
Stefan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Hari ini Stefan memutuskan untuk pulang lebih awal sebelum makan siang tiba. Selain karena jadwalnya yang tidak terlalu padat, Stefan juga tidak bisa menahan rasa rindunya pada Theo juga Hana. Lagi pula Stefan juga sudah mempercayakan pada Rico yang memang hari ini Stefan suruh agar datang mewakilinya ke sekolah tempat Stefan menjadi donatur. Rasanya Stefan ingin selalu berada dirumah untuk menemani keduanya. Bahkan jika bisa Stefan ingin mengerjakan semua pekerjaan-nya dari rumah saja agar bisa terus bersama Hana dan Theo dirumah.
Begitu sampai didepan gerbang, Stefan segera membunyikan klakson membuat satpam yang sedang berjaga dengan sigap membukakan pintu gerbang untuknya.
Satpam itu mengangguk hormat saat mobil mewah Stefan melintas pelan didepan-nya.
“Selamat siang tuan.” Sapa seorang body guard yang seperti biasanya, membukakan pintu mobil untuk Stefan dengan cekatan.
“Ya.. Selamat siang.” Balas Stefan yang langsung berlalu masuk kedalam rumah.
Stefan melangkah masuk kedalam rumah dengan langkah lebar. Pria itu tidak sabar ingin menemui istri juga putranya.
“Kamu sudah pulang dad?”
Stefan menoleh ketika hendak menapaki anak tangga pertama. Pria itu tersenyum mendapati Hana yang sedang berdiri dengan Theo yang berada di gendongan-nya. Padahal Stefan pikir istri dan anaknya sedang istirahat siang dikamar sekarang.
“Aku pikir kalian sedang dikamar.” Katanya dengan senyuman. Stefan tetap berdiri di tempatnya menatap Hana juga Theo.
“Ya, kami berdua baru turun dan berniat ke taman tadi. Tapi langkah kaki daddy membuat kami terkejut.” Balas Hana tersenyum.
Stefan mengangguk mengerti.
“Kalau begitu aku akan segera membersihkan diri dulu.”
“Oke..” Angguk Hana mengerti.
“Aooo... Akhbuuu..!!” Theo bersuara dan memekik cukup keras membuat Stefan tertawa. Stefan tau putranya sudah ingin di gendong olehnya.
“Tunggu daddy 10 menit. Oke?” Ujar Stefan kemudian berlalu menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya dan Hana berada untuk membersihkan diri karena akan menggendong Theo.
Theo yang melihat Stefan berlalu hendak menangis. Bibirnya memble kebawah terus menatap Stefan yang akhirnya hilang dari pandangan kedua mata coklat beningnya.
__ADS_1
“Huaaaa mamam..!!” Theo menangis karena Stefan yang hilang dari pandangan-nya. Hal itu membuat Hana tertawa merasa geli. Putranya memang selalu menangis jika Stefan tidak langsung menggendongnya.
“Hey hey jangan menangis sayang.. Nen ya.. Adek nen dulu..”
Karena tidak ingin putranya semakin menjadi menangisnya, Hana pun langsung menyusuinya. Dan cara itu memang sangat ampuh untuk mendiamkan Theo yang dengan semangat menyedot asi dari Hana.
“Sebentar sayang... Daddy harus bersih bersih dulu sebelum gendong adek.. Oke?” Senyum Hana memberi pengertian pada putranya dengan penuh cinta dan kelembutan.
Theo membalas ucapan lembut Hana dengan geraman pelan karena mulutnya yang sedang bekerja menyusu pada Hana.
Hana yang mendengar itu tertawa geli. Setelah itu Hana kembali melanjutkan niatnya yang memang awalnya berniat mengajak Theo ke taman belakang rumah.
Hana melangkah pelan menuju gazebo. Tempat yang memang sudah jarang dia singgahi karena Hana yang lebih suka duduk di kursi panjang bersama Stefan.
“Kita tunggu daddy disini ya sayang ya...” Senyum Hana sambil mendudukan dirinya.
Menyadari Hana yang sudah duduk, Theo pun berhenti menyusu. Balita yang sudah memasuki usia 6 bulan itu merosot pelan dari gendongan Hana.
Hana mendudukan Theo yang langsung begitu excited dengan senyuman lebar. Balita yang mulai berceloteh dengan suara halusnya itu mulai aktif bergerak dengan tangan-nya yang berusaha menggapai apa saja yang ada didekatnya.
Tidak lama Stefan muncul dengan penampilan-nya yang sudah berbeda. Pria itu mengenakan kaos oblong warna putih polos yang di padukan dengan celana warna biru tua yang pendeknya hanya selutut.
“Hey jagoan-nya daddy..” Senyum Stefan mendudukan dirinya didepan Theo.
Melihat Stefan, Theo tertawa. Balita itu mengangkat kedua tangan-nya memberi kode pada Stefan agar Stefan segera menggendongnya. Stefan yang mengerti dengan keinginan putranya pun segera meraih tubuh Theo, mengangkatnya kemudian menciumi wajah tampan putranya itu dengan gemas.
“Gemes banget daddy pengin gigit.” Gemas Stefan.
Hana tertawa geli mendengarnya. Hana merasa sangat kagum pada sosok tampan suaminya sendiri yang meskipun selalu sibuk dengan urusan perusahaan namun sekalipun Stefan tidak pernah mengabaikan dirinya juga kedua anaknya, Angel dan Theo. Stefan selalu berusaha ada untuk membantu Hana mengurus Theo yang memang sengaja tidak di sewakan baby siter.
“Kamu mau aku masakin sesuatu nggak dad?” Tanya Hana membuat Stefan langsung menoleh menatapnya.
__ADS_1
Stefan mengeryit. Waktu makan siang memang belum tiba. Bahkan para pelayan dirumahnya juga baru memasuki dapur untuk memasak siang ini saat Stefan melintas hendak menyusul Hana tadi.
“Masak?” Tanya Stefan untuk memperjelas maksud Hana.
“Ya.. Mumpung Theo anteng sama kamu. Siapa tau kamu pengin aku masakin sesuatu kan?”
Stefan tertawa pelan mendengarnya. Stefan tau Hana sudah begitu ribet mengurus Theo sendiri. Rasa lelah juga pasti Hana rasakan sekarang. Lelah yang memang tidak pernah Hana keluhkan.
“Aku makan apa aja yang di sediakan oleh pelayan sayang. Tidak perlu repot repot memasak untukku. Oke?” Ujar Stefan sambil memangku Theo.
Hana tersenyum. Sekarang memang dirinya tidak bisa lagi seperti dulu. Dulu sebelum hamil Hana bisa dengan sigap menyiapkan semua keperluan Stefan. Dari mulai memasak apa yang Stefan mau sampai rutinitas membuatkan kopi untuk Stefan. Namun semenjak ada Theo Hana sudah tidak bisa lagi melakukan itu semua. Dan beruntungnya Stefan tidak pernah protes padanya.
“Yang penting Theo nggak rewel sayang. Kamu nggak perlu ngurusin yang lain.” Tambah Stefan penuh pengertian.
“Makasih dad, untuk pengertian-nya.”
“Makasih doang nih?” Tanya Stefan menatap Hana dengan menaik turunkan alisnya.
Hana berdecak. Hana tau Stefan sedang menginginkan sesuatu.
“Nggak usah macem macem deh. Ada Theo juga.”
Mendengar itu ekspresi Stefan langsung berubah. Pria itu memasang wajah kesal yang menurut Hana terlihat sangat menggemaskan.
“Pelit.” Cibir Stefan dengan nada ketus namun dengan suara yang sengaja di pelan kan.
Hana tertawa. Tidak ingin suami tercintanya merajuk, Hana pun mendaratkan ciuman singkatnya pada pipi tirus Stefan.
“I Love you daddy Stefan Devandra.” Ungkap Hana malu malu.
Stefan tersenyum merasa senang mendapat ciuman di pipinya dari Hana. Baginya berkontak fisik dengan Hana adalah kebutuhan cinta yang tidak boleh terlewat sekalipun. Meski hanya sekedar menggenggam tangan dan ciuman singkat di pipi seperti tadi.
__ADS_1
“We love you to mommy..” Balas Stefan dengan suara dibuat buat. Stefan juga mensejajarkan wajah tampan-nya dengan wajah tampan menggemaskan Theo yang memang sangat mirip itu.