
Stefan melangkah menuju meja makan dimana makan malam sudah tersaji disana. Pria itu mengeryit karena tidak mendapati siapapun disana. Padahal biasanya Sera dan Angel ataupun Hana pasti sudah berada disana menunggunya untuk makan malam bersama.
“Mereka kemana?” Tanya Stefan pelan.
Stefan menghela napas kemudian melangkah menuju tangga. Pria itu kemudian menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya, kamar Sera, juga Angel berada.
“Oma, kalau nanti adiknya Angel sudah lahir, apa mommy sama daddy akan tetap sayang sama Angel?”
Langkah Stefan terhenti begitu sampai di anak tangga terakhir. Pria itu menoleh kearah suara dimana Angel dan Sera sedang duduk bersama disofa.
“Hey.. Kok kamu nanya nya begitu sayang.. Mommy sama daddy tentu saja akan terus sayang sama kamu nak.” Jawab Sera dengan lembut.
Stefan menelan ludah. Angel bukanlah putri kandungnya dan Hana tau tentang itu. Sedangkan Hana sekarang sedang hamil anaknya. Stefan juga tidak tau apakah perasaan-nya akan tetap sama atau akan berubah jika nanti Hana melahirkan anak mereka.
“Tapi kan mommy Hana bukan mommy Angel yang sebenarnya oma.. Angel takut mommy Hana akan berubah dan tidak lagi sayang sama Angel kalau adik Angel lahir nanti.”
Sera tertawa pelan mendengarnya. Ke khawatiran yang sedang dirasakan oleh Angel sekarang memang umum dirasakan oleh hampir sebagian besar anak yang akan mempunyai adik. Dan Sera memaklumi itu.
“Angel dengerin oma ya.. Daddy sama mommy itu sayang banget sama kamu. Jadi mereka enggak mungkin berubah. Justru mereka akan semakin sayang sama kamu. Apa lagi kalau kamu bisa bantuin mommy sama daddy buat jagain adik kamu nanti. Mommy sama daddy pasti bakal seneng banget.”
Stefan menghela napas. Tidak ingin mendengarkan lagi obrolan Sera dan Angel, Stefan pun melangkah menuju kamarnya dan Hana.
Saat Stefan masuk kedalam kamar mereka, Hana juga baru keluar dari kamar mandi. Wanita itu tersenyum menatap Stefan yang seperti biasanya dengan wajah datar.
“Stefan..”
Hana mendekat pada Stefan. Wanita itu melingkarkan kedua tangan-nya dilengan kekar Stefan membuat Stefan mengeryit bingung.
“Makan yuk, aku laper banget..” Rengek Hana manja.
__ADS_1
Stefan semakin tidak mengerti. Tidak biasanya Hana bersikap begitu manja padanya.
Stefan tiba tiba teringat dengan penolakan tegas Hana tadi siang ditelepon tentang susu hamil. Stefan memang belum sempat membicarakan-nya dengan Hana karena siang tadi saat makan siang Hana tidak ikut serta dan Sera yang mengantarkan langsung makan siang untuk Hana ke kamar mereka.
“Hana. Tentang susu hamil itu bagaimana?”
Pertanyaan Stefan membuat senyuman manis yang menghiasi bibir Hana sirna seketika.
Hana berdecak kemudian melepaskan kedua tangan-nya dari lengan kekar Stefan.
“Kirain udah lupa. Ternyata masih aja dibahas.” Dumel Hana melipat kedua tangan-nya dibawah dada.
“Hana, aku itu enggak sedang bercanda. Aku melakukan itu juga demi kebaikan kamu dan calon anak kita.” Ujar Stefan dengan nada kesalnya.
“Iya aku tau. Tapi apa yang kamu lakukan itu terlalu berlebihan tau nggak. Lagian menurut aku juga semua susu itu enak kok. Dan kalau kamu suruh aku buat milih salah satu aku nggak tau harus pilih yang mana. Beli semuanya juga nggak papa kan? nggak usah dibikin susah deh.” Sengit Hana.
“Kamu..”
“Apa? Kamu pikir aku nggak berani sama kamu? Eh Stefan dengar ya, aku nggak takut sama kamu. Dan mulai sekarang aku nggak mau terlalu diatur ini itu.” Sela Hana dengan tegas.
Stefan menelan ludah tidak menyangka Hana bisa begitu galak padanya. Padahal biasanya Hana akan ciut jika Stefan sudah menekan-nya. Tapi sekarang Hana bahkan berani menantangnya.
Stefan menghela napas kasar merasa jengkel karena tingkah terlalu berani istrinya. Stefan semakin mendekat pada Hana berniat mengintimidasi wanita itu dengan tatapan-nya seperti biasa namun saat Stefan hendak mendekatkan wajah tampan-nya, Hana dengan sigap menahan wajah Stefan dengan satu tangan-nya.
“Berhenti bersikap seenaknya sama aku Stefan.” Tegas Hana mendelik menatap Stefan kemudian keluar dari kamarnya meninggalkan Stefan yang benar benar tidak menyangka dengan keberanian istrinya itu.
“Kok dia jadi berani banget sih sama aku? Dia menindas aku?”
Stefan tidak habis pikir dengan sikap Hana kali ini. Hana bahkan berani menahan wajahnya dengan telapak tangan kecilnya. Sepertinya wanita itu sama sekali tidak merasa takut pada Stefan kali ini.
__ADS_1
“Apa karena dia sedang hamil jadi sikapnya semakin ajaib?”
Stefan berdecak kesal kemudian menyusul Hana keluar dari kamarnya. Stefan langsung menuju tangga menuruninya dengan cepat kemudian melangkahkan kakinya menuju meja makan. Disana sudah ada Hana, Sera, juga Angel yang sudah duduk dengan tenang di kursinya masing masing.
“Hay daddy.. Selamat malam..” Sapa Angel ceria.
Stefan tersenyum tipis pada Angel kemudian menatap pada Hana yang malah melengos tidak mau balas menatapnya.
Stefan benar benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Hana berani mengacuhkan-nya didepan Angel dan Sera.
“Ayo duduk Stefan. Kita makan sama sama.” Senyum Sera.
“Iya mah..” Angguk Stefan kemudian duduk di kursinya.
Sekarang Stefan merasa sangat bodoh karena Hana. Stefan bahkan tidak tau harus bagaimana karena kediaman Hana.
Sera yang melihat itu hanya menggeleng saja. Sebenarnya Sera juga mendengar perdebatan keduanya saat berada didalam kamar tadi. Tapi Sera berpura pura tidak tau karena tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga putranya. Toh perdebatan mereka hanya karena masalah sepele dan Sera merasa itu bukan masalah yang serius.
Stefan menatap piringnya yang masih kosong. Untuk pertama kalinya Hana benar benar mengabaikan-nya. Wanita itu mengambilkan makanan untuk Angel tapi tidak untuk dirinya. Hana bahkan dengan asik melahap makanan-nya sendiri tanpa memperdulikan Stefan yang terus menatapnya berharap Hana mau mengambilkan makanan untuknya seperti biasa.
Sera yang melihat ekspresi Stefan ingin sekali tertawa. Stefan benar benar terlihat sangat polos jika sedang seperti sekarang. Stefan seperti anak kecil yang sedih karena di abaikan oleh mamahnya.
“Apa liat liat?!” Ketus Hana pada Stefan.
Stefan berdecak. Pria itu benar benar bingung. Dulu sebelum menikah dengan Hana Sera lah yang selalu mengambilkan makanan untuknya saat dimeja makan. Kemudian setelah menikah Hana yang menghandle semuanya. Hana melayaninya dengan benar meskipun saat itu Hana belum mencintainya. Tapi sekarang Hana mengabaikan-nya dan Stefan merasa segan jika harus minta tolong pada mamahnya.
Dengan sangat terpaksa Stefan mulai mengambil nasi sendiri. Namun Stefan kebingungan saat hendak mengambil lauk. Stefan bingung harus mengambil yang mana dari sekian banyaknya menu diatas meja didepan-nya.
“Ya ampun.. Kenapa aku jadi kaya orang bodoh gini sih.” Dumel Stefan dalam hati.
__ADS_1