ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 216


__ADS_3

Seperti biasanya, Tristan selalu mengajak Amira kerumahnya terlebih dulu untuk menunggunya mengganti seragam sebelum akhirnya Tristan mengantar Amira pulang kemudian menemani dan membantu Amira bekerja di toko sembako milik pak Ang sambil belajar bersama.


“Loh, kakak sudah pulang?” Gumam Tristan bertanya tanya saat melihat mobil Williana yang sudah terparkir didepan teras rumah mewah mereka.


Amira yang masih duduk di boncengan Tristan seketika merasa takut. Williana memang sudah tidak lagi melarangnya dekat dengan Tristan. Namun tatapan sinis dan ucapan pedas wanita itu sering kali membuat Amira merasa takut bahkan minder. Apa lagi Williana juga begitu terang terangan berkata pedas didepan Tristan secara langsung.


Pelan pelan Amira turun dari boncengan Tristan yang kemudian langsung di susul oleh Tristan.


“Eemm.. Tan, aku nunggu kamu disini aja ya.. Kamu juga jangan lama lama takutnya nanti aku kesorean kerjanya.”


“Hah?”


Tristan terlihat bingung dengan alasan yang Amira lontarkan. Tristan melepas helm yang dikenakan-nya kemudian meletakan-nya diatas jok motor gedenya.


“Kamu takut ya sama kak Williana?” Tanya Tristan yang langsung bisa mengerti karena alasan Amira yang menurut Tristan cukup aneh itu.


“Em.. Bukan takut sih sebenarnya. Cuma lebih ke grogi aja. Sedikit minder juga soalnya kakak kamu kalau ngomong suka terlalu begitu. Maaf banget ya..”


Tristan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tristan sendiri juga paham dan mengerti bagaimana sikap kakaknya. Williana memang sangat sinis pada orang lain. Bukan hanya pada Amira saja, bahkan pada pekerja dirumah mereka juga Williana sangat sinis.


“Tenang aja, aku ngerti kok. Tapi kamu nggak perlu khawatir. Kakak aku itu aslinya baik. Baik banget malah. Cuma ya.. Mungkin memang bawaan-nya sinis jadi begitu.”


Amira hanya diam saja. Gadis itu tau Williana tidak menyukainya karena menganggap Amira hanya memanfaatkan Tristan. Tapi Amira tidak perduli. Amira akan membuktikan pada wanita itu bahwa dirinya tulus bersama dengan Tristan tanpa ada maksud apapun apa lagi untuk memanfaatkan Tristan.


“Ya udah, sebentar ya. Jangan kemana mana. Aku ke dalem dulu. Kamu tunggu disini. Aku nggak akan lama kok.” Senyum Tristan sebelum masuk kedalam rumah meninggalkan Amira didepan teras rumahnya disamping motor gedenya.


“Ya...” Angguk Amira dengan senyuman tipis yang menghiasi bibirnya.

__ADS_1


Setelah Tristan masuk ke dalam untuk berganti baju, Amira menghela napas. Amira pernah beberapa kali tidak sengaja melihat Putri yang begitu akrab dengan Williana. Amira sebenarnya iri dengan Putri yang bisa begitu dekat dan akrab dengan Williana, kakak Tristan. Sedangkan dirinya, bahkan menatapnya saja Williana enggan. Williana selalu sinis padanya.


“Sudahlah, buat apa aku iri sama Putri.” Gumam Amira kemudian mengedarkan pandangan-nya ke halaman luas kediaman keluarga Atmaja.


“Kenapa nggak masuk?”


Deg


Amira menelan ludah terkejut mendengar suara Williana. Gadis itu perlahan menolehkan kepalanya ke pintu utama kediaman Atmaja dan menemukan Williana sudah berdiri dengan kedua tangan terlipat dibawah dada. Wanita itu menatapnya dengan tatapan datar.


Mendadak napas Amira tidak beraturan. Amira selalu berusaha meyakinkan dirinya untuk tidak perduli dengan apapun prasangka buruk Williana padanya. Tapi nyatanya setiap bertatap mata dengan Williana, Amira selalu merasa terintimidasi. Amira merasa tertekan seolah wanita itu sedang memaksanya untuk melepaskan Tristan dengan suka rela.


“Eh.. Kak..”


Karena sudah terlihat oleh Williana, mau tidak mau Amira harus mendekat dan menyapa Williana dengan sopan.


Amira menyodorkan tangan-nya bermaksud untuk menyalimi Williana, namun wanita itu sama sekali tidak memperdulikan-nya membuat Amira akhirnya menarik kembali tangan-nya.


Amira menatap Williana dengan tatapan tidak mengerti. Tristan selalu menemaninya setiap hari saat bekerja di toko pak Ang juga karena Tristan merasa jenuh karena selalu sendirian di rumah.


“Kamu berhasil membuat Tristan sampai lupa pada satu satunya keluarganya yaitu saya, kakaknya.”


Amira tidak tau harus bagaimana menjelaskan pada Williana karena Williana pasti tidak akan percaya dan akan tetap mengecapnya buruk.


“Asal kamu tau ya anak kecil. Saya mungkin tidak bisa lagi melarang Tristan untuk dekat sama kamu. Tapi bukan berarti saya lepas Tristan begitu saja. Karena kapanpun dan dimanapun kalian berada, saya akan selalu tau. Dan kalau sampai kamu macam macam dengan berani memanfaatkan Tristan, kamu akan tau sendiri akibatnya, ingat itu baik baik.” Tekan Williana pada Amira.


Amira menelan ludah. Sedikitpun Amira tidak merasa takut dengan ancaman yang baru saja Williana lontarkan padanya. Amira hanya tidak habis pikir dengan sikap Williana hang sama sekali tidak bisa memandangnya dari arah yang positif. Williana memandangnya buruk tanpa sedikitpun mau mencari tahu apakah pemikiran-nya tentang Amira benar atau salah.

__ADS_1


“Kakak..”


Suara Tristan membuat pandangan Williana teralihkan dari Amira yang berdiri berhadapan dengan-nya. Saat itu juga ekspresi Williana langsung berubah, dari datar menjadi senyuman manis yang menghiasi bibirnya.


“Tristan, sudah?”


“Ya kak.. Aku cariin kakak loh diatas tapi nggak ada. Ternyata kakak lagi sama Amira.”


Tristan melangkah menghampiri Williana dan Amira. Tristan yakin pasti ada yang baru saja Williana katakan pada Amira yang hanya diam dan tampak menghela napas kemudian menundukan sebentar kepalanya.


“Iya.. Tadi kakak diruang kerja terus sayup sayup denger suara motor kamu makan-nya kakak keluar. Dan ternyata ada dia disini juga.” Balas Williana menatap Tristan kemudian melirik sekilas pada Amira enggan menyebut nama Amira.


Tristan mengepalkan satu tangan-nya sebentar. Tristan harus bisa lebih bersabar dan menahan dirinya. Williana memang sampai sekarang belum bisa menerima Amira dengan tangan dan hati terbuka sebagai gadis yang Tristan cintai. Tapi Tristan yakin seiring berjalan-nya waktu Williana akan paham dan mengerti. Williana pasti akan bersikap baik pada Amira suatu saat nanti.


“Ya udah kak kalau begitu kami pergi ya kak.. Kakak abis ini mau ke kantor lagi kan?” Tanya Tristan pada Williana.


“Nggak tau nanti. Kamu hati hati yah.. Nanti jangan pulang kemalaman. Biar kita bisa makan malam sama sama. Oke?”


Tristan hanya menganggukkan kepala dengan senyuman tipisnya. Tristan menoleh pada Amira yang hanya diam dengan sesekali menundukkan kepalanya. Tristan tau apa yang sedang Amira rasakan.


Tristan meraih tangan Amira dan menggandengnya erat membuat Amira langsung menoleh menatapnya.


Tristan mengukir senyuman di bibirnya meminta maaf secara halus dengan bahasa isyarat cintanya pada gadis yang berhasil menguasai hati dan pikiran-nya.


“Kita pergi sekarang.” Lirih Tristan yang di angguki oleh Amira.


Tristan kemudian menuntun Amira berlalu dari hadapan Williana menuju motor gedenya. Tristan tau membiarkan Williana dan Amira terlalu lama berhadapan hanya akan membuat Amira merasa tertekan.

__ADS_1


Sedangkan Williana, wanita itu kembali melipat kedua tangan-nya dibawah dada menatap motor Tristan yang mulai melaju pelan meninggalkan pekarangan luas rumahnya.


“Kita lihat sampai mana kalian bisa bertahan.” Gumam Williana tersenyum sinis.


__ADS_2