ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 293


__ADS_3

Larut malam Stefan baru sampai di kediaman mewahnya. Dan seperti biasanya, kepulangan Stefan selalu membuat para body guard dan satpam disana begitu sigap membukakan pintu mobil untuk Stefan disertai dengan sapaan hormat.


Sembari melangkah masuk kedalam rumah, Stefan merenggangkan otot ototnya. Bolak balik mengendarai mobil sendiri dengan jarak perjalanan yang jauh membuat Stefan merasakan pegal di beberapa bagian tubuhnya terutama bagian lengan dan punggung. Stefan juga merasakan lelah yang amat sehingga tubuhnya terasa remuk.


Stefan menghela napas saat hendak menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya dan Hana berada. Suasana rumah mewah itu sudah sangat sepi yang menandakan semua penghuninya sudah terlelap.


Dengan langkah pelan Stefan mulai menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya. Jika saja boleh, Stefan ingin langsung menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur kemudian memeluk Hana dan menghirup aroma wangi dari tubuh istri tercintanya lalu terlelap dengan damai.


“Daddy..”


Stefan berhenti melangkah begitu sampai di anak tangga terakhir. Pria itu menatap bingung pada Angel yang sepertinya baru saja keluar dari kamarnya.


“Selamat malam dad..” Sapanya sambil mengucek sebelah matanya dan melangkah mendekat pada Stefan.


“Kenapa kamu belum tidur?”


Stefan tidak menjawab sapaan putrinya itu dan malah menanyakan kenapa gadis kecilnya itu masih terjaga di malam yang sudah larut itu. Nada pertanyaan Stefan bahkan terdengar dingin membuat Angel langsung mendongak menatapnya.


“Angel sudah tidur sejak selesai mengerjakan tugas dengan mamah dan adek dad. Angel tadi kebangun dan haus tapi sepertinya mbak Titin lupa menaruh segelas air putih disamping tempat tidur. Angel keluar kamar untuk mengambil minum di dapur.” Jelas Angel menjawab dan menjelaskan pada Stefan.


Stefan menghela napas. Pria itu kemudian mengusap lembut puncak kepala putrinya. Hampir saja Stefan marah karena menyangka putrinya tidak belum tidur dan keasikan bermain.

__ADS_1


“Baiklah, maaf daddy sudah berprasangka buruk. Kamu hati hati turun tangganya. Setelah mengambil kamu langsung tidur lagi ya princess..”


“Oke daddy..” Senyum Angel menganggukkan kepalanya.


Angel kemudian berlalu dari hadapan Stefan menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai 1. Stefan yang tidak tega membiarkan putrinya sendirian pun langsung menghubungi pelayan dan memintanya untuk menemani Angel saat Angel mengambil minuman untuk dirinya sendiri.


Setelah menghubungi pelayan, Stefan pun melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya. Pelan pelan Stefan membuka pintu kamarnya dan masuk kedalam kemudian menutupnya lagi dengan sangat pelan pula.


Pemandangan pertama yang dilihat Stefan malam ini membuat senyuman di bibir tipis pria berdarah campuran Amerika indonesia itu mengembang. Di atas ranjang Hana sudah terlelap dengan Theo yang juga tertidur miring menghadap pada Hana seolah takut Hana meninggalkan-nya.


Stefan menggelengkan kepalanya melihat hal manis tersebut. Theo benar benar takut jauh dari Hana.


Selama di kamar mandi Stefan terus memikirkan sikap Williana yang sangat tidak biasa itu. Bukan karena Williana tidak mendekat atau mengganggu dan menggodanya. Hanya saja Stefan merasa aneh dan khawatir secara bersamaan. Stefan takut kalau ternyata sikap Williana itu akan mendatangkan masalah yang tidak terduga. Masalah yang akan menghampirinya dan Hana.


“Enggak, aku nggak boleh berpikir negatif begini. Aku harus tenang dan yakin bahwa semuanya akan baik baik saja.” Gumam Stefan meyakinkan dirinya serta mengenyahkan semua pemikiran-nya tentang masalah yang belum tentu akan benar benar merecoki hubungan-nya dan Hana.


Stefan bergegas keluar dari kamar mandi setelah selesai. Pria itu mengenakan kaos putih polos dengan celana pendek warna gelap kemudian berbaring disamping kiri Theo. Masih merasa tidak tenang, Stefan pun bangkit kembali dari ranjang kemudian meraih ponsel yang dia letakan diatas nakas samping tempat tidur. Pria itu lalu turun dar ranjang dan melangkah menuju jendela kaca besar di kamarnya. Stefan menghubungi Rico guna meminta bantuan pada orang yang paling di percayanya itu.


“Halo tuan, selamat malam.” Sapa Rico begitu mengangkat telepon dari Stefan.


“Ya Rico. Apa saya mengganggu waktu istirahat kamu?” Tanya Stefan. Begitu pertanyaan itu lolos dari bibirnya Stefan berdecak. Bodoh sekali dirinya karena menanyakan hal tersebut sementara Stefan sendiri tau waktu tersebut adalah waktu untuk semua orang beristirahat.

__ADS_1


“Tidak tuan. Maaf sebelumnya, apa ada yang bisa saya bantu tuan?”


Rico memang tanggap. Rico tau Stefan tidak akan menghubunginya kalau memang tidak ada hal penting yang akan di bicarakan dengan-nya. Entah itu urusan didalam pekerjaan atau bisa saja urusan diluar pekerjaan.


“Ya Rico.. Tadi saya merasa ada hal yang aneh pada Williana. Dan itu sukses membuat saya merasa tidak tenang malam ini.” Ujar Stefan pelan. Stefan juga sempat melirik Hana dan putranya, Theo yang terlelap dengan damai di atas tempat tidur.


“Apa itu tuan?” Tanya Rico dengan nada penasaran yang langsung bisa di mengerti oleh Stefan.


Stefan menghela napas. Pria itu tau hanya Rico yang bisa dia andalkan dalam menghadapi segala permasalahan jika itu menyangkut tentang Williana.


“Jadi begini Rico. Tadi Williana sangat aneh. Dia sepertinya sengaja terus menjaga jarak dengan saya. Jujur saya senang karena perempuan itu tidak mengganggu saya. Tapi, tidak tau kenapa sikap Williana kali ini membuat saya merasa tidak tenang. Saya khawatir kalau sikapnya kali ini hanya sandiwara saja yang dia lakoni untuk kemudian menyusup masuk tanpa saya sadari.” Cerita Stefan dengan tatapan lurus kedepan keluar jendela kaca besar yang menyuguhkan pemandangan sunyi dimalam yang sudah larut itu.


“Saya mengerti tuan. Anda tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Saya akan berusaha untuk mencari tahunya sendiri.” Ujar Rico yang membuat Stefan tersenyum. Jika di pikir peran Rico dalam hidup Stefan memang cukup besar. Pria itu selalu mengerahkan tenaga dan pikiran-nya demi bisa memuaskan hati Stefan. Dan sekarang Stefan menyadari itu. Stefan menyadari dirinya banyak berhutang budi pada Rico.


“Saya memang tidak pernah salah mengandalkan kamu Rico. Terimakasih untuk semua yang sudah kamu lakukan untuk saya.”


“Tuan jangan berlebihan. Saya hanya melakukan apa yang memang sudah seharusnya saya lakukan. Karena bagi saya kenyamanan dan ketentraman keluarga anda adalah hal utama yang akan selalu saya prioritaskan.”


Ucapan Rico membuat Stefan semakin merasa banyak berhutang padanya. Stefan tidak tau harus bagaimana membalasnya. Karena Stefan tau sebanyak apapun bonus yang Stefan berikan pada Rico itu tidak akan cukup untuk membayar semua yang sudah Rico lakukan padanya.


“Sekali lagi terimakasih Rico.”

__ADS_1


__ADS_2