
Rencana perubahan sistem kerajaan memang tampak mudah dan mulus. Namun, tentu saja, itu tidak mudah. Dan, tentu saja, korban akan bermunculan. Dalam proses, akan ada masa dimana ekonomi dan kestabilan Bana'an menjadi terpuruk. Hal ini akan berakibat pada kemiskinan dan kelaparan. Tingkat kriminal pun akan meningkat drastis. Korban jiwa akan menjadi hal yang normal.
Masyarakat juga tidak bisa menyerbu bangsawan yang bermasalah karena sudah pergi dari Bana'an untuk selamanya. Jadi, sistem lama Bana'an dimana rakyat menggulingkan bangsawan tidak akan bisa terjadi.
Di lain pihak, meski sulit, kami harus memastikan keadaan wilayah bangsawan yang masih tinggal. Tidak harus makmur, yang penting bertahan. Dengan demikian, warga akan sepenuhnya menyalahkan bangsawan yang pergi dan ingin mempertahankan bangsawan yang masih ada. Di sini, kami ingin menunjukkan pada rakyat bahwa tidak semua bangsawan sama.
Kami yakin bisa menjalankan rencana ini karena memiliki kuasa di kerajaan, militer, kepolisian, intelijen, dan pasar gelap. Kalau ada satu saja dari lima faktor itu yang tidak kami kuasai, proses perubahan kerajaan tidak mungkin dilaksanakan, terutama pasar gelap.
Dengan kerja sama pasar gelap dan intelijen, aku bisa menekan angka kriminalitas di wilayah tertentu. Kuota transaksi bulanan yang diterapkan untuk organisasi pasar gelap menjadi kunci dalam pengendalian kriminalitas. Namun, kuota ini tidak akan aku tetapkan di wilayah yang ditinggalkan. Jadi, keterlibatan pasar gelap akan semakin menguatkan kesan kalau memang bangsawan yang pergi adalah bersalah. Intinya, bangsawan yang pergi akan menjadi kambing hitam.
"Dan, Lugalgin, menurutmu berapa banyak korban jiwa yang akan jatuh?"
"Entahlah. Jujur, aku tidak terlalu peduli dengan korban jiwa. Selama rencana ini bisa mencegahku menjadi Raja. Aku tidak peduli."
"Kamu ...."
Ibu Amana menggertakkan giginya. Dia menatapku dalam-dalam. Bahkan, aku bisa merasakan niat membunuh mulai muncul darinya. Di lain pihak, di sebelahnya, Bapak Bilad masih belum marah. Dia tidak tersenyum, tapi tidak menunjukkan tanda-tanda marah juga.
"Sejak kecil, Emir sudah tidak cocok menjadi keluarga kerajaan. Inanna juga sudah dikhianati oleh keluarganya sendiri. Keluarga kerajaan Bana'an sudah tewas dan hanya menyisakan permaisuri dan 1 anak kecil. Kalau dibiarkan, ada kemungkinan rakyat akan memaksa Emir untuk menjadi tuan putri lagi, menjadikanku Raja. Dan, kami bertiga, setuju kalau skenario aku menjadi Raja adalah yang paling buruk. Oleh karena itu, kami menjalankan rencana ini."
"Kami bertiga ... apa Rina tidak mengetahui rencana kalian?"
Aku menggeleng. "Biarlah Rina fokus pada dendamnya. Aku tidak mau mengganggunya dulu."
Ketika mendengarku, Ibu Amana menghela napas, tampak lega.
Di lain pihak, aku merasa ada yang tidak konsisten dari perlakuan Ibu Amana.
"Ibu Amana, kamu tampak lega ketika mengetahui Rina tidak tahu apa-apa soal rencanaku. Boleh aku tahu kenapa?"
"Tentu saja! Rencanamu akan menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit. Aku tidak mau mengetahui putriku mendukung genosida ini?"
__ADS_1
"Kenapa tidak? Maksudku, Bana'an sudah memperdagangkan anak yatim piatu selama berabad-abad. Apa Ibu bisa menghitung berapa banyak jumlah anak yatim piatu yang tewas karena perdagangan ini? Dibandingkan kebijakan perdagangan anak ini, menurut kami, jumlah korban jiwa yang jatuh akan lebih sedikit. Ibu Amana tahu hal ini, kan?"
"..."
Ibu Amana tidak menyanggahku lagi, terdiam. Tampaknya, saat ini, ibu Amana sadar kalau sanggahan lebih jauh tidak akan berguna. Bana'an telah melakukan hal biadab selama berabad-abad. Apa yang kulakukan hanya akan menjadi catatan lain di sejarah Bana'an.
"Gin," Bapak Bilad masuk. "Aku mendengar rumor kalau organisasi pasar gelap Bana'an mulai mendirikan panti asuhan. Apa ini juga bagian dari rencanamu?"
"Ya, benar. Ini adalah bagian dari rencanaku. Kalau panti asuhan berada di bawah naungan organisasi pasar gelap, tidak akan ada yang berani macam-macam. Keamanan dan masa depan anak-anak yatim piatu pun akan lebih terjamin."
Selama berabad-abad, Bana'an telah memperdagangkan anak yatim piatu seenaknya. Setidaknya, dalam proses ke depan, aku tidak ingin anak yatim piatu itu ikut menderita. Aku akan memastikan mereka mampu hidup normal dan layak.
"Bagaimana dengan anak-anak keluarga normal?"
"Untuk yang kukenal, mereka akan aku lindungi, termasuk keluarga dan temannya. Untuk yang tidak aku kenal? Aku tidak peduli."
"Kenapa begitu?"
Ketika mendengar deklarasiku, akhirnya, sejak bertemu, Bapak Bilad menunjukkan ekspresi terganggu. Dia memicingkan sebelah matanya.
"Biar aku ulangi sebuah ucapan dari istriku, Inanna. Seorang Raja haruslah serakah. Dia harus memiliki segalanya, baik itu kemakmuran rakyat, kebahagiaan keluarga, atau apapun. Dia harus memiliki segalanya.
"Seorang Raja yang mengutamakan keluarga dan orang yang dia kenal, tanpa memperhatikan masyarakat, hanyalah orang egois dengan takhta. Di lain pihak, seorang Raja yang mengutamakan masyarakat tapi menelantarkan keluarganya hanyalah orang bodoh dengan takhta. Raja bukanlah siapa-siapa tanpa masyarakat. Di lain pihak, dia bukanlah manusia jika menelantarkan keluarganya demi masyarakat yang tidak dikenal. Dia hanya robot yang menjalankan sistem. Dia bukan manusia."
Ung, apa Inanna mengatakannya seperti itu? Rasanya tidak. Tampaknya aku tidak bisa mengulangi ucapan Inanna dengan sempurna. Yah, sudahlah, itu tidak penting. Saat ini, yang lebih penting adalah respons dari Ibu Amana dan Bapak Bilad.
Menyusul Ibu Amana, Bapak Bilad tampak geram. Mereka berdua menggertakkan gigi dan mengepal keras.
"Gin," Ibu Amana kembali masuk. "Apa kamu akan membuat Rina menjalankan rencana itu juga di kerajaan ini?"
"Ya, benar. Aku berpikir akan menjadikan Kerajaan Nina menjadi Aristokrasi-Demokrasi juga, ya. Namun, untuk rencana konkret, aku belum meramunya. Maksudku, aku belum tahu kondisi Kerajaan Nina, kan?"
__ADS_1
"Kamu akan membuat putriku menjadi pelaku genosida?"
"Hei, kenapa Ibu Amana protes? Maksudku, kalau Ibu Amana tidak menyuruh Rina mengintaiku, dia tidak akan pernah mengenalku, kan? Dan kalau Ibu Amana tidak menewaskan Tera, Rina tidak akan termakan dendam dan menikahiku demi mendapat dukungan Bana'an, kan?"
Ibu Amana terentak ketika mendengar ucapanku. Badannya tampak bergetar, tidak mampu memercayaiku. Di saat itu, sebuah ucapan yang tidak terduga muncul dari mulut Ibu Amana.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1