
Stefan menjalani aktivitasnya dengan mood yang buruk. Tentu saja karena Hana yang sejak semalam terus mendiamkan-nya. Sekalinya berbicara wanita itu bahkan begitu ketus padanya.
Stefan menutup berkas yang baru saja dia tanda tangani. Pria itu menghela napas kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesaran-nya.
Stefan benar benar bingung harus bagaimana menyikapi Hana yang begitu gampang marah dan menangis. Hana juga begitu galak seperti singa yang diganggu dari tidurnya.
Saat sedang fokus memikirkan Hana, tiba tiba ponsel Stefan berdering. Stefan berdecak pelan kemudian meraih benda pipih itu.
Stefan mengeryit melihat nama kontak orang yang dia suruh untuk mengawasi dan memastikan keamanan untuk keluarga Alan. Teringat dengan orang suruhan Williana yang membuntuti Amira, Stefan pun segera mengangkat telepon tersebut.
“Ada apa lagi?” Tanya Stefan begitu mengangkat telepon tersebut.
“Selamat siang tuan. Maaf saya mengganggu waktu anda. Saya melihat nona Williana menghampiri nona Amira. Nona Williana meng iming imingi uang pada nona Amira yang kemudian dengan tegas di tolak oleh nona Amira.” Ujar orang suruhan Stefan melaporkan hasil intaian-nya.
“Lalu?” Tanya Stefan penasaran.
“Lalu nona Williana menyuruh seseorang untuk mengikuti nona Amira lagi. Hampir saja nona Amira di culik jika saja tidak ada supir angkot yang mengenalnya tuan.”
Stefan memijat keningnya sendiri. Sedang frustasi menghadapi sikap Hana padanya, sekarang ditambah lagi dengan Williana yang berusaha mengusik Amira. Jika saja Stefan tidak menabrak Alan, Stefan tidak mungkin merasa terbebani dengan tanggung jawabnya pada Amira dan keluarga Alan.
“Kamu pastikan Amira dan keluarganya aman selalu bagaimanapun caranya.” Perintah Stefan dengan tegas.
“Baik tuan.” Jawab orang tersebut.
Stefan kemudian menutup sambungan telepon-nya. Stefan kembali menghela napas merasa sangat frustasi. Kepalanya benar benar terasa ingin pecah memikirkan semua itu.
Tiba tiba Stefan mengingat bagaimana Hana mengerjai Williana. Stefan tersenyum dan merasa menemukan cara agar Hana bisa melampiaskan kemarahan-nya.
__ADS_1
“Maaf sayang.. Aku tidak bermaksud mengadu kamu dengan Williana.” Gumam Stefan dengan senyuman penuh makna yang menghiasi bibirnya.
Stefan kemudian bangkit dari duduknya. Hari ini jadwalnya tidak terlalu padat dan Stefan merasa lebih baik dirinya pulang saja untuk menemani Hana dirumah.
Stefan melangkah keluar dari ruangan-nya. Namun sebelum benar benar berlalu, Stefan memberitahu lebih dulu perihal tentang kepulangan-nya pada Rico. Stefan juga menyuruh agar Rico langsung saja datang kerumah jika ada sesuatu yang penting.
Stefan melangkahkan kakinya melewati para karyawan-nya yang selalu saja membicarakan-nya setiap kali Stefan lewat. Tentu saja, aroma balita menguar dari seorang pengusaha tampan berwajah dingin dan datar seperti Stefan tidak mungkin akan lepas dari pembicaraan.
Stefan sebenarnya tau semua karyawan-nya membicarakan-nya. Tapi pria itu tidak mau ambil pusing. Selama yang mereka bicarakan masih hal positif Stefan tidak akan menanggapi.
“Tuan Stefan benar benar laki laki yang romantis ternyata. Dia tidak keberatan menggunakan parfum bayi demi istrinya, nyonya Hana.” Ujar salah seorang karyawan Stefan yang mengagumi sikap mengalah Stefan pada Hana.
Dengan kecepatan diatas rata rata, Stefan mengendarai mobilnya membelah jalanan yang tidak terlalu ramai kendaraan siang itu. Wajar saja, waktu makan siang belum tiba dan semua orang pasti masih sibuk dengan berbagai aktivitasnya dalam bekerja.
Dalam waktu singkat mobil Stefan sampai didepan gerbang menjulang tinggi kediaman-nya. Pria itu membunyikan klakson menunggu satpam membukakan pintu gerbang dibuka. Setelah gerbang tersebut dibuka, Stefan kembali melajukan pelan mobilnya memasuki area luas pekarangan rumahnya.
“Ya..” Balas Stefan dengan wajah datar kemudian melangkah masuk kedalam kediaman mewahnya.
Stefan berharap mood Hana sudah membaik dan tidak seperti pagi tadi. Pria itu melangkah menuju tangga berniat untuk langsung menemui Hana yang pasti berada di kamar mereka. Namun baru saja hendak menapaki anak tangga pertama, suara gaduh dari dapur membuat perhatian Stefan teralihkan.
“Saya tidak mau tau. Pokonya saya mau kalian selesaikan sekarang juga.”
Itu suara Hana yang begitu lantang dari arah dapur. Stefan yang penasaran dengan apa yang sedang terjadi disana segera melangkah menuju dapur. Tidak biasanya Hana berbicara begitu lantang pada orang rumah. Karena yang Stefan tau, korban tunggal yang selalu di tindas Hana hanya dirinya di rumah itu.
Begitu sampai di dapur, Stefan dibuat semakin bingung dengan para pelayan yang berdiri sambil menundukkan kepala didepan Hana. Mereka juga menangis terisak karena kemarahan Hana.
“Ada apa ini?” Tanya Stefan membuat Hana langsung menoleh padanya.
__ADS_1
Sedangkan para pelayan itu, mereka semakin menangis ketakutan dan sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya. Mereka takut Stefan juga akan ikut marah seperti Hana sekarang.
“Mereka membuat aku kesal Stefan. Mereka tidak becus melakukan apa yang aku mau.” Kesal Hana mengadu pada Stefan.
Stefan menghela napas pelan. Stefan benar benar merasa sangat tidak biasa dengan sikap ajaib Hana. Wanita itu sangat temperamental bahkan melebihi dirinya.
Stefan melirik para pelayan-nya yang menangis karena ulah istrinya. Stefan yakin yang membuat Hana marah sekarang pasti hanya masalah sepele. Dan Stefan tidak bisa menyalahkan para pelayan-nya begitu saja tanpa tau apa yang terjadi yang membuat Hana murka seperti sekarang.
“Ya sudah nanti biar aku yang urus mereka. Lebih baik sekarang kamu ikut aku.”
Hana berdecak dan melirik tajam para pelayan itu. Entah kenapa Hana tidak bisa menahan diri hanya karena melihat mereka bermain ponsel sedang pekerjaan mereka yang Hana suruh belum benar benar di selesaikan.
Dengan menghentak hentakkan kedua kakinya Hana berlalu dari dapur mendahului Stefan yang hanya bisa diam saja.
Stefan menatap para pelayan-nya kemudian menggeleng pelan. Sepanjang mereka bekerja padanya, sekalipun mereka tidak pernah melakukan kesalahan. Mereka selalu melakukan tugas mereka dengan baik. Oleh karena itu Stefan tidak mau menyalahkan mereka sebelum tau sebab kekesalan dan kemarahan Hana.
“Setelah makan siang, kalian semua saya tunggu di ruangan saya.” Ujar Stefan kemudian berlalu dari dapur menyusul Hana yang sudah lebih dulu keluar dari area dapur.
Mereka semakin ketakutan mendengar apa yang Stefan katakan. Mereka khawatir Stefan juga akan menyalahkan mereka karena beranggapan seperti Hana.
Stefan melangkah cepat menyusul Hana yang melangkah menuju tangga. Begitu sudah dekat, Stefan langsung meraih pinggang Hana dan memeluknya dari belakang dengan sangat lembut dan mesra.
“Jangan marah marah terus Hana. Nanti tensi darah kamu naik.” Ujar Stefan pelan.
Hana menghela napas kasar. Wanita itu kemudian melepaskan lingkaran tangan Stefan di perut ratanya. Hana memutar tubuhnya dan berhambur memeluk Stefan dengan sangat manja.
“Mereka nyebelin Stefan..” Adu Hana dengan wajah sendu.
__ADS_1
Stefan tersenyum mendengarnya. Kemarahan Hana sangat tidak terkendali. Dan sekarang Stefan merasa menemukan wadah untuk menuangkan amarah Hana, yaitu Williana.