ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 269


__ADS_3

“Aduduh aduh..” Tristan mengaduh kesakitan saat Amira tidak sengaja menginjak kakinya. Pemuda itu langsung melepaskan kedua tangan-nya dari pinggang ramping Amira kemudian berjongkok memegangi kedua kakinya yang terinjak oleh Amira.


“Ya ampun Tristan..”


Amira langsung ikut berjongkok dengan raut wajah penuh ke khawatiran. Ini sudah yang kesekian kalinya Amira menginjak kaki Tristan karena tidak sengaja.


“Maaf.. Aku tidak sengaja menginjak kaki kamu Tristan..” Lirihnya merasa sangat bersalah.


Tristan menghela napas. Mengajari Amira dansa memang tidak mudah. Apa lagi badan Amira yang begitu kaku dan jauh dari kata lues saat menari. Tapi Tristan tidak mempermasalahkan-nya. Tristan yakin asal mereka berdua rajin berlatih, Amira pasti akan bisa mengimbanginya.


“Aku kan udah bilang sama kamu Tristan, aku nggak bisa dansa.” Amira menundukkan kepalanya dengan wajah lesu. Kali ini gadis itu benar benar merasa sangat tidak percaya diri.


Tristan berdecak pelan. Terinjak kakinya oleh Amira bukan hanya sekali dua kali Tristan rasakan. Memang rasanya sangat sakit karena injakan itu benar benar spontanitas. Namun itu tidak membuat Tristan menyerah mengajari Amira berdansa. Selain demi penampilan mereka, Tristan juga ingin menunjukan pada seluruh siswa siswi di sekolahnya bahwa dirinya dan Amira memang sangat serasi sebagai pasangan kekasih. Tristan ingin semuanya tau bahwa Amira adalah miliknya.


“Udah nggak papa.. Lagian ini juga bukan pertama kalinya kok kamu injak kaki aku.” Senyum Tristan menatap Amira.


“Hey..” Tristan meraih dagu Amira dan mengangkatnya dengan lembut menyuruh agar Amira tidak menunduk dan membalas tatapan-nya.


“Tristan, kita batalin aja ya penampilan kita. Mungkin kita..”


“Ssshhtt.. Kamu nggak boleh putus asa begitu. Kita harus semangat. Karena kita pasti bisa Amira. Percaya sama aku..” Selan Tristan enggan mendengar Amira yang tidak percaya dengan kemampuan-nya sendiri.


Amira menghela napas pelan. Gadis itu benar benar merasa tidak yakin dirinya bisa berdansa dengan Tristan. Apa lagi mereka berdua akan tampil di depan para donatur juga semua siswa siswi di sekolah.


“Tapi aku takut kita menjadi bahan tertawaan teman teman satu sekolah Tristan.” Lirih Amira yang terus saja meragu.

__ADS_1


“Eh Amira, kita itu harus yakin sama diri kita sendiri. Kita juga harus berusaha. Masalah hasilnya ya kita serahkan saja sama Tuhan. Yang penting kita harus berusaha untuk menampilkan yang terbaik. Aku yakin kamu pasti bisa. Apa lagi yang melatih dansanya pacar kamu yang keren ini.” Ujar Tristan meyakinkan Amira dengan disertai candaan penuh percaya dirinya.


Amira mengeryit kemudian tertawa. Tristan selalu bisa membuatnya tertawa.


“Nah gitu dong.. Kan tambah manis kalau ketawa.” Senyum Tristan.


“Huuu.. Dasar tukang gombal.” Sorak Amira sambil memukul pelan bahu Tristan menggunakan tinjunya.


Tristan langsung meraih tangan Amira yang memukul pelan bahunya. Tristan menggenggamnya dengan kedua tangan kemudian menempelkan tangan Amira di dada bagian kiri dimana letak jantungnya berada.


“Amira, kamu pasti bisa merasakan detak jantung aku sekarang. Dan kamu harus tau detakkan jantung aku yang bisa kamu rasakan saat ini adalah detakkan perasaan aku yang akan semakin kuat seiring berjalan-nya waktu sama kamu. Dan selama jantung aku masih berdetak, selama itu pula aku akan terus mencintai kamu Amira.” Ujar Tristan menatap lembut pada Amira.


Amira terdiam mendengar apa yang Tristan katakan. Gadis itu tidak pernah sedikitpun menyangka bahwa langkahnya dan Tristan untuk bersama semakin jauh. Langkah yang membuat Amira merasa tidak bisa lagi berhenti karena ada Tristan yang selalu ada di sampingnya.


Perlahan Tristan mendekatkan wajahnya pada Amira yang hanya diam mematung. Tristan tersenyum kemudian mengecup lembut kening Amira.


“Dasar cewek nggak tau diri. Nggak punya apa apa aja belagu.” Gerutu Putri.


Putri tidak tau harus bagaimana lagi memisahkan keduanya. Apa lagi Tristan juga mempunyai Edo dan Joshua yang selalu siap siaga membantu untuk menjaga hubungan-nya dengan Amira. Beberapa usaha Putri bahkan pernah di gagalkan oleh kedua sahabat Tristan yang kembar tapi tidak mirip dan tidak bersaudara itu.


“Awas aja kamu Amira, aku nggak akan membiarkan kamu bisa berdansa dengan Tristan. Karena Tristan hanya boleh dansa sama aku.” Gumam Putri penuh tekad juga emosi yang menguasai hatinya.


Tidak ingin melihat kemesraan Tristan dan Amira lebih lama, Putri pun segera berlalu dari persembunyian-nya. Gadis itu yakin Tristan pasti akan menatapnya suatu saat nanti. Tristan akan memilihnya dan meninggalkan Amira.


-----------

__ADS_1


“Undangan dari sekolah Tristan?” Tanya Williana pada sekretarisnya yang baru saja memberitahukan perihal tentang undangan yang di kirim oleh pihak sekolah tempat Tristan menimba ilmu.


Williana menatap undangan tersebut kemudian meraih dan menatapnya dengan seksama.


“Ya nona. Sepertinya semua donatur di sekolah itu juga di undang.”


Williana mengeryit dan tampak berpikir sesaat sebelum akhirnya tersenyum. Para donatur di sekolah Tristan memang lumayan banyak. Dan salah satu dari mereka adalah Stefan yang memang belum lama menjadi donatur di sekolah itu yang cukup di spesial kan.


“Itu artinya Stefan juga akan hadir disana.” Batin Williana yakin.


“Emm.. Kamu atur saja semuanya. Saya pasti akan datang ke acara itu.” Senyum Williana dengan sangat yakin pada sekretaris cantiknya.


“Baik nona. Kalau begitu saya permisi.”


“Oke..” Angguk Williana mempersilahkan.


Setelah sekretarisnya berlalu, seulas senyum terukir di bibir Williana. Senyuman penuh arti yang menandakan bahwa wanita itu sedang sangat senang.


“Tuhan memang sangat baik padaku. Buktinya tanpa harus aku mendatangi kamu Tuhan akan mempertemukan kita di acara yang sama sekali tidak di duga.” Gumam Williana merasa senang..


“Aku yakin Stefan, kita sebenarnya memang berjodoh. Hanya saja mungkin Tuhan ingin aku lebih bersabar menghadapi kamu.”


Williana menyandarkan punggung terbukanya di sandaran kursi kebesaran-nya. Bukan sekali dua kali Stefan menolaknya. Stefan sering sekali menolaknya dengan tegas. Namun sedikitpun Williana tidak merasa dirinya harus mundur. Penolakan Stefan justru membuatnya merasa semakin tertantang. Stefan membuat Williana semakin merasa penasaran.


“Aku tidak perduli dengan siapapun yang saat ini menjadi penghalang kita untuk bersama Stefan. Karena yang aku tau, aku mencintai kamu. Dan aku yakin kita akan bersama suatu saat nanti. Saat itu tiba aku yakin kamu akan sangat mencintai aku dan tidak akan sedikitpun melepaskan aku dari hidup kamu.”

__ADS_1


Williana bergumam dengan senyuman penuh arti. Wanita itu begitu yakin bahwa perasaan-nya pada Stefan akan terbalas suatu hari nanti tanpa sedikitpun perduli dengan penolakan berkali kali Stefan padanya.


__ADS_2