
Dalam perjalanan menuju restoran yang di inginkan Tristan, keduanya terus mengobrol hangat. Mereka berdua sedikitpun tidak lagi mengungkit tentang masalah kemarin. Tristan juga tidak menceritakan apa yang di alaminya pada Williana saat sedang menunggu Amira yang mengambek di depan gang. Dimana saat itu ada dua orang preman berbadan kekar dan berwajah sangar berusaha untuk mencelakainya. Dan Tristan yakin itu adalah orang suruhan Boby yang tidak terima dengan apa yang Tristan lakukan padanya.
“Kamu ingin mengatakan sesuatu sama kakak Tristan?”
Tristan mengeryit kemudian menatap sesaat pada Williana. Pemuda itu merasa tidak ingin mengatakan suatu hal penting apapun pada kakaknya itu. Namun pertanyaan Williana padanya seolah wanita itu tau apa yang ingin Tristan katakan padanya.
“Maksud kakak?” Tanya Tristan bingung.
Williana tersenyum. Wanita itu tau apa yang terjadi pada Tristan karena diam diam Williana menyuruh body guardnya untuk mengikuti Tristan guna menjaga keselamatan Tristan.
“Tidak apa apa. Sepertinya kamu memang sudah bisa menjaga diri kamu sendiri. Kakak percaya sama kamu Tristan.”
Meskipun bingung namun Tristan tetap tersenyum. Tristan senang karena Williana akhirnya mau percaya padanya bahwa Tristan bisa menjaga dirinya baik baik.
“Baguslah kalau kakak sadar. Aku ini sudah besar kak, aku sudah punya pacar. Dan aku sudah pasti bisa menjaga diri aku sendiri.” Kata Stefan dengan bangga.
“Oke oke.. Kakak percaya.” Senyum Williana mengangguk anggukan kepalanya.
Tidak lama kemudian mereka sampai didepan restoran yang mereka tuju. Tristan langsung turun dari mobil kemudian berjalan mengitari depan mobil mewah kakaknya itu untuk membukakan pintu mobil untuk Williana.
“Silahkan tuan putri..” Canda Tristan sambil mengulurkan tangan-nya berniat menggandeng Williana.
Williana tertawa merasa geli dengan apa yang Tristan lakukan padanya. Namun Williana tetap menerima uluran tangan Tristan dan turun dari mobil dengan Tristan yang menggandengnya.
“Sebentar kak..” Ujar Tristan menutup pintu mobil Williana kemudian menguncinya sebelum mengajak Williana masuk kedalam restoran.
Dengan terus menggandeng tangan Williana, Tristan mencari meja yang dia anggap nyaman. Hal itu membuat para pengunjung di restoran itu menatap keduanya dan berasumsi bahwa keduanya adalah pasangan kekasih.
Setelah menemukan meja yang tepat, Tristan menarik kursi untuk tempat duduk Williana. Mereka berdua segera memesan makanan yang mereka inginkan.
“Apa kamu seperti ini jika sedang bersama gadis itu Tristan?”
Tristan tersenyum. Tristan tau siapa yang Williana maksud.
“Enggak kok kak.. Aku nggak pernah ngajak Amira makan ke tempat mewah seperti ini. Soalnya dia makan-nya suka di pinggir jalan.” Jawab Tristan.
Williana tersenyum merasa tidak heran. Williana berpikir mungkin memang lidah Amira tidak biasa menerima rasa makanan yang berharga.
“Apa dia begitu spesial untuk kamu Tristan? Kenapa kamu tidak dengan Putri saja? Bukan-nya Putri itu cantik? Dia juga sepadan dengan keluarga kita.”
__ADS_1
Tristan tertawa pelan kemudian menggelengkan kepalanya.
“Kakak sendiri kenapa tetap kukuh mengejar kak Stefan padahal kakak tau kak Stefan sudah punya istri? Bukankah itu salah?”
Williana terdiam kemudian tertawa.
“Kita berbeda Tristan. Apa yang ada di dalam kehidupan kita tidak selalu sama. Kakak mengejar Stefan karena kakak tau dia memang laki laki yang pantas untuk kakak.”
Tristan menghela napas. Dengan lembut Tristan meraih kedua tangan Williana kemudian menggenggamnya lembut.
“Kak.. Perasaan itu enggak bisa di paksakan. Aku yakin kakak tau itu.” Lirihnya menatap Williana serius.
Williana menganggukkan kepalanya mengerti.
“Baiklah, tidak perlu lagi mengobrol tentang ini Tristan. Kakak sedang tidak ingin ribut.”
“Oke..” Setuju Tristan namun tetap menggenggam kedua tangan kakaknya.
“Tapi kak, aku ingin kakak tau sesuatu.”
Williana mengangkat sebelah alisnya menatap Tristan dengan rasa penasaran.
Tristan menahan sejenak napasnya kemudian menghelanya.
“Aku ingin kakak tau meskipun aku memilih Amira sebagai gadis yang aku cintai, tapi posisi kakak di hati aku tidak akan pernah tergeser sedikitpun. Meski kadang aku melawan kakak dan tidak mau menuruti kemauan kakak, tapi aku sayang banget sama kakak. Aku mencintai kakak seperti aku mencintai kedua orang tua kita..” Lirih Tristan.
Williana tersenyum. Tidak berbeda dengan Tristan, dirinya juga sangat menyayangi dan mencintai adik satu satunya itu. Meskipun memang Williana selalu melakukan apapun seenaknya tapi semua itu Williana lakukan juga demi kebaikan Tristan. Termasuk saat Williana melarang Tristan berhubungan dengan Amira, itu karena Williana takut Amira hanya memanfaatkan Tristan saja.
Saat itulah pesanan mereka datang. Tristan segera melepaskan genggaman tangan-nya pada tangan Williana.
“Silahkan nona, tuan..” Ujar si pelayan restoran itu setelah menghidangkan pesanan Tristan dan Williana.
“Terimakasih yah..” Senyum Tristan pada pelayan tersebut.
“Sama sama tuan.”
Setelah membalas kata terimakasih Tristan, pelayan itu pun berlalu.
Sementara Tristan dan Williana, mereka mulai menikmati makanan-nya dengan obrolan ringan.
__ADS_1
Karena kebersamaan tidak biasanya itu dengan Tristan, tiba tiba Williana berpikir akankah dirinya bisa menemukan pria yang begitu baik seperti adiknya. Pria yang sangat menghargai dan mengistimewakan seorang wanita yang sangat di cintainya.
“Stefan.. Apa kamu bisa bersikap seperti ini padaku?” Batin Williana yang tiba tiba memikirkan sosok Stefan.
Setelah menghabiskan makan malamnya, Tristan tidak langsung mengajak Williana pulang. Tristan lebih dulu mengajak Williana untuk jalan jalan. Tristan juga menemani Williana yang tiba tiba ingin sekali membeli sesuatu.
“Ini bagus nggak?” Tanya Williana menunjukan tas yang tiba tiba menarik perhatian-nya. Tas dengan harga yang sangat fantastis.
“Bagus kok kak.. Kakak suka?” Jawab Tristan kemudian balik bertanya pada Williana.
“He'em..” Angguk Williana tersenyum.
“Ya udah ambil aja kak.. Bagus kok tasnya. Lucu terus pas banget kalau kakak yang pake. Kelihatan tambah cantik.” Kata Tristan manis.
“Kamu bisa aja. Ya udah tunggu sebentar ya, kakak bayar dulu.”
“Oke..”
Sembari menunggu Williana menyelesaikan pembayaran tas yang dibelinya, Tristan merogoh saku celana jinsnya meraih ponsel miliknya. Senyumnya mengembang ketika mendapati satu notifikasi di ponselnya, yaitu pesan dari Amira.
Sesaat keduanya saling membalas chat dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya hingga akhirnya Williana kembali menghampiri.
“Sudah.. Ayo..”
“Oh iya kak..” Tristan buru buru memasukan lagi ponsel miliknya kedalam saku celananya. Tristan tidak ingin merusak mood baik kakaknya.
Tempat yang selanjutnya mereka tuju adalah taman. Tristan memang sengaja ingin menghabiskan waktunya bersama sang kakak malam ini.
Williana menghela napas kemudian mendongak menatap ribuan bintang yang menghiasi langit. Selama ini dirinya selalu di sibukkan dengan pekerjaan tanpa pernah mau mengajak Tristan untuk sekedar makan berdua.
“Kak...” Panggil Tristan membuat Williana langsung menoleh padanya.
“Kenapa?” Tanya Williana pelan
“Aku boleh nggak peluk kakak?” Tanya Tristan yang membuat Williana bungkam.
Detik berikutnya Williana tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
Tristan langsung memeluk Williana dengan lembut. Tangan-nya mengusap usap lembut punggung Williana membuat wanita itu tiba tiba merasakan rasa nyaman yang sama seperti saat dulu dirinya berada di pelukan mendiang ayahnya.
__ADS_1