ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 103


__ADS_3

Setelah mendapatkan semua yang Hana mau, Stefan mengajak Hana pulang. Dan begitu sampai dirumah Stefan langsung menyuruh pekerjanya mengambil di bagasi mobil semua merek sabun dan shampo yang dibelinya untuk kemudian dibagikan dengan pekerja yang lain-nya.


Sementara Hana, Wanita itu dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya melangkah lebih dulu memasuki rumah.


“Mommy...!!”


Pekikan Angel membuat langkah Hana terhenti. Wanita itu menoleh dan tersenyum ketika mendapati Angel yang berlari ke arahnya. Hana langsung merentangkan kedua tangan-nya menyambut Angel yang hendak memeluknya. Namun sebelum Angel berhasil memeluk Hana, Stefan sudah lebih dulu menghalanginya dengan berdiri tepat didepan Hana. Hal itu membuat langkah Angel langsung terhenti. Senyuman dibibir gadis kecil itu juga sirna berganti dengan ketegangan yang terlihat begitu jelas dari ekspresinya.


Hana mengeryit karena apa yang Stefan lakukan. Namun Hana tetap berusaha tenang dan diam. Hana tidak mau menegur Stefan didepan Angel.


Stefan menatap datar pada Angel yang langsung menundukkan kepala tidak berani menatapnya. Stefan tidak bermaksud menghalangi Angel untuk memeluk Hana, Stefan hanya tidak ingin Angel memeluk Hana terlalu keras karena itu akan membuat perut Hana terbentur keras tubuh Angel.


“Peluknya pelan pelan saja. Ingat di perut mommy ada ade baby nya.” Ujar Stefan mengingatkan Angel.


Perlahan Angel mengangkat kepalanya. Gadis itu kemudian mendongak menatap Stefan yang begitu tinggi berdiri didepan-nya.


“Yes daddy.. Sorry..” Senyumnya tipis. Angel merasa lega karena ternyata Stefan tidak memarahinya. Stefan hanya mengingatkan-nya demi kebaikan bersama.


Setelah Angel mengiyakan apa yang dikatakan Stefan, Stefan pun segera menyingkir dari depan Hana. Stefan kemudian melangkah menjauh dari Angel dan Hana yang sama sama menatap punggung lebar Stefan.


Hana tersenyum. Hampir saja dirinya salah paham pada Stefan. Hana pikir Stefan tidak mengizinkan Angel mendekat pada Hana. Tapi ternyata pria tampan juga dingin itu hanya bermaksud mengingatkan Angel agar hati hati saat memeluknya.


“Angel pikir daddy mau marah.” Ujar Angel membuat Hana tertawa pelan. Kali ini pemikiran mereka benar benar sama.


“Nggak dong sayang. Kan daddy baik.” Timpal Hana.


Angel tersenyum dan menganggukkan pelan kepalanya setuju dengan apa yang Hana katakan. Stefan memang baik.


Angel kemudian kembali melanjutkan niat awalnya untuk memeluk Hana. Dan Angel memeluk perut Hana dengan sangat lembut dan hati hati.

__ADS_1


“Mommy sama daddy darimana? Kok udah sore begini baru pulang?” Tanya Angel mendongak menatap Hana dengan kedua tangan terus melingkar di pinggang Hana.


“Eemm.. Mommy sama daddy abis beli sabun sayang.” Jawab Hana membelai lembut pipi chuby Angel.


“Kenapa nggak tungguin Angel sampe pulang sekolah dulu? Kan Angel pengin pergi dan jalan jalan sama mommy sama daddy kaya waktu itu.”


Hana tersenyum lebar.


“Ya udah nanti kapan kapan kita jalan jalan lagi ya.. Kalau daddy lagi nggak sibuk. Bagaimana?” Tanya Hana menoel ujung hidung mancung Angel.


“Oke mommy..” Angguk Angel setuju dengan apa yang Hana katakan.


“Ya udah kalau begitu mommy mau bersih bersih dulu ya..”


Angel kemudian melepaskan pelukan-nya pada Hana. Gadis kecil itu juga tidak lupa mencium perut rata Hana dimana calon adiknya sedang tumbuh dan berkembang dikandungan Hana.


Hana tertawa mendengar apa yang Angel katakan. Gadis kecil itu begitu polos dan menggemaskan dimatanya.


“Tunggu 8 bulan lagi ya sayang.” Ujar Hana kemudian berlalu dari hadapan Angel berniat untuk membersihkan dirinya. Hana juga sudah tidak sabar ingin menggunakan sabun dan shampo yang baru saja dibelinya bersama Stefan tadi.


------------


Amira menghentikan langkahnya saat merasa ada seorang yang mengikuti langkahnya dari belakang. Gadis itu kemudian menolehkan kepalanya dengan cepat untuk melihat siapa yang berada dibelakangnya. Namun saat Amira menatap ke belakang, Amira tidak mendapati siapapun dibelakangnya. Bahkan jalanan yang saat ini Amira lalui sangat sepi tanpa ada satu orang pun yang lewat.


“Apa cuma perasaan aku aja?” Gumam Amira bertanya tanya sendiri.


Amira menghela napas kemudian kembali menatap ke sekitarnya memastikan sekali lagi bahwa tidak ada satu pun orang dibelakangnya.


“Huh... Sudahlah, lebih baik aku nggak usah nunggu angkot disini.”

__ADS_1


Tidak mau sesuatu yang buruk menimpa dirinya, Amira pun segera berlari dengan cepat dari jalanan sepi itu.


Sementara itu di balik pohon besar Tristan sedang bersembunyi. Tristan memang setiap hari selalu mengikuti Amira saat pulang sekolah secara diam diam. Tristan ingin memastikan sendiri bahwa Amira aman sampai ke rumahnya.


Tristan pelan pelan melongokkan kepalanya karena tidak mau Amira memergokinya. Tristan memang sengaja bersembunyi karena Amira yang curiga ada orang dibelakangnya.


“Loh, Amira kemana?”


Tristan berdecak frustasi karena Amira yang tiba tiba sudah tidak ada di tempatnya. Namun itu bukan berarti Tristan akan kembali ke sekolah untuk mengambil motornya. Tristan tetap melanjutkan langkah mengikuti Amira. Meskipun Tristan memang tidak tau dimana sekarang Amira. Tapi setidaknya Tristan tau dimana rumah Amira. Dan Tristan akan memastikan kesana apakah Amira sudah sampai rumah atau belum.


Tristan menghentikan ojek kemudian menumpanginya menyuruh tukang ojek itu mengantarnya ke perkampungan tempat Amira dan keluarganya tinggal.


Begitu sampai tidak jauh dari kediaman keluarga Amira, Tristan meminta agar tukang ojek itu berhenti kemudian membayar ongkosnya.


“Aduh den, jangan bercanda kenapa? Ongkos ojeknya cuma 20 ribu. Dan aden kasih uangnya pake uang seratus ribuan. Saya nggak ada kembalian-nya den, baru narik ini..” Keluh tukang ojek itu.


Tristan tersenyum tipis.


“Ya sudah pak, kembalian-nya ambil saja. Makasih ya sudah mau nganter saya sampai sini.” Katanya.


“Serius ini den? Ya Tuhan.. Makasih banyak ya den ya.. Kalau begitu saya mau lanjut narik lagi.”


“Iya pak.” Angguk Tristan dengan senyuman dibibirnya.


Tristan menggelengkan kepalanya melihat tukang ojek itu yang terlihat sangat bahagia karena uang dari Tristan. Saat itu lah Tristan sadar bahwa banyak orang yang tidak seberuntung dirinya. Tapi meski begitu Tristan tetap merasa apa yang dia punya tidaklah berguna kalau harus hidup terkekang dengan berbagai aturan.


Tristan menghela napas kemudian berniat melangkah menuju kediaman keluarga Amira yang memang sudah tidak jauh lagi dari sana. Namun saat hendak melangkah, Tristan terkejut saat mendapati Amira yang sudah berdiri seperti sengaja menghadangnya.


“Amira..” Gumam Tristan menelan ludah. Kali ini dirinya sudah benar benar ketahuan. Tristan tidak akan bisa lagi mengelak karena Amira pasti akan menuntut penjelasan kenapa Tristan bisa ada di perkampungan tempatnya tinggal. Apa lagi posisi Tristan sudah tidak lagi jauh dari rumah Amira dan keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2