
Hana merenung ditengah ranjang malam ini. Wanita itu beberapa kali menghela napas sambil menatap ponselnya.
Amira dan Aisha menelepon-nya berkali kali tapi tidak pernah Hana angkat. Hana memang sengaja menghindar. Hana bahkan tidak tau bagaimana keadaan Alan sekarang. Tapi Hana sudah bertanya pada Rico dan Rico mengatakan bahwa operasi itu berjalan lancar.
Satu notifikasi masuk dari Amira. Hana langsung membukanya dan tersenyum karena Amira ternyata mengirim photo Alan yang sudah berada di ruang rawat lagi. Alan memang tetap koma. Tapi setidaknya pendarahan di otaknya sudah dibersihkan dengan jalan operasi.
Tidak hanya mengirim photo Alan, Amira juga mengirim pesan suara yang kemudian langsung dibuka oleh Hana.
“Kak Hana.. Kakak dimana sekarang? Aku dan Aisha juga ibu mencari kakak ke rumah kakak tapi kakak nggak ada. Kata ibu kontrakan bahkan kakak sudah meninggalkan rumah selama 3 Hari. Kami berharap kakak baik baik saja. Kalau kakak sudah buka pesan ini tolong bales ya kak.. Kami semua ingin berterimakasih juga sama kakak karena kakak sudah membayar lunas biaya operasi kak Alan. Kami sangat berhutang sama kakak..”
Hana meneteskan air mata mendengarnya. Hana juga ingin sekali kerumah sakit sebenarnya. Tapi Stefan melarang dengan alasan mereka yang akan segera menikah. Ditambah lagi Sera yang juga tidak mengizinkan-nya keluar dari rumah mewah itu.
“Sudahlah Hana.. Yang terpenting sekarang Alan sudah di operasi. Kamu akan baik baik saja disini.”
Hana bergumam untuk menyemangati dirinya sendiri. Hana yakin langkahnya sudah benar.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Hana dengan sigap mengusap air mata yang membasahi pipinya. Hana juga menyembunyikan ponselnya dibawah selimut tebal warna putih itu.
Selang beberapa detik pintu kamar yang ditempati Hana terbuka memunculkan Stefan dengan wajah tanpa ekspresinya.
Hana buru buru turun dari atas ranjang dan berdiri dengan kepala sedikit menunduk.
“Tuan..”
“Stefan. Panggil saja aku Stefan.” Kata Stefan tegas.
Hana menelan ludah. Memanggil Stefan tanpa embel embel tuan rasanya kurang pantas mengingat siapa Stefan dan siapa dirinya.
“Lihat aku Hana.” Perintah Stefan.
Hana menurut. Pelan pelan Hana mengangkat wajahnya untuk menatap Stefan yang berdiri tepat didepan-nya.
Stefan mendekatkan wajahnya membuat Hana terkejut dan refleks sedikit memundurkan wajahnya merasa tidak nyaman dengan apa yang Stefan lakukan.
__ADS_1
“Disini kamu adalah calon istriku. Dan besok kita sudah akan menikah. Biasakan panggil aku Stefan, jangan tuan.”
“Ba baik tuan.. Maksud saya Stefan.” Balas Hana gugup karena wajah tampan Stefan yang begitu dekat dengan wajahnya.
“Bagus.” Senyum tipis Stefan kemudian kembali menjauhkan wajahnya membuat Hana bisa bernapas dengan lega.
Setelah itu Stefan memutar tubuhnya dan melangkah kembali menuju pintu bermaksud keluar dari kamar Hana. Namun begitu sampai didepan pintu Stefan berhenti.
“Satu lagi Hana. Jadilah mommy yang baik untuk Angel.” Katanya kemudian berlalu.
Hana berdecak kesal. Stefan benar benar membuat jantungnya hampir saja loncat dari tempatnya. Pria itu bahkan mendekatkan wajahnya secara tiba tiba membuat Hana berpikir Stefan akan menciumnya.
“Huft.. Menjadi mommy yang baik untuk Angel? Memangnya dia sudah merasa menjadi daddy yang baik apa buat Angel?” Dumel Hana dengan bibir mengerucut kesal.
Angel memang sudah banyak bercerita padanya tentang Stefan yang selalu sibuk dengan pekerjaan-nya dan terus mengabaikan-nya.
“Dasar laki laki.” Sungut Hana sebal.
-----------
Hari pernikahan.
Stefan memang tidak pernah main main dengan segala hal. Bahkan untuk menikahi Hana yang tidak di cintainya Stefan sampai mengadakan pesta yang membuat semua kaum hawa bahkan publik menganggap bahwa Stefan sangat mencintai Hana.
“Mommy..”
Hana tersenyum menatap Angel yang mendekat padanya. Meski merasa malu karena menjadi pusat perhatian semua tamu undangan juga para pemburu berita yang hadir namun sebisa mungkin Hana terus mengembangkan senyumnya. Hana tidak mau membuat Stefan marah karena ekspresi jujurnya yang pasti akan membuat berita tidak mengenakkan menyebar.
“Daddy...” Angel beralih menatap Stefan yang begitu gagah dengan tuxido putihnya.
Stefan tersenyum tipis. Pria itu tidak bisa bohong. Angel juga Hana sangat cantik dengan balutan gaun putih bersihnya.
“Makasih ya daddy. Daddy udah kasih Angel mommy yang sangat cantik juga baik. Angel bahagia banget.”
Stefan tidak menyaut namun senyuman terus menghiasi bibirnya. Stefan kemudian menghela napas dan menatap setiap tamu undangan yang hadir. Entah kehidupan rumah tangga seperti apa yang akan Stefan jalani dengan Hana. Tapi Stefan tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Yang terpenting sekarang adalah statusnya dan Hana sebagai suami istri yang sah.
__ADS_1
“Sayang.. Sama oma dulu yuk. Daddy sama mommy nya mau photo. Nanti kita juga photo sama daddy sama mommy oke?”
Angel menoleh dan menganggukan kepalanya pada Sera. Gadis kecil itu kemudian menerima uluran tangan Sera yang membawanya berlalu sedikit menjauh dari Stefan dan Hana.
Hana menghela napas. Rasa malu itu sungguh tidak tertahankan. Tubuhnya bahkan sampai bergetar saat Stefan memeluk pinggangnya dengan mesra. Ditambah lagi dengan wajah tampan pria itu yang sangat dekat dengan-nya.
“Anggap saja hanya ada kita berdua diruangan ini Hana. Jangan membuatku malu didepan para tamu undangan.” Bisik Stefan dengan nada dingin-nya.
Hana menelan ludah. Ucapan Stefan seperti ancaman untuknya.
“Ya, Stefan.”
Berbagai pose berhasil di ambil. Hingga terakhir keduanya harus benar benar menempel dengan Stefan yang menempelkan hidungnya dengan hidung Hana membuat Hana dapat merasakan hangatnya hembusan napas Stefan di wajah cantiknya.
Selesai mengambil berbagai pose mesra, pemotretan dilanjut dengan anggota keluarga. Dan terakhir adalah potret penuh kebahagiaan dengan Sera yang memeluk Hana dan Angel yang tertawa bahagia di gendongan Stefan.
--------
Di tempat lain tepatnya dirumah sakit, Ibu Alan dan kedua adiknya dibuat terkejut dengan berita yang sedang hangat malam itu. Berita tentang pernikahan Stefan dengan Hana. Berita yang juga menggambarkan betapa Stefan sangat mencintai pengantin cantiknya, Hana Larasati.
“Ya Tuhan...”
Ibu Alan menggeleng tidak percaya melihat berita tersebut. Wanita ringkih dengan wajah yang selalu terlihat pucat itu merasa ragu dengan berita berita tersebut. Namun senyuman bahagia Hana dan Stefan di depan kamera memaksanya untuk percaya bahwa keduanya memang sudah menjalin hubungan yang begitu lama.
“Ini nggak benar bu.. Kak Hana selalu bersama kak Alan setiap hari. Amira tau semuanya. Kak Hana bahkan enggak pernah pergi dengan laki laki lain selain kakak apa lagi sampai kenal dengan Stefan Devandra.” Ujar Amira yang tidak percaya dengan semua berita yang sedang hangat hari ini.
Ibu Alan tersenyum. Meskipun dirinya juga tidak percaya tapi wanita itu tau Hana pasti akan sangat bahagia jika memang benar Stefan sangat mencintainya.
“Sudahlah.. Kita doakan saja yang terbaik untuk kak Hana ya...”
“Tapi bu...”
Amira urung melanjutkan ucapan-nya karena tidak mungkin Amira mengatakan bahwa kakaknya Alan diam diam menyimpan rasa cinta yang begitu besar untuk Hana.
“Amira.. Kak Hana sudah sangat baik membiayai operasi kakak kamu. Jadi alangkah baiknya jika kita mendoakan yang terbaik untuk kak Hana yang sudah begitu baik pada keluarga kita..” Ujar ibu Alan lembut.
__ADS_1
Amira menghela napas. Amira menatap Alan yang tidak berdaya dengan mata tertutup diatas brankar kemudian berlalu keluar dari ruang rawat Alan tanpa mengatakan apapun pada ibunya.
Sedang Aisha, gadis yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama itu hanya diam tanpa bersuara.