
Tristan mengajak Amira untuk duduk dikursi panjang di taman pusat kota. Pemuda itu juga membelikan minum untuk Amira yang terus saja murung.
“Minum dulu..” Katanya yang di turuti oleh Amira.
Amira menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Gadis itu menatap Tristan yang dengan setia menunggu apa yang ingin Amira katakan.
“Tristan..”
“Ya Amira..” Saut Tristan pelan.
Amira menelan ludah. Gadis dengan kaos panjang warna orange yang dipadukan dengan jins hitam panjang itu menatap tepat pada kedua mata Tristan.
“Semalam ibu nyuruh aku buat mengakhiri hubungan kita.”
Tristan terkejut mendengar apa yang Amira katakan. Selama ini ibu Amira sangat baik dan perhatian padanya. Tristan bahkan sampai menganggap ibu Amira juga adalah ibunya sendiri.
“Kenapa?” Tanya Tristan bingung bercampur takut. Tristan mulai khawatir kediaman Amira tadi adalah cara Amira memikirkan bagaimana baiknya berbicara padanya untuk benar benar mengakhiri hubungan mereka sekarang.
Amira menggeleng pelan.
“Aku juga nggak tau kenapa. Tapi ibu bilang ibu takut aku kecewa dan terluka karena kamu adalah orang kaya. Ibu takut kamu nyakitin aku..” Lirih Amira menundukan kepalanya. Rasanya gadis itu ingin sekali menangis karena merasa ibunya tidak mengerti dengan apa yang di inginkan-nya.
Tristan tersenyum mendengarnya. Alasan ibu Amira cukup wajar menurutnya. Ibu manapun pasti tidak ingin jika anaknya disakiti oleh orang lain.
__ADS_1
“Jadi cuma gara gara itu kamu sampai ngelamun terus nggak semangat tadi siang?” Tanya Tristan yang membuat Amira langsung mengeryit.
Amira tidak menyangka respon Tristan akan setenang itu. Tristan bahkan sedikitpun tidak terlihat marah meski Amira sudah jujur bahwa sang ibu menyuruhnya untuk menyudahi hubungan mereka.
“Cuma itu kamu bilang? Tristan memangnya kamu nggak merasa keberatan dengan apa yang ibu aku suruh?” Tanya Amira tidak habis pikir.
Tristan tertawa pelan mendengarnya. Pemuda tampan berjaket biru tua berkaos putih polos itu meraih tangan Amira dan menggenggamnya erat juga lembut.
“Eh dengernya pesek. Aku bisa paham bagaimana perasaan ibu kamu. Dia hanya nggak mau kamu sakit hati dan kecewa. Dan menurut aku ke khawatiran ibu kamu itu wajar. Itu artinya ibu kamu sangat menyayangi kamu Amira. Dia nggak mau kamu terluka.” Jelas Tristan.
Amira masih tidak mengerti. Tristan begitu santai bersikap meski Amira sudah memberitahunya.
“Jadi kamu setuju kalau kita putus?” Tanya Amira menahan sesak di dalam dadanya.
“Eh ya janganlah. Aku kan juga nggak mau kehilangan kamu. Kamu tenang aja, nanti aku akan jelasin ke ibu kamu. Aku akan janji sama ibu bahkan kakak kamu juga, kak Alan. Aku akan jagain kamu, dan aku nggak akan nyakitin kamu.” Senyum Tristan mencoba meyakinkan Amira.
“Jadi..?” Tanya Amira menatap Tristan penuh harap.
“Apa lagi? Ya kita tinggal jalani semuanya dengan baik dan bahagia. Ingat ya Amira, apapun masalahnya jangan pernah ada kata pisah di antara kita. Aku bener bener nggak mau kehilangan kamu.”
Amira tersenyum dan menganggukkan beberapa kali kepalanya. Bisa bersama dengan Tristan adalah sesuatu yang sangat membahagiakan bagi Amira. Karena Tristan tidak pernah memandangnya sebelah mata selama mereka dekat. Tristan juga tidak banyak menuntut. Tristan selalu ada untuknya dalam keadaan apapun. Bahkan meskipun Amira selalu marah dan bersikap kasar Tristan bisa menerimanya dengan sabar. Padahal jika di pikir pikir Tristan bisa saja mencari gadis lain yang lebih segalanya dari Amira. Tapi Tristan malah memilihnya.
Tristan kemudian menarik Amira dan memeluk dengan lembut kekasih hatinya itu. Selama ini Tristan tidak pernah merasakan rasa nyaman seperti saat dirinya sedang bersama Amira. Tristan juga tidak pernah merasakan kasih sayang tulus seperti kasih sayang yang Amira berikan padanya. Bahkan pada kakaknya sendiri saja Tristan tidak pernah merasakan itu. Dan bersama Amira Tristan merasa menemukan jati dirinya. Tristan merasa bebas melakukan apa saja karena Amira tidak pernah protes selama yang Tristan lakukan adalah kebaikan. Amira selalu mendukungnya.
__ADS_1
Amira tersenyum dibalik punggung lebar Tristan. Gadis itu kemudian membalas pelukan Tristan lembut. Amira juga tidak ingin sedikitpun kehilangan Tristan. Amira ingin selalu bersama Tristan apapun yang terjadi.
-------
“Duluan ya Lan..”
Alan baru saja hendak mengenakan helmnya saat rekan kerjanya melewati dan menepuk pundaknya kemudian berlalu masuk kedalam mobilnya.
“Oh iya.. Hati hati Man.” Jawab Alan tersenyum menatap mobil rekan kerjanya itu.
Alan kemudian tertawa pelan. Pria itu menatap motornya sendiri. Alan berpikir jika saja dirinya tidak koma mungkin dirinya sudah bisa membeli mobil atau mungkin merenovasi rumahnya karena mungkin juga Alan sudah naik jabatan seperti teman-nya yang bernama Firman itu. Tapi ada daya karena takdir berkata lain. Tuhan memberi Alan cobaan yang membuatnya harus berhenti lama dari pekerjaan yang di tekuninya.
“Huh, sudahlah. Jalani saja apa yang ada Alan. Tuhan itu maha baik.” Gumam Alan kemudian segera mengenakan helmnya.
Alan naik keatas motornya kemudian berlalu dari parkiran depan perusahaan tempat dirinya bekerja dengan kecepatan sedang. Pria itu mengendarai motornya dengan senyuman penuh rasa syukur yang menghiasi bibirnya. Alan sadar, semua peristiwa yang di alaminya pasti ada hikmahnya.
Dan hikmah itu juga yang membuat Alan merasa tenang menjalapi hidupnya. Tidak seperti dulu yang meskipun Alan bahagia dengan perasaan-nya pada Hana tapi Alan juga sering merasa was was dan tidak tenang. Alan bahkan sering kesulitan untuk tidur setiap malam karena terlalu jatuh cinta pada Hana. Tapi sekarang Alan merasa lega dan bahagia karena meskipun kasih nya tidak sampai pada Hana tapi setidaknya Alan bisa melihat Hana bahagia dengan kehidupan-nya sekarang. Apa lagi Hana jugalah yang rela menukar dirinya demi membiayai pengobatan juga sekolah kedua adiknya.
Alan tiba tiba mengeryit. Entah kenapa tiba tiba Alan merasa merindukan sosok Hana. Bukan rindu sebagai pria yang mencintai wanita. Tapi rindu sebagai seorang sahabat pada sahabat lamanya.
“Kalau aku kesana kira kira Stefan Devandra marah nggak yah?”
Alan mulai berpikir. Pasalnya terakhir saat Stefan mendatanginya, pria kaya raya itu begitu sangat marah dan menuduh Alan memanfaatkan keadaan demi menarik perhatian Hana. Padahal saat itu Alan hanya ingin membantu karena Alan memang mampu.
__ADS_1
“Atau aku ajak dokter Rania saja? Dia pasti mau nemenin aku buat ketemu sama Hana. Yah.. Dokter Rania pasti mau.” Senyum Alan kemudian.
Alan kemudian menambah kecepatan laju motornya mengingat hari mulai petang. Alan tidak ingin terlambat pulang dan melewatkan makan malam bersama ibu dan kedua adik kesayangan-nya.