
“Kenapa kamu tidak memberitahu om dan tante akan datang kesini Stefan? Selena pasti akan sangat senang mendengar kamu datang kesini.” Ujar tuan Smith dengan tawa kecilnya.
Hana hanya diam saja mendengarkan. Sementara Stefan, dia hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan omnya.
Saat ini mereka sedang menikmati makan malam bersama di meja makan. Kebetulan om dan tante Stefan juga sudah pulang sehingga Stefan mengajak Hana untuk keluar dari kamar yang mereka berdua tempati.
“Iya.. Selena pasti akan sangat senang. Dan mungkin dia akan nekat pulang detik ini juga kalau tau kamu dan Hana datang Stefan.” Imbuh nyonya Smith menatap Hana dan Stefan bergantian.
Gabriel yang berada diantara mereka hanya bisa diam saja. Gadis cantik dengan rambut keritingnya yang dikuncir tinggi itu hanya bisa menghela napas dengan tatapan sendu kearah kedua orang tuanya.
Gabriel juga menatap pada Hana dan berhenti sedikit lama saat menatap Stefan.
Hana yang diam diam melirik Gabriel mengeryit melihat Gabriel yang menatap Stefan sedikit lama.
“Kenapa Gabriel menatap Stefan seperti itu?” Batin Hana bertanya tanya.
Hana mulai berpikir. Dari tatapan sendu Gabriel Hana merasa ada sesuatu yang ingin gadis cantik itu sampaikan. Namun tatapan gadis itu juga menyiratkan ketakutan yang membuat Hana bingung. Gabriel benar benar tidak tampak seperti apa yang Stefan bicarakan padanya.
“Apa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Gabriel dari semuanya?”
Hana mulai berpikir keras. Pasalnya Gabriel benar benar tidak tampak seperti gadis psikopat seperti apa yang Stefan ceritakan padanya. Sebaliknya, Gabriel terlihat seperti gadis yang terkekang dan terancam.
“Hana...”
Hana tersentak saat tiba tiba nyonya Smith menyentuh lembut punggung tangan-nya. Hal itu membuat nyonya Smith tertawa pelan begitu juga dengan suaminya tuan Smith.
“Oh ya Tuhan.. Maafkan tante Hana.. Tante tidak bermaksud mengejutkan kamu..” Ujar nyonya Smith menyesal menatap Hana.
“Oh iyah.. Nggak papa tante.” Angguk Hana tersenyum meski jantungnya masih berdetak dengan cepat karena keterkejutan-nya.
“Berapa usia kandungan kamu nak?” Tanya nyonya Smith pada Hana dengan penuh perhatian.
“Baru genap 7 bulan, bulan ini tante.” Jawab Hana dengan senyuman.
__ADS_1
Nyonya Smith menganggukkan kepalanya mengerti. Wanita itu kemudian menatap sebentar pada suaminya yang duduk disamping Stefan.
“Semoga semuanya lancar sampai hari lahirnya ya nak..”
“Iya tante.. Minta do'anya saja.” Angguk Hana masih dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
“Pasti. Tante pasti akan mendo'akan yang terbaik untuk semua orang yang tante sayang.”
Melihat komunikasi antara Hana dan tantenya yang begitu baik Stefan tersenyum samar. Stefan berharap tidak ada sesuatu yang terjadi pada Hana. Karena jika sampai Gabriel melakukan sesuatu pada Hana, Stefan tidak akan bisa memaafkan-nya bahkan meskipun om dan tantenya bersimpuh didepan kedua kakinya.
Selesai makan malam, tuan dan nyonya Smith mengajak Hana dan Stefan untuk mengobrol sambil menonton tv bersama di ruang keluarga. Mereka mengobrol dengan disertai canda tawa tanpa Gabriel.
“Emm.. Tante, Gabriel kemana? Kenapa tidak bergabung disini bersama kita?” Tanya Hana membuat tuan dan nyonya Smith langsung diam. Senyuman dibibir keduanya bahkan lenyap seketika karena pertanyaan yang Hana lontarkan.
“Hem.. Gabriel mungkin sudah tidur atau sedang memainkan handphone nya di kamar.” Jawab nyonya Smith pelan.
Hana menatap Stefan sebentar. Sedang yang ditatap hanya diam saja tanpa mengatakan apapun.
“Oh begitu ya tante..”
“Tante kamu benar Stefan. Ajak Hana istirahat sekarang. Besok kamu bisa ajak Hana jalan jalan keliling kota ini.” Timpal tuan Smith setuju dengan saran istrinya pada Stefan untuk mengajak Hana istirahat.
“Ya om, tante. Kalau begitu aku dan Hana kekamar dulu. Selamat malam.” Ujar Stefan sembari bangkit dari duduknya kemudian mengajak Hana berlalu dari ruang keluarga menuju kamar meninggalkan Tuan dan nyonya Smith.
“Riana, sepertinya kita harus ekstra mengawasi Gabriel. Aku tidak mau Gabriel sampai melakukan sesuatu pada Hana. Apa lagi Hana juga sedang hamil besar. Stefan pasti akan sangat marah jika sedikit saja Gabriel menyentuh Hana.”
“Ya Max, kamu benar. Kita harus benar benar mengawasi setiap apa yang Gabriel lakukan.” Balas nyonya Smith dengan wajah sendu.
Sebenarnya wanita itu sangat sedih dan tidak tau harus bagaimana bersikap pada putri bungsunya. Bagaimanapun juga Gabriel adalah putrinya. Gabriel juga masih kecil yang membuat Riana kadang merasa tidak tega bersikap terlalu tegas pada gadis itu.
“Aku benar benar tidak tau harus bagaimana bersikap pada Gabriel Max. Dia putri kita. Aku sangat menyayanginya. Tapi apa yang dia lakukan juga tidak bisa di maklumi. Apa lagi jika sudah bersangkutan dengan hukum.”
Riana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan-nya merasa sangat frustasi menghadapi tingkah putri bungsunya. Riana juga tidak ingin menjauhkan Gabriel dari orang orang yang menyayanginya. Tapi Riana juga tidak ingin mereka terluka karena apa yang Gabriel lakukan.
__ADS_1
Maxime Smith hanya bisa diam saja. Pria itu juga tidak tau kenapa putrinya bisa berbuat demikian pada orang orang disekitarnya. Padahal saat masih anak anak dia begitu imut, baik juga manis. Tapi menginjak usia remaja tiba tiba Gabriel melakukan sesuatu yang diluar dugaan-nya juga istrinya, Riana.
Sementara itu dikamar Stefan dan Hana mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Stefan mendekap Hana dengan tangan terus mengusap lembut perut buncit Hana.
Sedang Hana, dia masih memikirkan setiap apa yang Stefan katakan padanya tentang Gabriel. Ditambah lagi dengan tuan dan nyonya Smith yang terlihat aneh ekspresinya saat Hana menanyakan kenapa Gabriel tidak ikut bergabung di ruang keluarga untuk menonton tv bersama tadi.
BRUKK !!
Stefan dan Hana sama sama terkejut saat mendengar suara keras benda jatuh. Suara itu berasal dari luar samping kamar yang mereka tempati.
“Stefan.. Itu..”
“Tetap disini dan jangan keluar dari kamar. Aku akan mengeceknya keluar.” Ujar Stefan kemudian melepaskan dekapan-nya pada Hana.
Hana menganggukkan kepalanya. Entah kenapa tiba tiba Hana merasa takut mendengar suara keras benda jatuh itu.
Stefan turun dari ranjang kemudian melangkah keluar dari kamar dan menutup kembali pintu kamar yang di tempatinya dan Hana. Stefan yakin jika sudah terdengar suara aneh aneh, Gabriel pasti sudah akan memulai aksinya.
Stefan melangkah menuju samping rumah mencari benda apa yang jatuh disamping kamarnya. Pria itu mengedarkan pandangan-nya ke sekitar namun tidak melihat apapun yang mencurigakan.
Stefan menghela napas. Tiba tiba Stefan berpikir mungkin Gabriel sengaja melakukan itu untuk mengalihkan perhatian-nya. Menyadari dirinya yang terkena jebakan itu, Stefan pun segera berlari masuk kembali kedalam rumah untuk melihat keadaan Hana dikamar sekarang.
Ketika sampai di dalam rumah dan sudah berada dekat dikamar yang di tempatinya, Stefan melihat Gabriel dan Hana yang sedang mengobrol di depan pintu.
“Apa kakak mendengar sesuatu tadi?” Tanya Gabriel menatap Hana dengan pandangan yang buat buat.
“Ya.. Stefan sedang mengeceknya keluar. Suaranya persis disamping kamar ini tadi.” Jawab Hana jujur.
Stefan menyipitkan kedua matanya. Jarak kamarnya dan Gabriel lumayan jauh karena kamar gadis itu juga berada dilantai dua. Aneh rasanya jika Gabriel juga mendengar suara itu.
Tidak mau Gabriel bertindak yang membahayakan Hana, Stefan langsung mendekat.
“Untuk apa kamu disini Gabriel?” Tanya Stefan membuat Hana dan Gabriel langsung menoleh padanya.
__ADS_1
Gabriel tersenyum dengan sebelah alis terangkat. Gadis itu menatap Stefan dengan tatapan bahagia.
“Kak Stefan..” Lirihnya.