ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 234


__ADS_3

Alan mengajak dokter Rania ke sebuah warung di pinggir jalan yang cukup nyaman menurutnya. Namun sebelum dokter Rania masuk, Alan lebih dulu menanyakan apakah dokter Rania bersedia untuk bersantai di tempat itu bersamanya atau tidak.


“Dokter mau pesan apa?” Tanya Alan sambil melepaskan ransel yang di gendong di punggungnya.


Dokter Rania diam sesaat. Wanita itu sedang melihat menu yang ada di buku yang sekarang dia pegang.


“Eemm.. Aku nggak tau mana yang enak dari menu menu disini Alan. Selain itu aku juga belum lapar. Jadi aku pesan es buahnya saja deh.” Ujar dokter cantik itu menatap Alan dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.


“Pilihan yang tepat. Es buah disini memang enak, manisnya pas, terus seger banget loh dok.. Dulu aku juga sering banget ngajak Hana kesini.” Senyum Alan yang tanpa sadar menyebut nama Hana.


Senyuman dokter Rania langsung berubah dari bahagia menjadi bingung karena merasa tidak enak hati. Siapapun tau Alan dulu sangat tergila gila pada Hana.


“Ah maaf dokter. Maksud aku ini langganan aku kalau lagi pengin yang seger seger. Dan es buah pilihan dokter itu pilihan yang sangat tepat.” Alan sadar apa yang dikatakan-nya membuat ekspresi dokter cantik itu berubah sehingga Alan langsung berusaha untuk meralat ucapan-nya sendiri meskipun itu sangat sia sia karena Alan sudah terlanjur menyebut nama Hana di sela obrolan mereka.


“Enggak papa Alan. Aku paham kok. Melupakan sepenuhnya orang yang pernah kita cintai memang tidak semudah yang orang lain pikir. Semuanya membutuhkan proses. Bukan begitu?” Dokter Rania berusaha mengerti dan tidak ingin Alan merasa tidak enak hati padanya.


Alan hanya bisa diam. Sejujurnya Alan merasa sudah tidak lagi rasa sedikitpun terhadap Hana sekarang. Yang Alan punya hanyalah harapan agar Hana benar benar hidup bahagia dengan Stefan. Ingin rasanya Alan menjelaskan pada dokter Rania. Tapi Alan merasa dokter Rania sepertinya tidak perlu mengetahui tentang itu mengingat mereka berdua sama sekali tidak ada hubungan apa apa.


“Ya dokter.” Angguk Alan pelan.


Alan kemudian segera memanggil pelayan di warung makan pinggir jalan itu untuk memesan apa yang di inginkan dokter Rania. Alan terus berusaha untuk bersikap biasa saja sekarang meski sebenarnya hatinya ingin sekali dokter Rania mengerti bahwa sekarang Alan sudah benar benar berhasil melupakan Hana.


Tidak perlu lama menunggu es buah pesanan Alan datang. Dokter Rania segera mencicipi es buah tersebut kemudian tersenyum.


“Kamu benar. Es buah disini rasanya enak.” Ujar dokter Rania yang sebenarnya juga merasakan sesuatu yang campur aduk dalam hatinya.


Alan hanya bisa tersenyum karena bingung dan tidak tau harus menanggapi bagaimana.


“Sepertinya aku juga akan sering sering kesini setelah ini Alan.” Kata dokter Rania lagi berusaha mencairkan kembali suasana yang mendadak terasa canggung setelah Alan menyebut Hana.

__ADS_1


“Aku akan dengan senang hati menemani dokter, itu juga kalau dokter mau.” Balas Alan.


“Sepertinya memang lebih baik begitu. Siapa tau kan kalau datang kesini sendiri rasa es buahnya tidak akan seperti ini manisnya.” Tawa dokter Rania diselingi candaan ringan.


“Dokter bisa aja.”


Dalam waktu singkat suasana hangat itu terasa kembali. Alan dan dokter Rania kembali mengobrol santai tanpa mengungkit apapun yang berhubungan dengan masa lalu.


“Eemm.. Alan, sebenarnya ada yang pengin aku tanyain sama kamu.”


Alan mengeryit merasa penasaran karena ekspresi ragu dokter Rania yang tiba tiba terlihat di wajah cantiknya.


“Oh ya? Apa itu dokter?” Tanya Alan melepaskan sendok yang dia gunakan untuk mengambil potongan buah dalam gelas es buah nya.


“Sebelumnya aku minta maaf. Mungkin ini akan sedikit menyerempet ke masa lalu.”


Dokter Rania menahan napas sejenak dan menghembuskan-nya dengan kasar.


Alan semakin penasaran. Apa lagi sebelumnya dokter cantik itu tidak pernah membahas tentang kecelakaan yang Alan alami.


“Kalau seandainya kamu tau siapa orang yang malam itu menabrak kamu, apa yang akan kamu lakukan Alan?”


Alan terkejut mendengar pertanyaan yang dokter cantik itu lontarkan padanya. Pasalnya selama ini dokter Rania tidak pernah sekalipun menyinggung tentang kecelakaan yang Alan alami. Tentu saja selain karena dokter Rania tidak tau tentang kecelakaan itu, dokter Rania pasti juga berpikir hal itu sangatlah tidak penting untuk dia bahas, begitu pikir Alan.


“Kok jadi nanya itu sih dokter?” Tanya balik Alan tersenyum kikuk. Alan bingung karena tiba tiba dokter Rania menanyakan tentang apa yang terjadi padanya.


“Jawab saja Alan.” Tuntut dokter Rania yang membuat Alan semakin tidak mengerti.


Alan menghela napas pelan kemudian kembali meraih sendok es buahnya dan mengaduk pelan es buah didalam gelasnya.

__ADS_1


“Memangnya aku bisa apa dokter? Menuntut juga tidak mungkin. Yang terpenting kan sekarang aku udah baik baik saja. Keluargaku juga baik baik saja. Aku sudah tidak ingin mempermasalahkan tentang kejadian yang sudah berlalu.” Jawab Alan pelan sambil menatap kearah gelas es buahnya.


Dokter Rania diam. Alan pasti tidak akan bisa menerima begitu saja jika tau Stefan lah yang menabraknya. Tapi bagaimanapun juga dokter Rania merasa Alan tetap harus tau agar semuanya jelas dan tidak ada lagi yang di tutup tutupi. Selain itu, Stefan juga pasti akan sangat marah jika dokter Rania memberitahu Alan bahwa Stefan lah pelaku yang menabrak Alan saat itu.


“Bagaimana kalau seandainya aku tau siapa yang menabrak kamu malam itu Alan?”


Alan langsung menatap kembali pada dokter Rania. Pria itu benar benar tidak mengerti kenapa tiba tiba dokter Rania membahas tentang kecelakaan yang dia alami. Padahal Alan saja tidak pernah sedikitpun berpikir tentang siapa pelaku yang saat itu menabraknya. Kecelakaan yang membuat hidup Alan seketika berubah.


“Maksud dokter apa?” Alan bertanya dengan tatapan serius yang dia layangkan pada dokter Rania yang langsung memejamkan sesaat kedua matanya seolah sedang kebingungan ingin mengatakan sesuatu padanya.


“Apa dokter tau sesuatu?” Alan kembali bertanya dengan nada menuntut. Mendadak Alan merasa sangat penasaran tentang siapa yang sudah membuatnya nyaris kehilangan nyawa malam itu.


“Ya Alan. Aku tau, aku tau siapa orang yang menabrak kamu. Tapi aku yakin dia melakukan itu karena tidak sengaja. Dia bilang sama aku kalau malam itu kamu membawa motor di posisi yang salah. Dan saat dia hendak menghindar semuanya sudah terlambat karena kecepatan mobil yang dia kendarai yang akhirnya membuat dia menabrak kamu.”


Alan menelan ludah. Bagaimana mungkin dokter Rania bahkan bisa tau segalanya.


“Siapa orangnya dokter?”


“Alan tapi aku..”


“Siapa orang itu dokter?” Sela Alan bertanya kembali dengan nada menuntut dan tatapan serius pada dokter Rania yang menjadi gelagapan sendiri. Dokter Rania juga sedikit menyesal karena mengatakan itu sekarang.


“Dokter..” Lirih Alan dengan nada memohon.


Dokter Rania menahan napas sejenak dengan kedua mata terpejam kemudian menghembuskan-nya dengan kasar lagi.


“Orang itu adalah Stefan, Alan. Stefan yang menabrak kamu malam itu.” Jawab dokter Rania.


Alan mematung ditempatnya. Pria itu tidak percaya dengan apa yang dokter Rania katakan. Stefan adalah orang yang membiayai semua pengobatan-nya. Stefan juga yang menjamin semua yang terbaik untuk keluarga sampai menjamin pengobatan ibunya.

__ADS_1


“Jangan bercanda dokter. Ini sangat tidak lucu.” Geleng Alan tidak percaya begitu saja dengan apa yang dokter Rania katakan.


“Alan aku..” Dokter Rania tidak tau harus berkata apa pada Alan. Dokter cantik itu tau Alan pasti akan sangat marah setelah ini.


__ADS_2