ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 155


__ADS_3

Hana sedang menatap syal buatan-nya yang berniat Hana berikan pada Stefan nanti saat Stefan pulang ketika mendengar suara klakson mobil Stefan. Hana yang berdiri di balkon kamarnya menatap kearah gerbang kemudian tersenyum lebar dan segera berlari masuk kedalam kamar kemudian keluar dengan sangat semangat.


Sera dan Angel yang melihat itu bahkan sampai terkejut karena Hana yang berlari dengan cepat menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai satu untuk menyambut kepulangan Stefan.


“Mommy hati hati !!” Pekik Angel membahana di seluruh sudut rumah.


Hana tidak menghiraukan pekikan Angel dan terus berlari dengan sangat semangat.


Namun ternyata pekikan keras Angel juga di dengar oleh Stefan yang baru saja turun dari mobilnya. Dengan di landa rasa khawatir yang begitu besar di hatinya, Stefan segera melangkah lebar masuk kedalam rumah.


Stefan mendelik begitu melihat Hana yang berlari cepat kearahnya kemudian berhambur langsung memeluknya.


Rahang Stefan mengeras. Pria itu merasa marah karena Hana seperti tidak memperdulikan kondisinya yang sedang hamil muda.


“Apa apaan kamu Hana?” Tanya Stefan penuh penekanan sambil melepaskan secara paksa Hana yang memeluknya.


Hana mengerjapkan kedua matanya beberapa kali kemudian tersenyum lebar.


“Aku kangen sama kamu.” Katanya menjawab.


Ungkapan rindu Hana kali ini benar benar tidak mampu membuat amarah Stefan surut. Pria itu bahkan semakin merasa kesal karena Hana yang malah tersenyum lebar menjawab pertanyaan-nya.


“Ah ya Stefan, aku punya sesuatu untuk kamu.” Ujar Hana sambil menunjukan syal buatan-nya yang dia bawa. Syal berwarna coklat susu dengan nama Stefan yang di rajut dengan warna hitam.


Stefan melirik sekilas apa yang Hana tunjukan padanya. Karena sedang dikuasai oleh emosinya, Stefan tidak terlalu memperhatikan syal tersebut.


“Apa kamu pikir aku bahagia dengan sambutan berlebihan kamu ini hah?!” Marah Stefan karena apa yang Hana lakukan dengan berlarian didalam rumah.


Ekspresi Hana yang tadinya bahagia langsung berubah. Hana mengeryit bingung tidak tau kenapa tiba tiba Stefan marah padanya. Padahal maksud Hana baik menyambut kepulangan Stefan.


“Stefan kamu kenapa?” Tanya Hana bingung.


“Aku bisa memaklumi sikap kamu kemarin kemarin Hana. Tapi kali ini kamu keterlaluan. Apa kamu tidak memikirkan anak kita? Apa yang kamu pikirkan itu hanya kesenangan kamu saja, iya?”

__ADS_1


Hana benar benar sangat kaget karena kemarahan Stefan yang begitu tiba tiba. Hana tidak tau letak kesalahan-nya dimana sehingga tiba tiba Stefan begitu marah padanya. Stefan bahkan tidak bahagia meskipun Hana memeluknya erat.


“Ikut aku sekarang.”


Stefan meraih pergelangan tangan Hana menuntun-nya menuju tangga. Namun saat sudah sampai didepan tangga menuju lantai dua, Stefan langsung membopong tubuh Hana.


“Stefan aku..”


“Diam !” Potong Stefan dingin.


Hana langsung merasakan denyutan ngilu didadanya karena ucapan tegas Stefan yang melarangnya untuk berbicara. Hana benar benar bingung dan tidak tau kenapa Stefan begitu marah padanya. Padahal saat di telepon Stefan biasa saja dan tidak berbicara dengan nada seperti sekarang.


Sera dan Angel yang menyaksikan itu hanya bisa diam saja. Mereka berdua tau suasana hati Stefan sedang tidak baik baik saja karena apa yang Hana lakukan.


“Oma.. Apa daddy marah sama mommy?” Tanya Angel polos.


Sera menatap cucunya kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Angel mengangguk mengerti. Gadis kecil itu juga tau apa yang Hana lakukan memang berbahaya dengan berlari penuh semangat menuruni anak tangga sedang Hana sendiri tau dirinya sedang hamil muda.


“Kita makan malam saja yuk dulu. Biarkan mommy sama daddy menyusul nanti.” Ajak Sera yang di angguki kepala setuju oleh Angel.


Keduanya kemudian berlalu dari tempatnya berdiri dan melangkah menuruni satu persatu anak tangga dengan pelan tanpa sedikitpun ingin mencampuri masalah Hana dan Stefan.


Sampai Sera dan Angel menyelesaikan makan malamnya, Stefan dan Hana tidak kunjung turun dari lantai dua untuk makan malam. Hal itu membuat Sera mulai khawatir.


“Selamat malam tante..”


Sapaan dokter Clara membuat Sera menolehkan kepalanya. Wanita itu bangkit berdiri saat melihat dokter cantik itu datang kerumahnya.


“Clara..” Gumam Sera kemudian mendekat pada dokter Clara.


“Tante apa kabar?” Tanya dokter Clara begitu Sera sudah ada didepan-nya.

__ADS_1


“Emm.. Tante baik. Sangat baik. Kamu sendiri bagaimana kabarnya Clara?” Jawab Sera kemudian bertanya balik pada dokter Clara.


“Seperti yang tante lihat, kabar saya sangat baik tante.”


Sera hanya mengangguk pelan. Wanita itu tidak tau kenapa tiba tiba dokter Clara datang kerumahnya.


“Ah ya tante, saya datang kesini karena Stefan yang menelepon. Dia juga mengancam saya kalau saya tidak segera datang dia akan meruntuhkan rumah sakit tempat saya bekerja.” Ujar dokter Clara menjelaskan perihal tentang kedatangan tiba tibanya ke kediaman Devandra.


Sera menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dokter Clara katakan. Stefan memang tadi terlihat sangat marah saat Hana menyambut kepulangan-nya. Dan sebagai orang tua yang tau dan paham bagaimana putranya, Sera mengerti kenapa Stefan seperti itu.


“Apa Stefan menyuruh kamu datang untuk memeriksa Hana?” Tanya Sera kemudian.


“Ya tante. Stefan juga bilang untuk saya langsung masuk saja dan naik ke lantai dua ke kamar mereka.”


Sera menganggukkan kepalanya.


“Kalau begitu ayo ikut tante..” Titah Sera yang langsung di angguki oleh dokter Clara.


Sera melangkah lebih dulu dari dokter Clara yang mengikutinya dari belakang. Mereka menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar Stefan dan Hana.


Setelah sampai didepan kamar Stefan dan Hana, Sera pun meninggalkan dokter Clara disana. Sera tidak bisa meninggalkan Angel dimeja makan karena gadis kecil itu juga belum menyelesaikan makan malamnya.


Suara pintu yang di ketuk dari luar membuat Hana juga Stefan menoleh. Stefan melirik sekilas pada Hana dengan tatapan datarnya kemudian segera melangkah menuju pintu dan membukanya.


Hana terkejut saat melihat dokter Clara berdiri didepan pintu kamarnya dan Stefan. Wanita itu kemudian mengeryit tidak tau apa maksud Stefan yang malah menyuruh dokter cantik itu masuk ke kamar mereka.


“Periksa dia.” Perintah Stefan pada dokter Clara yang hanya menganggukan kepala kemudian mendekat pada Hana yang duduk diam di tepi ranjang.


“Dokter aku baik baik saja.” Protes Hana yang tidak mau di periksa lagi oleh dokter Clara. Apa lagi tadi pagi Hana juga baru diperiksa oleh dokter cantik itu.


“Ya Hana. Aku mengerti. Tapi untuk sekarang lebih baik kamu turuti saja apa kata tuan Devandra itu.”


Hana menelan ludah kemudian menatap sebentar pada Stefan yang berdiri tidak jauh dari pintu kamar mereka. Tidak ingin semakin membuat suaminya marah, Hana pun akhirnya mengangguk dan pasrah saja saat dokter Clara memeriksanya.

__ADS_1


__ADS_2