ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 51


__ADS_3

Hana tidak bisa memejamkan kedua matanya sampai pagi menjelang. Karena Hana terus menunggu Stefan yang memang tidak lagi kembali ke kamarnya sejak semalam.


Hana menguap sampai kedua matanya berair namun rasa kantuk tidak juga menghampirinya. Wanita itu benar benar merasa tidak tenang karena kesalahan-nya sendiri yang tidak disengaja pada Stefan.


Begitu subuh tiba, Hana memutuskan untuk mencari Stefan. Namun ketika pandangan-nya tidak sengaja mengarah pada pintu balkon lantai dua yang terbuka Hana mengeryit.


“Apa Angel disana?” Gumam Hana bertanya tanya.


Ingin tau siapa yang berada disana, Hana pun melangkah pelan menuju pintu balkon yang terbuka itu. Dan benar saja, disana Angel sedang duduk di ayunan panjang dengan kaki bersila seorang diri.


“Angel..” Panggil Hana pelan.


Angel yang saat itu sedang menunggu warna jingga dilangit muncul langsung menoleh. Gadis kecil itu tersenyum menatap Hana yang berdiri di ambang pintu.


“Kamu kok udah bangun?” Tanya Hana sambil mendekat pada Angel kemudian duduk disamping gadis kecil itu.


“Iya mommy.. Angel sengaja nyalain alarm supaya Angel bangun lebih awal.” Jawab Angel tersenyum menatap Hana.


Hana menghela napas. Jam masih menunjukan pukul setengah empat pagi. Itu artinya sinar jingga dilangit masih memerlukan waktu sekitar dua jam lagi untuk muncul. Tapi Angel, mungkin dia bahkan sudah duduk dari tadi.


“Angel kangen sama mommy Lusi. Bukan karena Angel enggak bersyukur punya mommy Hana. Tapi Angel ingin merasakan bagaimana rasanya di peluk sama mommy Lusi, mommy..”


Angel berkata tanpa menatap Hana yang terus menatapnya. Gadis kecil itu terus menatap ke arah matahari akan muncul.


Hana tersenyum mendengarnya. Hana tau bagaimana rasanya merindukan seorang yang tidak akan lagi kembali.


“Coba aja daddy disini juga sekarang.” Lirih Angel membuat Hana kembali mengingat kesalahan-nya pada Stefan semalam. Niat Hana keluar dari kamarnya tadi adalah untuk mencari Stefan.


“Eemm.. Angel, kamu tunggu sebentar ya, Mommy mau masuk dulu.” Ujar Hana.


Angel menoleh dan tersenyum pada Hana. Gadis kecil itu kemudian kembali mengarahkan pandangan-nya ke langit yang masih gelap itu setelah Hana berlalu.


Sementara Hana, dia berusaha memutar otak mencari akal agar Stefan mau menemani Angel melihat warna jingga di langit pagi ini.


Ketika Hana baru beberapa langkah dari pintu, Hana melihat Stefan yang hendak masuk kedalam kamarnya.


Hana tersenyum ketika sebuah ide tiba tiba melintas di otak cerdasnya.

__ADS_1


“Stefan kan suka dengan kopi buatan aku.” Gumam Hana tersenyum.


Tidak ingin membuang waktu, Hana segera bergegas melangkah menuju tangga menuruninya dengan cepat. Hana bermaksud membuatkan kopi panas untuk Stefan pagi ini. Hana juga akan kembali meminta maaf serta meminta Stefan untuk bersama sama melihat warna jingga di langit menemani Angel.


Dengan sangat semangat Hana membuatkan kopi untuk Stefan. Setelah selesai, Hana kembali ke lantai dua dimana kamarnya dan Stefan.


Hana menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Hana berharap Stefan sudah tidak lagi marah padanya. Dan kalaupun Stefan masih marah, Hana akan berusaha membujuk dengan cara apapun supaya Stefan mau memaafkan-nya.


Hana meraih handle pintu, memutar dan mendorongnya membuka pintu tersebut. Didalam kamarnya Stefan sedang duduk ditepi ranjang sambil mengecek berkas berkas yang mungkin hendak di masukan kedalam tas kerjanya yang memang sudah berada disamping Stefan.


“Selamat pagi Stefan...” Sapa Hana membuat Stefan langsung berhenti dari aktivitasnya mengecek berkas ditangan-nya.


Stefan pelan pelan mengangkat kepalanya dan menatap Hana yang sedang mendekat ke arahnya dengan secangkir kopi panas di tangan-nya.


“Secangkir kopi panas yang dibuat dengan penuh cinta pagi ini aku persembahkan untuk kamu, Suamiku.” Ujar Hana dengan begitu manis.


Stefan yang mendengar itu tersenyum merasa geli. Hana benar benar sangat lucu mengatakan-nya.


“Ini..” Senyum Hana menyodorkan secangkir kopi itu yang kemudian langsung di terima oleh Stefan.


Stefan menyeruputnya sedikit membuat rasa kantuknya seketika hilang. Ya, tidak berbeda dengan Hana, Stefan juga tidak bisa memejamkan kedua matanya. Apa lagi semalam Stefan berbaring diatas sofa diruang kerjanya.


Stefan kembali menatap Hana mendengar pertanyaan tersebut. Sebenarnya Stefan sudah tidak marah sejak semalam. Stefan hanya bingung dengan apa yang dilakukan-nya. Stefan juga merasa bersalah karena sudah mendorong Hana begitu kasar ke pintu.


“Kamu terima kopi itu kemudian meminumnya aku anggap kamu sudah nggak marah lagi sama aku.” Kata Hana lagi dengan senyuman yang kembali menghiasi bibirnya.


Stefan mengeryit. Hana menirukan caranya memaksa.


“Stefan, aku tau dan aku sadar bagaimanapun juga aku adalah istri kamu. Jadi mulai sekarang aku janji, aku nggak akan bahas laki laki lain lagi di depan kamu. Tapi maaf kalau aku masih memikirkan Alan sampai sekarang. Karena..”


“Ekhem !!”


Dekheman Stefan membuat Hana langsung menutup mulutnya. Hana merasa sangat konyol. Baru saja dirinya mengatakan tidak akan membahas pria lain lagi tapi Hana malah menyebut nama Alan didepan Stefan.


“Ya Tuhan.. Maaf maaf.. Maaf banget.” Ringis Hana kemudian memukuli bibirnya sendiri.


Stefan menghela napas kasar kemudian meletakan secangkir kopi panas yang di pegangnya diatas kasur. Setelah itu Stefan bangkit dari duduknya dan berdiri menjulang didepan Hana.

__ADS_1


“Stefan aku...”


Ucapan Hana terputus saat Stefan tiba tiba memutar tubuhnya kemudian mengusap punggungnya dengan sangat pelan dan lembut.


Hana menelan ludah dengan jantung berdetak cepat. Sentuhan lembut Stefan di punggungnya membuat tubuh Hana merasakan gelenyar aneh yang tidak pernah Hana rasakan sebelumnya.


“Apakah semalam sakit?” Tanya Stefan berbisik tepat didekat telinga Hana.


Hana tidak bisa menjawab. Tubuhnya menegang saat merasakan napas hangat Stefan yang menerpa daun telinga juga kulit lehernya.


“Aku minta maaf, aku tidak bermaksud berbuat kasar sama kamu Hana. Aku hanya tidak suka kalau kamu terus memikirkan laki laki lain.”


Hana diam mematung ditempatnya. Stefan selalu saja membuatnya merasakan perasaan asing yang tidak pernah Hana rasakan sebelum mengenal pria itu.


“Dan sebagai permintaan maaf aku, aku akan menuruti apapun kemauan kamu sekarang Hana.” Senyum Stefan lembut.


Mendengar apa yang Stefan katakan tubuh Hana seperti mendapat kekuatan menolak pesona pria itu. Hana langsung memutar tubuhnya berbalik menatap Stefan yang masih tersenyum lembut padanya.


“Beneran kamu mau menuruti semua kemauan aku?” Tanya Hana dengan kedua bola mata yang memancarkan harapan begitu besar pada Stefan.


Stefan mengangguk pelan. Melihat Hana menatapnya penuh harap, Stefan merasa wanita itu seperti sedang bergantung padanya.


“Kalau begitu kamu harus temani aku sama Angel untuk melihat matahari terbit pagi ini. Nggak boleh nolak. Karena tadi kamu udah bilang mau menuruti semua kemauan aku.”


Senyuman dibibir Stefan seketika pudar. Melihat matahari terbit di pagi buta bukan sesuatu yang Stefan sukai sejak ketidak setiaan Lusi dia ketahui.


“Hana tapi bukan..”


Cup


Stefan berhenti berkata karena tiba tiba Hana berjinjit dan mencium pipinya singkat. Pria itu terdiam tidak percaya dengan apa yang Hana lakukan.


“Aku tunggu kamu di balkon.” Ucap Hana malu malu kemudian berlari keluar dari kamarnya meninggalkan Stefan yang perlahan mengukir senyuman dibibirnya karena ciuman singkat Hana di pipinya.


Selama beberapa menit Stefan terus diam karena ciuman Hana. Tanpa pikir panjang pria itu kemudian menyusul Hana ke balkon kamar. Dan untuk pertama kalinya Stefan mau menemani Angel melihat matahari terbit pagi ini.


Sera yang tidak sengaja melihat kebersamaan Stefan, Hana, juga Angel yang sedang menyaksikan matahari mulai terbit pagi itu meneteskan air matanya merasa sangat terharu.

__ADS_1


“Terimakasih Hana.. Terimakasih sudah hadir di tengah tengah kami..” Lirih Sera.


__ADS_2