
"Ninlil?"
"Masih di misi bersama Nanna dan Suen."
"Apa Elam masih mengikuti Suen?"
"Ya, benar. Elam masih mengikuti Suen. Namun, jangan khawatir, Elam menjaga Suen dari bayangan. Jadi, perkembangan mereka tidak akan terganggu."
"Baiklah kalau begitu."
Aku merespons Ibla enteng sambil membaca file laporan antar semester. Tentu saja ada banyak agen intelijen yang diperkerjakan Bana'an. Namun, prioritasku, adalah adik dari kepala intelijen yang kerjanya tidak jelas.
Meskipun Lugalgin adalah kepala intelijen, secara praktik, akulah yang mengatur seluruh operasi intelijen Kerajaan Bana'an. Lugalgin hanya mengurus negosiasi dengan militer, kepolisian, Mulisu, dan perdana menteri. Pada titik ini, secara tidak langsung, Lugalgin sudah seperti raja dan aku adalah perdana menteri.
Sungguh ironis! Lugalgin bilang tidak ingin menjadi raja, tapi, pada titik ini, dia sudah seperti raja. Namun, aku tidak akan pernah mengonfrontasi Lugalgin soal jobdescnya. Aku tahu benar kalau Lugalgin menantinya. Kalau dikonfrontasi, dia memiliki alasan untuk mundur dari posisi Kepala Intelijen dan mewariskannya padaku. Tidak akan! Aku tidak akan melakukannya!
Di lain pihak, Ibla yang bukan intelijen Bana'an justru lebih sering di sini. Hal ini dikarenakan Agade dan intelijen sering bekerja sama. Di hari kerja, kalau dia tidak ada tugas mencari informasi atau turun ke lapangan, Ibla menghabiskan jam kerja di sini. Dan, tentu saja, aku memberdayakan Ibla.
"Hai, Ibla, Yuan, kami datang."
"Kami datang!"
"Hai Ninmar, mengecek suamimu?"
"Ah ... itu ... "
"Tentu saja dia datang mengecek suaminya. Mau apa lagi memangnya? Hahahaha."
__ADS_1
Umma tertawa kencang dari belakang perempuan berambut ungu itu. Meski sudah menikah dengan Ibla, tampaknya Ninmar tidak ada niat untuk mengembalikan warna rambutnya seperti Yarmuti.
"Yuan, ini ada titipan untukmu. Biasa"
"Terima kasih, Umma."
Aku menaruh laptop di meja dan menerima bingkisan dari Umma. Bingkisan ini berisi coklat beralkohol. Bukan hanya Ninmar dan Ibla yang sudah menikah di ruangan ini, aku juga. Sayangnya, meski status menikah, hubunganku berbeda jauh jika dibandingkan Ibla dan Ninmar.
Ibla dan Ninmar bisa bertemu hampir setiap hari dan mengumbar kemesraan di depan kami seperti sekarang, saling menyuapi makan. Di lain pihak, aku harus puas hanya dengan coklat beralkohol ini! Sejak 9 tahun yang lalu, Jin menerima pekerjaan jangka panjang dari Lugalgin, mengawal dua VVIP. Karenanya, dia tidak bisa mendatangiku terlalu sering.
"Aku minta ya."
Tanpa menunggu jawaban, perempuan berambut coklat kemerahan ini mengambil beberapa coklat, seperti biasa.
"Ngomong-ngomong, Umma,"
"Ya?"
Umma mengangguk. "Ya, benar. Entah apa yang merasukinya."
"Lalu, bagaimana respons Iris? Laporan yang diberi Ibla tidak cukup mendetail, terutama soal reaksinya?"
"Menurutmu?"
"Mengingat Ur pendek dengan babyface, pasti Iris tidak percaya."
"Tentu saja!" Umma setuju. "Siapa juga yang akan percaya dengan gamer itu! Hahahaha! Dia bahkan lebih pendek dari Iris! Ketika aku menemui Iris, dia percaya kalau Ur hanya ingin kelihatan keren di depannya."
__ADS_1
"Hahahaha!"
Aku tertawa kencang ketika mendengar cerita Umma. Ah, kasihan sekali, laki-laki berumur kepala 2 itu. Hahahaha.
"Oke, kalian terlalu banyak makan coklat beralkohol itu."
""Diam!""
Aku dan Umma sama-sama membentak Ninmar. Kami melanjutkan cerita Ur dengan Iris. Ah, kalau cerita mereka berdua dijadikan komik, pasti lucu sekali. Dan, aku pasti akan menjadi pembaca setia.
"Ngomong-ngomong, Umma, kemana duo Uru'a dan Simurrum? Aku jarang bertemu mereka sejak beberapa bulan terakhir."
Sebenarnya, aku bisa menggunakan jaringan informasi untuk mencari tahu keberadaan 2 orang ini. Namun, kenapa harus repot mencari kalau bisa langsung tanya?"
"Ah, mereka sedang gonta-ganti wajah di setiap misi Agade. Yah, seperti Ibla lah."
"Kenapa begitu?"
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Saat aku tanya, mereka hanya menjawab, 'iseng'."
"Iseng, huh?"
"Iseng."
__ADS_1