ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 204


__ADS_3

“Stefan...” Panggil Hana pada Stefan yang hendak menyodorkan sesendok makanan untuk menyuapi Hana.


“Aku pengin melihat anak kita..” Lirih Hana.


Stefan menghela napas. Seharian ini sejak siuman Hana terus saja merengek meminta agar Stefan mengantarnya melihat putra mereka yang memang tidak boleh secara bebas di sentuh dulu oleh siapapun. Tentu saja karena bayi itu harus di tempatkan ditempat khusus untuk menyesuaikan tubuhnya.


“Hana..”


“Stefan please.. Aku hanya ingin melihatnya. Dia anakku..” Sela Hana lirih dan memohon.


Stefan menghela napas. Stefan juga ingin melihat bahkan menggendong dan menciumnya. Namun Stefan juga tidak bisa mengabaikan ucapan dan saran dari dokter yang pasti lebih tau apa yang terbaik untuk anak mereka.


“Aku ingin melihat sendiri anakku baik baik saja. Tolong jangan halangi aku Stefan..”


Stefan menelan ludah. Stefan paham dan tau bagaimana perasaan istrinya.


“Aku akan coba bicara sama dokter nanti. Sekarang kamu makan dulu. Oke?”


“Tapi..”


“Hana tolong mengerti. Apa yang aku lakukan saat ini semuanya demi kebaikan kamu juga anak kita..” Sela Stefan meminta pengertian pada Hana.


Hana diam. Dadanya terasa begitu sesak karena ke inginan untuk melihat putranya belum juga di kabulkan oleh Stefan. Padahal Hana sudah merengek sejak dirinya siuman. Tapi Stefan selalu punya alasan yang membuat Hana akhirnya diam dan tidak bisa lagi merengek.


“Sekarang lebih baik kamu makan dulu. Setelah ini aku akan bicara pada dokter boleh atau tidaknya kamu melihat anak kita.”


Hana hanya diam saja. Kesal sebenarnya karena Stefan terlalu mengikuti apa yang dokter katakan seperti tidak perduli dengan perasaan Hana sekarang.


Meski sedang kesal, tapi Hana tetap menerima suapan dari Stefan. Hana juga ingin tenaganya cepat pulih agar bisa menggendong putra mereka.

__ADS_1


Setelah Hana makan, Stefan benar benar menepati omongan-nya. Pria itu keluar dari ruang rawat Hana untuk menemui dokter guna membahas tentang bagaimana keadaan putra mereka sekarang.


Stefan merasa sangat lega setelah mendengar kabar baik bahwa putranya baik baik saja dan kuat seperti bayi pada umumnya. Dokter juga mengatakan bahwa putra mereka sudah boleh di keluarkan dari ruangan khusus tersebut karena memang bayi tampan itu tampak sehat dan kuat.


Setelah berbicara dengan dokter, Stefan dibantu oleh perawat membawa bayi tampan-nya menuju ruang rawat Hana menggunakan baby box.


Stefan tidak henti hentinya mengucap syukur dalam hati setiap melihat wajah tampan anaknya. Bayi itu memang terlihat sangat kecil. Namun bayi itu juga tampak sehat seperti bayi bayi pada umumnya.


“Your baby is amazing sir.” Ujar si perawat memuji bayi tampan milik Stefan dan Hana.


Stefan hanya tersenyum saja menanggapinya. Ketakutan luar biasanya benar benar membuat Stefan hampir mati putus asa. Namun Tuhan begitu sangat baik karena memberikan kesempatan pada Stefan untuk membuktikan bahwa Stefan bisa menjadi daddy yang baik juga suami siaga untuk istri tercintanya, Hana.


-------------


“Bagaimana keadaan kakak sekarang? Apa ada yang sakit?” Begitu tanya Gabriel lewat tulisan di buku kecil yang selalu dia bawa kemana mana sejak tidak bisa berbicara.


Namun Hana tidak ingin menjawab apa adanya. Karena memang keadaan-nya sekarang sudah baik baik saja. Hanya saja rasa lemas masih terasa. Di tambah perutnya yang tiba tiba kempes terasa sangat aneh dia rasakan.


“Aku baik baik saja Gabriel.” Jawab Hana.


Gabriel mengangguk dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Gadis itu memang selalu ada di ruangan tempat Hana dirawat ada atau tidak ada Stefan disana. Gabriel selalu bersedia untuk membantu kapanpun dibutuhkan. Seperti sekarang contohnya, Stefan mempercayakan Gabriel untuk menjaga Hana sementara Stefan menemui dokter yang menangani Hana.


“Gabriel, kamu sendiri bagaimana?”


Pertanyaan Hana membuat Gabriel mengeryit. Gadis itu tidak tau harus menjawab apa karena Gabriel memang selalu merasa baik baik saja.


Melihat ekspresi Gabriel, Hana mendadak merasa sangat menyesal karena sudah bertanya demikian. Pertanyaan Hana pada Gabriel bermaksud menanyakan apakah gadis itu tidak keberatan dengan keterbatasan-nya sekarang. Tapi sepertinya Gabriel tidak terlalu mengerti dengan pertanyaan Hana.


Gabriel tiba tiba mengingat sesuatu tentang Sera dan Angel yang akan datang. Gabriel langsung menuliskan-nya dan menunjukan pada Hana.

__ADS_1


“Jadi mamah sama Angel tau aku dirumah sakit?” Tanya Hana terkejut saat Gabriel memberitahunya.


“Ya kak.. Mommy yang memberitahu.” Tulis Gabriel lagi.


Hana menghela napas. Sera dan Angel pasti sangat mengkhawatirkan-nya. Hana benar benar sangat menyesal karena kurang berhati hati dan sudah membuat orang orang di sekitarnya khawatir dengan kondisinya. Bahkan Sera yang berada jauh di indonesia sampai langsung menuju ke Amerika karenanya.


“Kakak jangan sedih. We all love you very much.” Tulis Angel lagi.


Hana tersenyum tipis. Tuhan memang begitu sangat baik karena mengelilinginya orang orang baik yang begitu sangat menyayanginya.


“Terimakasih Gabriel.” Ujar Hana yang mendapat anggukan dari Gabriel.


Suara pintu yang dibuka dengan sangat pelan membuat Hana dan Gabriel menoleh. Mereka berdua menatap perawat yang masuk kemudian di susul oleh Stefan yang mendorong baby box dengan senyuman yang menghiasi bibir tipisnya.


Hana terkejut bukan main melihat Stefan mendorong baby box dimana disana sedang tertidur pulas bayi tampan yang terlihat sangat mungil.


Hana menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua mata berkaca kaca karena merasa sangat terharu. Hana tidak menyangka Stefan akan membawa putra mereka ke hadapan-nya. Padahal Stefan mengatakan sendiri padanya bahwa bayi mereka tidak bisa begitu bebas dibawa keluar dari ruangan tempatnya berada.


“Kejutan...” Senyum Stefan sambil mendorong baby box itu mendekat pada Hana.


Air mata penuh rasa haru Hana menetes. Wanita itu benar benar tidak pernah menyangka akan se mendadak itu bertemu dengan malaikat kecil dan mungilnya.


Setelah baby box itu berada disamping brankar Hana, Stefan meminta pada perawat yang bersamanya agar memindahkan bayi tampan itu ke samping Hana yang pasti sudah sangat menunggu moment itu. Perawat itu menurut saja dengan memindahkan pelan pelan bayi itu ke dekapan Hana.


“Ya Tuhan.. Anakku..” Lirih Hana menangis terharu melihat sosok mungil nan tampan itu berbaring disampingnya. Rasanya seperti mimpi bagi Hana.


Setelah Stefan mengucapkan terimakasih, perawat itu pun keluar dari ruang rawat Hana. Dan Gabriel, gadis itu ikut merasa bahagia melihatnya. Gabriel juga merasa sangat gemas melihat makhluk mungil yang begitu tampan disamping Hana.


“Oh god, he's so handsome.” Batin Gabriel kagum menatap putra pertama Stefan dan Hana.

__ADS_1


__ADS_2