
Paginya Tristan menolak untuk sarapan pagi bersama Williana. Tristan langsung pergi begitu saja mengabaikan Williana yang sedang menikmati sarapan paginya.
Tristan benar benar sangat marah pada kakaknya yang selalu memandang segala sesuatu dengan uang. Bahkan untuk berteman saja Tristan harus memilih dari kalangan yang sama dengan-nya. Tristan merasa kebebasan-nya direnggut paksa oleh kakaknya sendiri.
Williana yang memang sudah tau Tristan pasti akan merajuk padanya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Wanita itu kemudian meraih ponselnya menghubungi seseorang.
“Ya.. Awasi terus Tristan. Kalau sampai Tristan dekat lagi dengan gadis itu segera kasih tau saya.” Katanya kemudian langsung menyudahi telepon-nya pada orang suruhan-nya itu.
Williana menghela napas. Wanita itu yakin caranya sudah benar. Williana tidak ingin Tristan di manfaatkan oleh teman teman-nya.
-----------
Stefan keluar dari kamar mandi dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Senyum yang tidak sampai ke matanya. Tentu saja, Stefan melengkungkan bibirnya karena terpaksa. Stefan tidak mau Hana marah dan kembali menindasnya.
“Sudah selesai mandinya?” Tanya Hana yang baru saja mengambilkan kemeja juga jas yang akan dikenakan oleh Stefan hari ini.
“Ya, Hana..” Angguk Stefan menjawab.
Stefan kemudian melangkah mendekat pada Hana yang berdiri didepan ranjang mereka. Pria itu hanya mengenakan handuk putih yang melingkar di pinggangnya dengan rambut basah yang acak acakan.
Hana mengeryit saat Stefan mendekat. Tiba tiba Hana merasa sangat mual karena aroma sabun dan shampo yang menguar dari tubuh suaminya.
Hana langsung menutup mulutnya kemudian berlari masuk kedalam kamar mandi. Stefan yang melihatnya langsung merasa khawatir. Stefan mengejar Hana yang muntah muntah dalam kamar mandi.
“Kita ke dokter saja ya..” Ujar Stefan pada Hana.
Hana membasuh bibirnya kemudian menatap Stefan. Wanita itu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Stefan, bau kamu membuat aku mual.” Katanya merengek.
Stefan langsung mengendus aroma dari tubuhnya. Stefan tidak memakai wewangian apapun. Dan aroma yang menguar dari tubuhnya adalah aroma sabun dan shampo yang memang selalu Hana dan dirinya kenakan setiap hari.
“Bau gimana sih? Orang aku baru selesai mandi masa bau.” Stefan berdecak merasa kesal karena apa yang Hana katakan.
Hana menutup hidungnya karena tidak tahan dengan aroma dari tubuh Stefan. Wanita itu kemudian mengedarkan pandangan-nya. Hana tau aroma yang menguar dari tubuh suaminya adalah aroma sabun dan shampo yang biasa mereka gunakan karena kemarin sore juga Hana sempat mual mual saat tidak sengaja mencium aroma rambut basah Stefan.
“Stefan, sabun sama shamponya ganti aja. Terus kamu mandi lagi sampai aroma sabun dan shamponya hilang.” Perintah Hana kemudian keluar dari kamar mandi meninggalkan Stefan yang rasanya ingin sekali menangis karena tingkah Hana. Bagaimana mungkin dirinya mandi lagi untuk menghilangkan aroma sabun dan shampo yang baru saja dia gunakan.
Namun Stefan juga tidak punya pilihan lain. Jika Stefan tidak menuruti Hana pasti akan marah kemudian menangis. Apa lagi Stefan juga tidak ingin Hana kembali muntah muntah karena aroma sabun dan shampo tersebut.
Stefan kemudian menutup pintu kamar mandi, meraih botol shampo dan sabun yang masih penuh itu kemudian melemparnya ke tong sampah. Setelah itu Stefan kembali mandi untuk menghilangkan aroma sabun dan shampo itu dari tubuhnya.
Selesai mandi, Stefan langsung mengenakan setelan jas yang sudah di siapkan oleh Hana. Pria itu berpikir mungkin dirinya harus membicarakan tentang pergantian sabun dan shampo yang tidak membuat istrinya itu mual.
Setelah penampilan-nya rapi, Stefan keluar dari kamarnya dan menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai dasar dimana pasti Hana, Sera, juga Angel sudah menunggunya untuk sarapan bersama.
“Hem.. Ya.” Angguk Stefan tersenyum tipis.
Sera tersenyum mendengarnya. Wanita itu benar benar tidak percaya setiap melihat komunikasi Stefan dan Angel yang benar benar sangat baik sekarang. Meskipun Stefan hanya membalas dengan singkat setiap apa yang Angel katakan, tapi setidaknya Stefan tidak lagi menghindar untuk bersama putrinya itu.
Mereka sarapan bersama dengan obrolan ringan yang hangat. Hana juga pagi ini kembali seperti biasanya yaitu melayani Stefan dengan baik.
Selesai sarapan, Hana mengantar Stefan dan Angel sampai di beranda rumah. Wanita itu mencium kedua pipi dan kening Angel sebelum gadis itu masuk kedalam mobil mewah Stefan yang akan mengantarnya ke sekolah.
“Siang nanti kamu siap siap ya. Kita pergi belanja.” Ujar Stefan membuat Hana mengeryit.
__ADS_1
“Belanja? Bukan-nya semua kebutuhan bulan ini sudah di beli sama mbak ya kemarin?” Tanya Hana tidak mengerti.
Stefan berdecak. Semua persediaan sabun dan shampo untuk sebulan ini memang masih banyak. Tapi Stefan tidak mau mengambil resiko Hana muntah muntah lagi karena aroma sabun dan shampo itu. Dan Stefan berniat mengajak Hana untuk memilih sendiri sabun dan shampo yang tidak membuat wanita itu merasa mual.
“Udah kamu nggak usah bawel. Tinggal turutin aja apa yang aku bilang apa susahnya sih?”
Hana mengerucutkan bibirnya mendengar apa yang Stefan katakan. Pria itu sepertinya tidak pernah sekalipun berkata manis padanya. Stefan selalu menyelanya seperti mengatainya jelek dan bawel.
“Kamu tuh kenapa sih Stefan kayanya nggak bisa sekali aja bersikap manis sama aku? Aku ini istri kamu loh, bukan saingan bisnis kamu.” Kesal Hana.
Stefan menghela napas. Setiap hari sejak kehamilan-nya di ketahui sikap Hana selalu berubah ubah. Kadang begitu galak dan sekarang sangat sensitif.
Tidak mau bertengkar, Stefan pun menghela napas kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Hana.
“Ya sudah. Sayang, nanti siang kamu siap siap ya. Aku akan jemput kamu di jam makan siang. Nggak usah dandan menor, biasa aja. Biar nggak kaya ondel ondel. Oke?”
Hana tersenyum dan tersipu mendengar ucapan lembut suaminya. Wanita itu kemudian menganggukkan kepalanya mengiyakan.
“Kalau begitu aku berangkat yah.”
Stefan kemudian mengecup kening Hana dan Hana langsung menyaliminya. Setelah itu Stefan melangkah menuju mobilnya tanpa menoleh lagi pada Hana yang masih tersipu karena ucapan lembut Stefan tadi.
Stefan menghela napas setelah berada didalam mobilnya. Pria itu benar benar tidak habis pikir dengan perubahan sikap Hana setiap harinya. Hana benar benar sangat berbeda dari biasanya. Tapi heran-nya Hana bersikap aneh hanya pada Stefan. Sementara pada Sera, Angel, dan yang lain-nya Hana tetap bersikap wajar seperti biasanya.
“Daddy kenapa?”
Pertanyaan Angel membuat Stefan tersadar dari lamunan-nya. Stefan menggeleng pelan kemudian menatap sebentar pada putrinya itu.
__ADS_1
“Enggak, nggak papa. Kita jalan sekarang.” Jawab Stefan dengan wajah datar.
Stefan segera menghidupkan mesin mobilnya kemudian berlalu dengan kecepatan sedang keluar dari pekarangan luasnya menjauh dari Hana yang melambaikan tangan mengiringi kepergian Stefan pagi ini.