
Dalam perjalanan menuju sekolah Angel, Hana terus saja diam. Hana tidak tau harus bagaimana membujuk Stefan agar mau terbuka padanya tentang perasaan Stefan pada Angel. Hana ingin tau segalanya. Hana ingin tau apa yang sebenarnya Stefan rasakan terhadap putrinya itu. Dan Hana ingin Stefan percaya padanya bahwa Hana bisa menjadi pendamping yang baik.
“Hana...” Panggil Stefan setelah mobilnya sampai didepan gerbang sekolah Angel.
Hana tidak menyaut. Wanita itu tetap diam dan asyik dengan lamunan-nya. Hana juga tidak menyadari bahwa mereka sudah berada didepan gerbang sekolah Angel.
Stefan mengeryit. Hana tidak pernah seperti itu sebelumnya. Hana selalu ceria bahkan meski Stefan sedang marah padanya.
Stefan menoleh pada Angel yang masih duduk di kursi belakang. Pria itu seolah sedang menyuruh Angel untuk menyadarkan Hana dari lamunan-nya.
Angel yang mengerti dengan tatapan datar Stefan langsung berinisiatif menyentuh lembut pundak Hana.
“Mommy...” Panggil Angel membuat Hana tersentak sehingga lamunan-nya buyar seketika.
“Ah ya sayang..” Saut Angel menoleh dan tersenyum pada Angel.
Angel menatap sebentar pada Stefan kemudian membalas senyuman Angel.
“Kita sudah sampai mommy...” Kata Angel.
“Ah ya kah? Ya Tuhan.. Maaf sayang mommy sedang tidak fokus tadi.”
Angel hanya diam saja dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya. Gadis kecil itu merasa senang karena selama seminggu ini Hana yang terus mengantarnya. Meskipun Stefan sempat beberapa kali tidak mengantarnya namun Hana tetap mengantarnya dengan Rico.
“Ya udah ayo kita turun..” Ajak Hana yang langsung diangguki kepala oleh Angel.
“Daddy, Angel sekolah dulu ya...” Pamit Angel pada Stefan.
“Hem..” Saut Stefan dengan tatapan lurus ke depan.
Stefan menghela napas pelan setelah Angel dan Hana turun dari mobil. Pria itu tidak tau apa yang sedang mengganggu pikiran Hana sampai wanita itu begitu larut asyik dengan lamunan-nya sendiri. Tapi Stefan menebak mungkin kediaman Hana ada hubungan-nya dengan apa yang mereka obrolkan tadi pagi sebelum mereka sarapan dikamar.
“Belajar yang pinter ya sayang. Nanti mommy sama daddy jemput lagi..” Senyum Angel mengusap lembut pipi Angel.
“Mommy...” Panggil Angel pelan.
Hana mengeryit menatap Angel yang begitu murung menatapnya.
__ADS_1
“Loh, kamu kenapa Angel?” Tanya Hana bingung.
Angel terdiam sesaat. Gadis kecil itu sudah mengenal begitu baik dan dalam sosok Hana. Angel tau bagaimana Hana yang selalu ceria bahkan saat menghadapi daddy nya yang begitu datar dan dingin.
“Mommy berantem lagi ya sama daddy?” Tanya Angel membuat Hana tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
Hana kemudian memeluk Angel dengan penuh kasih sayang. Dirinya dan Stefan memang sempat berdebat pagi tadi dan itu karena Angel. Hana hanya ingin Stefan merubah sikapnya pada Angel. Hana ingin Stefan bersikap layaknya seorang ayah pada putrinya sendiri.
“Enggak sayang. Mommy sama daddy nggak berantem kok. Mommy cuma lagi sedikit pusing aja. Mungkin mommy butuh istirahat.” Senyum Hana menjawab.
Angel melepaskan pelukan Hana pelan kemudian menatap tepat pada kedua mata Hana seolah sedang mencari kejujuran dari tatapan Hana padanya.
“Mommy nggak bohong kan sama Angel? Angel nggak mau mommy sama daddy berantem.”
Hana tertawa pelan.
“Ya enggak dong Angel. Pokonya Angel tenang aja. Mommy sama daddy akan terus saling menyayangi. Mommy sama daddy nggak akan berantem lagi kaya waktu itu.”
Ya, Angel memang sempat mendengar saat Hana dan Stefan berantem tepatnya saat Stefan sakit yang berakhir tumbang tidak sadarkan diri didekat kaki Hana yang dicekalnya.
“Ya udah gih Angel masuk. Itu udah di tunggu sama temen temen-nya.”
“Ya udah mom.. Angel sekolah dulu yaa.. Mommy nanti istirahat ya dirumah. Angel nggak papa kok di jemput sama om Rico..” Ujar Angel dengan senyuman yang kembali menghiasi bibirnya.
“Ya sayang.. Makasih yah udah perhatian sama mommy. Mommy sayang banget sama Angel.”
Hana kembali memeluk Angel sebelum akhirnya melepas gadis itu untuk berbaur dengan teman teman-nya yang lain di lingkungan sekolahnya.
Hana tidak akan berhenti membujuk Stefan. Hana sangat menyayangi Angel dan sudah menganggap Angel seperti putri kandungnya sendiri. Meskipun memang Angel bukan putri yang lahir dari rahimnya. Tapi Angel adalah anak Stefan dan Stefan adalah suaminya yang artinya Hana harus bisa menyayangi Angel dengan sepenuh hatinya. Dan Hana berhasil. Hana menyayangi Angel dengan tulus tanpa memikirkan dari siapa gadis itu lahir.
Tintiiiinnn...!!
Hana berdecak dan memejamkan kedua matanya saat Stefan membunyikan klakson mobilnya dengan begitu keras. Hana bahkan sampai menjadi pusat perhatian karena apa yang Stefan lakukan.
Hana berdecak kemudian segera masuk kembali kedalam mobil Stefan.
“Kamu apa apaan sih Stefan?! bikin malu tau nggak.” Kesal Hana.
__ADS_1
Stefan hanya diam saja kemudian segera melajukan mobilnya dari depan gerbang sekolahan Angel.
Suasana hening menyelimuti keduanya didalam mobil karena Hana yang terus diam dan Stefan yang terus fokus dengan kemudinya.
“Kamu marah sama aku?” Tanya Stefan.
Hana hanya melirik Stefan tanpa berniat menjawab pertanyaan pria itu. Hana bukan marah sebenarnya. Hana hanya bingung harus bagaimana membuat Stefan agar mau menatap Angel.
“Hana...”
“Aku nggak marah. Aku cuma merasa kamu nggak percaya sama aku.” Ujar Hana pelan.
Stefan mengeryit.
“Apa maksud kamu Hana?” Tanya Stefan tidak mengerti dengan apa yang Hana katakan.
Hana menghela napas pelan.
“Kamu tau segalanya tentang aku Stefan. Tapi sedikitpun aku nggak tau apapun tentang kamu. Kamu bahkan tau semua tentang Alan dan keluarganya yang adalah sahabat aku. Tapi aku sebagai istri kamu seperti orang buta yang tidak tau apa apa tentang kamu.”
Stefan diam. Sedikitpun Stefan benar benar tidak ingin mengungkit apapun tentang masa lalunya. Stefan hanya ingin menatap kedepan. Stefan ingin membuka lembaran baru tanpa harus ada bayang bayang masa lalu yang menyakitkan-nya.
“Hana.. Aku bukan tidak percaya sama kamu. Aku hanya tidak ingin mengingat apapun tentang masa lalu aku.”
“Ini bukan tentang masa lalu Stefan. Ini tentang Angel. Angel anak kamu.” Balas Hana cepat.
Stefan berdecak. Entah harus bagaimana Stefan menjelaskan pada Hana. Semuanya terlalu rumit untuk dijelaskan. Stefan juga tidak ingin mengingat lagi masa masa menyakitkan itu.
“Aku tumbuh besar dengan luka kehilangan yang begitu menyakitkan Stefan. Sampai sekarang bahkan aku masih merasa sedih kalau mengingat kepergian kedua orang tuaku. Tapi Angel, dia hanya kehilangan Lusi. Dia masih punya kamu sebagai daddy nya Stefan. Tapi kamu bersikap seolah Angel itu bukan anak kamu..”
Hana menatap sedih pada Stefan yang hanya diam saja. Ini sudah yang kesekian kalinya Hana mengatakan hal tentang Angel pada Stefan. Tapi sedikitpun pria itu tidak pernah memberi respon apapun. Stefan hanya diam dan selalu meminta di mengerti.
“Stefan aku mohon...”
Stefan menghentikan mobilnya ditepi jalan kemudian menoleh pada Hana.
“Hana.. Angel, dia bukan anakku.” Lirih Stefan akhirnya memutuskan untuk membuka semuanya.
__ADS_1
“Apa?” Kedua mata Hana membulat mendengar apa yang Stefan katakan.
Hana menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Stefan mengatakan Angel bukanlah anaknya.