
Setelah berjam jam tidak sadarkan diri pasca operasi, akhirnya pelan pelan Hana pun mulai membuka kedua matanya. Stefan yang memang selalu berada disamping Hana langsung merasa lega karena apa yang di tunggu akhirnya tiba. Hana siuman.
Namun Stefan bukan pria bodo. Pria itu langsung menghubungi dokter yang menangani Hana begitu Hana benar benar membuka kedua matanya.
“Aku dimana?” Gumam Hana bertanya lirih.
Stefan tersenyum merasa sangat lega. Meski memang Hana belum di periksa oleh dokter namun setidaknya wanita itu sudah kembali membuka kedua matanya.
“Dokter akan segera memeriksa kamu Hana. Tunggu sebentar.” Lirih Stefan menggenggam tangan Hana kemudian mencium lama kening wanita itu.
Hana hanya diam saja. Wanita itu tidak tau apa yang terjadi. Hana juga tidak mengingat apapun selain saat dirinya terpeleset di kamar mandi yang kemudian langsung tidak sadarkan diri di tempat.
Tidak lama kemudian dokter datang. Hana langsung di periksa dengan sangat detail oleh dokter wanita berambut coklat terang itu. Dan setelah memeriksa Hana, dokter itu tersenyum dan menjelaskan pada Stefan bahwa Hana memang sudah benar benar baik baik saja.
“Terimakasih Tuhan.. Aku berjanji akan benar benar menjaga istri dan anakku.” Batin Stefan merasa sangat bersyukur karena akhirnya Hana sadar.
Sementara Hana, wanita itu mengeryit ketika menyentuh perutnya yang sudah tidak lagi buncit. Dengan rasa takut yang begitu besar Hana menatap Stefan yang duduk di kursi di sampingnya.
“Stefan.. Kenapa dengan perutku? Dimana anakku?” Tanya Hana dengan suara tercekat. Pikiran pikiran buruk mulai menguasai Hana membuat tubuh wanita itu menegang membayangkan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi pada putranya.
Stefan tersenyum tipis. Tuhan benar benar begitu baik padanya. Tuhan mendengarkan do'anya lalu mengabulkan semuanya. Putranya meskipun harus terpaksa dikeluarkan dari kandungan Hana sebelum waktunya namun dia baik baik saja. Meski memang untuk sekarang belum bisa bebas di sentuh olehnya juga Hana karena harus di tempatkan di ruangan khusus. Semua itu juga demi kebaikan-nya.
“Dia anakku juga, jangan lupakan itu Hana. Dan sebagai anak dari Devandra, dia pasti kuat dan hebat. Tidak hanya kuat saat menendang di dalam perut saja. Dia bahkan begitu kuat meski harus lahir sebelum waktunya.”
Hana mengeryit tidak mengerti dengan apa yang Stefan katakan. Wanita itu menatap penuh tanda tanya pada Stefan dengan jantung yang terus berdetak begitu kencang.
__ADS_1
“Apa maksud kamu Stefan?” Tanya Hana tidak mengerti.
Stefan menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Pemikiran-nya salah tentang Hana yang hanya seorang wanita lemah. Karena pada kenyataan-nya Hana bahkan begitu kuat menahan rasa sakit yang membuatnya tidak sadarkan diri karena insiden dikamar mandi.
“Jagoan kita baik baik saja Hana. Kamu nggak perlu khawatir. Dan sekarang dia harus berada ditempat yang sesuai untuk sementara.”
Hana tidak mengerti dengan apa yang Stefan katakan. Perutnya sudah kempes dan Stefan mengatakan putra mereka baik baik saja sedang usia kandungan Hana belum genap delapan bulan.
“Stefan...”
“Kamu jatuh dikamar mandi dan karena kondisi yang tidak memungkinkan dokter menyarankan untuk mengoperasi kamu dan mengeluarkan putra kita meskipun belum waktunya dia lahir. Tapi kamu tenang saja. Anak kita kuat. Dia hebat karena bisa bertahan dalam kondisi yang bahkan aku saja terasa seperti mau mati.” Sela Stefan lirih.
Hana menahan napas mendengarnya. Wanita itu berpikir bagaimana mungkin putranya bisa bertahan sementara dia harus di paksa keluar sebelum waktunya.
“Jangan memikirkan apapun supaya kamu cepat sembuh Hana. Setelah itu baru kita bisa kembali ke indonesia. Bukankah kamu juga sudah sangat merindukan Angel?”
“Tidak. Kondisi kamu masih lemah. Lagi pula bekas operasi kamu juga belum boleh banyak di gerakan oleh dokter. Tolong mengerti Hana. Putra kita akan baik baik saja.”
Hana hanya diam saja. Hana tau putranya pasti harus mendapat perawatan khusus karena terpaksa harus dikeluarkan dari kandungan-nya. Apa lagi penyebab di keluarkan-nya juga karena alasan gawat.
“Jangan menangis Hana. Putra kita baik baik saja. Percaya sama aku..” Lirih Stefan mengusap lembut air mata yang menetes dari sudut mata istrinya.
Hana hanya bisa menghela napas. Hana merasa sangat bersalah pada putranya karena dirinya yang kurang hati hati saat masuk kedalam kamar mandi. Hana tidak memperhatikan lantai kamar mandi yang basah sehingga dirinya terpeleset dan jatuh kemudian pingsan tidak sadarkan diri karena rasa sakit yang tidak tertahankan itu.
“Maafkan mommy nak.. Mommy membuat kamu harus dikeluarkan dari tempat ternyaman kamu sebelum waktunya.” Batin Hana terus meneteskan air matanya.
__ADS_1
Stefan yang melihat istrinya meneteskan air mata hanya bisa diam. Stefan tau Hana mungkin memikirkan bagaimana keadaan putranya sekarang yang memang harus benar benar mendapat perawatan khusus. Bahkan berat badan bayi tampan itu juga hanya 2,9 kg saja.
“Hana lihat aku..” Pinta Stefan dan Hana menurutinya meski dengan air mata yang terus menetes.
“Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau kamu tidak bahagia bersamaku.” Katanya.
Hana menelan ludah. Hana memang tidak bahagia karena kecerobohan-nya hampir saja merenggut nyawa janin dalam kandungan-nya.
“Apa yang terjadi adalah salahku. Aku kurang siaga menjaga kamu makanya kamu sampai jatuh di kamar mandi.. Aku..”
“Enggak Stefan. Jangan menyalahkan diri kamu. Aku yang ceroboh. Aku yang kurang hati hati.” Sela Hana tidak ingin jika sampai Stefan menyalahkan dirinya karena apa yang terjadi.
“Tapi kalau kemarin aku mengantar kamu ke kamar mandi kamu pasti tidak akan jatuh Hana.”
“Tapi...”
“Aku tidak suka menyalahkan diriku sendiri tanpa sebab Hana. Tapi kali ini aku benar benar ceroboh karena membiarkan kamu masuk ke kamar mandi sendiri.”
“Enggak Stefan aku..”
“Ssshhttt.. Yang aku mau sekarang kamu tidak menyalahkan diri kamu Hana. Anggap saja ini adalah teguran dari Tuhan untuk aku, agar kedepan-nya aku bisa lebih berhati hati lagi dalam menjaga kamu juga anak anak kita.” Sela Stefan tidak ingin sedikitpun Hana membantah apa yang dikatakan-nya.
Hana menghela napas pelan. Wanita itu kemudian tertawa dalam tangisnya. Stefan benar benar sosok pria penuh kejutan yang pernah Hana temui. Stefan tidak seperti apa yang orang banyak kira. Stefan tidak seperti apa yang Hana tau dari isu isu yang beredar. Stefan adalah pria dengan kasih dan cinta yang begitu besar. Begitu gagah dan selalu bertanggung jawab penuh dengan apa yang memang sudah menjadi tanggungan-nya.
“Baiklah, Daddy.” Balas Hana yang memilih untuk mengiyakan saja apa yang suaminya katakan.
__ADS_1
Stefan tersenyum lebar mendengarnya. Pria itu mengusap kembali air mata yang menetes dari sudut mata Hana kemudian mencium lama kening Hana dengan kedua mata terpejam.