
Tristan berdecak karena Amira tidak menuruti apa yang dikatakan-nya. Pemuda itu kemudian segera menstater motornya untuk mengejar Amira yang pasti belum jauh dari kediaman-nya.
Ketika baru keluar dari area kompleks tempatnya dan sang kakak tinggal, Tristan mengeram marah melihat Amira yang naik ke boncengan Angga. Karena tidak bisa menahan rasa kesalnya, Tristan pun mengejar motor Angga dengan kecepatan penuh. Pemuda itu mencegat Angga yang memboncengi Amira hendak mengantar gadis itu pulang.
Karena terkejut dengan aksi mendadak Tristan, Angga pun mengerem motornya mendadak membuat Amira refleks memeluknya. Begitu menyadari ada Tristan di depan-nya, Amira pun menelan ludah. Tristan pasti salah mengartikan kebersamaan-nya dengan Angga sekarang.
Tristan turun dari motornya kemudian mendekat pada Angga dan Amira yang masih tetap tenang di atas motor Angga.
“Turun.” Perintah Tristan tegas.
“Tristan ini..” Amira tergagap tidak tau harus mengatakan apa. Rasanya seperti dirinya ketahuan berselingkuh.
“Aku bisa jelasin Tristan..”
“Aku bilang turun !!” Sentak Tristan meraih pergelangan tangan Amira dan memaksanya untuk turun dari boncengan Angga.
Angga yang merasa gerah melihat itu berdecak. Niatnya baik ingin mengantar Amira pulang karena melihat Amira yang berjalan kaki sendiri. Di samping itu Angga juga tau rumah Amira dari sana jaraknya lumayan jauh. Angga melakukan itu karena Angga merasa berhutang budi pada Amira yang selalu membantu membawakan belanjaan adiknya.
“Santai aja kali, nggak usah marah marah.” Sindir Angga membuat Tristan langsung melayangkan tatapan tajam padanya.
“Jangan dekati pacarku.” Tekan Tristan kemudian menarik Amira menjauh dari Angga.
Angga menelan ludah. Sedikitpun Angga tidak pernah punya maksud mendekati Amira. Niatnya tadi benar benar murni ingin membantu Amira saja.
“Dasar nggak jelas.” Gumam Angga menatap Tristan yang kembali menaiki motornya di susul oleh Amira yang naik ke boncengan-nya.
__ADS_1
Amira juga sempat menoleh pada Angga dengan tatapan merasa bersalah. Angga yang mengerti dengan tatapan tersebut mencoba menenangkan Amira dengan senyuman tipis yang di ukirnya untuk gadis itu.
Dalam perjalanan mengantar Amira pulang, Tristan sama sekali tidak mengatakan apapun. Pemuda itu bahkan melajukan motornya dengan kecepatan maksimal. Amarah benar benar sedang menguasai hati dan pikiran-nya karena melihat Amira yang berboncengan dengan Angga.
Amira yang berada di boncengan Tristan bingung tidak tau harus bagaimana. Amira ingin menjelaskan apa yang sebenarnya, tapi karena Tristan yang terus diam itu menbuat Amira tidak tau harus memulai darimana menjelaskan-nya.
Saat sampai di halaman depan rumah Amira, Tristan menghentikan motor gedenya. Dan setelah Amira turun dari boncengan-nya Tristan langsung kembali melajukan motornya meninggalkan Amira tanpa sepatah kata pun.
Amira yang melihat itu hanya bisa menghela napas. Kali ini Tristan benar benar marah padanya.
Alan yang melihat itu dari jendela kaca di ruang tamu tersenyum merasa geli. Tadi Alan yang mengantar Amira sampai depan gerbang kediaman Atmaja. Dan saat Tristan baru pulang dan belum lama masuk tiba tiba Alan mendengar deru suara motor Tristan. Dan melihat kediaman Amira dan Tristan, Alan bisa menebak dengan mudah bahwa keduanya pasti sedang berselisih paham.
Tidak ingin ikut campur dengan hubungan adiknya, Alan pun memilih berlalu menuju kamarnya. Alan akan bersikap seolah dirinya tidak tau apa apa dan tidak melihat apapun malam ini. Alam yakin adiknya sudah cukup mandiri untuk bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dalam hubungan-nya dengan Tristan.
Kediaman Devandra.
Hana berusaha bangkit dari berbaringnya sepelan mungkin agar tidak mengusik putranya yang sejak tadi memang sedikit rewel dan sama sekali tidak mau lepas darinya. Bahkan saat di gendong oleh Stefan Theo juga menangis tidak seperti biasanya.
Stefan yang melihat apa yang dilakukan oleh istrinya hanya menggeleng saja. Menghadapi Theo yang sedang rewel memang kadang serba salah. Apa lagi Theo juga tidak bisa sembarang di gendong oleh orang lain. Pada Sera saja Theo tidak bisa bertahan lama jika di gendong karena selalu ingin menempel pada Hana.
“Steff..” Panggil Hana dengan suara berbisik. Wanita itu sudah berhasil turun dari ranjang tanpa sedikitpun mengusik tidur lelap putranya.
“Aku mau ke kamar mandi dulu. Titip Theo sebentar yah..” Katanya masih dengan suara berbisik.
Stefan merasa sangat geli menatap Hana. Wanita itu benar benar tidak ingin siapapun mengganggu tidur putranya. Bahkan suaranya saja sampai benar benar di pelankan karena tidak ingin membuat putra kesayangan-nya menangis.
__ADS_1
“Oke..” Balas Stefan menganggukkan kepalanya. Stefan menirukan suara Hana karena Stefan juga tidak ingin membuat putranya menangis yang pasti juga akan membuat istrinya itu marah.
Setelah mendapat balasan dari Stefan, Hana pun buru buru melangkah menuju kamar mandi. Namun baru saja meraih handle pintu berwarna putih itu, tiba tiba Theo merengek bangun dari tidurnya. Theo bahkan langsung membalikan tubuhnya merubah posisinya yang semua terlentang menjadi tengkurap.
Hana menghela napas merasa ngenes sendiri. Hari ini Theo benar benar membuat Hana tidak bisa melakukan banyak hal. Bahkan untuk sekedar membersihkan dirinya sendiri.
Hana menoleh pada Theo yang sudah didekati oleh Stefan. Wanita itu benar benar merasa sangat lelah hari ini. Tapi Hana juga tidak bisa mengabaikan begitu saja tugasnya sebagai seorang istri.
“Nggak papa.. Nggak papa jagoan.. Daddy disini..” Stefan berusaha mendiamkan Theo dengan mengangkat tubuh balita itu dan menggendongnya. Meski memang cara itu tidak berhasil dan Theo terus saja menangis sambil berusaha melepaskan diri dari gendongan daddy nya.
“Kamu ke kamar mandi dulu saja sayang. Nggak papa, Theo pinter kok sama daddy..” Ujar Stefan tersenyum menatap Hana sambil terus berusaha mendiamkan Theo.
Hana yang memang sudah tidak bisa menahan karena kebelet pipis itu menganggukkan kepalanya. Hana percaya Stefan bisa menghandle Theo. Namun itu bukan berarti Hana bisa santai. Hana tetap berusaha secepat mungkin menyelesaikan urusan-nya di kamar mandi kemudian menghampiri Stefan dan mengambil alih Theo yang masih saja menangis dalam gendongan Stefan.
Begitu sudah berada di gendongan Hana, Theo langsung diam. Balita tampan itu kemudian berusaha mencari cari sumber makanan-nya sendiri. Hana yang mengerti dengan maksud putranya segera mengeluarkan buah dadanya yang kemudian langsung dengan semangat di lahap oleh putranya itu.
Hana menghela napas pelan. Kesabaran-nya sebagai seorang ibu benar benar sedang di uji sekarang.
Stefan yang berada disamping Hana tersenyum menatap istri juga putranya itu. Saat seperti ini Stefan merasa dirinya tidak berguna karena tidak bisa banyak membantu Hana yang kerepotan sendiri mengurus Theo yang sedang rewel.
“Nggak papa sayang.. Theo hanya sedang mulai beradaptasi dengan keadaan.” Ujar Stefan sambil mengusap usap dengan lembut bahu kecil Hana.
Hana menoleh kemudian tersenyum dengan di sertai anggukan di kepalanya. Menjaga dan merawat Theo sendiri memang tidak mudah. Tapi Hana tidak mempermasalahkan hal itu karena memang mengurus Theo adalah kewajiban-nya sebagai seorang ibu.
Stefan memeluk Hana dengan penuh kasih sayang dari belakang. Pria itu berusaha menguatkan istrinya yang Stefan tau pasti sangat lelah menghadapi Theo yang rewel hari ini.
__ADS_1