ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 215


__ADS_3

Rico berdecak kesal karena Williana yang tiba tiba sudah ada diruangan Stefan. Rico tidak habis pikir kenapa wanita itu selalu saja menerornya dengan menanyakan kapan Stefan akan pulang kembali ke indonesia. Bahkan bukan hanya itu saja. Williana menekan-nya menyuruh agar Rico mengirimkan semua pesan singkat yang Stefan kirim padanya karena ketidak percayaan-nya terhadap apa yang Rico katakan.


Williana menoleh mendengar suara pintu yang dibuka. Wanita dengan baju formal serba hitam yang begitu mencetak lekuk tubuhnya itu menatap Rico dengan tatapan yang membuat Rico mendesah frustasi. Williana bangkit dari duduknya di kursi didepan meja kerja Stefan. Entah apa yang dilakukan wanita itu sehingga bisa menerobos masuk seenaknya ke ruangan Stefan.


“Bagaimana Rico?” Tanya Williana begitu Rico melangkah mendekat kearah meja kerja Stefan.


“Maaf nona, saya sedang sibuk. Saya tidak ada waktu untuk meladeni nona.” Ujar Rico berusaha tetap menjaga sopan santun dan mengesampingkan kemarahan-nya pada Williana.


“Kapan Stefan akan pulang?” Tanya Williana tidak perduli dengan alasan Rico.


Rico menghela napas merasa sangat frustasi dengan pertanyaan yang sama yang selalu dilontarkan oleh Williana padanya tentang Stefan. Sebenarnya Rico juga memang benar benar tidak tau kapan Stefan akan pulang kembali ke jakarta. Tentu saja karena Stefan tidak memberitahunya.


“Nona, harus berapa kali saya katakan pada nona. Saya tidak tau kapan tuan Stefan akan pulang. Sebaiknya nona tanyakan langsung saja pada tuan Stefan.” Jawab Rico merasa sangat frustasi dengan tingkah Williana.


“Kalau Stefan mengangkat telepon dari saya, saya tidak mungkin menanyakan-nya sama kamu Rico.” Kesal Williana menatap Rico yang berdiri berhadapan dengan-nya.


Rico diam. Stefan memang menyuruhnya agar tidak terlalu memperdulikan Williana. Itu artinya Stefan juga berlaku demikian dengan tidak menghiraukan telepon dari wanita sexy didepan Rico.


“Maaf sebelumnya nona, bukan saya mau menggurui nona. Tapi sebenarnya apa yang nona lakukan itu sudah sangat diluar batas. Tuan sudah punya istri dan anak. Tidak seharusnya nona terus mengganggu karena itu akan membuat tuan juga nyonya Hana merasa tidak nyaman. Nona itu cantik, punya segalanya. Saya yakin nona bisa mendapat apapun yang nona mau.”


“Ya Rico.. Saya memang bisa mendapatkan apa saja yang saya mau, termasuk Stefan. Hana itu tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan saya. Mungkin sekarang Stefan hanya belum menyadari saja bahwa berlian jauh lebih berharga dari pada perak.”


Rico menggelengkan kepalanya. Williana benar benar sangat keras kepala dan susah diberi tahu yang benar. Wanita itu melakukan segalanya semaunya sendiri tanpa sedikitpun mau menerima nasehat dari orang lain.


“Pokonya kamu harus memberitahu saya kalau Stefan kembali ke indonesia. Oke?” Tuntut Williana yang membuat Rico tersenyum miring.

__ADS_1


“Maaf nona, anda bukan atasan saya. Jadi anda tidak bisa memerintah saya semau anda.” Jawab Rico menolak dengan tegas apa yang Williana tuntut padanya tentang Stefan.


Williana menatap Rico meremehkan.


“Berapa yang harus saya bayar untuk secuil informasi itu Rico? Berapapun yang kamu mau saya akan bayar asal kamu katakan sama saya tentang Stefan.”


Rico tertawa mendengarnya. Tidak heran jika Stefan menolak meskipun Williana terus mengejarnya. Tentu saja karena perangai sombong wanita itu yang selalu memandang segala sesuatu dengan uang.


“Berapapun uang yang anda berikan bahkan meskipun anda memberikan separuh dari harta yang anda miliki pada saya, saya tidak akan bisa anda beli nona. Karena bagi saya, uang bukanlah segalanya. Jadi lebih baik sekarang anda keluar dari ruangan atasan saya atau saya akan memanggil satpam untuk menyeret paksa anda dan melempar anda keluar dari sini.”


Ucapan bernada santai dan tenang Rico membuat Williana marah. Wanita itu mendelik menatap Rico yang begitu berani menghina bahkan sampai mengancamnya.


“Kamu bukan siapa siapa disini Rico. Kamu hanya..”


“Saya orang yang memegang kendali disini sekarang nona. Jadi tolong mengerti dan hormati keputusan saya. Silahkan anda keluar, pintunya masih ada disana.” Sela Rico tetap dengan nada santai dan tenangnya.


“Lihat saja Rico. Saya nggak akan tinggal diam.” Ancam Williana pada Rico.


“Saya akan menunggunya nona.” Balas Rico dengan berani.


Williana kemudian berlalu dari hadapan Rico keluar dari ruangan Stefan dengan amarah yang menguasai hatinya. Wanita itu merasa sangat tidak terima dengan perlakuan Rico padanya.


Rico menghela napas. Pria itu kemudian mendudukan dirinya dikursi yang tadi di duduki oleh Williana. Meskipun memang Rico menangani semua kewajiban Stefan selaku pemilik dan pemimpin di perusahaan itu, Rico juga tidak berani menduduki kursi kebesaran Stefan.


“Ya Tuhan.. Lindungi tuan Stefan dan nyonya Hana. Hindarkan mereka dari orang orang seperti nona Williana.” Gumam Rico memijat pelan keningnya.

__ADS_1


----------


“Kamu kenapa?” Tanya Amira menatap Tristan yang beberapa kali terlihat melamun bahkan saat jam pelajaran berlangsung.


“Eh enggak, aku nggak papa kok. Aku cuma lagi mikir aja kalau sekolah mulai besok libur sampai seminggu ke depan, itu artinya kita bakal jarang ketemu dong. Kan aku juga nggak mungkin bolak balik ke rumah kamu. Yang ada nanti di marahin sama ibu kamu.”


Amira menyipitkan kedua matanya menatap aneh pada Tristan. Padahal bisa saja Tristan menemaninya kerja di toko sembako pak Ang seperti biasanya.


“Kan kalau libur sekolah aku kerja di tokonya pak Ang itu sehari penuh. Kamu kalau mau bantuin aku juga aku nggak keberatan kok. Aku malah seneng kalau ada yang bantuin.”


Tristan memiringkan kepalanya menatap Amira yang duduk disampingnya. Saat ini mereka berdua sedang berada di taman samping gedung sekolah karena sedang waktu istirahat kedua.


“Serius? Jadi besok kita tetep bisa sama sama?” Tanya Tristan menatap Amira serius.


“Ya bisa lah.. Lagian kamu apaan sih, cuma nggak ketemu seminggu aja masa jadi lebay sampai ngelamun begitu. Ada ada aja.” Geleng Amira merasa sikap Tristan terlalu berlebihan.


Tristan menghela napas kemudian menundukan kepalanya menatap sepasang sepatu mahal yang dikenakan-nya.


“Kamu kan tau sendiri Amira, aku itu dirumah sendirian. Kakak aku sibuk terus di kantor ngurusin perusahaan keluarga. Bosen tau kalau cuma dirumah sendirian. Paling juga main game. Belajar juga jenuh kalau sendirian.”


Amira diam. Tristan memang jarang dirumah. Bahkan sejak mereka pacaran, Tristan selalu bersamanya dari pagi menjemputnya sampai malam mengantarnya pulang setelah bekerja dari toko sembako pak Ang.


Amira menghela napas pelan kemudian meraih tangan Tristan dan menggenggamnya dengan kedua tangan-nya.


“Kamu nggak perlu khawatir Tristan. Kamu nggak usah ngerasa sendiri, karena aku akan selalu ada buat kamu.” Ujar Amira dengan senyuman manis di bibirnya.

__ADS_1


Tristan ikut tersenyum mendengarnya. Tristan menatap kedua tangan Amira yang menggenggam satu tangan-nya. Tristan juga berharap bisa selalu bersama dengan Amira sampai ke jenjang hubungan yang lebih serius.


__ADS_2