
Beberapa hari ini Tristan tidak menemani Amira bekerja di toko pak Ang. Semua itu Tristan lakukan untuk kakaknya yang terus saja merasa tidak bersemangat karena Stefan yang menutup akses hubungan apapun dengan-nya. Dan karena tidak ingin Amira salah paham, Tristan pun menjelaskan pada Amira lebih dulu. Tristan juga meminta maaf karena tidak bisa menemani Amira bekerja di toko pak Ang. Tristan hanya mengantar Amira pulang saat mereka pulang sekolah. Setelah itu Tristan kembali pulang untuk menemani kakaknya yang terus saja mengurung diri tidak mau keluar rumah. Bekerja saja Williana dari rumah.
“Kak.. Sudah waktunya makan malam, besok lagi kerjanya.” Williana mengalihkan perhatian-nya dari laptop nya pada Tristan yang sedang meletakan sepiring nasi serta lauk dan sayur diatas meja kerja Williana. Tidak lupa Tristan juga membawa dua gelas air putih untuk minumnya dan Williana.
“Kakak nggak laper Tristan.” Jawab Williana pelan dan kembali menatap laptopnya.
Tristan mengerang merasa jengah dengan alasan yang selalu terlontar dari mulut kakaknya jika Tristan mengajaknya makan.
“Ya, mulut kakak memang nggak lapar. Tapi kan perut kakak lapar. Ayolah kak.. Nggak usah lagi mikirin sesuatu yang nggak seharusnya kakak pikirin. Mencintai memang nggak salah karena Tuhan juga tidak mungkin salah menganugerahkan perasaan indah itu pada setiap manusia. Tapi kak, kak Stefan sekali saja nggak pernah menatap kakak. Itu yang harus kakak sadari. Kita nggak bisa memaksa seseorang untuk mencintai kita kak.”
Williana hanya bisa menghela napas. Kali ini Williana tidak bisa memungkiri bahwa apa yang Tristan katakan memang benar.
“Lalu kakak harus bagaimana? Melupakan Stefan? Itu tidak mudah untuk kakak Tristan.”
Tristan tersenyum mendengarnya.
“Tidak mudah bukan berarti tidak bisa kak. Kakak harus merubah cara pikir kakak sekarang. Kakak harus yakin bahwa diluar sana masih ada laki laki yang jauh lebih baik dari kak Stefan untuk kakak.”
Williana menatap Tristan lagi. Di dunia ini hanya Tristan satu satunya orang yang berarti bagi Williana. Tristan juga adalah adik yang membuat Williana bisa melakukan segala hal yang dulu bahkan sangat Williana khawatirkan tidak bisa Williana lakukan. Tristan membuat Williana bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri meski tanpa kedua orang tua mereka yang memang telah lama tiada.
“Kak.. Aku janji, aku akan selalu ada buat kakak. Aku akan berusaha menjadi adik yang paling baik untuk kakak. Aku...”
“Bagaimana kalau kakak minta kamu untuk meninggalkan Amira. Apa kamu mau melakukan itu untuk kakak?” Tanya Williana menyela apa yang hendak Tristan katakan padanya.
Tristan terkejut mendengar pertanyaan Williana. Tristan tidak menyangka kakaknya akan menanyakan hal tersebut.
“Ap apa?” Lirih Tristan terbata bata. Memilih antara Amira dan Williana kakaknya adalah hal yang paling tidak bisa Tristan lakukan. Tristan memang sangat menyayangi kakaknya. Tapi Tristan juga tidak mungkin menuruti apa yang Williana mau. Tristan sudah terlanjur sangat menyayangi dan mencintai Amira.
__ADS_1
Williana terus menatap Tristan. Wanita itu menunggu jawaban Tristan akan pertanyaan-nya.
Tristan menghela napas pelan. Pemuda itu bingung harus bagaimana menjelaskan tentang perasaan-nya pada Williana sekarang.
“Kak.. Aku sangat mencintai Amira. Sama seperti kakak yang sangat mencintai kak Stefan, aku juga ingin terus bersama Amira. Aku bahagia bersama Amira apa lagi begitu Amira membalas perasaan aku. Aku minta maaf, untuk itu aku nggak bisa melakukan-nya. Aku sangat menyayangi kakak, tapi aku juga sangat menyayangi Amira. Aku nggak bisa memilih salah satu dari kalian.” Jelas Tristan dengan suara pelan.
Williana tersenyum geli mendengarnya. Wanita itu kemudian meraih tangan Tristan dan menggenggamnya sebentar kemudian menempelkan-nya di pipi tirusnya.
“Tristan, kakak hanya punya kamu di dunia ini. Kakak nggak punya siapa siapa lagi. Kakak harap kamu juga tau apa yang selama ini kakak lakukan karena kakak sangat menyayangi kamu. Jujur, kakak sangat sangat tidak setuju dengan hubungan kamu dan Amira. Tapi demi kamu, kakak akan mencoba menerimanya. Satu permintaan kakak, jangan paksa kakak untuk menyukai Amira.”
Tristan menelan ludah. Tristan sedikitpun tidak ada keniatan untuk memaksa kakaknya agar menyukai Amira. Meski memang Tristan sangat mengharapkan hal itu terjadi, Williana bersikap baik pada Amira.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu berhasil membuat Williana dan Tristan menoleh dengan kompak. Keduanya menatap asisten rumah tangga yang sudah berdiri di ambang pintu ruang kerja Williana yang terbuka lebar.
Tristan mengeryit mendengarnya. Sebelumnya Tristan sudah mengatakan alasan tidak bisanya Tristan menemani Amira seperti hari hari biasanya. Tapi sekarang gadis itu malah datang secara langsung ke rumahnya.
Williana mengangkat sebelah alisnya. Dalam benaknya wanita itu bergumam bahwa Amira datang pasti karena Tristan yang akhir akhir ini lebih banyak di rumah dari pada menemaninya.
“Kakak rasa dia memang tidak pantas untuk kamu Tristan.” Katanya dengan santai.
Tristan hanya diam saja. Entah apa maksud kedatangan Amira kerumahnya sekarang.
“Aku ke depan dulu kak..” Pamitnya pada Williana kemudian berlalu tanpa menunggu persetujuan dari kakaknya.
“Huh, dasar gadis manja.” Vonis Williana sinis.
__ADS_1
Tristan melangkah dengan cepat dan lebar keluar dari rumahnya untuk menemui Amira yang memang tidak mau masuk kedalam rumah mewah kekasihnya itu. Amira lebih memilih untuk menunggu di teras depan rumah mewah itu.
“Amira..” Panggil Tristan begitu sampai di ambang pintu utama rumahnya, menatap Amira dengan wajah kesal.
Amira yang sedang melihat lihat area sekitar pekarangan rumah itu menoleh. Senyumnya mengembang ketika mendapati Tristan yang sudah berdiri di ambang pintu. Amira kemudian segera melangkah mendekat pada Tristan.
“Hay Tristan..” Sapanya tersenyum manis membalas tatapan Tristan.
“Kamu ngapain sih pake kesini segala Amira? Aku kan udah bilang sama kamu aku nggak bisa dulu nemenin kamu kerja di toko pak Ang. Kakak aku sedang tidak baik baik saja sekarang. Kamu ngerti nggak sih maksud aku?”
Senyuman manis di bibir Amira seketika pudar mendengarnya. Gadis itu menyipitkan kedua matanya tidak menyangka dengan reaksi Tristan atas kedatangan-nya. Amira pikir Tristan akan senang dengan kedatangan-nya.
“Tristan aku kesini buat jenguk kakak kamu loh, memangnya salah?”
Tristan berdecak kesal. Jika memang niat Amira adalah untuk menjenguk kakaknya Tristan percaya. Hanya saja Tristan takut respon Williana akan membuat Amira kecewa.
“Sini..” Tristan meraih pergelangan tangan Amira dan menuntun-nya berlalu dari teras depan rumahnya.
“Tristan tapi..” Amira tidak bisa menolak saat Tristan menuntun-nya menuju motor gedenya.
“Iihhh.. Tristan, niat aku itu baik tau mau jenguk kakak kamu.” Kesal Amira menghempaskan tangan-nya yang dituntun oleh Tristan.
“Kakak aku nggak perlu di jenguk sama kamu, oke? Mending sekarang kamu tunggu disini, Aku ambil kunci motor. Aku anter kamu pulang.” Tegas Tristan kemudian berlalu begitu saja tanpa mau mendengar bantahan dari Amira yang berdiri disamping motor gede miliknya.
Amira berdecak kesal kemudian mengerucutkan bibirnya. Tidak mau menuruti apa yang Tristan katakan, Amira pun berlalu begitu saja keluar dari pekarangan luas kediaman Atmaja.
“Dasar aneh. Nggak jelas.” Gerutu Amira sembari melangkah menjauh dari rumah Tristan.
__ADS_1