
“Tristan.”
Tristan sedang merasakan panas yang amat sangat dengan rasa sedikit perih di kulit wajah juga lengan-nya karena terlalu lama berjemur di bawah terik matahari. Tristan menoleh saat mendengar suara Putri yang memanggilnya.
“Eh kamu..” Senyum Tristan tipis sambil mendudukan dirinya di lantai keramik tepi koridor.
Putri menyodorkan orange jus yang dibawanya dengan handuk putih bersih pada Tristan. Namun Tristan tidak langsung menerimanya. Dia menatap apa yang Putri sodorkan dengan rasa ragu.
“Aku tau kamu pasti haus kan setelah berjemur dibawah terik matahari. Ini ambil..” Senyum Putri.
Tristan menghela napas pelan. Tristan sebenarnya berharap bukan Putri yang memberikan itu padanya, tapi Amira. Namun sampai sekarang bel istirahat menggema di seluruh sudut sekolah Amira belum juga terlihat. Amira belum menghampirinya padahal dia pasti tau Tristan kepanasan juga kehausan setelah menjalani hukuman dari bu Amanda.
“Makasih ya..” Ujar Tristan menerima apa yang Putri sodorkan padanya.
Putri tersenyum semakin lebar. Gadis itu kemudian mendudukan dirinya disamping Tristan agar bisa lebih dekat dengan pemuda tampan itu.
Putri mengeryit melihat lengan Tristan yang memerah akibat terbakar oleh sinar matahari.
“Tristan, tangan kamu kok sampai memerah begitu?” Tanya Putri meraih dan mengusap lembut lengan memerah Tristan.
Tristan terkejut dengan apa yang Putri lakukan. Dengan cepat Tristan menarik lengan-nya. Tristan tidak mau jika sampai Putri tau apa yang dia kerjakan kemarin dan semalam. Putri pasti akan melapor pada Williana.
“Ah iya. Tadi panas banget soalnya jadi memerah gini deh.” Jawab Tristan memalingkan wajah enggan membalas tatapan bingung Putri.
Putri diam. Sinar matahari pagi ini memang cukup terik. Tapi jika hanya dengan berjemur dua jam saja kulit putih bersih Tristan sampai memerah gosong seperti itu rasanya sangat tidak mungkin.
__ADS_1
“Amira !!!”
Seruan Joshua membuat Tristan menolehkan kepala kearah sumber suara. Tristan tersenyum saat mendapati Edo dan Joshua yang sedang menghampiri Amira.
Sementara Putri, dia memutar jengah kedua bola matanya merasa malas jika sudah ada Amira.
“Emm.. Put, aku ke Edo dan Joshua yah.. Terimakasih buat minum sama handuknya.”
Tristan meraih seragamnya yang sebelumnya dia sampirkan di kedua kakinya kemudian bangkit dari duduknya dan bergegas menghampiri Joshua, Edo juga Amira yang sudah berada di dekat kedua teman akrabnya itu tanpa membawa orange jus dan handuk yang Putri berikan.
Putri yang melihat itu merasa sangat kesal. Apa lagi Tristan meletakan begitu saja orange jus yang dia berikan dengan handuknya di lantai. Putri merasa Tristan sama sekali tidak menghargai apa yang dia berikan. Tristan jauh lebih memilih menghampiri Joshua, Edo dan Amira yang jelas jelas posisinya jauh darinya.
Tidak terima dengan apa yang Tristan lakukan, Putri pun segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Williana.
Sementara Tristan. Dia tersenyum lebar saat melihat Amira yang membawa handuk dan sebotol air mineral di tangan-nya. Tristan sangat yakin apa yang Amira bawa pasti di tujukan untuknya.
“Aduh Tan, kita berdua minta maaf banget ya tadi nggak berani bantuin kamu. Tau sendirikan bagaimana garangnya bu Amanda kalau sudah marah. Kalau kita ikutan di hukum juga kan nanti kamu jadi nggak bisa tau keterangan apa saja yang bu Amanda jelaskan di kelas.” Ujar Edo beralasan.
Tristan berdecak. Di hukum atau tidak menurutnya sama saja. Toh walaupun kedua sahabat kembar tidak bersaudara itu tidak ikut di hukum juga Tristan sama saja tidak akan tau apa materi yang di jelaskan bu Amanda didepan kelas. Tentu saja karena IQ keduanya terlalu rendah dan tidak sanggup mencerna apa yang bu Amanda jelaskan.
“Memangnya kalian berdua inget semua apa yang bu Amanda jelaskan tadi?” Tanya Tristan menatap menantang pada keduanya.
Joshua dan Edo saling menatap kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Tentu saja mereka tidak mengingatnya karena mereka juga sibuk memikirkan bagaimana caranya menghindari Tristan yang mereka pikir akan marah pada mereka berdua.
“Penjelasan-nya sih kita nggak semuanya ingat Tan. Tapi tenang aja, ada Amira yang kita jaga supaya dia fokus mendengar apa yang bu Amanda jelaskan kok.” Jawab Joshua yang kemudian mendorong pelan bahu Amira agar lebih mendekat pada Tristan.
__ADS_1
“Ih apaan sih? Kok jadi aku yang kena.” Protes Amira yang tidak tau menau kenapa tiba tiba Joshua dan Edo malah melimpahkan semua padanya.
“Ya ya udah deh kalau begitu kita berdua makan dulu ya.. Laper banget ini belum sarapan dari pagi. Ya nggak Do?”
“Iya.. Bener tuh. Ya udah Amira, titip Tristan sebentar ya..”
Tanpa menunggu jawaban Amira, mereka berdua langsung mengeluarkan jurus kaki seribunya untuk menghindar dari Amira juga Tristan. Keduanya berlari kencang ke arah kantin dengan tertawa tawa karena merasa berhasil menjauhkan Tristan dari Putri dan mendekatkan-nya dengan Amira.
Tristan menggelengkan kepalanya menatap kedua sahabatnya yang memang sangat konyol itu. Setelah itu Tristan memusatkan perhatian-nya pada Amira yang masih diam di depan-nya.
Tristan tersenyum dan menatap sekali lagi pada sebotol minuman dan handuk yang masih dibawa oleh Amira.
“Itu buat aku ya?” Tanya Tristan pelan.
Amira langsung tersentak dari apa yang sedang menguasai pikiran-nya. Gadis itu balas menatap Tristan kemudian tersenyum.
“Tadinya sih iya.. Tapi kan tadi kamu udah dapat minum sama handuk dari Putri. Jadi sepertinya..”
“Eh Amira, kalau mau ngasih sama orang itu nggak boleh di urungkan. Ini buat aku kan? Ya udah nih aku ambil. Kebetulan aku juga lagi haus dan panas banget.” Sela Tristan mengambil alih handuk dan sebotol air mineral itu dari tangan Amira.
“Loh tapi kan tadi..”
“Nih pegangin baju seragam aku sebentar. Awas itu basah karena keringat aku.” Tristan kembali menyela apa yang ingin Amira katakan dan memberikan baju seragamnya pada Amira. Pemuda itu segera membuka tutup botol air mineral yang masih bersegel itu kemudian menenggaknya sampai menyisakan hanya separuhnya saja.
“Akhirnya.. Seger banget minuman-nya. Makasih banget ya..” Senyum lebar Tristan setelah meminum air mineral tersebut.
__ADS_1
Amira mengeryit karena Tristan terkesan sangat memaksa mengambil handuk dan sebotol air mineral itu dari tangan-nya. Namun kemudian Amira tersenyum karena itu artinya Tristan lebih memilih bantuan darinya dari pada bantuan dari Putri.
“Iya sama sama..” Angguk Amira dengan senyuman di bibirnya.