I Am No King

I Am No King
Chapter 192 – Pengkhianatan


__ADS_3

Gelap. Tidak ada satu pun lampu yang menyala di ruangan ini. Terdengar suara lirih di seluruh penjuru ruangan. Semua suara itu tidak keluar dengan penuh, seolah ditahan. Namun, ada satu suara yang mampu keluar dengan lantang dan arogan.


"Dimana ini? Apa kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa?"


"Kami sadar. Sangat sadar. Aku.... sangat sadar."


Sebuah lampu sorot menyala, menyinari sosok yang baru saja berbicara. Dia duduk dan terikat pada sebuah kursi di tengah ruangan. Atau aku bilang, di tengah lapangan.


"Suara ini, Lugalgin?"


"Hai, Fahren."


Ya, saat ini, sosok yang tengah diikat di tengah lapangan adalah Fahren. Dia masih mengenakan pakaian khas bangsawan yang penuh dengan ornamen tanpa fungsi. Namun, jubah kerajaannya sudah tidak terlihat lagi.


Aku berjalan ke bawah lampu sorot, ke depan Fahren. Aku menggeret kursi sendiri dan duduk di depannya. Normalnya, dalam keadaan seperti ini, rakyat jelata sepertiku tidak boleh duduk sejajar dengan Raja. Aku harus duduk di kursi yang lebih rendah atau bahkan di atas tanah, menandakan statusku lebih rendah dari Raja. Normalnya.


Saat ini, aku tidak mengenakan pakaian kasual yang menandakan status sebagai rakyat jelata. Aku mengenakan pakaian berlapis kevlar, celana kargo, dan jubah hitam, pakaian sebagai anggota Agade.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan?" Aku ganti bertanya. "Aku sudah berbaik hati menerima pekerjaan sebagai kepala intelijen, berusaha memperbaiki dan memperkuat sistem intelijen kerajaan, aku bahkan mencoba mencarikan raja baru untukmu yang lebih mudah dikendalikan daripada aku. Tapi, apa balasannya?"


Aku berdiri, menjambak rambut Fahren. "Kau mengkhianatiku. Kau membuat beberapa agen schneider langsung melapor padamu. Bahkan, kau mengadu dombaku dengan keluarga Alhold. Gara-gara kau, adikku hampir terluka parah bahkan dia bisa tewas kalau aku tidak turun langsung. Bukan hanya itu, kau juga membuat keluar Suen dan Nanna tewas. Apakah kerajaan ini berpikir warganya hanyalah pion yang bisa dikorbankan? Begitu?"


"A...apa maksudmu?"


Pura-pura bodoh, ya?


Aku melepaskan tanganku dari rambut Fahren dan mengambil smartphone dari saku celana. Di belakangku, sebuah cahaya kotak muncul di langit. Kalau melihat dari ukuran kotaknya, seharusnya, Fahren sudah bisa menduga dimana tempat ini.


[Yang Mulia Paduka Raja, semuanya berjalan sesuai rencana. Sekarang, keluarga Alhold sedang melawan Lugalgin.]


[Bagus. Bagus sekali.]


Aku memperdengarkan beberapa rekaman hasil penyadapan telepon Fahren. Fahren membelalakkan matanya lebar, tidak mampu mempercayai apa yang didengarkannya.


"Saat ini, aku memperkerjakan Akadia, Agade, Agen Schneider, dan seorang mercenary."


Yang aku maksud mercenary adalah Jin. Tidak mungkin aku mengatakan pimpinan Guan.


"Di bawahku, aku menyuruh semua organisasi saling mengawasi satu sama lain. Dan, tidak kuduga, banyak sekali agen schneider yang langsung melapor padamu tapi tidak melapor padaku."

__ADS_1


"Apa yang kamu harapkan? Mereka bekerja di bawahku."


"Tidak menurut dokumen pernyataan ini." Aku mengambil sebuah dokumen di bawah kursi Fahren. "Dokumen ini ditandatangani oleh pihak yang bersangkutan, yang adalah agen schneider. Mereka menyatakan sumpah dan kesetiaan padaku, Lugalgin Alhold. Aku tidak melihat ada kata-kata sumpah dan kesetiaan pada Raja, Fahren Falch Exequeror. Dan jika ada pengkhianat, aku diperbolehkan melakukan pembersihan semua agen yang membangkang dan agen di bawahku."


Untuk mempermudah Fahren, dan semua orang, melihat isi dokumen, aku menampilkan hasil scan dokumen di layar.


"Sebelumnya, ada pengkhianat yang bekerja dengan agen pembangkang. Namun, aku masih berbaik hati dengan hanya membersihkan keluarga agen pengkhianat itu. Aku belum membersihkan semua agen seperti yang ditulis pada dokumen ini. Namun, tampaknya, kebaikanku ini disalahartikan. Bukannya pembersihan ini dianggap sebagai peringatan, tapi kalian tidak mengindahkannya. Jadi, aku berpikir, mungkin sejak awal kalian memang sudah merencanakan ini semua."


Fahren terdiam. Dia tidak memberi respon dan hanya membuang muka.


Aku menekan tombol di smartphone, mengirim pesan. Tepat setelah itu, satu lampu sorot lain menyala, menerangi sebelah kiriku. Di kiriku, terlihat Shu En yang terikat di kursi, sama seperti Fahren. Namun, jika mulut Fahren terbuka lebar tanpa penghalang, mulut Shu En disumpal dan diikat dengan kain.


"Baiklah, kita putar rekaman beberapa hari lalu. Dimana kamu, Shu En, seharusnya mengirimkan agen untuk melindungi keluarga Nanna dan Suen."


Aku memutar sebuah rekaman suara. Rekaman ini tidak terlalu penting, hanya berisi Shu En yang mengkonfirmasi kelancaran rencana pada Fahren. Setelah rekaman suara, aku memutar video.


"Video ini didapatkan dari cctv terdekat."


Aku hanya memberi pengantar singkat dan membiarkan Fahren dan Shu En melihat ke video itu. Di video itu, terlihat dua buah rumah dihujani oleh peluru dan bahkan bazoka dan granat. Aku memperbesar volume, memperdengarkan suara teriakan di balik ledakan dan peluru.


Setelah serangan berhenti, tidak terjadi apa-apa, diam, tenang. Di saat ini aku, memunculkan beberapa foto ke layar.


"Dalam serangan ini, lima orang tewas. Ini adalah wajah mereka, kalau kalian peduli."


"Waktu sejak serangan dimulai, hingga agen schneider datang, adalah 3 menit 26 detik. Waktu laporan Shu En ke Fahren, 5 menit 58 detik. Ada selisih waktu 2 menit 32 detik."


Aku melihat ke arah Shu En. Mata Shu En membelalak. Terlihat tubuhnya bergetar.


"Shu En," aku membuka penjelasan. "Kalau kau tidak melapor pada Fahren dan langsung menghubungi agen schneider, ada waktu dua setengah menit untuk memperingatkan keluarga itu. Mereka memiliki basemen. Dalam waktu dua setengah menit ini, mereka bisa pergi ke basemen, menyelamatkan diri."


Aku berjalan ke arah Shu En dan membuka penyumpal mulutnya.


"Ada pembelaan, Shu En?"


"I...itu...itu...."


"Shu En," Aku menyela Shu En yang tidak mampu menjawab. "Di basemen markas, aku sudah bilang. Kalau ada yang menyerang keluargamu, aku pastikan pihak penyerang akan dibersihkan. Namun, karena kamu adalah pihak yang menyebabkan semua ini, maka...."


"Tidak! Tidak! Kumohon! Ampuni putraku! Ampuni Liu! Dia tidak salah! Dia tidak tahu apa-apa!" Shu En merengek. Air matanya juga terus mengalir.


"Lalu, bagaimana kamu akan bertanggung jawab? Kalaupun aku membunuhmu, itu hanya satu nyawa. Sedangkan yang melayang adalah 5 nyawa. Tidak setimpal. Belum lagi, terima kasih padamu, mereka tidak lagi memiliki keluarga. Mereka yatim piatu. Tidak ada lagi yang akan membimbing dan membiayai hidup mereka."

__ADS_1


Yah, sebenarnya, aku yang akan membiayai hidup mereka sih. Namun, aku tidak akan mengatakannya.


Aku merendahkan badan, meletakkan wajah di depan Shu En.


"Bayangkan, ketika pulang, tidak ada lagi senyuman atau ucapan selamat datang yang akan menyambut mereka. Tidak ada lagi kehangatan keluarga yang akan menenangkan di saat mereka bersedih."


Aku menambah pendekatan lain. "Bayangkan kalau yang ada di posisi mereka adalah putramu. Dia pulang, berharap ibunya di rumah. Atau hanya keluar bekerja, berharap kamu akan pulang. Namun, sayangnya tidak. Ketika dia pulang, hanya tembok dingin yang menyambutnya, mengetahui ibunya tidak ada lagi di dunia ini. Kalau yang ada di posisi itu adalah putramu, apa kamu rela hanya menghukum satu orang?"


"Aa...aa....."


Shu En tidak mampu memberi jawaban. Mulutnya hanya membuka dan mengeluarkan suara, tanpa kata.


Aku kembali membuka smartphone. Namun, belum sempat aku menjalankan rencana berikutnya, sebuah suara menghentikanku.


"Fahren. Kamu bisa bunuh aku dan Fahren. Kami lah yang membuat keluarga mereka tewas. Liu tidak ada hubungannya dengan semua ini."


"Apa yang kau katakan? Ini adalah salahmu!" Fahren mengelak. "Aku tidak masalah mendapat laporan belakangan. Tewasnya dua keluarga itu adalah karena kau tidak bisa menentukan prioritas."


"Raja brengsek! Kau lah yang mengatakan prioritas utamaku adalah melayanimu. Begitu keadaan tidak memihak, kau mau cuci tangan begitu saja?" Shu En melihat ke arahku. "Aku mohon, ampuni putraku. Ampuni Liu."


Wow. Hingga akhir, Shu En terus bersikeras agar aku mengampuni putranya. Aku mengaguminya. Namun, yang akan membuat keputusan bukan aku.


Aku mengirim pesan. Lampu sorot lain menyala. Di bawah lampu sorot, terlihat dua orang, laki-laki dan perempuan. Mereka hanya berdiri, diam. Kedua mata mereka mengeluarkan air.


"Nanna, Suen," aku berjalan ke arah Nanna dan Suen. "Perkenalkan, Yang Mulia Raja Fahren dan Shu En, dua orang yang telah membuat keluarga kalian terbunuh."


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya



__ADS_2