ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 45


__ADS_3

Stefan melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata rata. Pria itu sedang merasa sangat kesal pada dokter Rania karena wanita itu berani membantah perintahnya. Dokter Rania bahkan berani menutup telepon-nya lebih dulu. Dan saat Stefan menghubunginya lagi dokter cantik itu tidak mengangkatnya.


Stefan berdecak. Jika sampai dokter Rania memberitahu keluarga Alan tentang kondisi baik pria itu Aisha ataupun Amira juga pasti akan memberitahu Hana. Itu tentu saja akan membuat Hana terus memikirkan pria itu. Dan stefan tidak mau Hana terus memikirkan Alan.


Stefan mengurangi kecepatan laju mobilnya kemudian menghentikan-nya di tepi jalan. Stefan melirik sebuket bunga yang akan dia berikan pada Hana dirumah nanti. Pria itu kemudian merogoh saku dalam jasnya meraih ponsel miliknya untuk menghubungi body guard yang berjaga dirumah dokter Rania.


Tidak perlu lama menunggu body guard tersebut langsung mengangkat telepon dari Stefan.


“Halo tuan..” Sapa body guard tersebut dari seberang telepon.


“Kalian, jangan biarkan keluarga Alan menemui Alan mulai saat ini.” Perintah Stefan dengan senyuman sinis yang menghiasi bibirnya.


“Baik tuan.”


Setelah mendapat jawaban dari orang suruhan-nya, Stefan langsung menyudahi telepon-nya dan kembali memasukan ponsel miliknya kedalam saku dalam jasnya.


“Rania.. Kalau kamu tidak mau mengikuti perintahku. Makan menjauhkan Alan dari keluarganya adalah jalan keluarnya..” Gumam Stefan tersenyum sinis.


Stefan akui dirinya memang sangat egois. Tapi Stefan melakukan-nya karena tidak ingin Hana terus memikirkan Alan. Stefan mau Hana hanya menatapnya seorang saja dan tidak ada pria lain selain dirinya.


Stefan kembali menghidupkan mesin mobilnya berlalu dari tepi jalan yang cukup ramai itu untuk menuju jalan pulang.


Setengah jam kemudian Stefan sampai tepat didepan rumahnya. Stefan meraih sebuket bunga mawar merah yang dia letakan dikursi samping kemudinya kemudian turun dari mobilnya.


Stefan mencium aroma wangi dari mawar merah itu seperti memastikan bahwa bunga itu aman untuk istrinya.


“Selamat malam tuan.” Sapa seorang pelayan yang saat itu sedang berada di teras depan rumah.


“Ya, malam.” Angguk Stefan menatap datar pelayan itu kemudian melangkah masuk kedalam rumahnya.


Stefan langsung mencari keberadaan Hana tanpa bertanya pada siapapun. Pria itu bahkan langsung menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya berpikir bahwa mungkin Hana saat itu sedang berada dikamar mereka seperti biasanya.


“Stefan.” Langkah Stefan berhenti ketika ada yang memanggilnya. Itu adalah suara Hana.


Stefan menoleh dan mendapati Hana yang berdiri dibawah tangga dengan sepiring donat berbagai macam toping ditangan-nya. Wanita itu tersenyum manis menatap Stefan yang berdiri ditengah tangga.


“Aku baru saja selesai membuat donat. Apa kamu mau mencobanya?” Senyum Hana menawarkan.

__ADS_1


Stefan tidak langsung mendekat pada Hana. Pria tampan itu menatap Hana yang selalu terlihat cantik dan manis dengan penampilan sederhananya. Apa lagi sekarang rambut panjangnya di cepol tinggi membuat leher putih bersihnya terlihat begitu jenjang.


Stefan menghela napas pelan kemudian memutar tubuhnya dan kembali melangkah menuruni satu persatu anak tangga menghampiri Hana.


Ketika sampai tepat didepan Hana, Stefan langsung di sodorkan donat dengan toping macca oleh Hana.


“Ayo coba..” Senyum Hana menatap wajah tampan Stefan.


Stefan menatap donat tersebut kemudian kembali menatap pada Hana. Dengan tatapan yang terus tertuju pada Hana, Stefan menggigit sedikit donat itu.


Stefan mengunyahnya pelan dengan tatapan terus tertuju pada Hana. Pria itu merasa sedikitpun tidak pernah bosan menatap wajah cantik alami Hana.


“Bagaimana rasanya Stefan?” Tanya Hana meminta pendapat pada Stefan.


“Lumayan.” Jawab Stefan pelan.


Hana mengangguk merasa senang meskipun Stefan hanya menjawab lumayan. Tapi dengan Stefan mau mencicipi donat buatan-nya saja Hana sudah merasa senang.


Hana kemudian menatap bunga yang sedang dipegang oleh Stefan. Wanita itu langsung berpikir bahwa bunga itu pasti akan diberikan padanya.


Setelah menelan donat yang sudah di kunyahnya, Stefan kembali membuka mulutnya memberi isyarat pada Hana bahwa dirinya ingin kembali di suapi.


Stefan kemudian menundukan sedikit kepalanya mendekatkan wajahnya pada wajah Hana. Stefan melirik pada donat yang sedang digigitnya memberi isyarat lagi pada Hana agar Hana juga ikut menggigitnya.


“Apa?” Tanya Hana yang tidak mengerti dengan isyarat Stefan.


Stefan menghela napas dan menempelkan donat dalam gigitan-nya pada bibir Hana membuat Hana akhirnya mengerti dan segera menggigit donat itu.


Sesaat keduanya terdiam dan saling menatap hingga akhirnya Stefan menjauhkan wajahnya menarik kembali donat itu dari gigitan Hana.


Stefan mengambil donat itu kemudian melahapnya habis tanpa sedikitpun merasa jijik meskipun di donat itu juga ada bekas gigitan dari Hana.


Apa yang Stefan lakukan membuat Hana kembali terdiam. Wanita itu tidak menyangka Stefan mau memakan bekas gigitan-nya.


Stefan melirik menggerakkan bola mata coklat beningnya ketika seorang pelayan melintas tidak jauh darinya.


“Hey kamu..” Panggil Stefan membuat pelayan tersebut menoleh.

__ADS_1


“Kemari.” Perintah Stefan membuat si pelayan dengan segera mendekat pada Stefan dan Hana.


“Saya tuan..” Ujar pelayan itu menundukkan kepalanya didepan Hana dan Stefan.


Stefan kemudian menatap lagi pada Hana.


“Hana, berikan donat itu padanya.” Perintah Stefan.


Hana mengeryit bingung. Hana sengaja membuat donat itu untuk Stefan. Tapi Stefan malah menyuruhnya untuk memberikan donat buatan-nya itu pada pelayan.


“Tapi Stefan ini...”


“Berikan padanya Hana..” Perintah Stefan lagi menyela ucapan Hana.


“Aku akan kembali memakan-nya nanti. Suruh dia untuk menyimpan-nya lebih dulu.” Tambah Stefan yang akhirnya membuat Hana menganggukan kepalanya mengerti.


Hana memberikan sepiring donat buatan-nya pada pelayan yang berdiri didepan-nya dan Stefan meminta tolong agar sepiring donat itu di letakkan dimeja makan.


Setelah pelayan itu berlalu, Stefan menatap sebuket bunga ditangan-nya. Stefan berharap bunga itu bisa membuat Hana percaya padanya.


Stefan menyodorkan bunga itu pada Hana yang kemudian langsung diterima oleh Hana dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Terimakasih..” Lirih Hana kemudian mencium aroma bunga mawar itu tanpa sadar.


Akibatnya serbuk bunga yang memang akan terasa sangat menyengat di indra penciuman-nya itu membuat Hana langsung bersin didepan wajah Stefan.


Stefan mendelik terkejut melihatnya. Hana benar benar merusak momen romantis yang berusaha Stefan ciptakan.


“Hana, kamu apaan sih? Dikasih bunga malah aku di bersinin begini?” Kesal Stefan menutup hidung dan mulutnya karena Hana terus bersin bersin.


“Ya, ya maaf.. Aku kan alergi sama serbuk bunga..” Balas Hana sambil menggosok gosok pelan hidungnya sendiri.


Stefan menghela napas kesal kemudian berlalu begitu saja menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua rumahnya menjauh dari Hana yang mengerucutkan bibirnya menatap punggung Stefan yang menjauh darinya.


Stefan berhenti melangkah ketika sudah sampai di lantai dua. Pria itu menoleh dan kembali menatap Hana yang masih berdiri ditempatnya dengan memegang sebuket bunga darinya.


Stefan tersenyum. Meskipun keromantisan yang hendak dia ciptakan gagal karena Hana yang ternyata alergi dengan serbuk bunga tapi Stefan tetap merasa senang karena Hana tetap menerima bunga darinya.

__ADS_1


Stefan menghela napas kembali menatap kedepan dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.


“Maaf...” Lirih Hana merasa bersalah pada Stefan.


__ADS_2