ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 107


__ADS_3

Dokter Rania menghentikan mobilnya dihalaman luas rumah mewah Stefan. Dengan gerakan cepat dokter cantik itu turun dari mobilnya kemudian langsung melangkah masuk kedalam kediaman Stefan.


“Saya mau ke kamar Stefan dan Hana.” Ujar dokter Rania pada seorang pelayan yang saat itu baru saja turun dari lantai dua.


“Oh ya dokter, mari saya antar.” Kata pelayan tersebut.


Dokter Rania menganggukkan kepalanya kemudian mengikuti pelayan itu dari belakang menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar Stefan dan Hana yang ada di lantai dua.


Saat sampai didepan pintu kamar Hana dan Stefan pelayan itu langsung pamit undur diri. Sedang dokter Rania, dia mengetuk pintu kamar Stefan dan Hana pelan kemudian masuk kedalam dimana Stefan, Sera, juga Angel dan Hana berada disana.


“Selamat malam tante..” Sapa ramah dokter Rania pada Sera yang menatapnya.


“Ya dokter, malam juga.” Senyum Sera membalas sapaan dokter Rania.


Dokter Rania menatap sebentar pada Stefan yang berdiri disamping ranjang. Dari ekspresi Stefan, dokter Rania dapat menangkap kekesalan yang terpendam. Tapi dokter cantik itu tidak perduli. Toh, jarak dari rumahnya ke rumah Stefan memang tidak dekat. Apa lagi ditambah dengan jalanan yang begitu padat dan ramai oleh kendaraan sehingga dokter cantik itu tidak bisa seenaknya mengatur kecepatan laju mobilnya ditengah mobil mobil lain-nya.


“Eemm.. Permisi tante, Angel, biar saya coba periksa keadaan Hana.” Ujar dokter Rania pelan dan sopan.


“Oh iya.. Ya sudah kalau begitu tante sama Angel tunggu diluar saja.”


Sera segera mengajak Angel untuk turun dari ranjang tempat Hana berbaring kemudian keluar dari kamar Stefan dan Hana.


Dokter Rania kembali menatap pada Stefan. Namun pria itu malah mendelik kesal padanya.


“Aku suaminya Rania. Periksa saja Hana sekarang, tidak perlu menyuruhku keluar dari kamarku sendiri.” Tegas Stefan pada dokter Rania.


Dokter Rania menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya. Tidak mau berdebat dengan Stefan yang memang sangat keras kepala itu, dokter cantik itu pun meletakan tas hitam berisi peralatan untuk memeriksa pasien-nya di samping Hana kemudian membukanya dan mengeluarkan stetoskop.


Sedangkan Hana, dia melirik sebal pada Stefan yang sepertinya memang tidak bisa bersikap dengan baik jika didepan orang lain.


“Maaf ya dokter..” Tatap Hana merasa tidak enak pada dokter Rania.


“Kamu tenang saja Hana. Suami kamu memang seperti itu. Aku sudah tidak heran lagi.” Senyum dokter cantik itu kemudian segera memeriksa keadaan Hana.

__ADS_1


Hana hanya bisa menghela napas. Bahkan dokter Rania yang adalah teman Stefan pun sudah tau sikap buruk pria itu.


Stefan terus berdiri ditempatnya menatap dan mendengarkan setiap pertanyaan yang dokter Rania lontarkan pada Hana. Pria itu sama sekali tidak bersuara namun tatapan-nya begitu waspada seolah takut dokter Rania berbuat sesuatu yang tidak baik pada istrinya.


“Jadi bagaimana? Kenapa Hana selalu mual mual?” Tanya Stefan membuat dokter Rania dan Hana langsung menatap padanya.


Dokter Rania kembali menghela napas. Meskipun dari luar Stefan terlihat dingin dan arogan, namun dokter itu juga tau bagaimana Stefan yang sesungguhnya. Stefan yang memang sudah sejak dulu dia kenal dengan baik namun selalu menggunakan topeng kekejaman yang membuat rumor tidak baik menyebar ke seluruh publik. Namun heran-nya meski rumor itu tersebar, para wanita di luar sana tetap saja mengagumi sosoknya.


“Tidak ada yang perlu di khawatirkan sebenarnya. Mual, muntah itu sudah wajar terjadi pada ibu hamil di trimester pertama. Selain itu perubahan suasana hati juga kerap terjadi. Untuk ke sensitifan terhadap bau atau aroma sesuatu mungkin akan lebih baik jika Hana jangan sampai mencium aroma tersebut. Selebihnya semuanya baik baik saja Stefan.” Jawab dokter Rania.


Stefan menghela napas lega. Meskipun Stefan sendiri tau mual dan muntah itu wajar di alami oleh ibu hamil, tetapi setidaknya jika Stefan sudah mendengar sendiri dari ahlinya Stefan bisa merasa tenang.


“Makasih banyak ya dokter, maaf sudah mengganggu waktu dokter malam malam begini.”


Hana benar benar masih merasa tidak enak hati pada dokter Rania. Apa lagi ditambah dengan sikap suaminya yang begitu arogan dan semaunya sendiri.


Tiba tiba Hana kepikiran dengan kondisi Alan. Hana ingin bertanya pada dokter Rania tapi itu tidak mungkin karena ada Stefan diantara mereka berdua.


Stefan langsung menatap Hana dengan penuh perhatian. Tatapan datarnya berubah melembut begitu bertemu dengan tatapan Hana.


“Boleh tidak aku minta tolong sama kamu?” Tanya Hana pelan.


Dokter Rania hanya diam saja disamping Hana yang berbaring. Wanita itu kemudian memasukan kembali stetoskop miliknya kedalam tas.


“Apa?” Tanya Stefan pelan.


“Aku mendadak pengin teh hangat tapi harus kamu yang membuatkan.”


Stefan berdecak kemudian menghela napas. Stefan merasa Tuhan benar benar sedang menguji tingkat kesabaran-nya dengan tingkah Hana.


“Tunggu sebentar.” Katanya kemudian segera melangkah berlalu keluar dari kamarnya meninggalkan Hana dan dokter Rania didalam kamar.


Setelah Stefan keluar dari kamar, Hana langsung bangkit dari berbaringnya. Hana meraih tangan dokter Rania membuat dokter cantik itu mengeryit bingung.

__ADS_1


“Dokter, bagaimana kondisi Alan sekarang?”


Dokter Rania menyipitkan kedua matanya menatap Hana yang bahkan untuk menanyakan Alan saja harus sembunyi sembunyi dari Stefan.


“Eemm.. Dokter jangan salah paham dulu. Saya bukan ingin berbohong pada Stefan. Tapi saya yakin dokter tau sendiri bagaimana Stefan. Bagaimanapun juga Alan adalah sahabat baik saya. Saya hanya ingin tau bagaimana keadaan-nya sekarang.”


Dokter cantik itu menghela napas kemudian menyingkirkan dengan lembut tangan Hana dari tangan-nya. Dokter Rania yakin sedikitpun Hana tidak tau bahwa Alan mencintainya.


“Dia baik baik saja. Kamu nggak perlu meng khawatirkan dia Hana. Ada aku, Ibu dan kedua adik Alan yang akan selalu memastikan yang terbaik untuk Alan. Kamu juga pasti sudah tau bagaimana Stefan. Dan bukan tidak mungkin kalau kamu terus memikirkan Alan sesuatu yang tidak di inginkan akan terjadi.”


Hana menatap tidak mengerti pada dokter Rania. Wanita di depan-nya seperti melarangnya secara tidak langsung untuk tau tentang Alan lagi. Padahal dokter itu juga tau Hana dan Alan bersahabat.


“Dokter tapi..”


“Hana, banyak orang bilang kalau cinta itu buta. Dan butanya cinta itu bukan tidak melihat. Buta cinta itu artinya adalah seseorang yang terlalu mencintai pasangan-nya akan menghalalkan segala cara untuk terus bisa membuat pasangan-nya itu hanya menatapnya. Kamu mengerti maksudku kan?”


Hana terdiam. Stefan mungkin memang akan sangat marah jika tau Hana menanyakan tentang Alan pada dokter Rania. Tapi Hana hanya ingin tau keadaan sahabat baiknya sekarang.


“Hana, dari pengalaman aku mengenal Stefan dia tidak pernah seperti ini. Tapi sejak menikah sama kamu banyak sesuatu yang semakin mencolok dari sosoknya. Jadi aku pikir akan lebih baik kalau kamu tidak lagi memikirkan bagaimana Alan. Kalian tetap bisa berteman tapi tidak bisa sedekat dulu lagi.”


Tepat setelah dokter Rania selesai berbicara, Stefan kembali masuk dengan secangkir teh hangat di tangan-nya kemudian mendekat ke ranjang dimana Hana dan dokter Rania berada.


Dokter Rania tersenyum geli. Stefan benar benar sedang di perbudak oleh cintanya pada Hana.


“Ya sudah kalau begitu aku permisi ya.. Stefan, Hana, aku pulang dulu.”


“Hem ya..” Saut Stefan pelan.


Hana terus saja diam memikirkan apa yang dokter Rania katakan. Bahkan saat dokter Rania berpamitan padanya Hana hanya diam saja.


“Kenapa?” Tanya Stefan membuat Hana menatapnya.


Hana tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Stefan. Hal itu membuat Stefan mengeryit bingung. Stefan bahkan langsung merasa curiga pada dokter Rania karena kediaman Hana.

__ADS_1


__ADS_2