ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 256


__ADS_3

Rico masuk kedalam ruangan Stefan karena beberapa kali mengetuk namun tidak kunjung mendapat sautan dari Stefan. Begitu berada didalam ruangan bos besarnya itu Rico tersenyum mendapati Stefan yang ternyata sedang melakukan panggilan video call dengan putranya. Stefan bahkan tampak sedang mencoba menarik perhatian putranya. Itu adalah hal yang sangat langka bagi Rico. Apa lagi Stefan juga tidak pernah melakukan itu dulu saat Angel masih bayi. Tapi sekarang Stefan benar benar memperlihatkan sosok sebagai seorang ayah setelah Theo lahir.


“Baaaa.. Jagoan daddy yang ganteng.. Udan nen belum nak?”


Rico tetap berdiri didepan pintu menunggu sampai Stefan selesai melakukan video call dengan istri juga anaknya. Rico tidak ingin mengganggu Stefan yang sedang berusaha menjadi ayah yang baik meskipun memang kesibukan selalu menyita waktunya.


Rico yakin siapapun pasti tidak akan percaya jika menyaksikan apa yang sedang Stefan lakukan sekarang.


“Udah dong daddy.. Theo pinter banget nen-nya. Theo juga anteng banget sama oma tadi pas mommy lagi mandi.” Saut Hana dari seberang telepon.


Rico menggelengkan kepalanya tidak menyangka jika seorang Stefan Devandra akan begitu sangat mencintai Hana yang hanya seorang wanita biasa. Seorang wanita yang Rico tau di awal pernikahan tidak benar benar Stefan cintai. Tentu saja karena saat itu Stefan menikahi Hana hanya agar Sera tidak terus mendesaknya untuk mencari pasangan.


“Wah.. Hebat banget.” Puji Stefan dengan senyuman penuh rasa bangga.


“Iya dong..”


Stefan tertawa. Pria itu menghela napas kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang di dudukinya. Saat itu juga Stefan tidak sengaja mendapati Rico yang sedang berdiri di depan pintu ruangan-nya dengan membawa map berwarna merah.


“Hem.. Hana, sudah dulu ya..” Ujar Stefan kemudian.


“Oh iya.. Jangan pulang terlalu malam dad..” Balas Hana.


Stefan hanya tersenyum dengan anggukan kepalanya. Pria itu kemudian langsung menyudahi video call nya dengan Hana setelah melambaikan tangan pada istri tercintanya.


Stefan kemudian menatap pada Rico yang langsung mendekat begitu Stefan mengakhiri video call tersebut.


“Permisi tuan, mohon maaf jika saya mengganggu anda. Saya hanya ingin memberikan laporan keuangan bulan ini pada anda.”


Rico menyodorkan map tersebut yang langsung di terima oleh Stefan. Pria itu terus berdiri menunggu Stefan mengatakan sesuatu padanya.


“Oke.. Terimakasih. Kamu boleh kembali bekerja.” Kata Stefan setelah membuka map berisi berkas tersebut.

__ADS_1


“Baik tuan, saya permisi.”


“Hem..” Balas Stefan.


Setelah Rico berlalu, Stefan menghela napas pelan. Pria itu kemudian tertawa sendiri. Stefan yakin Rico pasti menertawakan-nya tadi. Tapi Stefan tidak perduli. Toh Rico juga tau bagaimana gilanya Stefan saat mulai jatuh cinta pada Hana.


Stefan kemudian menggelengkan kepalanya. Pria itu kemudian mulai berkutat dengan laptopnya lagi karena sebentar lagi Stefan harus menghadiri pertemuan dengan salah satu rekan bisnisnya.


Setelah satu jam berkutat dengan laptopnya, Stefan pun bangkit dari duduknya. Namun sebelum keluar dari ruangan-nya Stefan lebih dulu menelepon Rico menyuruhnya untuk bersiap siap karena Stefan akan mengajaknya untuk ikut serta menemui rekan bisnisnya.


Saat itu juga Stefan dan Rico meluncur ke tempat yang sudah di sepakati sebagai tempat mereka akan bertemu. Pembahasan tentang kerja sama itu berlangsung dengan lancar dan serius.


“Baik tuan, kalau begitu saya permisi. Semoga kerja sama kita bisa berlangsung dengan lancar.”


“Itu pasti.” Balas Stefan dengan penuh keyakinan.


Menjalin kerja sama dengan Devandra grup memang menjadi banyak incara perusahaan. Tidak heran jika Boby begitu sangat murka pada Williana yang menyebabkan Stefan akhirnya memutuskan hubungan kontrak kerja sama.


“Tuan saya yakin kerja sama ini akan sangat menguntungkan perusahaan kita.” Komentar Rico yang membuat Stefan tersenyum.


“Semuanya akan mudah asal cara berpikir kita baik Rico.” Ujar Stefan.


Rico menganggukkan kepalanya. Pria itu benar benar sangat mengagumi kepintaran Stefan. Apa lagi Rico juga tau bagaimana Stefan sebenarnya. Rico tau seluruhnya dari Stefan yang orang lain tidak tau.


“Stefan..”


Stefan dan Rico kompak menoleh ketika mendengar suara Williana. Mereka berdua kompak menghela napas disertai decakan karena merasa jengah dengan kehadiran wanita itu.


“Kita kembali ke kantor sekarang Rico.”


“Kita perlu bicara Stefan. Aku mohon..” Kata Williana cepat mencegah Rico menjawab ucapan tegas Stefan.

__ADS_1


Stefan diam. Jika saja sekarang mereka tidak sedang berada di tempat ramai, mungkin Stefan sudah membentak Williana. Stefan benar benar sudah sangat muak dengan Williana yang sepertinya susah untuk di beri pengertian.


“Bagaimana tuan?” Tanya Rico pada Stefan.


Stefan menelan ludah. Stefan harus bisa mengontrol dirinya sendiri jika tidak ingin orang orang disana mengecapnya sebagai pengusaha yang tidak menghormati wanita.


“Kamu tunggu saja di mobil.” Jawab Stefan pelan.


“Baik tuan, saya permisi.” Angguk Rico kemudian berlalu meninggalkan Stefan bersama Williana yang entah muncul darimana. Tapi Rico yakin Williana pasti sengaja mengikutinya dan Stefan tanpa Rico juga Stefan sadari sejak awal mereka berdua keluar dari perusahaan.


“Jadi kamu mengikuti saya dan Rico sejak tadi Williana?” Tanya Stefan yang kemudian kembali duduk di kursinya.


Williana diam. Wanita itu sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Stefan karena pertanyaan itu sudah mengandung jawaban yang Stefan dan Rico pasti sudah tau.


“Stefan, tentang kerja sama kita.. Apa tidak bisa di bicarakan lagi dengan pelan?”


Stefan tersenyum sinis mendengarnya. Williana berekspresi memelas padanya seperti sedang meminta belas kasihan. Namun Stefan tidak sebodoh itu. Stefan tidak ingin membiarkan wanita seperti Williana terus merecoki kehidupan-nya.


“Tidak Williana. Hubungan kerja sama antar perusahaan kita sudah tidak layak lagi menurut saya.” Ujar Stefan tenang.


Williana menggelengkan kepalanya.


“Stefan aku tau aku salah. Aku minta maaf. Aku benar benar minta maaf.”


“Tidak ada yang perlu di maafkan Williana. Saya memaklumi sikap kamu kemarin. Tapi saya tidak bisa membiarkan kamu melakukan untuk yang kedua kalinya. Kamu tau? saya sangat tidak suka di bohongi.”


Williana menelan ludah. Rasa cintanya pada Stefan sudah sangat akut. Williana bahkan tidak pernah sedikitpun menatap pria lain selain Stefan. Hatinya benar benar hanya tertuju pada Stefan sejak dulu. Rasa ingin memiliki pria itu benar benar sangat membara tanpa sedikitpun berkurang meski Stefan berkali kali menolaknya dengan tegas.


“Stefan aku...”


“Jangan membuat saya melakukan sesuatu yang tidak pernah kamu duga Williana. Lebih baik mulai detik ini kamu tidak lagi muncul di hadapan saya atau saya tidak akan sungkan meratakan semua yang kamu miliki.” Sela Stefan dengan sangat tegas.

__ADS_1


__ADS_2