ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 76


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Kondisi Alan perlahan lahan mulai pulih karena ketelatenan dokter Rania tentunya. Dokter cantik itu tidak pernah merasa lelah meskipun harus mengurusi Alan setiap hari tanpa bantuan siapapun. Hal itu membuat Alan semakin merasa penasaran dan terus bertanya tentang siapa dokter Rania sebenarnya. Alan bingung karena dokter cantik itu begitu telaten merawatnya padahal dokter itu juga sudah tau bahwa Alan dan keluarganya bukan dari kalangan yang mampu.


“Kondisi kamu sudah baik Alan. Bahkan sangat baik. Hanya mungkin kaki kamu untuk sementara memang belum bisa berfungsi dengan baik.” Ujar dokter Rania setelah memeriksa keadaan Alan.


Alan menatap kedua kakinya. Semua anggota tubuhnya sudah normal kembali dan bisa Alan gerakkan, tapi tidak dengan kedua kakinya.


“Apa aku lumpuh dokter?” Tanya Alan terus menatap kedua kakinya yang tidak bisa dia gerakan.


Dokter Rania tersenyum. Wanita itu kemudian duduk ditepi ranjang menghadap pada Alan yang duduk diam dikursi rodanya.


“Bisa dikatakan begitu. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Itu tidak bersikap permanen. Kamu akan bisa berjalan kembali dan tentunya itu membutuhkan proses.” Jawab dokter Rania menatap Alan.


Alan menghela napas. Sejujurnya Alan sudah sangat tidak betah tinggal dirumah itu. Meski memang setiap hari ibu dan adik adiknya datang namun Alan tetap merasa ada yang kurang. Tentu saja karena Hana yang tidak pernah datang menjenguknya. Amira bilang Hana sedang sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk datang. Tapi anehnya Amira juga tidak mau meneleponkan Hana untuknya.


Alan pernah meminjam ponsel milik dokter Rania untuk menghubungi nomor Hana yang memang Alan hapal, tapi sayang nomornya sudah tidak aktif lagi.


“Dokter..” Panggil Alan pelan.


“Ya Alan..” Saut dokter Rania menatap Alan dengan penuh perhatian.


Sesaat Alan terdiam. Alan sebenarnya ingin mengatakan-nya sejak lama tentang kenapa dokter itu mau merawatnya padahal Alan tidak bisa menjanjikan apapun nantinya.


“Kenapa dokter begitu baik padaku? dokter tau aku bukan orang yang punya. Aku tidak mungkin bisa membayar dokter secara kontan. Kalaupun bisa mungkin aku akan menyicilnya dan itupun pasti memerlukan waktu yang lama untuk memulainya dokter.”


Dokter Rania tertawa pelan mendengarnya. Alan memang tidak tau bahwa Stefan yang menanggung semua pengobatan-nya. Stefan juga melarang dokter Rania untuk mengatakan yang sesungguhnya.

__ADS_1


“Kamu tidak perlu memikirkan apapun tentang itu Alan. Yang terpenting sekarang adalah kamu sembuh saja dulu. Karena itu adalah tugasku sebagai seorang dokter.”


Alan mengeryit tidak paham dengan apa yang dokter cantik itu katakan. Karena setiap Alan membahas tentang biaya pengobatan dokter Rania selalu membalasnya dengan tenang dan senyuman manis seolah tidak pernah memikirkan akan dengan cara apa Alan membayarnya nanti.


“Ya sudah kalau begitu Alan, kita terapi nanti ya.. Aku harus belanja dulu. Stok kebutuhan bulanan kita sudah habis.”


Alan hanya diam saja. Alan benar benar tidak paham dengan keadaan-nya sekarang. Ibunya terlihat bugar dan kedua adiknya terus bersekolah tanpa ada kendala. Padahal Alan yang nota bene nya adalah tulang punggung keluarga sedang tidak berdaya dan tidak bisa melakukan apa apa. Alan bukan tidak bersyukur dengan semua kemudahan itu, Alan hanya bingung mengingat biaya hidup di jaman sekarang tidaklah mudah.


“Sebentar lagi ibu kamu akan datang.” Senyum dokter Rania kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari kamar Alan.


Alan menghela napas setelah dokter Rania berlalu meninggalkan-nya. Alan benar benar heran. Semua kemudahan itu menyisakan banyak tanya di benaknya. Ditambah lagi dengan Hana yang tidak pernah ada kabarnya.


Alan menoleh ke pintu balkon kamar yang terbuka kemudian menggerakkan kursi roda yang di dudukinya.


“Kamu dimana Hana? kenapa kamu tidak pernah ada kabar sekarang?”


Alan memejamkan kedua matanya. Sampai sekarang perasaan-nya tidak pernah berubah pada Hana. Namun sekarang Alan merasa kurang percaya diri mengingat kondisinya yang lemah. Alan merasa tidak pantas lagi untuk mencintai Hana. Alan juga yakin Hana tidak mungkin mau menerimanya dengan kekurangan-nya sekarang.


Alan menghela napas lagi kemudian membuka kedua matanya menatap lurus kedepan. Sedikitpun Alan tidak pernah berpikir semuanya akan menjadi seperti sekarang. Alan tidak tau apa yang terjadi sebenarnya. Yang Alan ingat hanya saat dirinya terhempas dari motornya kemudian semuanya benar benar gelap. Alan tidak lagi mengingat apa apa.


“Apa Hana tidak tau apa yang terjadi sama aku? Apa dia marah dan menganggap aku tidak mau menjemputnya pagi itu?” Alan kembali bertanya tanya. Sekarang Alan bahkan berpikir mungkin Hana marah padanya dan menganggap dirinya enggan menjemputnya.


“Tapi.. Hana bukan orang yang seperti itu..”


Alan menelan ludah. Alan menepis pemikiran buruknya tentang Hana karena Alan tau bagaimana Hana yang sebenarnya. Hana adalah orang yang sabar. Hana juga bukan orang yang bisa berpikir negatif tentang seseorang apa lagi pada Alan.

__ADS_1


“Tapi kenapa sampai sekarang Hana tidak juga kesini untuk menjengukku?”


Alan berdecak. Semua pertanyaaan itu benar benar membuatnya bingung. Alan tidak tau harus mencari jawaban darimana. Amira adiknya selalu mengalihkan pembicaraan jika Alan bertanya tentang Hana. Dan ibunya juga sama seperti itu. Ibunya selalu menceritakan semua kebaikan kebaikan dokter Rania.


“Alan..”


Alan menoleh ketika mendengar suara sang ibu. Alan menatap wanita itu. Ibunya bahkan terlihat jauh lebih muda. Ibunya tidak lagi ringkih seperti dulu. Ibunya terlihat cantik dan berisi.


Pelan pelan ibu melangkah mendekat pada Alan. Namun sebelum itu wanita dengan celana kulot hitam dan kemeja biru muda itu meletakan apa yang dibawanya diatas ranjang.


“Dimana dokter Rania? Kenapa rumah ini begitu sepi?” Tanya ibu setelah berdiri didepan Alan.


Alan berdecak pelan. Sepertinya ibunya benar benar sangat menyukai dokter cantik itu.


“Dokter Rania sedang belanja bu..” Jawab Alan enggan bertatap mata dengan ibunya. Pikiran Alan sedang berpusat pada Hana sekarang. Dan Alan tidak ingin ibunya terlalu banyak membahas tentang dokter Rania. Alan tau dokter itu memang baik.


“Begitu ya? Dokter Rania benar benar perempuan yang sangat telaten dan baik ya Alan. Dia bahkan....”


“Bu..” Sela Alan memanggil ibunya.


Ibu Alan langsung berhenti berbicara saat Alan memanggil dan menyela apa yang sedang di katakan-nya tentang dokter Rania.


“Alan tau dokter Rania memang baik. Alan sangat berhutang padanya bu.. Tapi sekarang bukan itu yang ingin Alan bahas. Alan ingin bertemu dengan Hana. Ibu pasti tau dimana Hana kan? Tolong bu katakan pada Hana aku ingin bertemu. Ajak dia kesini bu..” Ujar Alan pelan.


Ibu terdiam tidak tau harus berkata apa. Amira sudah mengatakan semua padanya tentang Alan yang diam diam mencintai Hana. Dan wanita itu tidak tau harus mengatakan apa pada putranya tentang Hana yang memang sudah mempunyai kehidupan sendiri dengan Stefan, suaminya.

__ADS_1


__ADS_2