ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 69


__ADS_3

“Angel sekolah dulu ya dad.. Terimakasih sudah mau mengantar Angel..” Senyum Angel sambil mengulurkan tangan-nya pada Stefan berniat menyalimi pria itu.


Stefan terdiam sesaat sebelum akhirnya menerima uluran tangan Angel dan membiarkan gadis kecil itu mencium punggung tangan kanan-nya.


Setelah menyalimi Stefan, Angel turun dari mobil Stefan dengan wajah berseri seri. Gadis itu tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti sekarang sebelumnya. Tapi pagi ini karena melihat Stefan mencium Hana, Angel merasa sangat bahagia.


Stefan menurunkan kaca mobilnya menatap Angel yang dengan sangat ceria masuk kedalam lingkungan sekolahnya dan bergabung dengan teman teman sebayanya. Stefan tersenyum. Perasaan-nya sudah tidak lagi seperti dulu saat menatap Angel. Stefan merasa sudah tidak perlu lagi mengingat apapun tentang masa lalunya. Tekadnya bersama Hana adalah menjadi orang tua yang baik untuk Angel. Gadis kecil yang sebenarnya sudah tidak punya keluarga kandung lagi karena Lusi dan selingkuhan-nya telah meninggal bersama dalam kecelakaan pesawat saat berniat melarikan diri berdua dari Stefan.


Stefan menghela napas pelan kemudian kembali melajukan mobilnya dari depan gerbang sekolah Angel menuju perusahaan-nya.


-------------


Ditempat lain tepatnya di kediaman dokter Rania.


Alan menatap langit langit kamarnya. Sejak membuka kedua matanya yang selalu berada di pikiran-nya adalah pertanyaan dimana Hana. Karena saat Alan membuka kedua matanya bukan Hana yang dia lihat melainkan wanita yang sama sekali tidak pernah Alan lihat.


Wanita itu tentu saja adalah dokter Rania. Wanita yang dengan telaten merawat dan memastikan kondisinya semakin hari semakin membaik.


“Waktunya sarapan Alan. Setelah itu kamu baru bisa minum obat.”


Alan menolehkan pelan pelan kepalanya pada dokter Rania yang duduk di kursi disamping ranjang tempatnya berbaring.

__ADS_1


Dokter Rania memang sudah mencopot selang yang ada di kerongkongan Alan dan Alan sudah bisa kembali makan seperti orang sehat pada umumnya. Meskipun memang Alan harus mengkonsumsi makanan yang benar benar lembek dan mudah dicerna olehnya seperti bubur.


Alan membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu pada dokter Rania namun suaranya sama sekali tidak keluar. Pria itu memang belum bisa melakukan apapun selain menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri itupun harus dengan gerakan yang sangat pelan. Bahkan untuk sekedar mengangkat tangan saja rasanya sangat berat dan Alan belum mampu. Alan hanya bisa menggerakkan jari jarinya itu pun dengan gerakan yang sangat pelan juga.


Dokter Rania tersenyum. Alan memang masih membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk benar benar sembuh total. Apa lagi setelah kecelakaan Alan mengalami cedera parah bahkan sampai mengalami pendarahan di otaknya.


“Kamu tidak perlu khawatir Alan. Saya akan berusaha yang terbaik untuk kesembuhan kamu. Yang penting adalah kamu harus semangat. Karena dengan begitu kamu akan cepat pulih Alan.” Ujar dokter Rania.


Alan tersenyum mendengarnya. Pria itu tidak tau siapa dokter cantik bernama Rania itu. Namun Alan benar benar merasa sangat berterimakasih karena dokter itu selalu merawatnya dengan telaten. Bahkan dari cerita ibunya yang Alan tau adalah dokter Rania yang selalu memastikan yang terbaik untuknya.


Alan sebenarnya ingin sekali melihat Hana. Karena sejak dirinya membuka mata Hana sama sekali belum terlihat. Ibu dan kedua adiknya bahkan tidak mengatakan apapun tentang Hana. Alan ingin bertanya tapi tidak bisa bersuara.


“Alan, maaf..” Ujar dokter Rania saat menyodorkan sesendok bubur pada Alan.


Dengan sangat telaten dokter Rania menyuapi semangkuk bubur itu pada Alan hingga akhirnya habis tak tersisa. Setelah itu dokter Rania membantu Alan meminum obatnya.


“Sekarang waktunya kamu bersih bersih Alan.”


Alan hanya pasrah saja mengingat dirinya tidak bisa melakukan apa apa sekarang. Namun meski tidak bisa melakukan apapun sedikitpun Alan tidak merasa pesimis. Alan tetap merasa optimis dan yakin bahwa dirinya akan kembali pulih seperti sedia kala.


“Hana.. Kamu dimana? Kenapa sejak kemarin kamu tidak kelihatan. Apa kamu tidak memikirkan aku? Apa kamu tidak perduli lagi padaku?” Batin Alan terus bertanya tanya.

__ADS_1


Alan memejamkan kedua matanya saat dokter Rania mulai mengelap tubuhnya. Sebenarnya Alan malu mengingat dirinya dan dokter Rania adalah orang asing yang tidak saling mengenal. Alan juga merasa tidak enak karena selama setengah tahun ini dokter Rania lah yang mengurusinya, mengelap tubuhnya dua kali sehari pagi dan sore. Itu artinya dokter Rania juga sudah melihat semuanya dari Alan.


Selesai membersihkan tubuh Alan, dokter Rania melanjutkan aktivitasnya yaitu membantu Alan terapi untuk menggerakkan tangan-nya pelan pelan.


Alan sangat kesulitan untuk sekedar mengangkat tangan-nya. Namun Alan tidak patah semangat. Alan yakin dirinya bisa. Alan sudah tidak sabar ingin kembali ber aktivitas seperti dulu lagi. Bekerja dan mengantar jemput Hana yang memang setiap hari mempunyai kesibukan mengajar di taman kanak kanak di kampung tempat mereka tinggal.


Alan menatap pada dokter Rania yang begitu telaten membantunya. Alan tidak tau kenapa wanita cantik itu begitu baik hati mau mengurusnya. Ibunya bilang dokter Rania adalah dokter yang memang ditugaskan untuk mengurusnya. Hal itu membuat Alan berpikir akan dengan apa dirinya membayar dokter cantik itu setelah dirinya pulih kembali nanti. Sedangkan Alan saja tidak punya tabungan untuk membayar. Ditambah lagi dengan kehidupan ibu dan kedua adiknya yang sekarang entah bagaimana.


Deringan ponsel milik dokter Rania membuat Alan ikut melirik benda pipih itu yang berada diatas nakas.


“Sebentar Alan, saya angkat telepon dulu.” Ujar dokter Rania kemudian mengambil ponsel miliknya.


Alan melihat dokter cantik itu tersenyum saat menatap layar benda pipih itu.


“Ya Stefan..”


Alan mengeryit mendengar dokter cantik itu menyebut nama yang sepertinya tidak asing ditelinga Alan.


Dokter Rania bangkit dari duduknya dan sedikit menjauh dari Alan untuk berbicara dengan Stefan yang menelepon-nya. Itu membuat Alan tidak bisa mendengar apapun yang dokter Rania bicarakan dengan Stefan lewat sambungan telepon-nya. Tapi Alan tidak mempermasalahkan itu. Pria itu menganggap dokter Rania menjauh karena mungkin memang ada pembicaraan penting dengan siapapun yang saat ini sedang berbicara dengan-nya.


Alan kembali menatap langit langit kamar itu. Tubuhnya terasa sangat kaku dan berat. Untuk sekedar bergerak saja Alan merasa sangat kesusahan.

__ADS_1


“Ya Tuhan.. Tolong percepat proses penyembuhan hamba.. Hamba ingin segera cepat pulih Tuhan.. Hamba ingin kembali lagi seperti dulu. Bekerja untuk membiayai hidup keluarga hamba, juga melindungi keluarga hamba dan orang orang yang hamba sayangi.” Alan kembali membatin meminta pada sang pencipta untuk kesembuhan-nya.


“Hana.. Kamu apa kabar sekarang? Apa kamu belum tau kalau aku sudah sadar? kenapa kamu belum juga datang untuk menemuiku Hana? Aku kangen sama kamu Hana.. Aku ingin kamu disini bersamaku..”


__ADS_2