
Sorenya Stefan langsung membicarakan niatnya untuk mengajak Hana ke Amerika bertemu dengan om dan tantenya serta kedua adik sepupunya pada Sera. Dan itu sukses membuat Sera sangat terkejut.
“Bukan-nya mamah ngelarang Stefan, tapi kamu tau sendiri bagaimana sikap Gabriel kan?”
Stefan menghela napas. Hana pasti tidak akan percaya jika Stefan ataupun Sera mengatakan satu fakta tentang Gabriel, adik sepupu Stefan. Hana pasti akan menganggap apa yang Stefan katakan hanya alasan agar Hana tidak meminta di ajak ke Amerika.
“Aku nggak mau Hana menangis dan sedih mah..”
“Ya tapi bagaimana kalau sampai Michael berbuat sesuatu yang tidak baik pada Hana? Memangnya kamu mau itu terjadi?”
Stefan menelan ludahnya. Sedikitpun Stefan tidak pernah ingin Hana kenapa napa.
“Aku akan melindungi Hana mah..” Ujar Stefan pelan.
Sera menghela napas disertai dengan decakan pelan. Wanita itu tidak bisa menghalangi kepergian Stefan karena Hana yang menginginkan.
“Baiklah kalau begitu Stefan. Mamah bener bener minta tolong sama kamu untuk menjaga dengan sangat ketat Hana juga janin yang sedang di kandungnya ya.. Jangan pernah kamu lengah apa lagi sampai tertipu dengan kepolosan Michael.”
Stefan menganggukkan kepalanya. Tanpa Sera memintanya pun Stefan pasti akan menjaga istri juga calon buah hatinya yang berada di dalam kandungan Hana sekarang.
“Mamah percaya sama kamu nak..” Senyum Sera penuh harap.
Stefan hanya bisa diam. Stefan yakin dirinya bisa melindungi Hana dari berbagai macam gangguan termasuk gangguan dari Gabriel jika mereka ke Amerika nanti.
----------
“Jadi berapa mas?” Tanya Alan pada petugas bengkel yang sudah selesai memperbaiki motornya. Motor yang mengalami kerusakan begitu parah karena kecelakaan yang Alan alami malam itu.
Saat si petugas bengkel itu menyebutkan nominal yang harus Alan bayar, Alan hanya bisa tersenyum dengan helaan napas pelan.
Alan kemudian melepaskan ransel yang di gendongnya merogohnya dan mengeluarkan amplop coklat berisi uang yang Alan tabung dari dua bulan yang lalu untuk membayar biaya perbaikan motornya.
Alan menyodorkan amplop tersebut yang langsung di terima oleh petugas bengkel itu. Petugas itu juga menghitung uang yang berada di dalam amplop coklat itu didepan Alan, memastikan jumlah uangnya pas.
__ADS_1
“Bagaimana?” Tanya Alan pada petugas itu.
“Ya tuan, sudah pas.”
Alan tersenyum merasa sangat lega. Uangnya benar benar habis dan hanya tersisa beberapa didalam dompetnya. Tapi Alan tidak mempermasalahkan-nya. Alan sudah sangat bersyukur dengan kembalinya motor kesayangan-nya itu. Kendaraan satu satunya yang Alan miliki.
“Kalau begitu ini saya bawa ya.. Terimakasih banyak sudah memperbaikinya.” Ujar Alan pada petugas tersebut.
“Ah ya tuan, sama sama. Hati hati.”
Alan hanya menganggukkan kepalanya. Pria berkemeja coklat susu dengan jaket warna hitam itu kemudian mengendarai motornya dan berlalu pergi dari bengkel yang sudah memperbaiki motornya.
Tempat pertama yang ingin Alan tuju adalah toko tempat adiknya bekerja. Pria itu tidak sabar ingin menunjukan pada Amira bahwa mulai besok pagi dirinya bisa mengantar adik adiknya ke sekolah seperti dulu.
Alan menambah kecepatan laju motornya. Namun begitu sampai tidak jauh dari toko sembako tersebut, Alan langsung menghentikan motornya melihat motor gede Tristan yang sudah terparkir didepan toko tersebut.
Alan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Alan tau adiknya sudah bukan lagi jomblo seperti dirinya. Amira sudah punya pacar dan itu adalah Tristan.
“Kayaknya sekarang waktunya nggak tepat deh. Ada Tristan disana. Aku nggak mau ganggu kebersamaan mereka.” Gumam Alan pelan.
“Dokter Rania.. Dia apa kabar ya? Apa sudah pulang dari rumah sakit?”
Alan tersenyum sembari bertanya tanya sendiri. Sejujurnya hampir setiap hari pikiran Alan tidak pernah lepas dari bayangan dokter cantik itu. Wanita yang sudah sangat berjasa merawatnya sampai Alan benar benar sembuh. Wanita yang tidak pernah mengeluh sedikitpun dalam merawatnya.
“Aku coba kesana lah..”
Alan menambah laju kecepatan motornya menuju arah jalan kerumah dokter cantik itu. Saat ditengah jalan, Alan berhenti dan mampir ke toko bunga. Alan membeli setangkai mawar merah yang dia niatkan untuk dokter Rania kemudian kembali melaju dengan kecepatan diatas rata rata dengan motor kesayangan-nya itu.
Tidak butuh waktu lama Alan sampai tepat didepan gerbang kediaman dokter Rania. Alan menatap bangunan mewah berlantai dua itu yang memang selalu terlihat sepi. Tentu saja, dokter Rania hanya tinggal sendiri dengan satpam dan asisten rumah tangganya.
“Tuan Alan..”
Lamunan Alan buyar saat mendengar suara yang tidak asing baginya. Itu suara satpam penjaga gerbang yang berasal dari dalam pekarangan rumah dokter Rania.
__ADS_1
“Eh iya pak. Ini saya..” Senyum Alan sedikit menganggukkan kepalanya.
Satpam itu kemudian segera membuka pintu gerbang dan menyuruh untuk Alan masuk.
“Silahkan masuk tuan. Nona Rania ada didalam.” Katanya.
Alan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Pria itu melajukan pelan motornya memasuki area luas pekarangan rumah dokter Rania.
“Hem pak, saya langsung masuk saja ya.. Titip motor.”
“Oh oke oke tuan.. Tenang saja, motornya aman disini sama saya.” Angguk satpam itu.
Alan tersenyum percaya dengan satpam tersebut. Setelah itu Alan melangkah menuju rumah mewah dokter cantik itu dengan membawa setangkai mawar merah yang dibelinya.
Begitu sampai didepan pintu utama rumah itu Alan berhenti melangkah. Pria itu merasa segan jika masuk begitu saja kedalam rumah itu. Meskipun memang dulu dirinya juga tinggal dirumah itu namun tetap saja Alan merasa tidak enak jika masuk begitu saja seolah rumah itu adalah rumahnya juga.
“Alan..”
Suara dokter Rania membuat Alan terkejut. Pria itu langsung menatap kearah sumber suara dan tersenyum begitu mendapati wanita cantik dengan dress orange simpel itu melangkah menghampirinya.
“Dokter..” Gumam Alan senang.
“Kenapa bengong disini? Ayo masuk..”
Alan tersenyum menatap dokter Rania yang begitu cantik dengan rambut di gerai. Meskipun memang Alan sendiri sadar bahwa dokter Rania selalu cantik dan manis dengan penampilan sederhana dan simpelnya.
“Iyah.. Eh iya, ini bunga untuk dokter.”
Dokter Rania terdiam menatap setangkai mawar merah yang disodorkan Alan padanya. Perlahan seulas senyum manis menghiasi bibir pinknya. Tanpa merasa ragu sedikitpun dokter Rania menerima bunga itu dari Alan.
“Makasih yah.. Tau aja aku suka bunga.” Katanya kemudian mencium aroma wangi bunga tersebut.
Alan merasa sangat senang karena dokter Rania menerima pemberian bunga darinya. Dan setelah itu mereka berdua masuk kedalam rumah dengan dokter Rania yang melangkah lebih dulu.
__ADS_1
Sementara Alan, entah kenapa pria itu merasakan sesuatu yang aneh pada hatinya. Apa lagi detak jantungnya yang bekerja diluar normal itu.
“Ya Tuhan.. Ada apa denganku.” Batin Alan sembari melangkah mengikuti dokter Rania masuk kedalam rumah.