
Setelah bangun dari tidurnya, Stefan merasa tenaganya pulih kembali. Rasa kantuknya pun sudah tidak lagi terasa. Pria itu merasa segar apa lagi Stefan juga sudah mandi. Punggungnya yang semula terasa sedikit nyeri karena kurang istirahat pun sudah benar benar sembuh.
Stefan mengeryit ketika melihat Hana yang tampak murung. Pria itu menghela napas kemudian mendekat pada Hana yang berdiri didepan jendela kaca kamar itu.
“Kenapa?” Tanya Stefan berdiri disamping Hana dengan tatapan lurus kedepan.
Hana menoleh dengan kepala sedikit mendongak menatap suaminya yang begitu tinggi jika berdiri sejajar dengan-nya.
“Apa ada sesuatu yang membuat kamu merasa tidak nyaman sekarang?” Stefan kembali bertanya.
Hana menghela napas. Wanita itu kembali meluruskan pandangan-nya. Hana masih teringat dengan obrolan-nya bersama Gabriel saat Stefan tidur tadi.
“Aku tadi ngobrol ngobrol sama Gabriel Stefan. Dia juga menunjukan photo saat kamu menikah dengan Lusi.”
Kedua mata Stefan sedikit melebar mendengarnya. Pria itu mengira Hana akan merasa iri atau marah melihat konsep pernikahan-nya dengan pernikahan Stefan yang pertama yang memang Stefan buat berbeda. Tentu saja, saat menikah dengan Lusi dulu Lusi lah yang mengatur semuanya sendiri. Sedang saat menikah dengan Hana, sedikitpun Hana tidak pernah memikirkan apapun. Hana hanya pasrah saja dalam pernikahan itu karena merasa pernikahan itu adalah sebuah kewajiban yang harus Hana lakukan demi memenuhi syarat dari Stefan.
“Lalu?” Tanya Stefan dengan suasana hati yang langsung terasa tidak tenang.
“Gabriel minta maaf karena menjadi penyebab ketidak hadiran om dan tante di pernikahan kita dulu Stefan.”
Seketika Stefan merasa lega. Hana tidak membahas apapun tentang pernikahan mereka.
“Gabriel juga cerita sama aku saat kita menikah dulu Gabriel sedang dalam masalah karena Gabriel. Kamu tau Stefan, sebenarnya Gabriel tau sejak awal apa yang Michele lakukan. Tapi Michele mengancam akan membunuh semua orang di dekat Gabriel kalau sampai dia menceritakan yang sebenarnya. Termasuk kamu juga mamah.” Cerita Hana menoleh kembali menatap Stefan yang terus menatap lurus ke depan.
Stefan tersenyum tipis. Stefan sudah tau semuanya. Bahkan Stefan juga tau kenapa Michele melakukan semua itu.
“Apa yang Michele lakukan memang sudah sangat keterlaluan. Dan aku rasa tuntutan om dan tante sudah setimpal dengan apa yang dia lakukan. Michele akan selamanya di penjara tanpa sedikitpun kebebasan dan keringanan menjalani hari harinya.”
“Aku sudah tau itu Stefan. Tapi bukan itu maksud aku..” Ujar Hana dengan nada merengek seperti sedang meminta sesuatu pada Stefan.
__ADS_1
Stefan mengeryit kemudian menoleh menatap Hana yang juga sedang menatapnya.
“Aku ingin kamu melakukan sesuatu untuk Gabriel.” Kata Hana.
Stefan mengangkat sebelah alisnya tidak tau apa yang sedang di inginkan oleh istri tercintanya itu.
“Apa?” Tanya Stefan pelan.
“Aku pikir Gabriel butuh seseorang untuk mengawalnya kemanapun dia pergi Stefan. Itu untuk menjaga dan memastikan keamanan Gabriel. Kamu bisa kan menyuruh orang kepercayaan kamu untuk melakukan itu? Ya, minimal sampai Gabriel merasa tidak takut lagi setelah apa yang dia alami selama ini.”
Stefan tertawa mendengarnya. Stefan tidak menyangka Hana sampai memikirkan hal tersebut untuk Gabriel.
Stefan menghela napas kemudian memutar tubuhnya menghadap pada Hana. Stefan meraih kedua bahu Hana menyuruh agar wanita itu menghadapnya.
“Ada lagi yang kamu mau sayang?” Tanya Stefan pelan.
“Tidak, hanya itu saja.” Jawab Hana dengan polosnya.
Hana tersenyum lebar mendengarnya.
“Kamu beneran kan?” Tanya nya memastikan.
“Aku tidak pernah main main kalau untuk orang orang yang aku sayang Hana. Apa lagi kalau istri aku yang jelek ini juga yang memintanya secara langsung.” Jawab Stefan menoel gemas ujung hidung Hana.
“Eh ingat ya Stefan, kita itu jodoh. Jadi kalau aku jelek kamu jelek juga.” Ujar Hana tidak mau dikatakan jelek sendiri.
Stefan tertawa pelan.
“Iya deh.. Nggak papa aku juga jelek. Yang penting aku jodohnya sama kamu.”
__ADS_1
Hana tertawa mendengarnya. Wanita itu kemudian berhambur memeluk Stefan yang tentu Stefan sambut dengan senang hati.
Stefan membalas dengan lembut pelukan Hana. Stefan juga mencium beberapa kali rambut Hana dengan penuh cinta dan kasih sayang. Stefan selalu merasa bahagia saat sedang bersama Hana. Meski memang rasa takut akan kehilangan Hana karena rahasia yang masih rapat rapat di simpan-nya selalu saja menghantuinya. Tapi Stefan sudah bertekad, apapun alasan-nya Stefan tidak akan melepaskan Hana. Kemanapun Hana pergi Stefan akan mencarinya tidak perduli bagaimana pun caranya.
“Ah ya Stefan, bukan-nya kita mau cari oleh oleh untuk Angel? Selena dan Gabriel juga sejak tadi nungguin kamu bangun loh. Mereka mau ikut juga katanya. Mau beli sesuatu buat Angel dan mau di titipin sama kita.” Ujar Hana mendongak menatap Stefan tanpa melepaskan pelukan-nya.
Stefan sedikit mengeryit kemudian mendekatkan wajahnya pada Hana. Pria itu menempelkan keningnya pada kening Hana hingga ujung hidung mancungnya menempel pada ujung hidung Hana.
“Kita akan terlambat dan ke sorean Stefan.” Hana mencoba mengingatkan dengan jantung yang berdetak begitu cepat karena bibir Stefan yang sudah akan menempel di bibirnya.
“Setidaknya berikan aku satu ciuman sayang.” Bisik Stefan mesra kemudian langsung memagut bibir Hana.
Hana tidak bisa menolak. Wanita itu hanya pasrah saja saat Stefan menciumnya. Awalnya ciuman itu biasa namun Stefan perlahan semakin memperdalam ciuman-nya sampai Hana hampir saja kesulitan bernapas.
Hana kemudian menepuk pelan dada bidang Stefan membuat pria itu langsung melepaskan ciuman dalam nya.
“Kamu membuatku tidak bisa bernapas Stefan.” Kata Hana dengan napas tersengal.
Stefan tertawa mendengarnya. Pria itu sering sekali tidak bisa mengontrol dirinya sendiri jika sudah bersama Hana. Stefan juga merasa gila sendiri jika sudah memikirkan wanita yang pada awalnya dia nikahi tanpa rasa cinta sedikitpun. Wanita yang juga menjadi kunci semua permasalahan dalam hidup orang orang disekitar Stefan terungkap.
“Maaf..” Lirih Hana kembali menarik Hana ke dalam pelukan-nya.
Hana mengerucutkan bibirnya. Meski sebenarnya Hana juga menikmati ciuman Stefan, tapi apa yang Stefan lakukan dengan memperdalam ciuman-nya begitu lama membuatnya hampir saja kehabisan napas.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Stefan dan Hana menoleh. Stefan kemudian melepaskan pelukan-nya pada Hana.
“Lebih baik kita segera keluar Stefan. Itu pasti Selena. Mereka sudah tidak sabar menunggu kita.”
__ADS_1
Stefan mengangguk pelan setuju dengan apa yang Hana katakan. Pria itu kemudian meraih jaket hitamnya dan menggandeng lembut tangan Hana.
“Ayo..” Ajaknya.