ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 227


__ADS_3

Amira sedang mengobrol dengan Alan yang pagi itu juga hendak berangkat bekerja. Mereka sedang membahas tentang berita Hana yang melahirkan dengan cara sesar di Amerika saat Tristan datang dengan motor gedenya.


“Ya udah kakak berangkat yah.. Nanti kalau kamu mau menjenguk Hana bilang dulu sama kakak biar kita bisa sama sama kesana. Siapa tau dokter Rania juga mau ikut serta kan?”


Amira mengulum senyum sambil mengangguk anggukkan kepalanya berniat menggoda kakaknya yang selalu tidak pernah absen membawa nama dokter Rania jika sedang mengobrol apapun.


“Iya deh iya.. Sama dokter Rania juga.”


Alan mengeryit kemudian berusaha menahan senyuman dibibirnya melihat ekspresi wajah adiknya.


“Dih, apaan sih. Udah ah kakak berangkat yah.” Alan merasa malu sendiri. Pria itu langsung menyodorkan tangan-nya pada Amira yang kemudian menyaliminya, tidak ingin Amira semakin menggodanya.


“Cie cie yang malu malu..” Amira semakin menggoda Alan yang melangkah menuju motornya yang berada disamping motor Tristan yang baru sampai.


“Kak..” Sapa ramah Tristan.


“Ya.. Nitip Amira ya Tan..” Katanya pada Tristan.


“Tenang aja kak, Amira aman sama aku..” Balas Tristan santai.


Alan tertawa kemudian segera mengenakan helmnya. Alan berseru memanggil Aisha yang akan dia antar lebih dulu ke sekolahnya sebelum Alan menuju tempatnya bekerja. Saat itu lah Aisha keluar dengan ibu yang merangkul bahunya.


Gadis berseragam SMP itu kemudian pamit pada ibunya juga Amira. Aisha menyalimi ibu dan Amira bergantian kemudian mendekat pada Alan dan salim juga pada Tristan yang saat itu sudah turun dari motornya.


“Duluan ya Tan..” Ujar Alan sebelum berlalu dari samping Tristan yang hanya Tristan balas dengan anggukkan kepalanya.


Entah kenapa setiap membahas tentang dokter Rania Alan selalu merasa berbunga bunga. Rasa semangat dalam dirinya berkobar membuat Alan kadang juga merasa dirinya terlalu berlebihan.


Alan menambah kecepatan laju motornya setelah keluar dari gang dan mulai melaju di jalan raya arah menuju sekolahan Aisha. Ya, gadis itu sedang melalui proses ujian kelulusan sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu SMA.

__ADS_1


Dalam waktu singkat, Alan sampai didepan gerbang sekolah Aisha. Aisha langsung turun dari motor Alan kemudian menyalimi kakak pertamanya itu.


“Kak, nanti kalau kakak sama dokter Rania mau kerumahnya kak Hana dan kak Stefan Aisha ikut yah..” Ujar gadis manis itu menatap Alan penuh harap.


Dada Alan semakin terasa penuh saat nama dokter cantik itu kembali di sebut. Alan kembali merasa bahagia namun juga merasa malu secara bersamaan.


“Iya.. Nanti kita sama sama kesana kok. Kak Amira sama ibu juga.” Balas Alan tersenyum manis.


“Yey.. Beneran yah. Ya udah Aisha masuk dulu.”


“Ya.. Yang pinter ya.. Nggak usah terburu buru ngerjain soal soalnya. Harus tetap tenang tapi jangan lengah.”


Aisha menganggukkan kepala dengan antusias mendengar nasihat dari sang kakak. Setelah itu Aisha memutar tubuhnya dan berlalu dari hadapan Alan masuk kedalam pekarangan luas sekolahnya.


Alan menghela napas. Pria itu menatap punggung adiknya yang tidak pernah lagi merengek karena guru menagih uang pembayaran sekolah. Beban keluarganya memang terasa begitu terangkat sejak Stefan menanggung semua biaya sekolah Amira juga Aisha. Stefan bahkan tidak tanggung tanggung dengan memastikan Aisha dan Amira akan mendapatkan pendidikan yang memang sudah seharusnya mereka dapat.


Tidak mau terlambat dan kesiangan datang ke tempatnya bekerja, Alan pun kembali melajukan motornya berlalu dari depan gerbang sekolah Aisha. Pria itu berencana mendatangi dokter Rania saat jam istirahat berlangsung nanti ke rumah sakit untuk mengajak dokter cantik itu sama sama menjenguk Hana dan bayinya.


Setengah jam perjalanan, Alan sampai didepan perusahaan tempatnya bekerja. Pria itu segera turun dari motornya di parkiran kemudian masuk ke dalam gedung perusahaan tempatnya bekerja dengan senyum penuh semangat.


“Kak Alan.”


Alan berhenti melangkah dan menolehkan kepalanya ketika mendengar suara Veby. Pria itu tersenyum menatap Veby yang baru saja turun dari motor metiknya kemudian berlari mendekat ke arahnya.


“Eh Veb, motornya udah jadi?” Tanya Alan kemudian.


“Udah kak. Keren banget memang bengkelnya. Ngomong ngomong makasih banget loh kak udah nyaranin aku buat bawa motor aku kesana. Ternyata emang banyak yang perlu di ganti kak.”


Alan hanya tersenyum dan mengangguk saja. Pria itu senang jika bisa membantu teman-nya.

__ADS_1


“Ah ya kak.. Sebagai rasa terimakasih aku karena kak Alan juga udah anterin aku pulang kemarin, nanti siang aku traktir makan yah. Dimana aja terserah kak Alan deh.” Senyum Veby lebar.


Alan tertawa mendengarnya. Alan sedikitpun tidak menginginkan balasan atas apa yang sudah dilakukan-nya. Alan benar benar tulus ingin membantu sebagai seorang teman.


“Udah nggak usah repot repot. Aku itu tulus bantuin kamu. Lagian kan juga sekalian aku jalan pulang. Aku juga nanti siang mau ada urusan.” Balas Alan menolak dengan halus.


“Duh, aku jadi nggak enak kak. Atau nggak sekarang aku bikinin kopi deh buat penyemangat mengawali kerja. Gimana?” Tanya Veby mencoba mencari cara lain agar bisa membalas budi Alan.


“Udah nggak usah. Biasa aja oke. Kan gunanya teman memang begitu. Harus saling membantu. Ya udah ya Veb, aku absen dulu.” Senyum Alan kemudian berlalu dari hadapan Veby yang hanya bisa mengangguk dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


Tidak terasa hari ini waktu begitu sangat cepat berlalu. Saat jam istirahat Alan segera melajukan sepeda motornya diatas rata rata menuju rumah sakit tempat dokter Rania bekerja. Alan juga bermaksud mengajak dokter cantik itu untuk makan siang bersama.


“Hari ini dokter Rania izin nggak masuk tuan. Katanya sih lagi tidak enak badan.” Ujar seorang perawat pada Alan yang menanyakan tentang dokter Rania.


Alan mengeryit. Tidak biasanya dokter cantik itu izin tidak bekerja dengan alasan sakit. Apa lagi dokter Rania adalah orang yang disiplin dan sangat pandai dalam menjaga kesehatan.


“Begitu ya? Ya sudah terimakasih ya sus.”


“Sama sama tuan.”


Alan menghela napas merasa kecewa karena tidak bisa bertemu dengan dokter Rania siang ini. Rasa khawatir juga terbesit di benaknya mendengar bahwa dokter cantik itu tidak bisa masuk kerja karena sedang sakit.


Dengan langkah pelan Alan keluar dari rumah sakit itu dan berjalan menuju motornya sembari memikirkan bagaimana keadaan dokter Rania sekarang.


“Apa aku telepon saja ya?” Gumam Alan pelan.


Alan sebenarnya ingin menjenguk sekarang. Tapi itu tidak mungkin mengingat jam istirahatnya yang hanya sebentar.


Setelah berpikir sesaat Alan akhirnya memutuskan untuk menghubungi dokter Rania via telepon untuk menanyakan langsung bagaimana keadaan dokter cantik itu sekarang.

__ADS_1


__ADS_2