
Setelah membeli oleh oleh untuk Angel, Stefan dan Hana langsung kembali ke hotel tempat mereka menginap. Stefan juga sudah membawa barang barangnya dan Hana karena besok siang mereka sudah akan kembali terbang ke indonesia.
“Semoga aja Angel suka dengan semua ini ya Stef..”
Stefan hanya tersenyum tipis menanggapinya. Pria itu kemudian kembali fokus dengan laptopnya. Sebelumnya Stefan sudah menghubungi Rico dan meminta pada asisten pribadinya itu untuk mengirim laporan tentang perusahaan selama Stefan tidak ada. Stefan menghela napas lega begitu melihat laporan tersebut. Rico benar benar sangat bisa di andalkan.
“Oh ya Stefan, kamu udah bilang kan sama om dan tante kalau besok siang kita akan kembali pulang ke indonesia?” Tanya Hana menatap Stefan yang duduk di sofa di seberang ranjang.
Stefan menghela napas kemudian memusatkan perhatian-nya pada Hana yang sejak tadi terus saja mengajaknya mengobrol. Stefan tidak mau Hana marah karena merasa di abaikan oleh Stefan.
“Ya.. Aku sudah bilang sama mereka. Dan mereka bilang besok siang mereka akan mengantar kita ke bandara.” Jawab Stefan.
Hana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Wanita itu kemudian bangkit dari duduknya di tepi ranjang dan melangkah menuju kamar mandi.
“Kamu mau kemana?” Tanya Stefan membuat langkah Hana berhenti.
Hana menoleh menatap Stefan dengan keryitan di keningnya.
“Aku mau ke kamar mandi, kenapa?” Jawab Hana kemudian bertanya balik pada Stefan.
“Ah enggak, nggak papa.” Geleng Stefan.
Hana menghela napas merasa aneh dengan pertanyaan Stefan. Wanita itu kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Namun saat Hana baru selangkah masuk ke dalam kamar mandi tiba tiba kakinya tergelincir karena keadaan lantai kamar mandi yang basah dan licin.
“KYAAAAA STEFAAANN..!!!”
Pekikan Hana membuat Stefan terkejut. Pria itu langsung bangkit dari duduknya di sofa mengabaikan laptopnya yang jatuh dari pangkuan-nya.
__ADS_1
Stefan berlari ke kamar mandi dan terkejut begitu melihat Hana sudah tergeletak di lantai dan tidak sadarkan diri dengan darah yang keluar di antara kedua kakinya.
“Ya Tuhan, Hana !!”
Stefan langsung menubruk tubuh Hana memeluknya dengan perasaan takut luar biasa.
“Hana bangun Hana.. Hana..”
Stefan mencoba menyadarkan Hana dengan menepuk nepuk pelan pipi chuby wanita itu. Namun upaya Stefan sama sekali tidak berhasil. Hana tetap tenang memejamkan kedua matanya.
Karena Hana yang tidak juga membuka kedua matanya, Stefan langsung menghubungi pihak hotel untuk meminta bantuan. Setelah itu Stefan langsung membopong tubuh Hana tidak perduli dengan darah yang mengotori kaos putih oblong yang di kenakan-nya.
Tanpa sadar Stefan meneteskan air matanya sembari melangkah membawa Hana dalam gendongan-nya keluar dari kamar karena tidak sabar menunggu bantuan dari pihak hotel yang terasa sangat lama bagi Stefan.
“Bertahan sayang.. Aku yakin kamu bisa bertahan.. Tolong jangan tinggalkan aku..” Batin Stefan terus melangkah di koridor hotel membawa Hana yang tidak sadarkan diri dalam gendongan-nya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Stefan terus menggenggam tangan Hana. Stefan tidak tau apa yang terjadi sebenarnya sehingga tiba tiba Hana dia temukan tergeletak tidak sadarkan diri di kamar mandi. Karena Stefan hanya mendengar teriakan Hana sebelum menemukan istrinya itu pingsan di kamar mandi.
“Tuhan.. Tolong selamatkan istriku Tuhan.. Aku berjanji akan menjaganya dengan sebaik baiknya.. Tolong Tuhan..”
Stefan terus membatin memohon dan merayu pada sang pemberi kehidupan agar tidak mengambil Hana darinya. Karena Stefan merasa tidak akan sanggup berdiri jika membayangkan Hana pergi meninggalkan-nya. Stefan sudah terlanjur gila karena Hana, karena mencintai Hana.
Mobil ambulan yang membawa Hana sampai didepan rumah sakit. Stefan juga petugas hotel yang membantu langsung mengeluarkan brankar dari dalam ambulan dan mendorongnya masuk kedalam rumah sakit.
Disana Hana langsung mendapatkan penanganan. Namun hal itu tidak bisa membuat Stefan merasa tenang. Stefan tetap merasa takut dan khawatir pada kondisi Hana juga janin dalam kandungan-nya.
Stefan duduk sendiri di ruang tunggu dengan perasaan yang teramat sangat takut. Jantungnya berdetak begitu cepat bahkan Stefan sampai merasa mendengar sendiri suara detak jantungnya dengan sangat jelas.
__ADS_1
Pria itu diam dengan tubuh bergetar ketakutan. Air mata terus menetes membasahi kedua pipinya. Bibirnya mengatup rapat, lidahnya terasa kelu bahkan terasa kaku sekedar untuk di gerakan. Apa yang terjadi pada Hana sekarang membuat Stefan benar benar tidak tau harus bagaimana. Ketakutan akan kehilangan Hana langsung menguasai seluruh pikiran-nya.
Ceklek
Suara pintu yang terbuka membuat Stefan langsung menoleh kemudian dengan gerakan cepat langsung berdiri. Pria itu mendekat pada dokter wanita berambut coklat terang yang baru saja menangani Hana.
Begitu Stefan mendekat, dokter itu langsung menjelaskan tindakan yang harus di ambil untuk menangani Hana yang tentu juga harus dengan persetujuan Stefan sebagai suami Hana.
Dan Stefan tentu saja langsung mengiyakan apapun tindakan yang akan dokter lakukan untuk menyelamatkan Hana. Bahkan Stefan sama sekali tidak memikirkan akan bagaimana resikonya jika janin dalam kandungan Hana harus segera di keluarkan sebelum waktunya dia lahir ke dunia.
Stefan benar benar kalut sekarang. Bahkan saat mendengarkan penjelasan dokter rasanya tubuhnya akan tumbang. Menjawab persetujuan pun hanya dengan anggukan kepala. Sampai saat menanda tangani surat keputusan penanganan Hana, Stefan salah letak. Hana benar benar berhasil mengambil alih hati, pikiran, bahkan sampai tubuh Stefan dari tempatnya dan hanya berfokus dengan bagaimana keadaan Hana sekarang.
Setelah mendapat persetujuan dari Stefan, dokter dan para perawat langsung membawa Hana keruang operasi agar Hana segera di tangani.
Sementara Stefan pria itu hanya terduduk lemas dengan tubuh bergetar menunggu di depan ruang operasi. Air mata sudah tidak lagi terbendung. Tetesan demi tetesan bening itu terus silih berganti menyeberangi kedua pipi Stefan.
“Ya Tuhan.. Kenapa harus Hana yang ada di posisi ini.. Kenapa tidak kau limpahkan saja semua rasa itu padaku. Hana hanya seorang perempuan Tuhan.. Dia lemah.. Dia kesakitan bahkan sampai tidak sadarkan diri.”
Dalam tangisnya Stefan terus membatin karena berkali kali Stefan mencoba membuka kedua bibirnya tapi tidak bisa. Tubuhnya benar benar tidak berdaya dengan segala rasa takut yang membersamainya sekarang.
“Aku mohon Tuhan.. Berikan saja semua rasa sakit itu padaku.. Aku pasti bisa menahan-nya. Jangan pada istriku.. Jangan pada Hanaku..”
Rasa takut itu begitu asing Stefan rasakan. Rasa takut yang selama hidupnya tidak pernah Stefan rasakan. Rasa takut yang membuat tubuh Stefan terasa tidak pada tempatnya.
“Tuhan.. Aku mohon...”
Stefan menggelengkan kepalanya menutup wajahnya yang basah dan merah karena menangis. Dalam kesendirian-nya Stefan terus mencoba merayu Tuhan agar Hana-nya selamat dan baik baik saja.
__ADS_1