
Didalam kelas Tristan beberapa kali menguap karena rasa kantuk yang begitu hebat di rasakan-nya. Edo dan Joshua yang melihat Tristan terus menguap dan sesekali memejamkan kedua matanya tampak penasaran dan bertanya tanya. Padahal tidak biasanya Tristan seperti itu. Tristan selalu fokus jika sudah menyangkut pelajaran sehingga nilainya selalu bagus dalam pelajaran apapun.
“Tristan !!” Tegur bu Amanda yang terkenal killer di sekolah.
Edo dan Joshua mendelik mendengar suara lantang wanita cantik berkaca mata itu. Sudah bisa di pastikan, Tristan pasti akan terkena semprotan pedas bibir merah cabai kriting milik wanita itu.
“Mampus deh si Tristan Do..” Gumam Joshua pelan.
Amira yang penasaran karena tiba tiba bu Amanda memanggil dengan lantang nama Tristan langsung menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat apa yang sedang Tristan lakukan sehingga membuat guru cantik nan judes itu marah.
Amira menghela napas dan menggelengkan kepalanya melihat Tristan yang malah tertidur dengan begitu tenang tanpa sedikitpun merasa terusik dengan suara lantang bu Amanda.
“Kasihan Tristan. Dia pasti kelelahan dan semalam nggak bisa tidur karena tempatnya tidak nyaman.” Batin Amira merasa iba pada Tristan.
Bu Amanda menghampiri Tristan yang terlelap dengan kedua tangan menumpuk sebagai bantalan kepalanya.
“Tristan, bangun dan segera kerjakan nomor satu sampai lima.” Ujar bu Amanda memerintah dengan sangat tegas.
Tristan tidak menyaut. Dia sudah benar benar terlelap damai dalam tidurnya karena hawa sejuk didalam kelas.
Edo dan Joshua yang melihat itu merasa tidak sanggup hingga akhirnya memilih untuk menutup kedua matanya tidak tega jika harus melihat Tristan mendapat makian kemarahan bu Amanda. Karena bu Amanda adalah salah satu guru paling killer juga paling adil. Dia tidak pernah pandang bulu. Siapapun yang bersalah tetap dia hukum tidak perduli siapa dan bagaimana pengaruh orang tuanya di sekolah. Termasuk Tristan yang adalah adik dari donatur besar di sekolah itu dan terkenal sebagai pengusaha kaya raya.
Karena Tristan yang tidak juga bangun, bu Amanda menghela napas kasar kemudian meraih daun telinga Tristan dan menariknya dengan keras membuat kedua mata Tristan langsung terbuka lebar.
__ADS_1
Tristan terkejut karena tiba tiba tidurnya terganggu dengan rasa sakit di telinganya.
“Adu duh sakit bu.. Sakit banget ini..” Keluh Tristan memegangi tangan bu Amanda yang menjewer daun telinganya.
Semua murid didalam kelas hanya diam saja melihat Tristan di jewer dan di seret paksa ke depan oleh bu Amanda. Mereka tidak mau mengambil resiko mendapat amarah dari guru cantik itu juga. Termasuk Amira, Edo, juga Joshua.
“Saya paling tidak suka dengan murid yang tidak disiplin saat belajar. Dan tidur didalam kelas adalah sesuatu yang paling saya benci saat saya sedang menerangkan materi pelajaran.” Ujar wanita itu dengan lantang kemudian melepaskan jeweran-nya pada daun telinga Tristan.
Tristan meringis sambil mengusap usap daun telinganya yang memerah karena jeweran bu Amanda. Tristan tau dirinya salah. Tapi Tristan benar benar tidak bisa menahan rasa kantuknya karena semalam Tristan juga tidak bisa tidur dengan nyenyak di tempat tidurnya yang panas dan pengap itu.
“Maaf bu.. Tapi saya benar benar sangat mengantuk.” Ujar Tristan pelan.
Bu Amanda menyipitkan kedua matanya menatap Tristan yang menunduk didepan-nya. Wanita itu menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya dengan kasar.
Tristan hanya bisa menghela napas kemudian mengangguk pelan. Tristan akui dirinya memang salah karena tidur saat jam pelajaran berlangsung. Karena itu Tristan tidak berani membantah apa yang bu Amanda suruh padanya.
Amira, Joshua, juga Edo hanya bisa menatap kasihan pada Tristan yang keluar dari kelas dengan langkah gontai dan sesekali menguap.
Untuk Edo dan Joshua mereka hanya bertanya tanya bingung kenapa Tristan bisa tertidur saat jam pelajaran sedang berlangsung. Tapi Amira, dia tentu tau kenapa Tristan sampai tertidur di kelas.
Ketiganya ingin sekali membantu, namun ketiganya juga tau jika sampai mereka membantu Tristan itu justru akan membuat bu Amanda semakin kesal dan menambah hukuman-nya pada Tristan.
Sementara Tristan, dia menatap sendu halaman luas sekolah yang terlihat begitu gersang dan panas. Tristan tidak bisa membayangkan bagaimana rasa panasnya jika dirinya harus berdiri disana sampai jam pelajaran bu Amanda selesai. Sementara pelajaran bu Amanda saja baru saja dimulai beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
“Kalau aku nggak jalanin hukuman ini bu Amanda pasti akan semakin marah. Bisa juga nanti hukuman aku malah tambah berat.” Gumam Tristan dengan helaan napas berat.
Dengan sangat terpaksa Tristan pun menjalankan hukuman dari bu Amanda. Tristan berdiri didepan tiang bendera seakan sedang menentang panasnya matahari yang sedang menyinari bumi.
Putri yang saat itu sedang melangkah di koridor setelah dari toilet mengeryit melihat Tristan yang berdiri di depan tiang bendera. Putri kemudian segera mengeluarkan ponsel dari saku baju seragamnya dan mengambil gambar Tristan dengan benda pipih itu. Putri segera mengirimkan-nya pada Williana sekaligus memberitahu Williana bahwa Tristan sudah kembali masuk sekolah. Putri juga sebenarnya tau bahwa Tristan belum pulang kerumahnya.
Putri tersenyum setelah memberitahu pada Williana. Gadis dengan rambut yang dikepang itu kemudian melanjutkan langkahnya dengan senyuman bahagia yang menghiasi bibirnya.
Putri merasa bahagia karena akhirnya bisa melihat Tristan lagi di sekolah. Putri juga bahagia karena bisa menjadi orang yang di percaya oleh Williana. Itu tentu saja bisa menjadi jalan agar Putri bisa terus mendekati Tristan.
Waktu istirahat tiba.
Amira segera bergegas keluar dari kelas untuk menghampiri Tristan yang Amira yakini masih ada di sekitar halaman luas sekolah.
Dan benar saja, Tristan masih ada disana. Pemuda itu sedang mengelap peluh yang membasahi keningnya kemudian melepas baju seragamnya yang basah oleh keringat menyisakan kaos putih lengan pendek yang menempel di tubuhnya.
Amira tersenyum dan menatap sebotol air mineral serta handuk yang sudah dia siapkan untuk Tristan. Gadis itu kembali menatap Tristan yang perlahan mulai melangkah menuju koridor sekolah.
Amira segera melangkah untuk mendekati Tristan. Namun saat langkahnya tinggal beberapa meter lagi dari posisi Tristan, Amira berhenti karena tiba tiba Putri muncul dari arah berlawanan dan berlari menghampiri Tristan dengan membawa orange jus dan handuk kecil sama seperti yang Amira bawa.
Amira menghela napas. Jika Putri sudah mendahului Amira tentu enggan untuk mendekat pada Tristan. Bukan Amira tidak berani tapi karena Amira tau Putri dekat dengan Williana. Amira tidak ingin mencari gara gara dengan kakak Tristan yang kaya raya itu. Amira tidak mau semakin mempersulit Tristan jika sampai Putri mengadu yang tidak tidak pada Williana, kakak Tristan.
Amira menatap handuk dan sebotol air mineral yang dibawanya kemudian memutar tubuhnya bermaksud untuk menjauh dan membiarkan saja Putri yang memberikan apa yang sedang Tristan butuhkan saat ini.
__ADS_1