
Stefan mengajak Hana ke mall untuk mencari apa yang mungkin Hana butuhkan. Namun sebelum itu Stefan lebih dulu mengajak Hana untuk makan siang. Pria itu juga membantu Hana memilih beberapa sabun dan shampo yang mungkin akan cocok untuk Hana dan tidak membuat Hana mual karena aromanya.
Semua sabun dan Shampo sudah Stefan dan Hana cek dengan sampel yang tersedia di toko itu. Namun tidak ada satupun yang membuat Hana suka. Hana bahkan langsung menutup hidung saat mencium aroma sabun dan shampo yang begitu sensitif di indra penciuman-nya.
Stefan berdecak pelan kemudian menghela napas. Kesal sebenarnya, tapi Stefan juga tidak bisa menyalahkan Hana. Stefan tau itu bukan kemauan Hana. Itu adalah bawaan janin dalam kandungan-nya.
“Ya sudah kita cari di toko lain yah..” Ujar Stefan menatap Hana dengan penuh perhatian. Stefan juga membelai lembut pipi Hana.
Hana menganggukkan kepalanya dengan ekspresi sendu. Hana sendiri tidak tau kenapa indra penciuman-nya bisa begitu sangat sensitif. Hana merasa tidak suka dengan semua aroma sabun di toko itu.
“Aku minta maaf.. Aku tidak bermaksud membuat kamu repot Stefan. Tapi aku benar benar tidak tahan dengan aroma sabun dan shampo disini.”
Hana menatap Stefan merasa sangat bersalah. Hana sadar apa yang dilakukan-nya akhir akhir memang sudah sangat keterlaluan pada Stefan. Tapi semua itu benar benar diluar kendali Hana. Emosinya selalu menguasainya secara tiba tiba. Hana bahkan kadang merasa menderita secara tiba tiba jika Stefan berkata begitu datar padanya.
“Aku...”
“Ssshhttt..”
Stefan menempelkan ibu jarinya dibibir Hana, mengusapnya dengan lembut. Stefan tidak ingin mendengar alasan apapun dari Hana yang mengarah pada rasa bersalah. Stefan memang kadang merasa kesal dan marah dengan tingkah super ajaib istrinya itu. Tapi Stefan juga sadar itu adalah konsekuensi yang harus dia jalani karena Hana yang sedang hamil anaknya. Stefan juga menganggap itu sebagai pelajaran barunya untuk melatih rasa sabarnya.
“Nggak usah ngomong yang nggak penting, oke? Kita kesini mau belanja semua yang kamu butuhkan. Bukan untuk ngoceh tidak jelas kaya beo.”
Hana mengerucutkan bibirnya. Meskipun sedang melakukan tindakan manis, bahkan Stefan tetap saja menyelanya.
“Iisshh kamu mah..” Protes Hana merasa kesal.
“Udah ayo..”
Stefan menurunkan tangan-nya dari wajah Hana kemudian meraih tangan Hana dan menariknya lembut berlalu dari toko itu. Stefan berharap di toko lain Hana bisa menemukan sabun dan shampo dengan aroma yang tidak membuatnya mual.
__ADS_1
Seperti biasanya, dimanapun Stefan selalu menjadi pusat perhatian. Selain karena namanya yang memang sudah melambung tinggi di kalangan publik, wajahnya yang tampan dan rupawan juga membuat para wanita terpesona.
“Ya ampun.. Itu Stefan Devandra. Ganteng banget ya Tuhan..”
Hana melirik tajam pada segerombol wanita yang seperti cacing kepanasan karena melihat suaminya. Hana juga tau suaminya memang tampan. Tidak heran jika banyak wanita yang terpesona akan ketampanan-nya. Tapi Hana tetap merasa tidak suka jika ada yang menatap Stefan seperti itu.
“Dasar perempuan genit. Sudah tau ada istrinya masih saja berani.” Dumel Hana dalam hati.
Hana kemudian menatap Stefan yang menggandeng tangan-nya. Pria itu melangkah dengan gaya cool nya tanpa memperdulikan para wanita disekitarnya yang terus saja menatapnya dengan tatapan bodoh.
Sesaat Hana tampak berpikir hingga sebuah ide bagus melintas di otak cerdasnya. Hana tersenyum dan melirik kearah para wanita yang terus menatap suaminya sebelum memulai aksinya.
“Awh..”
Mendengar pekikan pelan Hana, Stefan langsung menoleh dan berhenti melangkahkan kakinya.
“Kaki aku.. Tiba tiba saja kaki aku terasa ngilu Stefan..” Jawab Hana sedikit membungkukkan badan-nya dan memegang bagian atas lututnya.
“Kok bisa sih?”
Karena khawatir, Stefan langsung berjongkok didepan kaki Hana. Pria itu mengusap usap dengan lembut bagian atas lutut Hana. Dan sedikitpun Stefan tidak merasa malu meskipun melakukan itu didepan banyak orang.
“Aku gendong aja ya..” Stefan mendongak menatap Hana yang menundukan kepala menatapnya.
“Tapi kan Stefan..”
Stefan langsung kembali berdiri kemudian tanpa menunggu persetujuan dari Hana, Stefan langsung menggendong Hana.
“Udah nggak usah bawel. Kaki kamu itu lagi sakit jadi nggak usah banyak tingkah.” Ujar Stefan menatap Hana dengan lembut.
__ADS_1
Hana tersenyum merasa bangga pada dirinya sendiri karena ternyata Stefan berani memperlakukan-nya dengan sangat manis didepan banyak wanita. Mungkin nanti Hana akan jujur jika saat ini dirinya sedang berbohong. Tapi itu nanti setelah mereka berada didalam mobil berdua atau mungkin saat mereka dirumah nanti.
Stefan kembali melangkahkan kakinya dengan Hana yang berada di gendongan-nya. Pria itu terus melangkah dengan gaya coolnya tanpa sedikitpun perduli dengan para wanita yang merasa iri bahkan ada yang sampai menggigit jarinya sendiri melihat Stefan memperlakukan Hana dengan sangat romantis.
“Perlu kalian semua tau, Stefan Devandra itu hanya milik Hana Larasati seorang. Jadi jangan berani macam macam.” Batin Hana tersenyum merasa puas karena berhasil menunjukan pada semua orang yang ada disekitarnya dan Stefan bahwa Stefan sangat mencintainya.
Stefan kembali mengajak Hana ke sebuah toko dimana banyak berbagai merek dan jenis sabun dijual. Bahkan di toko itu juga ada perlengkapan yang dibutuhkan oleh bayi yang baru lahir.
“Stefan, kaki aku udah nggak sakit kok.” Ujar Hana kembali berbohong karena memang dari awal sebenarnya kakinya sama sekali tidak sakit.
“Beneran?” Tanya Stefan ragu.
Hana menganggukkan kepala dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya. Hana tau berbohong adalah perbuatan yang tidak baik. Maka dari itu Hana akan berkata jujur nanti pada Stefan setelah mereka selesai membeli apa yang dibutuhkan.
“Ya sudah. Tapi nanti kalau kamu ngerasa sakit lagi kamu bilang sama aku.” Ujar Stefan pelan.
“Oke...” Hana kembali menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias. Wanita itu kemudian diturunkan oleh Stefan dari gendongan. Dan mereka pun kembali mencari sabun dan shampo yang diperlukan.
Dari semua sabun dan shampo yang ada di toko itu, lagi lagi Hana tidak bisa terbiasa dengan baunya. Dari harga yang paling mahal sampai yang paling murah sudah Stefan buka segelnya. Hal itu membuat Stefan mau tidak mau harus tetap membelinya karena di toko itu kebetulan tidak ada sampel untuk mencium aromanya.
Stefan berdecak menatap dua kantong besar berbagai macam merek sabun dan shampo yang sudah dibelinya. Awalnya Stefan bingung akan dikemanakan semua itu hingga akhirnya Stefan berpikir akan membaginya pada semua pekerjanya dirumah nanti.
“Stefan, aku sudah nemu sabun sama shamponya.”
Stefan menoleh ketika mendengar suara Hana. Pria itu kemudian segera mendekat pada Hana yang menunjukan sesuatu di tangan-nya.
“Loh ini kan sabun sama shampo untuk bayi Hana.” Kata Stefan setelah melihat apa yang Hana bawa.
“He'em.. Baunya enak dan nggak bikin aku mual. Aku juga mau parfumnya.” Jawab Hana membuat Stefan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin Stefan akan menggunakan sabun, shampo, bahkan sampai parfum bayi.
__ADS_1