
“Kamu darimana?” Tanya Hana pada Stefan yang mendekat padanya.
Stefan menatap Hana sebentar dengan tatapan datarnya kemudian beralih menatap pada Angel yang meskipun keadaan-nya sudah membaik namun belum kunjung membuka kedua matanya. Angel juga sudah di pindahkan ke ruang rawat VIP dilantai yang sama dengan ruang ICU tempat Angel sebelumnya.
Stefan menghela napas. Stefan memang sangat mengharapkan donor darah itu ada tapi Stefan tidak mau jika yang mendonorkan darahnya adalah Alan, pria yang mencintai Hana.
“Maaf kalau daddy belum bisa menjadi daddy yang kamu inginkan. Tapi daddy sayang sama kamu Angel.” Batin Stefan mengusap lembut kening Angel.
Dulu Stefan selalu merasakan sakit di hatinya jika menatap Angel. Tapi sekarang sejak Stefan mencintai Hana, rasa sakit itu hilang meskipun Stefan bertatap muka dengan gadis kecil itu. Stefan bahkan sekarang sangat menyayangi Angel layaknya seorang ayah yang menyayangi putrinya sendiri.
Hana yang merasa di abaikan oleh Stefan menyipitkan kedua matanya tidak suka. Rahang Hana bahkan juga mengeras karena Stefan yang tidak menjawab pertanyaan-nya.
“Stefan, aku tanya kamu darimana? Kenapa lama sekali baru kembali?” Nada pertanyaan Hana mulai jengkel karena Stefan yang hanya diam saja menatap dan mengusap lembut kening Angel.
Stefan menghela napas lagi kemudian menoleh menatap Hana yang menunggu jawaban atas pertanyaan yang di lontarkan-nya.
“Kita pulang sekarang. Angel biar mamah yang menemani disini.”
Kedua tangan Hana mengepal erat mendengar apa yang Stefan katakan. Pria itu mengabaikan pertanyaan-nya bahkan menatapnya dengan ekspresi datar seperti tidak perduli pada apa yang ingin Hana ketahui darinya.
“Kamu...”
Hana tidak melanjutkan ucapan-nya karena suara pintu ruang rawat Angel yang terbuka. Wanita itu menghela napas pelan berusaha meredam emosinya saat melihat Sera yang melangkah masuk kedalam ruang rawat Angel.
Sedangkan Stefan, pria itu tersenyum samar melihat ekspresi Hana yang mendadak berubah dari kesal menjadi pasrah. Stefan tau semua itu pasti karena Sera. Hana tidak ingin Sera tau jika dirinya sedang sangat kesal pada Stefan.
“Hana, sebaiknya kamu pulang yah sama Stefan.. Angel biar mamah yang jagain disini. Karena apapun yang terjadi kamu juga harus tetap menjaga kondisi tubuh kamu sendiri. Mamah nggak mau kamu dan calon cucu kedua mamah kenapa napa.” Ujar Sera menatap penuh perhatian pada Hana.
__ADS_1
Hana tersenyum dan menganggukkan kepalanya mengerti. Hana juga tau itu. Kondisi tubuhnya harus tetap sehat dan baik baik saja karena sekarang Hana tidak sendiri. Ada kehidupan lain di dalam kandungan-nya.
“Iya mah...” Jawab Hana.
“Ya sudah lebih baik kamu sekarang pulang sama Stefan. Jangan khawatirkan Angel. Dia sudah baik baik saja. Mamah juga pasti akan menjaganya dengan baik.” Senyum Sera.
Hana menganggukkan sekali lagi kepalanya. Hana kemudian melirik Stefan yang hanya diam saja didepan-nya. Hana mendelik pada Stefan, mengancam pria itu dengan kedua matanya kemudian berlalu keluar lebih dulu dari ruang rawat Angel.
“Ya sudah mah kalau gitu aku sama Hana pulang yah..” Pamit Stefan pada Sera.
“Ya nak.. Hati hati, jangan ngebut bawa mobilnya.” Titah Sera lembut.
Stefan hanya menganggukkan kepalanya menjawab. Setelah itu Stefan melangkah keluar menyusul Hana yang sudah lebih dulu keluar dari ruang rawat tempat Angel berada sekarang.
Sepanjang melangkah di koridor rumah sakit sampai masuk kedalam lift sampai akhirnya mereka berada didalam mobil Hana terus saja mendiamkan Stefan. Hana merasa sangat kesal karena Stefan mengabaikan-nya tadi saat berada di ruang rawat Angel.
Hana menatap restoran didepan-nya. Wanita itu kemudian menoleh pada Stefan yang sepertinya tidak perduli meskipun dirinya sedang marah.
“Aku nggak mau makan. Aku udah cukup kenyang dengan sikap kamu Stefan.” Ketus Hana enggan menatap Stefan yang masih duduk anteng di kursi kemudinya.
Stefan berdecak pelan. Waktu makan malam sudah tiba. Dan jika untuk makan malam saja mereka harus dirumah pasti itu tidak akan baik untuk Hana.
“Kamu boleh marah sama aku Hana. Tapi jangan marah pada anakku. Kamu juga boleh mendiamkan aku, tapi kamu tidak boleh melakukan hal demikian pada anakku.” Ujar Stefan dengan tenang.
Hana menahan napas sejenak kemudian menghembuskan-nya dengan kasar.
“Aku tetap tidak mau makan.” Kukuh Hana.
__ADS_1
Stefan melepaskan sabuk pengaman Hana kemudian mendekatkan tubuhnya pada istrinya itu. Namun di luar pemikiran Stefan, Hana sama sekali tidak bereaksi meskipun Stefan mendekatkan tubuhnya. Padahal biasanya Hana akan langsung salah tingkah jika Stefan mendekatkan dirinya juga wajahnya pada Hana.
“Apa?!” Tantang Hana membuat Stefan terkejut.
Tidak mau kalah oleh Hana, Stefan pun semakin mendekatkan wajahnya pada Hana. Namun tanpa di sangka, Hana malah mencium dan menggigit bibir Stefan membuat si empunya meringis kemudian langsung menjauh kembali dari Hana.
“Itu hukuman buat kamu karena kamu sudah berani mengabaikan aku Stefan.” Ujar Hana kemudian segera turun dari mobil mewah Stefan meninggalkan Stefan yang terkejut dengan apa yang Hana lakukan.
“Apa apaan ini? Kenapa dia begitu seenaknya. Dia bahkan berani menggigit bibirku.” Marah Stefan tidak terima dengan apa yang Hana lakukan padanya.
Stefan menatap Hana yang melangkah masuk kedalam restoran dengan begitu santainya. Pria itu benar benar tidak mengerti kenapa kehamilan Hana merubah semua sisi baik wanita itu menjadi arogan dan semaunya sendiri. Hana begitu galak namun juga bisa begitu sangat manja. Parahnya lagi, Hana selalu menindas Stefan dengan begitu kejam.
Stefan menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Pria itu berusaha memperluas kesabaran dan kelapangan hatinya. Stefan tidak ingin menuruti hatinya yang sebenarnya sangat tidak terima dengan perlakuan Hana padanya. Stefan selalu berusaha untuk menyadarkan dan mengingatkan dirinya sendiri bahwa perubahan drastis Hana juga karena Hana yang sedang mengandung anaknya.
Setelah merasa tenang, Stefan pun turun dari mobilnya. Pria itu melangkah cepat menyusul Hana yang sudah lebih dulu masuk tanpa memperdulikan dirinya.
“Kamu mau makan apa?” Tanya Stefan setelah duduk didepan Hana.
Hana tidak menjawab. Wanita itu terus membaca buku menu yang memang sudah tersedia diatas meja.
Hana menatap Stefan sinis kemudian mengangkat tangan-nya memanggil pelayan di restoran tersebut. Begitu pelayan restoran itu sudah menghadap, Hana langsung menyebutkan apa yang ingin di pesan-nya dengan begitu manis.
Stefan yang melihat itu kembali merasa sedang di uji kesabaran-nya. Hana mengabaikan-nya didepan orang lain. Hana bahkan sepertinya memang tidak menganggap kehadiran-nya sekarang.
“Sabar Stefan.. Ingat Hana sedang hamil anak kamu sekarang.” Batin Stefan mengepalkan kedua tangan-nya diam diam.
Dan sampai dirumah bahkan sepanjang malam Hana lebih memilih memainkan game online di ponselnya. Hana bahkan sama sekali tidak melirik Stefan yang berada disampingnya dan terus menatapnya berharap Hana membalas tatapan-nya kemudian berhambur memeluknya dengan manja.
__ADS_1