
Stefan, Hana, juga Alan terus berada dalam satu ruangan. Hana berusaha mencairkan suasana didepan kedua pria yang meskipun terlihat baik baik saja tapi tampak kikuk dan canggung. Apa lagi Stefan yang terus saja diam disamping Hana dengan pandangan lurus kedepan serta wajah datarnya.
“Eemm.. Alan, apa kamu sudah makan?” Tanya Hana untuk yang ke sekian kalinya pada Alan.
Stefan melirik Hana karena pertanyaan yang Hana lontarkan pada Alan.
“Kamu tidak seharusnya menanyakan itu Hana. Alan disini sangat terjamin. Rania dokter yang baik dan telaten. Dia pasti mengurusi Alan dengan baik.”
Alan yang hendak menjawab pertanyaan Hana tersenyum geli mendengarnya. Jelas sekali Stefan cemburu karena pertanyaan yang Hana lontarkan padanya.
Stefan melirik kesal pada Stefan. Sejak tadi Stefan terus saja menjawab pertanyaan yang Hana maksudkan untuk Alan.
“Tuan Stefan benar Hana. Dokter Rania memang sangat baik. Dia merawatku dengan sangat tulus dan penuh dengan perhatian.” Setuju Alan.
“Tentu saja. Saya selalu memastikan segala yang terbaik untuk sahabat dari istri saya.” Kata Stefan lagi menyombongkan diri.
Hana berdecak. Entah kenapa suaminya yang dingin tiba tiba berubah menjadi pria bawel yang sangat menyebalkan.
“Ya tuan, saya benar benar sangat berhutang pada anda.” Senyum Alan yang berusaha sabar dan terus mengiyakan apa yang Stefan katakan.
Stefan hanya diam saja. Pria itu kemudian bangkit dari duduknya ditepi ranjang disamping Hana. Stefan melangkah menjauh dari Hana dan Alan yang hanya diam menatap punggungnya yang semakin menjauh kemudian keluar dari kamar Alan.
Hana menghela napas kasar setelah Stefan berlalu keluar. Wanita itu kemudian menatap pada Alan yang duduk tenang dikursi rodanya.
“Alan, maaf untuk kesombongan Stefan.” Ujar Hana menatap Alan merasa tidak enak hati.
__ADS_1
Alan tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. Alan juga pria sama seperti Stefan. Alan tau kenapa Stefan bersikap seperti itu padanya.
“Tidak apa Hana.. Oh ya Hana selamat ya untuk pernikahan kamu dan tuan Stefan. Sepertinya meskipun rumor kejam dan dingin itu melekat pada tuan Stefan tapi tidak seperti kenyataan-nya. Aku yakin tuan Stefan pasti orang baik. Dia sepertinya sangat mencintai kamu.”
Hana terdiam kemudian tersenyum. Bahkan Alan saja mengerti bahwa Stefan mencintainya.
“Apa kamu juga mencintainya Hana?” Tanya Alan merasa sangat ingin tau meskipun sakit di hatinya semakin terasa menggerogoti kewarasan-nya saat ini.
“Ya Alan. Aku mencintainya.”
Mendengar itu Alan merasa seperti jatuh dari ketinggian yang langsung menghentikan detak jantung juga denyut nadinya. Jawaban Hana benar benar sangat menyakitinya tapi Alan berusaha untuk tetap terlihat baik baik saja didepan Hana.
Alan merasa sudah tidak ada artinya lagi Hana tau tentang perasaan-nya. Alan sudah bertekad akan memendam sendiri perasaan itu walau Alan sendiri tidak tau entah sampai kapan dirinya mampu memendamnya.
“Syukurlah kalau begitu Hana. Tuan Stefan adalah orang yang sangat baik. Aku berdo'a untuk kebahagiaan kalian berdua.” Senyum Alan.
“Kamu juga harus bahagia Alan.” Ujar Hana lembut.
Alan hanya bisa menghela napas. Pria itu merasa tidak yakin bisa menemukan kembali kebahagiaan-nya setelah wanita yang sangat di cintainya menikah dengan pria lain. Pria yang jauh lebih segalanya dari dirinya.
“Pasti Hana. Aku pasti juga akan bahagia sama seperti kamu.” Balas Alan meyakinkan Hana.
Hana menganggukkan pelan kepalanya. Hana selalu berharap semua orang orang didekatnya bahagia.
Dari pintu yang terbuka, Stefan ternyata masih berdiri disana. Namun pria itu bersembunyi disamping pintu untuk mendengarkan apa yang Hana dan Alan katakan.
__ADS_1
Pria tampan dengan kemeja putih tulang yang lengan-nya digulung sampai batas siku itu tersenyum mendengar pengakuan Hana pada Alan bahwa Hana mencintainya. Stefan merasa bangga karena Hana mengakui bahwa Hana mencintainya pada Alan. Itu semakin membuat Stefan merasa yakin bahwa Hana memang sudah benar benar mencintainya.
Merasa lega dan bahagia Stefan pun akhirnya berlalu dari tempatnya bersembunyi. Stefan berniat mencari dokter Rania dan ibu Alan yang entah berada dimana sekarang. Stefan percaya istri tercintanya bisa dipercaya. Hana setia padanya. Dan Hana tidak mungkin melakukan sesuatu yang tidak pantas dengan Alan. Hana hanya menganggap Alan sebagai teman baik.
Stefan melangkahkan kakinya dengan pelan namun lebar. Tatapan-nya menyapu ke seluruh sudut rumah dokter Rania hingga tatapan-nya berhenti pada pintu ruang keluarga yang terbuka. Stefan yakin dokter Rania dan ibu Alan pasti sedang berada disana.
Stefan menghela napas kemudian melangkah menuju pintu ruang keluarga yang terbuka tersebut. Begitu sampai di depan pintu itu Stefan berhenti melangkah saat mendengar dokter Rania dan ibu Alan sedang mengobrol.
“Saya benar benar tidak tega melihat Alan dokter.. Andai saya tau dari awal tentang perasaan Alan pada Hana saya tidak akan membiarkan Hana menikah dengan tuan Stefan.”
Stefan menyipitkan kedua matanya mendengar apa yang dikatakan oleh ibu Alan. Pria itu mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam ruang keluarga itu dan memilih untuk mendengarkan apa yang sedang di bicarakan oleh dokter Rania dan ibu Alan.
“Mereka berteman sejak kecil dokter. Mereka selalu bersama. Bahkan sebelum kecelakaan itu terjadi Alan juga baru saja mengajak Hana pergi. Bodohnya saya adalah saya tidak bisa mengartikan kebahagiaan anak saya sendiri. Harusnya saya tau bagaimana antusiasnya Alan jika membahas segala sesuatu tentang Hana. Sekarang saya tidak bisa berbuat apa apa. Alan mencintai Hana, tapi Hana sudah bahagia dengan pilihan-nya hidup bersama tuan Stefan.”
Kedua mata Stefan melebar mendengarnya. Ternyata apa yang di pikirkan-nya tentang Alan memang benar. Alan mencintai Hana.
-----------
Sementara itu di teras rumah dokter Rania Amira terus terdiam dengan pandangan lurus kedepan. Gadis itu sedang bingung memikirkan sikap Tristan yang tiba tiba terasa berbeda. Tristan tidak mengajaknya pulang bersama tadi siang. Tristan malah mengajak teman dari kelas lain yang tidak lain adalah primadona di sekolah. Tristan bahkan sama sekali tidak menoleh padanya saat membonceng gadis itu.
Namanya Putri, dia adalah siswi populer yang juga mengagumi sosok Tristan.
Amira menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya.
“Sudahlah, aku tidak perlu mikirin apapun. Tristan berhak berteman dengan siapa saja. Malah itu lebih bagus. Lebih baik aku tidak terlalu dekat dengan dia.” Batin Amira memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Amira sebenarnya merasa tidak rela melihat Tristan dekat dengan gadis lain. Tapi Amira juga merasa tidak berhak untuk merasa seperti itu. Tristan bebas berteman dengan siapapun yang Tristan mau.
“Ayolah Amira.. Kamu harus berhenti memikirkan Tristan. Kamu harus sadar kamu itu bukan siapa siapa. Jangan mempersulit diri kamu sendiri karena berhubungan dengan orang orang kaya seperti mereka.” Gumam Amira mencoba menyadarkan dirinya sendiri.