. Catatan ini berisi semua tipe jammer yang dimiliki kerajaan Mariander, baik militer maupun kepolisian.


Apa yang kulakukan? Memasukkan semua tipe jammer ke dalam handphone, mencoba satu per satu.


Sayangnya, harapanku dipatahkan. Begitu handphone candybar ini mampu menembus blokir sinyal dari jammer, blokir lain muncul. Tampaknya, Mariander sudah meletakkan beberapa jammer yang berbeda di sepanjang jalur ini. Dengan kata lain, mereka memang meletakkan barikade tadi untuk memaksa kami keluar dari jalan.


Aku kembali ke belakang, mengambil senapan.


"Maul, kamu bisa menggunakan senapan?"


"Bisa kak!"


"Kalau begitu, kamu ambil senapan ini dan berjaga di depan. Kalau ada sosok yang tidak dikenal mendekat atau terlihat, tembak saja. Aku akan berjaga di belakang. Sebagai catatan, kalau memegang senapanku tanpa sarung tangan, kekuatan pengendalianmu akan hilang."


"Bai–eh? Pengendalianku akan hilang?"


Aku mengangguk.


Maul tidak bertanya lebih lanjut dan hanya menunjukkan mulut seperti v terbalik. Namun, dia tidak mengeluh. Maul mengambil sarung tangan dari jaket dan mengenakannya. Dia mengambil senapan dari tanganku dan berjalan ke depan.


"Permaisuri, saya ingin Anda tiarap di samping peti arsenal. Saya tidak ingin Anda terluka."


"Apa fungsinya berkata sopan seperti itu tapi tadi mengancam akan membunuhku?"


Meski mengeluh, Rahayu menurut. Namun, dia tidak tiarap, melainkan terlentang. Yah, tangan kirinya patah sih, jadi aku bisa paham.


Aku meletakkan mata pada teropong senapan. Di kejauhan, aku melihat beberapa ledakan. Ledakan itu kecil, tidak sebesar yang sebelumnya. Tampaknya mercenary yang aku sewa mencoba menghancurkan barikade yang menghalangi jalan. Sayangnya, ledakan itu tidak menghancurkan barikade. Pihak Mariander melawan dan membunuh semua orang yang terlihat.


Dua kendaraan lapis baja akhirnya mengejar kami. Kalau di aspal, bus ini akan memiliki kecepatan yang lebih tinggi karena ringan. Namun, karena saat ini kami di jalan non aspal, penuh debu dan tanah, kendaraan lapis baja dengan roda besar dan ban off road lah yang akan menang.


Di kanan dan kiri terlihat banyak bukit kering. Aku hanya berharap tidak ada artileri atau penembak jitu di perbukitan itu. Selain itu, kalau perbukitan ini tidak ada, mungkin pandangan Etana sudah bisa menghentikan mobil yang mengejar kami. Sayangnya, tidak bisa.


Aku menarik pelatuk dan melepaskan satu tembakan. Tembakan pertama menempel di kaca, membuat lubang yang sedikit lebih besar dari peluru. Kalau lubangnya terlalu kecil, aku terpaksa melepaskan tembakan lain. Namun, laras senapanku sudah bisa keluar dari lubang, jadi aku tidak melakukannya.


Tembakan dilepaskan dan mendarat di ban depan kanan, tapi tidak ada reaksi. Tembakan lain mendarat di ban depan kiri, masih tidak ada reaksi. Tampaknya, ban itu memiliki sistem silikon gel yang akan menutup setiap lubang yang ada. Kalau benar, normalnya, sistem itu baru akan habis setelah kendaraan menempuh jarak 45 Km.


Namun, aku penasaran, berapa banyak peluru yang bisa ditahan satu ban? Sayangnya, sebelum aku mencobanya, sebuah berondong peluru datang.


"Tiarap!"


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya



__ADS_2